
Jika hari senin biasanya orang-orang menyebutnya dengan istilah I hate monday, tak demikian dengan pria tampan nan atletis ini. Hatinya sedang berbunga-bunga, ia sangat bersemangat menyambut hari ini.
Tak lain tak bukan karena adegan sofa panas semalam. Bayangan itu masih berputar-putar diingatannya. Entah mengapa rasanya sangat berbeda dari terakhir kali ia melakukannya. Itu sudah sangat lama sekali tentunya. Senyuman seakan enggan pergi dari wajah tampannya.
David memulai harinya dengan lari pagi disekitar jalan perumahan tempat tinggalnya, memakai jaket warna abu-abu dan celana olahraga yang longgar warna hitam serta telinganya disumbat oleh headset. Bulir-bulir air keringat setia menempel di wajahnya, meski begitu aura ketampanannya tetap terpancar bahkan naik tiga kali lipat dari biasanya.
Ia memang menyukai olahraga, apalagi olahraga yang gratisan seperti lari pagi. Itu masih sangat pagi ketika ia kembali kerumah menyudahi kegiatannya.
"Mas David, mau disiapkan sarapan apa?" sapa bik Siti saat ia masuk ke dapur dan menuju lemari es hendak mengambil botol air minum.
Nyonya dan tuannya tidak sedang berada dirumah jadi ia tak terlalu sibuk pagi ini.
Membuka tutup botol, David meneguknya sampai menyisakan seperempat isi air dalam botol. "Nasi goreng ya bik" jawabnya. Tanpa menunggu lawan bicaranya menyahut ia melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.
"Siap Mas"sahut bik Siti yang entah didengar atau tidak oleh David.
Hari senin ia tidak ada jadwal mengajar dikampus, dengan begitu ia bisa fokus ke perusahaannya. Setelah menghabiskan nasi goreng buatan bik Siti. Ia melenggang pergi menuju garasi dan bergegas ke kantor.
Sampai dikantor sekitar jam delapan, ia menyapa beberapa pegawainya yang berada di lantai bawah. Mengintruksikan rapat akan dimulai tiga puluh menit kemudian.
Sekitar satu jam ia memberikan arahan pada pegawainya. Setelah itu jadwal berikutnya adalah rapat diluar dengan direktur ABC grup. Yang akan membahas detil program, kontrak dan lain sebagainya.
David pergi bersama Roy asistennya "pastikan tidak ada yang ketinggalan Roy" ucapnya sesaat setelah mereka naik mobil.
Roy memeriksa berkas yang ia bawa di dalam tas kerjanya "beres semua bos" sahutnya kemudian.
...****************...
Ellie tampak sibuk mencatat dibukunya ia sedang berada di perpustakaan. Sesekali ia membaca dan membolak-balik halaman kemudian menulis lagi.
Gadis cantik itu mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang berkedip. Meraih ponsel di atas meja lalu membuka pasword dan melihat layarnya. Ia mengernyit sesaat, lalu mengetik sebuah pesan.
__ADS_1
Setelahnya ia buru-buru bergegas pergi meninggalkan perpustakaan dan menuju ke parkiran. Ia tadi menerima pesan dari Winda salah satu temannya, Winda mengatakan kalau ia dan Novi menunggunya ditempat parkir sekarang ada sesuatu yang harus ia sampaikan.
Tanpa ada rasa curiga ia tak mengkonfirmasi lebih dulu ke Novi. Entah pada saat itu Novi yang tadi pamit ke toilet sebentar malah tak kunjung kembali.
Sampai diparkiran, itu suasana sangat sepi Ellie mencari-cari sosok Winda dan Novi tapi setelah lima menit ia mencari kedua temannya tetap tak terlihat dimanapun.
Ellie mengambil ponsel dari saku celananya, hendak menghubungi Winda namun tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang membekap mulutnya dengan kain dari arah belakangnya.
Tangan itu sungguh kuat, ia tak bisa menoleh untuk melihat siapa orang itu. Ponselnya terjatuh saat Ellie memberontak dan dengan sengaja ada kaki yang menginjak ponsel itu.
Ellie berusaha berteriak namun suaranya tak bisa terdengar karena ada kain yang menyumpal mulutnya. Ia menonjok menendang dan mencakar apapun berusaha sekuat tenaga memberontak.
Namun beberapa menit berikutnya pandangannya kabur, aroma tajam menyengat dari kain yang membekap mulutnya. Badannya lemas seketika matanya menutup sempurna. Ia pingsan.
Dua orang pria menyeret tubuh Ellie dan memasukkannya ke dalam mobil yang telah siap menunggu dan ada sopir didalamnya. Mobil itu dengan cepat melesat pergi meninggalkan parkiran kampus.
Kejadian ini begitu cepat, tak ada yang menyadarinya. Dan entah mengapa sepertinya alam mendukung situasi ini. Parkiran yang biasanya ramai orang berlalu lalang, tadi sunyi sepi tak ada satupun tanda kehidupan.
...****************...
Ia sudah berusaha menghubungi Ellie namun ponsel itu tidak aktif. Setelah sepuluh kali mencoba menelepon tetap sama masih tidak aktif.
Novi merasa ada yang janggal, ia semakin panik dengan keras ia berteriak minta tolong dan terus menggedor pintu. Sekitar lima belas menit kemudian pintu toilet terbuka, itu Winda yang membukanya.
"Novi!" pekiknya kaget saat ia membuka pintu dan yang berada didalam adalah Novi. Sungguh gadis ini berbakat menjadi artis, aktingnya memukau.
Novi menatapnya tajam dan berlalu pergi tak menghiraukannya lagi. Hanya satu tujuan Novi, ia harus bertemu langsung dengan Ellie memastikan sahabatnya tidak kenapa-napa.
Winda tersenyum miring melihat Novi berlari pergi dengan tergesa-gesa.
Novi sampai diperpustakaan, ia mencari Ellie ke seluruh sudut ruangan itu. Nihil Ellie tak ada disana. Novi bertanya pada petugas perpustakaan. Pria itu menjawab Ellie sudah pergi sekitar satu jam yang lalu.
__ADS_1
Meski sudah tahu ponsel Ellie tidak aktif, namun ia tetap menghubunginya. Novi berlarian kesana kemari mencari Ellie. Ia bertanya pada siapa saja yang kebetulan lewat. Beruntungnya ada yang melihat Ellie berjalan ke arah parkiran tadi.
Novi berlari sekuat tenaga menuju parkiran, sepi tak ada siapa pun. Ia terus berjalan mencari tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu.
Kreek..
Novi melihat kebawah, ia menginjak sebuah ponsel. Mengambilnya lalu mengamati ponsel yang sudah retak dimana-mana itu. Deg, jantungnya seperti berhenti mendadak "ponsel Ellie" batinnya makin gelisah.
Kakinya lemas seketika, pikirannya kalut campur khawatir. Pasti ada yang tak beres batinnya lagi. Ia menuju bangku kayu tak jauh darisana.
Novi duduk sebentar ia mencoba berpikir jernih, apa yang harus ia lakukan sekarang? Teringat sesuatu, ia bangkit lagi dan berlari kencang masuk ke kampus lagi.
Nafasnya tersengal ia ngos-ngosan, ia berada di depan ruang dosen. Meyakinkan dirinya sekali lagi sebelum masuk ia kemudian mengangguk mantap.
Novi bertanya pada salah satu dosen yang ia temui, ia bertanya keberadaan pak David karena sedari tadi matanya tak menemukan sosok yang dicarinya.
Dosen itu bilang kalau David tidak ada jadwal mengajar hari ini. Novi tak patah semangat ia meminta nomer ponsel David dengan alasan ada tugas kuliah yang ingin ditanyakan.
Novi buru-buru keluar ruangan dosen saat ia sudah mendapat nomer ponsel David. Dengan cepat ia menghubunginya saat telah berada diluar ruangan.
Ia gelisah karena David tak kunjung menjawab. Mencoba sekali lagi dan pada panggilan keempat ia lega ada suara yang menyahut dari seberang.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1