Elliana

Elliana
17. Menyusun Rencana


__ADS_3

Malam minggu yang cerah, langit malam penuh dengan bintang bertaburan. Pemandangan yang bisa membuat siapa saja pasti mengucapkan kata wah indahnya malam ini.


Namun suasana hati seorang pria tak demikian, Ragil berniat akan mengajak jalan Ellie. Dan tentu saja gadis itu tak berada di kost, ia sedang berada jauh berjarak ratusan kilometer.


Ia menginterogasi Novi dengan berbagai pertanyaan. Karena tak percaya pada ucapan sahabat Ellie itu.


Awalnya Novi mengatakan jujur apa adanya bahwa Ellie sedang pulang ke Sidoarjo. Namun Ragil tak percaya begitu saja, karena ia sangat tahu biasanya mereka berdua pulang kampung selalu bersama-sama dan itu ketika liburan semester.


Ia terus mendesak dan menanyai Novi tentang tujuan Ellie pulang kampung sendirian. Novi tentu saja tidak akan mengatakan apapun.


"Udahlah Gil, Ellie itu pulang karena memang ada hal yang penting disana" ucap Novi entah yang keberapa kalinya. Ia sudah lupa karena saking bolak-balik mengatakan hal yang sama.


"Kapan baliknya?" tanya Ragil singkat.


"Besok juga udah balik kok, segitu kangennya ya elo sama dia?" Novi balik bertanya.


"Ya gitu deh. Nov, elo masih dukung gue buat dapetin dia kan? Elo mau bantuin gue sekali lagi gak?" pinta Ragil.


"Ehm, bantuin apa?"


"Pokoknya apapun yang terjadi dia harus jadi pacar gue, kemarin rencana gue buat nidurin dia udah gagal. Sekarang..." kata-kata Ragil terpotong.


Tanpa sadar Ragil keceplosan bicara.


"Apa maksud lo Gil?" Novi kaget setengah mati mendengar perkataan Ragil barusan. Ia berdiri dari duduknya dan menatap tajam ke arah Ragil.


"Eh apa? Emang gue tadi ngomong apa sih?" Ragil berkelit ia berdiri hendak berlalu pergi namun Novi dengan cepat mencekal tangannya dengan erat.


Keduanya sempat saling tarik menarik, namun Ragil berhasil berkelit ia bergegas kabur pergi keluar dari teras menuju motornya yang diparkir di depan pintu pagar.


Sialan kabur dia. Novi kesal bukan main. Ternyata ketika di bar kemarin Ragil merencanakan sesuatu yang buruk. Untungnya Ellie tiba-tiba hilang, mendadak ia bersyukur atas kejadian itu.


Novi saat ini merasa bersalah pada Ellie, dulu ia sering sekali membujuk sahabatnya itu supaya mau jalan jika Ragil datang dan mengajaknya pergi. Ia pikir Ragil cowok baik-baik tapi ternyata ia tertipu.


"Awas aja lo Gil, jika berani deketin Ellie lagi" geram Novi.


Ragil memacu roda duanya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang terbilang cukup ramai itu. Ia menyalip dengan gesit kendaraan yang berada didepannya.

__ADS_1


Ia sampai disebuah rumah kecil yang berada di tengah-tengah sebuah kebun yang tak terawat. Rumah itu tampak usang dan rusak dibeberapa bagiannya.


Ragil masuk kedalam rumah itu dengan raut muka putus asa.


"Mana dia? Kau tak membawa dia kesini?" tanya seorang pria bertubuh pendek dan gendut.


Pria ini sudah lama menunggu didalam rumah sejak sore.


"Maaf bang, dia ga ada" jawab Ragil, ia hanya menunduk.


"Bodoh, membawa gadis kecil saja kau tak bisa" ejek pria itu.


Ragil diam saja tak berani menjawab lagi. Ia takut besok tak akan bisa melihat matahari bersinar lagi jika terlalu banyak bicara.


Pria itu duduk di sebuah kursi kayu mengeluarkan rokok dari saku jaket kulitnya dengan cepat Ragil mengambil korek api dan menyalakannya untuk pria itu.


"Kau harus cepat bawa dia kesini, atau kau mau aku kerumah mu saja bertemu orang tua mu?" Ucap pria gendut itu ada nada mengancam didalamnya.


"Jangan bang, jangan kerumah. Tolong beri aku waktu sedikit lagi. Gadis itu saat ini sedang berada diluar kota, aku gak mungkin membawanya kesini sekarang" pinta Ragil memelas meminta keringanan. "Hari senin bang, aku pastikan hari senin dia aku bawa kesini" lanjutnya.


"Aku pegang kata-katamu, awas saja kalau kau gagal" kata pria itu. Ia kemudian bangkit berdiri lalu berjalan keluar meninggalkan rumah.


Ragil mengusap wajahnya dengan kasar, otaknya dipaksa bekerja keras mencari ide. Setelah beberapa menit berpikir terlintas sebuah ide gila dibenaknya, ia tersenyum licik. mengambil ponsel dari saku jaketnya ia menelpon seseorang.


"Ya ada apa?" suara serak seorang pria diseberang.


"Bawakan aku obat itu besok, dan pinjami aku mobil serta dua orang mu". kata Ragil.


"Oke" sahut lawan bicaranya


Setelah selesai menghubungi seseorang, Ragil dengan langkah lebarnya ia pergi meninggalkan rumah itu, kembali memacu motornya dengan kecepatan tinggi.


...****************...


Kedua keluarga telah sepakat bahwa ijab qobul akan dilaksanakan pada hari sabtu pekan depan. Acaranya cukup sederhana saja, hanya mengundang saudara dekat dan tetangga.


Ellie dan David pun menurut saja, keduanya menyerahkan segala keperluan diurus oleh ibu Ratna dan Dewi.

__ADS_1


Sore hari David dan kedua orang tuanya pamit, mereka akan menginap di sebuah hotel yang dekat dengan bandara.


Pukul tujuh malam David nampak rapi dan tampan, kaos polo warna putih dan celana jeans biru melekat sempurna di tubuhnya yang atletis. Ia meraih ponsel yang tegeletak di nakas, mengetik pesan ke seseorang.


Sedang apa?


Sesaat ia menunggu balasan, tak berselang lama ponselnya berkedip.


Ngobrol sama ibu, ada apa?


Ia nampak berpikir sesaat sebelum membalas pesan dari Ellie.


Gak ada apa-apa, ya udah selamat malam jangan tidur terlalu larut.


David mengurungkan niatnya keluar hotel, ia akhirnya memilih berkutat dengan laptop dan file-file program pekerjaannya.


Tak terasa sudah dua jam lamanya David menyibukkan diri dengan laptopnya. Merasa lelah, ia bangkit lalu berjalan menuju balkon mencari udara segar.


Sebetulnya tadi David berniat mengajak Ellie keluar untuk sekedar jalan-jalan menikmati indahnya malam minggu di kota yang asing baginya. Namun ia tak mau mengganggu kebersamaan Ellie dengan keluarganya.


David tahu hal itu adalah momen langka bagi Ellie yang jarang pulang, tinggal jauh dari keluarga. Ia tak mau jadi pria egois yang hanya mementingkan kesenangannya saja.


...****************...


Ellie bersama dengan kedua adik dan ibunya sedang bersantai diruang tengah sambil menonton acara TV. Pak Ahmad sedang mengobrol dengan seorang tetangga di teras depan.


Bu Dewi memberikan banyak nasehat untuk ketiga putrinya. Salah satunya tentang menjadi seorang istri yang baik dan patuh pada suaminya.


Ellie nampak serius mendengarkan ibunya, sedangkan kedua adiknya entahlah mereka fokus ke ibu atau sinetron yang sedang tayang dilayar TV.


"Ibu harap David pria yang tepat untuk mu, kamu harus melayaninya dengan baik. Menyiapkan segala keperluannya, dan mendukungnya".


"Sejujurnya Ellie masih ragu bu, gimana dengan beasiswa ku nanti? Gimana dengan kuliah ku juga?"


"Nak pasrahkan saja semuanya pada Allah Yang Maha Segalanya, kita sebagai umat manusia hanya wajib berusaha melakukan yang terbaik untuk hasilnya berserah diri saja. Ibu yakin pasti ini yang terbaik buat kalian berdua"


Ellie tersenyum memeluk ibunya "Maafkan Ellie ya bu". Bu Dewi membalas pelukan putrinya mengelus pelan punggung rapuh itu.

__ADS_1


...****************...


Bersambung...


__ADS_2