
Ellie merasakan sekelebat bayangan seseorang muncul, matanya masih terpejam. Meski tubuhnya menikmati namun otaknya sedang memutar ulang kejadian buruk saat ia diculik.
Tiba-tiba tubuhnya melayang di udara dan kini ia telah berbaring di sebuah kasur hotel yang empuk. Saat David hendak beraksi lagi tanpa sadar Ellie mendorong dada suaminya dengan pelan menjauh dari tubuhnya.
"Ssttt Sayang buka matamu ini aku suamimu" David tak menyerah ia terus berusaha meyakinkan istrinya.
"Oh maaf Mas a-aku..."
"Terus buka matamu saja dan lihat ini aku bukan pria lain" seru David ia meraih tubuh istrinya kedalam pelukannya.
Setelah merasa dirinya lebih tenang dan berhasil mengusir bayangan masa lalu. Ellie membalas perlakuan suaminya.
"Aku gak boleh seperti ini terus, aku pasti bisa. Pasti bisa membuat suamiku senang." batin Ellie.
Kini tubuh keduanya telah polos Ellie mend*sah saat sesuatu yang keras dan kokoh berusaha menerobos benteng pertahanannya.
"Akh aw s-sakiit M-mas"
"Rileks dan tenang Sayang, sakit ini hanya sebentar" David mendekati wajah istrinya dan kembali menyambar bibir tipis itu.
"Ouh **** ini sangat sempit susah sekali dimasukin!" batin David. Ia berusaha menjebol benteng sang istri dengan susah payah.
Setelah mencoba beberapa kali akhirnya...
"Akh" Ellie memekik. Bentengnya telah jebol oleh pusaka sang suami.
David menyeringai "oh yess gue berhasil!" serunya dalam hati. Keringatnya bercucuran padahal belum mencapai puncak.
Untuk sesaat pusakanya berdiam diri di dalam goa sang istri. Setelah dirasa istrinya nyaman ia mulai gerakan maju mundur dengan pelan mengikuti instingnya.
Tangan Ellie meremas sprei mencari pelampiasan rasa sakit di inti tubuhnya. Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
Melihat istrinya tampak tidak nyaman, David membisikkan sesuatu di telinganya.
"Aku mencintaimu Istriku, jangan takut ikuti saja instingmu!"
Ellie tersenyum mendengar ungkapan cinta dari suaminya. Dengan segenap hatinya ia mulai menikmati dan membalas.
Kedua tangannya meraih punggung David, merangkul dan membelai punggung kokok itu. Pergumulan makin memanas, ritme perlahan makin cepat.
David memompa dengan cepat sementara Ellie mengimbangi gerakan suaminya dengan susah payah dan ngos-ngosan.
Tak lama keduanya mencapai puncak kenikmatan dan meledak bersamaan. Nafas keduanya saling memburu dan keringat bercucuran.
Ellie berhasil melawan traumanya sedangkan dalam hati David bersorak kegirangan berhasil menjebol gawang istrinya.
...****************...
Ellie menggeliat pelan, ia merasa ingin buang air kecil. Saat akan bangun ia sadar tak memakai apapun tubuhnya polos. Masih di atas ranjang ia celingukan mencari keberadaan bajunya.
Celananya tergeletak di lantai dan kemejanya berada di sofa. "Astaga" ia menggerutu pelan.
Perlahan ia turun dari ranjang dan hendak melangkah namun. "Sshh akh" Ellie menjerit saat merasakan inti tubuhnya nyeri.
David terbangun saat mendengar jeritan istrinya, "Sayang kenapa?"
"Stop Mas. Tutup matamu!" seru Ellie. Tangannya menutupi dada dan inti tubuhnya. Wajahnya memerah karena malu.
David bergeming, ia tak menghiraukan istrinya. Pria itu bangun dan berjalan memutari ranjang dengan santainya bahkan tubuhnya juga masih polos.
__ADS_1
Ellie melotot tajam melihat pemandangan didepannya. "Mas, kamu gila ya? pake baju dulu dong jangan mondar mandir begitu!"
"Kenapa?"
"Malu ah!"
"Tadi juga udah lihat semua, ngapain malu!" David menyeringai. Ia meraih tubuh polos istrinya dan menggendongnya menuju kamar mandi.
"Aw, turunin aku Mas" Ellie terkejut, ia meronta di atas tangan suaminya.
"Sudah diam, kamu mau pipis kan? Bukain pintunya tanganku sibuk!" seru David.
Tangan Ellie meraih gagang pintu dan memutar knopnya. Satu kaki David mendorong pintu supaya terbuka lebar.
Pria itu menurunkan Ellie saat sudah berada di dalam kamar mandi.
"Apa sangat sakit?" tanya David saat melihat Ellie meringis kesakitan.
"Enggak kok, cuma nyeri sedikit"
"Pakai air hangat buat membasuhnya!"
David mengisi bath up dengan air hangat.
"Kamu keluar dulu Mas, aku mau membersihkan tubuhku dulu!" pinta Ellie pada suaminya. Ia masih merasa malu tubuh polosnya dilihat oleh sang suami.
David tersenyum dan berbalik keluar dari kamar mandi. Ia menutup pintu meraih handuk yang tergantung di sisi lemari dan duduk di tepi ranjang.
Ia menoleh ke ranjang yang tak rapi lagi menyibak selimut dan melihat ke arah sprei. Sudut bibirnya tertarik seulas senyum terbit saat melihat bercak noda darah tercecer di sana.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Ellie tak hentinya berpikir.
"Dia sepertinya jago sekali di atas ranjang"
"Apa dia tadi puas sama aku?"
"Apa dia beneran cinta sama aku?"
"Seperti apa mantannya dulu? Apa cantik? Cantik mana aku atau dia? Seksi mana aku atau dia*?"
Berbagai pertanyaan menghantuinya.
"Akh" Ellie berteriak frustasi dan menggelengkan kepalanya.
David yang tengah menunggu sampai terkejut dan menerobos masuk ke dalam kamar mandi.
"Mass... KELUAR!"
"Oke aku keluar tapi jangan teriak-teriak lagi. Oke?"
Ellie melotot dan memberi kode supaya suaminya cepat keluar. Setelah David keluar dan menutup pintu, Ellie buru-buru membasuh tubuhnya.
David berkacak pinggang di depan pintu. Ia heran dengan sikap istrinya itu.
"Dia kenapa? Apa aku berbuat salah? Apa aku kurang memuaskannya?" batin David bingung sendiri.
Saat hendak melangkah, terdengar suara dari dalam kamar mandi lagi.
"Mas, tolong handuk dong!"
__ADS_1
David memutar bola matanya jengah.
Meraih handuk kimono dari gantungan di sebelah lemari baju. Ia mengetuk pintu dan menyerahkannya ke dalam.
"Makasih!" seru Ellie.
...****************...
Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari, keduanya masih terjaga. Beberapa saat hening tak ada suara.
"Ehm... Mas, boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh, tanya apa?" David meletakkan ponselnya di atas meja.
Ellie tampak berpikir, ia ragu apakah suaminya akan menjawab jujur atau berbohong.
"Hei, kenapa?" David mendekat dan mencolek hidung istrinya.
Ellie gelagapan. "Eh i-itu anu ehm... Apa sebelumnya Mas udah pernah melakukannya?" pertanyaan itu berhasil lolos dari mulutnya tanpa ia sadari. Setelahnya Ellie membekap mulutnya sendiri.
David berpikir sesaat tak mengerti arah pertanyaan istrinya. "Melakukan yang mana?" batinnya.
"M-maaf Mas, kalau Mas gak mau jawab gak pa-pa kok. Lupakan saja!" seru Ellie lagi. Ia memposisikan tubuhnya tidur miring membelakangi suaminya.
David ikut berbaring menempel ke tubuh istrinya, tangannya melingkar di perut Ellie.
"Maksud mu melakukan apa?" tanya David santai.
Ellie memutar bola matanya malas. "Nih orang beneran bodoh apa pura-pura sih?" batinnya kesal.
"Apa sebelumnya Mas pernah berhubungan badan dengan wanita lain?" Ellie bertanya lagi. Kali ini ia memperjelas kalimatnya.
David memutar tubuh Ellie, kini posisi mereka saling berhadapan. Ia meraih dagu istrinya dan menaikkannya. Mata keduanya saling tatap.
"Kamu yang pertama Sayang!" seru David.
"Halah gombal!" jawab Ellie tak percaya.
"Aku jujur, lihat mataku kalau kamu gak percaya!"
Ellie menatap lekat ke dalam netra suaminya, berusaha mencari kebohongan di sana. Namun sayangnya tak ada, perlahan ia merasa lega.
"Tapi sepertinya kamu sangat berpengalaman Mas!" Ellie bertanya lagi.
"Aku belajar sama Roy!"
"Apa??"
JEDUUUAAAR.....
.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung