Elliana

Elliana
32. Titik Terang


__ADS_3

Ellie bergerak gelisah di atas tempat tidur, keringat dingin membasahi wajahnya. David yang berada disampingnya terbangun karena adanya gerakan di ranjang.


"Sayang bangun, kamu mimpi buruk lagi?" David menggoyang pelan lengan Ellie.


"Jangan sentuh aku, pergiiii!" Ellie berteriak namun matanya masih terpejam.


David merubah posisinya menjadi duduk, pria itu berusaha membangunkan Ellie.


"Bangunlah Sayang, itu cuma mimpi. El ayolah bangun!" seru David kali ini ia menepuk pelan pipi Ellie.


Ellie membuka mata, nafasnya memburu.


"Hiks hiks aku takut Mas!" Ellie terbangun kemudian menangis.


"Ssh tenang Sayang, kamu hanya mimpi." David merengkuh tubuh Ellie dalam pelukannya. Tangannya mengelus punggung Ellie dengan lembut.


Ellie sedikit lebih tenang berada dalam pelukan suaminya, ia melihat jam dinding baru pukul sebelas malam.


"Mas, tadi siang kamu mau ngomong apa?"


"Oh itu. Hem gini aku udah buat janji sama psikiater besok siang di rumah sakit X. Besok kamu bisa kan?" ucap David.


"Jam berapa?" Ellie melepas pelukan David dan memundurkan tubuhnya perlahan.


"Jam dua, gimana kamu bisa?"


"Bisa kok, aku besok jadwal kelas cuma pagi aja sampek jam dua belas."


"Ya udah besok aku jemput kamu di kampus ya, soalnya besok aku gak ada jadwal ngajar."


"Oke Mas"


"Sekarang kita tidur lagi yuk, sini aku peluk biar kamu gak mimpi buruk lagi."


"Iya. Eh... Apa tadi? Peluk? Mas kamu jangan modus dong. Oiya, aku boleh tanya sesuatu gak Mas?"


"Boleh, tanya apa?"


"Apa kamu pengin cepet punya anak Mas?" Ellie bertanya dengan ragu.


"Kenapa nanya gitu?"


"Ehm soalnya, aku belum siap untuk saat ini. Aku masih pengin selesai in kuliahku dulu. Apa boleh?"


"Sebetulnya gak masalah, tapi jujur aja nih entah apa aku bisa nahan hasrat diriku buat gak nyentuh kamu. Kamunya imut banget sih, bikin pengin." kata David, dengan sengaja ia menoel hidung mancung istrinya.


"Apaan sih" Ellie mengerucutkan bibirnya mendengar kata-kata David.


"Tuh tuh lihat aja, tolong itu bibir dikondisikan Sayang!" David geram ingin rasanya ia mel*mat bibir tipis itu.


Buru-buru Ellie membekap bibirnya sendiri dan segera tidur membelakangi David. Saat Ellie hendak menarik selimut, dengan gerakan cepat David memposisikan tubuhnya dibelakang Ellie dan memeluknya.


Kini keduanya telah terlelap dengan posisi miring David memeluk istrinya dari belakang. Karena lelah dan ngantuk tak butuh waktu lama untuk keduanya terlelap.


...****************...


Di belahan bagian bumi lain, di sebuah Mansion mewah dan besar. Tampak seorang pria paruh baya sedang mendengarkan laporan dari anak buahnya.


"Biarkan saja dia sementara berada di penjara, aku ingin dia belajar dari kesalahannya dan menerima hukuman atas tindakan bodohnya itu."

__ADS_1


"Baik Tuan, tapi maaf mungkin itu butuh waktu yang lama Tuan."


"Berapa tahun hukuman untuk kasus penculikan?"


"Sekitar dua belas tahun Tuan"


"Jangan terlalu lama, hukum saja dia tiga atau empat tahun. Aku rasa waktu itu cukup untuk membuatnya sadar dan berubah."


"Baik Tuan, akan saya atur semuanya."


"Oke, adalagi yang mau kau sampaikan padaku?"


"Ada Tuan"


"Apa?"


"Soal kerjasama dengan D Tech, apa tetap berlanjut Tuan?"


"Lanjutkan saja, jangan terpengaruh dengan kasus Ragil. Aku lihat proyeknya bagus, CEO nya juga kompeten dan bisa dipercaya. Aku rasa gak akan ada masalah dengan itu."


"Iya Tuan saya juga sependapat dengan Tuan. Baiklah itu saja yang mau saya bicarakan."


"Oke, kau boleh pergi. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu. Oiya hubungi D tech dan katakan aku ingin bertemu dengan CEO nya."


"Siap Tuan. Nanti saya telepon pihak D Tech. Saya permisi dulu."


Setelah kepergian anak buahnya, Tuan Lukman Nugraha tampak menerawang jauh. "Maafkan aku istriku, harus seperti ini aku membimbing anak kita. Bukan aku tidak sayang pada Ragil namun dia sudah keterlaluan dan harus dihukum. Kali ini perbuatannya sudah sangat keterlaluan menculik dan hendak memperkosa seorang gadis." batinnya sedih ia teringat mendiang istrinya yang telah meninggal.


Ragil adalah putra kedua keluarga Nugraha, ibunya telah meninggal saat melahirkannya. Kakaknya berada di luar negeri untuk mengurus perusahaan di sana.


Ia hanya tinggal dengan ayahnya saja, namun lebih tepatnya tinggal dengan para asisten rumah tangganya. Ayahnya sibuk dengan urusan perusahaan.


...****************...


"Bos gawat bos!" seru Roy dengan tergesa-gesa.


"Astaga apaan sih? Elo bikin jantungan orang aja" David mendelik kesal.


"Pihak ABC Grup barusan nelpon, minta ketemu sama elo. Bahkan ini pemiliknya langsung yang mau ketemu. Aku rasa ini ada hubungannya dengan kasus Ragil Bos. Gimana Bos?"


"Kapan? Dimana?"


"Di hotel A nanti jam empat sore Bos"


"Gak masalah Roy, aku akan ke sana nanti. Kita hadapi saja apapun yang akan terjadi nanti" ucap David. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Meski kemungkinan besar kontrak kerja sama ini akan batal, namun David tetap yakin bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Kali ini entah kenapa instingnya mengatakan semua akan baik-baik saja.


Waktu berlalu dengan cepat, saat ini sudah pukul satu siang, David ingat dia ada janji temu dengan psikiater bersama Ellie. Ia segera mematikan komputernya dan membereskan meja kerja.


Sebelum keluar kantor ia ke ruangan Roy untuk menyampaikan sesuatu.


"Roy, gue pergi dulu ada urusan penting. Tolong awasi kantor saat gue pergi. Nanti setelah urusan selesai, gue langsung ke hotel." kata David saat berada di ruangan Roy.


"Siap Bos, semoga berhasil" balas Roy, tangannya memberi kode semangat pada bos sekaligus sahabatnya itu.


David melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kampus untuk menjemput Ellie, saat berada di lampu merah ia menyempatkan menelepon Ellie memakai headsetnya.


"Halo, iya Mas. Ada apa? Kamu udah jalan?" Ellie

__ADS_1


"Halo Sayang, sepuluh menit lagi aku sampai. Biar cepet kamu tunggu di depan ya!" David


"Oke Mas, ini aku jalan ke depan. Kamu Hati-hati ya" Ellie


"Iya" David


Tut telepon terputus.


...****************...


David dan Ellie telah berada di depan ruangan menunggu antrian untuk dipanggil. Tak butuh waktu lama menunggu, Nama Ellie dipanggil oleh petugas.


Keduanya masuk ke ruangan psikiater.


Sesi tanya jawab dimulai oleh sang psikiater. Setelah menjelaskan keadaan Ellie pada dokter. David pun bertanya.


"Jadi gimana ya dok, apa bisa disembuhkan trauma istri saya ini?" tanya David.


"Oh tentu Pak, Anda tenang saja dengan beberapa kali terapi nanti saudari Ellie akan sembuh." jawab dokter.


"Terapi?" sahut Ellie dan David hampir bersamaan.


"Betul, terapinya di rumah saja cukup kalian berdua" jawab dokter.


"Maksudnya gimana ya dok?" tanya Ellie yang masih tidak paham dengan ucapan dokternya.


Dokter itu tersenyum ramah lalu berkata "Bukankan kalian pasangan suami istri? akan mudah melakukan terapinya. Jangan dihindari, lakukan saja pelan-pelan. Sesuatu yang ditakuti harus dilawan." selesai dengan ucapannya dokter tersebut mengedipkan sebelah matanya pada David.


David yang menangkap maksud sang dokter, kini mengerti apa yang dimaksud terapi oleh dokter itu. Ia tersenyum miring menatap Ellie yang duduk disebelahnya.


"Biasanya harus berapa kali percobaan dok? Untuk bisa sembuh total dari trauma itu" tanya David.


"Tergantung kondisi pasien pak, ada yang satu kali coba ada yang sampek lima kali."


"Baik Dokter saya sudah paham sekarang, terima kasih sarannya. Kami permisi dulu." ucap David dan hendak bangkit. Namun tertahan oleh ucapan Ellie.


"Loh tunggu Mas, ehm maaf Dokter apa tidak ada resep obat yang harus saya minum?" tanya Ellie yang masih tidak paham.


Dokter itu tersenyum ramah dan menggeleng pelan. "Resepnya ada di suami anda." katanya.


"Oh iya. Terima kasih Dokter." ucap Ellie. Meski ia belum mengerti sama sekali, namun tak urung ia pamit juga ke dokter itu.


Kini keduanya telah berada di dalam mobil.


"Mas jujur nih, aku bener-bener gak paham sama maksud tuh dokter. Nyuruh terapi, tapi terapi apaan? Aku gak ngerti." tanya Ellie pada suaminya.


"Ada deh rahasia, nanti kamu akan tahu sendiri." goda David.


"Halah Mas apaan sih? Pake rahasia-rahasia segala" Ellie kesal ia mengerucutkan bibirnya.


"Jangan mulai deh, ini masih dijalan apa perlu kita minggir dulu?" ucap David ia menaik turunkan kedua alisnya bergantian."Lucu juga nih anak digodain." batin David.


"Loh Mas, kok lurus? Kita mau kemana ini? Gak pulang?" tanya Ellie penasaran.


"Kita ke hotel A dulu."


"Apa? Hotel? Mau ngapain Mas?" Ellie mendadak panik.


...****************...

__ADS_1


bersambung 😘


__ADS_2