
Pukul 22.00 disebuah ruangan kantor, David terus memandangi ponsel ditangannya. Ia melihat pesan yang ia kirim ke sebuah nomor tak juga centang dua alias masih tidak terkirim.
Ponsel keluaran terbaru itu ia letakkan begitu saja diatas meja kerjanya. Rasa marah kesal dan rindu bercampur jadi satu.
David mengusap wajahnya dengan kasar menahan amarah. Ia nampak berpikir sejenak, lalu bangkit berdiri mengambil jas yang tersampir di gantungan sebelah meja kerjanya. Tak lupa ia mengambil ponselnya lalu beranjak pergi setelah mematikan lampu ruangan.
Bar Kharisma tujuannya, David sampai disana lalu masuk dan berjalan ke arah meja bartender. Ia memesan minuman beralkohol. Berharap masalahnya terlupakan walau sejenak.
"David, kok elo kok bisa disini?" tanya seseorang dengan seragam ala bartender. "Kapan lo balik? lanjutnya.
"Apa kabar Mas?" David kenal dengan Dimas bartender tampan yang berdiri di depannya.
"Gue baik, elo sendiri?"
"Gue juga baik. Tadi siang gue baru sampe Jakarta" jawab David sambil duduk di salah satu kursi bundar di depan meja bar. "Minta satu gelas" lanjutnya.
"Oke, elo kesini mau nemuin gue atau lagi bete" Dimas menyodorkan pesanan minuman David.
"Keduanya"
"Oh" Dimas ber oh ria.
__ADS_1
"Lagi Mas" serunya pada Dimas bartender kenalannya. Ia menyodorkan gelasnya.
"Vid, udah dong. Jangan kayak gini, ini udah gelas ke sebelas" jawab Dimas mencemaskan temannya.
"Satu lagi, abis ini gue pulang. Oke?" pinta David memelas.
"Janji lo ya" Dimas menggeser gelas yang sudah ia isi alkohol ke arah David.
Setelah meneguk langsung keseluruhan isi gelas, David pamit pulang pada temannya itu.
"Elo yakin bisa pulang sendiri Vid?"
"Tenang aja gue udah panggil supir"
David berlalu pergi setelah ia melambaikan tangan ke arah Dimas.
Saat David berjalan keluar ia merasa ingin buang air kecil. Mampirlah ia ke toilet untuk menuntaskan hajatnya. Setelah selesai, ia kembali berjalan menyusuri lorong.
Dari kejauhan David melihat seorang gadis berjalan terhuyung sambil sesekali menyenderkan tubuh ke dinding. Entah kenapa ia penasaran dan terus memperhatikan gerak gerik gadis tersebut.
David berjalan mendekatinya, sebelum sempat menanyakan kondisi gadis itu. Tiba-tiba saja gadis itu ambruk ke arahnya dan muntah.
__ADS_1
"Ooh **** kau..." umpat David
Namun yang diumpat malah dengan nyamannya tertidur dan bergelayut manja dipelukannya.
Ia mengamati gadis itu, David bingung harus melakukan apa. Ia menoleh ke kanan dan kiri, sepi tidak ada orang satu pun. Tanpa pikir panjang ia menggendong ala bridal style gadis itu berjalan keluar bar dan masuk ke dalam mobilnya.
Tak lama mobil tersebut sampai di rumah David. Ia turun dari mobil dan merogoh sakunya, memberi dua lembar uang lima puluh ribu kepada supir yang telah mengantarnya.
Ia melangkah gontai memasuki halaman rumah. Belum sampai David mencapai gagang pintu rumahnya. Suara pak satpam memanggilnya.
"Mas, mas David ini temannya bagaimana?"
"Oh iya, aku lupa" jawabnya sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
David menggendong Ellie memasuki rumah, tatapan bik Siti yang penuh tanya ia abaikan dan terus melangkah menuju kamarnya di lantai dua.
Bik Siti yang merasa aneh dengan kelakuan majikannya, tak berani bertanya. Ia menutup kembali pintu utama dan menguncinya.
***
Bersambung
__ADS_1
Hallo gimana nih? suka sama novelku gak? ☺️