
Ellie terkejut bukan main mendengar ucapan suaminya. Entah mengapa dirinya berpikiran sempit, yang ia pahami dari ucapan itu mungkin suaminya melakukan hal gila dengan sahabatnya sendiri sesama pria.
Sesaat ia terdiam, tak menyadari gerakan suaminya yang makin mendekat.
Tiba-tiba saja kini posisinya telah berada dibawah kungkungan suaminya lagi. Ellie gelagapan saat mendapati serangan bibir suaminya itu.
Ellie menghindar pelan, "M-mass... aku lelah dan ngantuk." Ia menatap bola mata sang suami dengan puppy eyes nya yang tampak sangat menggemaskan dimata suaminya.
"Maksud ku tadi adalah Roy banyak mengajari hal-hal beginian, karena dia lebih berpengalaman. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh lagi. Tidurlah..." ucap David. Ia mencium kening Ellie lama dan dalam. "Terima kasih buat malam indah ini Istriku!" serunya lagi.
Ellie tersipu mendengar ucapan David, ia mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih juga Mas mau bersabar menungguku."
Kini keduanya terlelap bersama dengan saling memeluk.
...****************...
Sementara itu pagi hari di sebuah ruangan, raut wajah kesal sedang menyelimuti seorang pria. Ragil sangat kesal mendapati laporan dari temannya jika Ellie tengah dekat dengan pria lain yang merupakan dosennya di kampus.
Tanpa sepengetahuan Ellie, Ragil membayar temannya untuk memata-matai keseharian Ellie. Dan tentu saja sore itu pria yang jadi mata-mata Ragil melihat saat Ellie dan David masuk ke sebuah hotel.
Braak...
Ragil menggebrak meja dimana terdapat foto-foto kebersamaan Ellie dan David yang tentu saja diambil secara diam-diam.
"Selanjutnya apa yang harus gue lakukan Gil?" kata seorang pria bernama Dion.
"Sebarkan semua ini, permalukan gadis sialan itu!" titah Ragil.
"Apa elo yakin?" Dion bertanya lagi.
"Apa menurut lo sekarang gue main-main?" ucap Ragil penuh keyakinan. Kedua tangannya mengepal di atas meja.
"Oke... Kalau gitu gue pergi dulu. Jaga kesehatan lo disini..." Dion pamit dan bergegas melangkah pergi meninggalkan Ragil.
"Kita lihat saja, meski gue di dalam penjara tapi jangan harap elo bisa tenang-tenang diluaran sana. Dasar gadis sialan..." gumam Ragil penuh dendam dalam hatinya.
Sungguh kekecewaan hatinya yang menumpuk atas penolakan Ellie membuatnya jadi pria jahat saat ini.
Ragil sama sekali tidak berubah meski telah beberapa minggu mendekam di penjara. Namun jika asisten ayahnya datang mengunjunginya ia akan berpura-pura baik dan menyesal.
Ia hanya harus bersabar dan menunggu hari pembebasannya tiba. Selama itu ia hanya bisa mengandalkan Dion untuk membantu aksinya.
...****************...
Suasana siang hari di kampus sangat tenang, Ellie dan kedua sahabatnya sedang berada di perpustakaan. Mereka dan mahasiswa lain sedang giat belajar karena minggu depan sudah ujian akhir semester.
Beberapa mahasiswa sedang asyik memandangi ponsel masing-masing dan berbisik-bisik sambil menoleh ke arah Ellie.
"Wah gue gak nyangka ternyata kelakuannya di belakang kayak gitu."
"Mentang-mentang cantik, dosen sendiri diembat. Dasar cewek murahan."
"Nilainya selalu bagus, ya pastilah kan bayar pake tubuh dia. Hahaha..."
Seperti itulah ucapan para cewek saat melihat sebuah artikel yang baru saja di posting di sosial media kampus.
Para cowok juga tak mau kalah mereka ikutan bergosip ria.
"Pantesan dia gak mau pacaran sama kita-kita yang mahasiswa, levelnya dosen cuy..."
"Seleranya om om berduit, apalah gue yang cuma ke kampus pake motor butut. Hahaha..."
"Kemarin jalan sama dosen X, besok sama dosen manalagi nih? Gila aja pake bobo di hotel gitu loh. Anjiiiir gak kuat bayar kamarnya bro..."
Kalimat cemooh dan ejekan terus saja lolos dari mulut para mahasiswa. Dalam hitungan menit postingan itu kini viral dan telah sampai di telinga para petinggi kampus.
__ADS_1
Ellie yang sedari tadi masih asyik belajar di perpustakaan tak menyadari kehebohan yang sedang terjadi. Ponselnya mati kehabisan daya baterai dan tersimpan di dalam tas nya.
Tiba-tiba saja Winda yang sedang berkirim pesan dengan temannya. Merasa ada yang aneh dengan suara bisik-bisik dan tatapan teman lainnya.
"Eh mereka kenapa sih kok lihatin kita gitu amat yak?" ucap Winda. Ia masih asyik dengan ponselnya.
"Kenapa ya?" sahut Novi yang juga merasa aneh dengan keadaan sekitarnya.
Ellie bergeming, dia tetap fokus dengan buku modul dan catatannya.
"What... Apaan ini El?" teriakan Winda yang tiba-tiba mengagetkan Ellie dan Novi. Gadis itu menyodorkan ponsel ke arah Ellie dan Novi bergantian.
Ellie sekilas melihat layar ponsel Winda, ia merasa tak asing dengan foto itu. Sebuah foto pria dan wanita bergandengan mesra masuk ke dalam sebuah kamar hotel.
Dalam foto itu wajah si pria sengaja di buat buram namun wajah si wanita terlihat jelas meski tampak dari samping.
Deg...
Ellie membeku ditempatnya, itu adalah foto dirinya dan David kemarin sore saat berada di hotel.
Novi yang tak kalah penasaran, segera meraih ponselnya di meja dan segera membuka aplikasi sosial media kampusnya.
Meski Novi tahu hubungan yang sebenarnya antara Ellie dan David. Namun ia juga tampak kaget dengan postingan itu.
"El, Ellie... Lo gak pa-pa kan? Berita ini maksudnya apaan?" tanya Winda tak mengerti.
Ellie meraih tasnya dan mencari-cari ponselnya di dalam tas. Setelah mendapatkan ponselnya, "ponsel gue mati, lowbet!" ucapnya.
"Coba sini gue lihat!" Ellie menyambar ponsel dari tangan Winda.
Ia fokus membaca artikel itu, detik berikutnya ia memijit keningnya yang kini terasa pusing.
Ellie dan Novi berpandangan keduanya bingung harus melakukan apa. Sedangkan Winda yang masih penasaran terus membaca isi artikel itu.
"El, apa ini bener?" tanya Winda.
"Foto itu bener gue tapi isi tulisan itu sama sekali gak bener. Ini fitnah..." Ellie merasa geram ia mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Hah... Apa? Jadi elo ada hubungan sama dosen ini? Kalau gak salah pria ini mirip sama pak David. Elo ada main sama pak David El?" Winda bertanya penuh selidik.
Ellie diam saja hanya mengangguk pelan.
"Ellie udah nikah sama pak David... Winda" ucap Novi menjelaskan.
"Apa? Nikah?" winda terkejut dan meninggikan suaranya. Matanya membulat sempurna.
"Sstt..." Ellie dan Novi menyahut bersamaan.
Tangan Novi membekap mulut Winda.
"Nanti gue ceritain semua ke elo ya Win. Sekarang gue harus ketemu sama suami gue dulu." ucap Ellie. Ia bergegas pergi meninggalkan perpustakaan dan kedua sahabatnya.
Ellie melangkah cepat melewati taman kampus. Beberapa mahasiswa menatap jahat padanya. Ia tak menghiraukan tatapan itu dan hanya berjalan cepat menuju gerbang depan.
Setibanya di luar kampus, ia mencari taksi yang biasa mangkal di depan kampus. Karena ponselnya mati otomatis ia tak bisa pesan secara online.
"Pak, bisa nganter saya gak? Hp saya mati gak bisa pesan online soalnya." kata Ellie pada bapak-bapak yang sedang menyeruput kopi di warung.
"Bisa mbak, ayo saya antar. Silahkan masuk!" ucap bapak itu membukakan pintu mobil.
"Mau kemana mbak?" tanya bapak itu lagi setelah keduanya berada di dalam mobil.
Setelah memberikan alamat kantor David, bapak itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Ellie tahu kalau David sedang berada di kantornya, dua jam yang lalu pria itu mengirim pesan padanya sebelum ponselnya kehabisan baterai.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Ellie gelisah memikirkan berita yang kini telah menyebar seantero kampus. Ia khawatir dengan kelanjutan kuliah dan beasiswanya.
Meski tidak ada larangan menikah di kampus itu, namun tetap saja hal ini mengusik pikirannya. Bahkan sebentar lagi ujian akhir semester.
Larut dalam pikirannya sendiri tanpa terasa mobil yang ia tumpangi telah sampai di kantor David.
"Mbak... Sudah sampai" ucap bapak sopir.
"Oh iya, makasi Pak. Ini..." Ellie memberikan beberapa lembar uang dan segera turun dari mobil.
Ia berhenti sejenak di depan pintu kaca kantor suaminya. Ini adalah kali pertamanya datang ke kantor setelah menjadi istri David.
Ellie tampak ragu namun akhirnya ia masuk juga ke dalam.
Berhenti di sebuah meja resepsionis ia bertanya pada seorang wanita cantik disitu.
"Mbak, apa pak David ada?" tanya Ellie.
"Ada, maaf mbak ini siapa? Ada perlu apa?" ucap wanita itu.
Ellie berpikir sejenak bingung harus menjawab apa, ia malu kalau mengatakan ia adalah istrinya.
"Em.. Sa-saya Ellie mahasiswanya. Bilang aja gitu mbak, tadi saya disuruh kesini sama beliau."
"Oh baik mbak, tunggu sebentar ya..."
Ellie mengangguk dan duduk di sebuah kursi tunggu.
Beberapa karyawan yang mayoritas pria tengah bekerja di kubikel masing-masing tampak melihat ke arah kursi tunggu. Mereka berbincang bisik-bisik dengan teman yang lainnya.
"Wah pak bos kedatangan tamu cantik dan masih sangat muda, boleh juga nih gue deketin.."
"Heleh... Lagak lo kayak berani aja deketin cewek!"
"Apa dia ngelamar kerja disini? kalau iya gue pasti betah kerja sampe malam sekalipun kalau ada dia di kantor sini..."
"Makin dilihat beneran makin cantik banget itu cewek, gue penasaran no hapenya..."
Seketika suara berisik pria-pria itu hening tak kala sang bos terlihat menuruni anak tangga.
David tersenyum ke arah Ellie dan menyapanya dengan lembut. "Hai Sayang... Tumben kesini, ada apa?"
Sontak semua mata mengarah pada dua sejoli itu. Mereka heran dengan kata sayang yang bosnya ucapkan pada wanita yang tadi sempat mencuri perhatian seisi kantor.
Ellie menatap tajam suaminya seolah protes dengan panggilan itu
"M-mas... apaan sih panggil-panggil sayang disini..." ucap Ellie saat David telah berada di dekatnya.
David tak menjawab hanya tersenyum saja. Pria itu merengkuh pinggang Ellie dengan mesra.
"Minta perhatiannya semua..." suara bariton David menggema ke seluruh ruangan.
"Kalian sudah tahu kan kalau saya telah menikah beberapa waktu yang lalu. Dan wanita ini adalah istri saya. Namanya Elliana..." ucap David lagi.
...----------------...
.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung...