Elliana

Elliana
29. Cemburu?


__ADS_3

Lima hari setelah pernikahannya, kini Ellie tak lagi tinggal di rumah kostnya yang dulu. Ia sudah pindah ke rumah David tinggal bersama dengan suami dan mertuanya.


Rumah dua lantai yang lumayan besar namun interiornya sederhana. Terdapat taman di samping dan belakang rumah. Bagian depan tidak ada halaman hanya garasi saja.


Terdapat satu asisten rumah tangga yang bernama bibi Siti dan satu orang satpam namanya pak Udin. Keduanya merupakan suami istri yang telah lama ikut bekerja dengan keluarga David mungkin sudah sekitar dua puluh tahun lamanya.


Pagi itu seperti biasa Ellie bangun dan melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim yaitu shalat subuh dan tentu saja berjamaah dengan sang suami. Setelahnya ia turun ke bawah menuju dapur ikut membantu bi Siti menyiapkan sarapan. Namun pagi itu dapur masih sepi belum ada bi Siti disana.


"Maaf mbak El saya bangun kesiangan" bi Siti masuk ke dapur dengan sedikit berlari. Ia merasa bersalah karena majikannya telah lebih dulu berkutat di dapur sedang memasak.


Ellie menoleh dan mendapati raut muka bi Siti yang ketakutan. "Gak pa-pa Bi, aku suka masak kok." sahutnya santai.


"Oiya bi, mama sama papa suka sama bubur ayam gak ya?" lanjutnya. Pagi itu Ellie membuat bubur ayam untuk sarapan pagi.


"Nyonya dan Bapak gak pernah pilih-pilih makanan kok Mbak, semua yang saya masak biasanya mereka suka" jawab bi Siti.


"Nih bi, coba bibi icip dulu!" seru Ellie tangannya menyodorkan sendok yang sudah terisi dengan bubur.


Setelah mencoba bubur itu mata bi Siti membulat "ini beneran mbak Ellie yang bikin sendiri ya?" tanyanya heran.


Kening Ellie berkerut ia latah ikutan mencoba bubur buatannya lagi. "Aku rasa ini pas rasanya kok bi, menurut bibi gimana? Kurang apa? Apa keasinan ya?" Ellie bertanya kebingungan.


"Wow mbak ini sih namanya ueenaaak buuaaangeeet kalau saya bilang bubur ayam depot X mah lewat" seru bibi Siti memuji masakan Ellie.


"Alhamdulillah beneran nih bi?" tanya Ellie lagi.


"Limarius mbak bener saya gak bohong" jawab bibi Siti yakin.


"Hehee bibi bisa aja ih, ayo bi kita siapin di meja makan" ajak Ellie.


Keduanya terlihat sibuk menata meja makan dengan menu sarapan pagi itu adalah bubur ayam buatan Ellie. Bubur nasi putih, suiran ayam, kacang tanah goreng, bawang goreng, irisan seledri dan daun bawang dan tak lupa kerupuk dan sambal telah siap di meja panjang itu.


Baru kali ini ia dapat kesempatan memasak sendiri karena tadi pagi bibi Siti bangun kesiangan. Biasanya ia hanya sekedar membantu saja.


"Beres, aku keatas dulu ya bi mau mandi sekalian bangunin mas David." ucap Ellie.


"Iya mbak!" sahut bibi Siti.


Ellie beranjak naik ke atas menuju kamarnya. Ia sempat melihat ke arah jam dinding di ruang tengah sudah jam setengah tujuh. Ia mempercepat langkahnya.


Saat masuk ke kamar Ellie mendengar suara gemericik dari dalam kamar mandi. Ia melihat ke ranjang suaminya ternyata sudah bangun. Sambil menunggu David sedang mandi Ellie berinisiatif mengambilkan baju suaminya.


David keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang ia lilitkan hanya sampai pinggang saja. Pria itu tampak segar dengan rambutnya yang masih setengah kering.


"Ini mas bajunya" Ellie menyerahkan baju David yang ia pilih dari lemari tadi. Ia memilih kemeja warna merah marun dengan motif garis abstrak warna hitam serta celana warna hitam.


"Terima kasih istriku" David meraih baju dari tangan Ellie dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ellie.


Ellie sontak menutup mulutnya sendiri "Mas mau apa? Aku belum gosok gigi, bau!" seru Ellie cepat-cepat ia bergerak mundur.

__ADS_1


"Emang kamu maunya aku ngapain?" goda David pada istrinya.


"Eng-nggak nggak ngapa-ngapain, minggir Mas aku mau mandi." jawab Ellie. Ia hendak masuk ke dalam kamar mandi namun tubuh David menghalanginya.


"Aku cuma mau tanya, ini ********** mana sayang? Kok kemeja sama celana aja, itunya mana?" tanya David masih dengan nada menggoda.


"Eh i-itu anu, Mas ambil sendiri ya" jawab Ellie sambil buru-baru masuk kamar mandi setelah David sedikit bergeser.


"Hahahaha" David tertawa terbahak-bahak berhasil menggoda Ellie.


Beberapa saat kemudian setelah bersiap rapi keduanya turun ke bawah menuju ruang makan untuk sarapan. Pak Wahyudi, bu Ratna, bibi Siti dan pak Udin sudah siap menunggu di meja makan.


"Pagi pah mah" sapa David pada kedua orang tuanya.


"Pagi, ayo buruan makan. Papa udah gak sabar mau icip masakan menantu kesayangan nih" seru pak Wahyudi.


"Masakan menantu?" tanya David heran. Ia menoleh ke arah Ellie yang duduk disampingnya. "Kamu yang masak?" lanjutnya bertanya pada sang istri.


"Em i-iya Mas, aku yang masak" jawab Ellie terbata.


Raut muka David yang tadi datar kini berubah bersemangat dan antusias. Dalam hati ia bersorak gembira karena akan makan masakan istrinya. Beberapa hari yang lalu saat di Sidoarjo ia sudah merasakan betapa lezatnya masakan sang istri.


"Sudah-sudah ayo buruan makan!" seru bu Ratna yang ternyata juga gak sabar ingin segera menyantap bubur yang terlihat menggoda itu.


Kini hanya suara denting sendok beradu mangkuk yang terdengar, semuanya nampak sangat menikmati sarapan dengan bubur ayam. Tidak hanya anggota keluarga saja yang berada di sana. Bibi Siti dan pak Udin juga ada satu meja bersama.


"Mama suka banget ini sungguh enak sayang, kamu pinter masak juga ya." seru bu Ratna setelah selesai makan. Ia memuji bubur ayam buatan menantunya.


"Papa juga suka, ini rasanya luar biasa beda sama yang biasa kita beli di depot X ya kan Mah?" ucap pak Wahyudi.


Ellie masih tersenyum dan melihat ke arah suaminya yang tampak diam saja namun sudah nambah satu porsi lagi.


"Hebat ya mbak Ellie selain pintar masak juga cantik" puji pak Udin.


"Betul saya juga setuju mbak Ellie cantik, pinter masak, duh mas David sangat beruntung" tambah bibi Siti.


Ellie terharu dengan semua pujian yang diberikan padanya namun sang suami kayaknya biasa saja pria itu malah tak bersuara sama sekali.


"Ehem" David selesai makan kemudian ia berdehem. "Pak Udin tolong kalau sudah selesai siapin mobil saya, saya mau berangkat" titahnya. Pria itu menatap tajam ke arah pak Udin.


"Baik Mas, saya permisi dulu" jawab pak Udin dan segera bergegas pergi. Ia tahu kalau si tuan mudanya sedang marah padanya. Lebih tepatnya cemburu karena tadi pak Udin memuji Ellie.


Pak Wahyudi yang menangkap gelagat David sedang cemburu pun akhirnya tertawa. "Hahaha David... David... kok bisa-bisanya kamu cemburu sama pak Udin"


Sontak semua mata memandang ke arah pak Wahyudi dan David bergantian merasa aneh.


"Apa?" tanya David santai ke semua orang yang memandangnya dengan heran.


"Sudah-sudah ayo kita berangkat Mas" ucap Ellie ia mengelus lengan suaminya pelan.

__ADS_1


Pak Wahyudi dan bu Ratna masih menahan tertawa. Mereka mengantar David dan Ellie berangkat ke kampus sampai di teras.


Sepasang pengantin baru itu tampak diam selama perjalanan menuju kampus. Pagi itu David ada jadwal mengajar begitu juga Ellie ia juga ada jadwal kelas.


"Em... Mas..!" seru Ellie membuka suara.


"Ya" jawab David singkat ia tak menoleh hanya terus fokus mengemudi.


"Mas gak suka masakan aku?"


"Suka"


"Lalu, kenapa tadi marah-marah?"


"Siapa yang marah?"


"Ya kamu Mas!"


"Aku gak marah kok, hanya saja ..."


"Hanya apa?"


"Aku gak suka pria lain memuji mu cantik"


"Hah?"


"??"


"Astaga Mas jadi kamu tadi cemburu sama pak Udin toh?" batin Ellie ia tertawa dalam hati.


...****************...


David sampai di ruangan dosen, ia melangkah menuju mejanya. Saat hendak mengambil buku diktat ia melihat sebuah amplop cokelat di mejanya. Tangannya terulur meraih amplop tersebut.


Membuka dan membaca sekilas surat yang ada didalamnya.


Setelah itu ia masukkan surat ke dalam amplopnya lagi dan memasukkan kedalam tas kerjanya.


Masih ada waktu lima belas menit sebelum kelas mulai, pria itu duduk di kursinya dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia menghubungi seseorang.


"Halo bos" sapa suara seorang pria di seberang sana.


"Roy, tolong hubungi pengacara kita. Minta dia datang ke kantor nanti siang. Saya mau bicara penting." ucap David.


"Ada masalah apa bos?"


"Nanti saja aku kasih tau kalau sudah dikantor."


Tut sambungan terputus. David mengakhiri teleponnya. Ia bangkit dan bergegas menuju kelas karena sudah jadwalnya untuk mengajar.

__ADS_1


...****************...


bersambung...


__ADS_2