
Daphne mendorong tubuh Eros ke ranjang, dengan gerakan menggoda menurunkan dress yang dipakainya hingga jatuh ke lantai, dia hanya memakai ****** ***** tanpa bra, hal itu yang sedari membuat Eros menahan hasratnya mengingat acara ini adalah acara yang sangat penting.
Daphne melangkahkan kakinya merangkak menaiki ranjang, tepatnya di atas Eros, membuka kemeja lelaki itu dengan lembut, sesekali mengecup dadanya memberikan sensasi yang berbeda. Daphne tidak pernah melakukan hal itu dengan pria lain, orang pertama adalah Eros, namun saat ini wanita itu lebih terlihat seperti wanita berpengalaman yang nakal.
Kegiatan mereka berlangsung sangat lama, hingga keduanya sama-sama terlihat lelah, tetapi lebih lelah Daphne, wajah Eros tidak nampak bahwa pria itu berniat istirahat. Masih terus mengecupi tubuh polos Daphne yang sudah tak berdaya di ranjang mereka yang berantakan. Eros menyentuh rambut Daphne lembut.
“kau lelah?.” Tanya Eros
“hmm.” Daphne hanya bisa mengangguk dan berdehem, dalam fikiran Daphne terus berfikir kenapa pria di hadapannya begitu kuat padahal mereka melakukannya sudah berkali-kali.
“baiklah, istirahat saja.” Eros merebahkan tubuhnya di sebelah Daphne, melihat langit-langit kamar itu.
Daphne memutar tubuhnya kearah Eros dan memeluk tubuh kekar pria itu, “kau pernah sedih?.” Tanya Daphne tiba-tiba
“sedih?.”
“iya, apa kau pernah sedih?.”
“bagaimana denganmu? Apa kau pernah sedih?.” Tanya Eros kembali, pria itu melihat kearah Daphne, menatap mata wanitanya lekat-lekat.
Sambil melihat dinding di belakang Eros, Daphne mulai membuka mulut “pernah, waktu ibu meninggal, entahlah kenapa aku sedih waktu itu, aku masih sangat kecil, tapi aku ingat kalau meninggalnya ibuku adalah suatu hal yang direncanakan, ayahku kakakku hanya diam menyaksikan tubuh itu mengambang di air saat aku berteriak.”
Daphne kecil berjalan keluar kamarnya sambil membawa boneka kesayangan saat tidur, malam itu terlihat mencekam, lampu masih menyala semua, namun udara terasa lebih dingin dari sebelumnya, Daphne berniat untuk ke dapur mengambil minum karena haus, biasa ibunya yang mengambilkan untuk Daphne, tapi wanita cantik itu tengah terbaring di ranjangnya karena sakit.
“aaaaaaa…….!!!!.” teriak Daphne memekakan telinga, semua penghuni rumah langsung berlari kearah sumber suara.
Daphne menunjuk tubuh Sasilia yang sudah mengambang di kolam renang yang terletak di dekat dapur dengan kaca penghalang.
“bawa adikmu masuk niel.”
__ADS_1
Daniel hanya mengangguk dan menuntun Daphne masuk ke kamarnya.
Setelah itu semuanya berubah, kakaknya, ayahnya dan semua yang ada di rumah berubah terhadap Daphne. Ayahnya memutuskan menikah dengan sahabat ibunya, Saly, dan memiliki anak pertama mereka yang di beri nama Alexander. Daniel sudah jarang pulang ke rumah karena lelaki itu memilih untuk tinggal di asrama sekolah, sedangkan Daphne masih hidup seperti biasanya, berangkat sekolah dan pulang sekolah menggunakan bus sekolah, kalau weekend biasanya Daphne bekerja membantu di sebuah tempat makan, entah cuci piring atau bersih-bersih, layaknya pekerjaan yang dilakukan anak remaja. Alasan Daphne bekerja sampingan saat liburan adalah uang jajan dan transportasi, uang pemberian ayahnya tidak pernah cukup jika naik bus pulang pergi, jadi dia harus mencari uang tambahan saat weekend.
“apakah aku terlihat sangat menyedihkan?.” Tanya Daphne pada Eros yang sedari tadi hanya diam.
“tidak, kau wanita yang hebat Daphne.” Eros membawa Daphne ke dalam pelukannya “aku tidak akan membiarkanmu seperti itu lagi, aku berjanji atas nama Tuhan dan Dewa yang mengatur alam semesta.”
“ahahaha.” Daphne tertawa sangat keras mendengar ucapan Eros, kalau orang lain akan berdoa atas nama Tuhan, kenapa Eros harus ditambah atas nama Dewa, memangnya Dewa itu ada, padahal Dewa hanyalah sebuah mitologi Yunani.
“kenapa? apa ada yang lucu?.”
“tidak ada, bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu sedih?.”
“sebelum bertemu denganmu.” Jawab Eros singkat.
“ha?.”
Hari ketiga, Eros memutuskan untuk kembali ke mansionnya, berniat tinggal di sana selama seminggu, namun dalam perjalanan ke mansionnya, mobil mereka tanpa sengaja menabrak seorang wanita. Saat mata mereka bertemu, ada yang berbeda dalam diri Eros, suatu hal yang lama seakan tumbuh kembali, sebuah bunga yang rasanya bermekaran sangat indah.
“kau pasti tau tentangku di public kan?.” Tanya Eros pada Daphne yang hanya dijawab gelengan wanita itu “astaga, kau tidak pernah menonton tayangan televisi atau majalah?.”
“menurutmu?.”
“tidak, syukurlah kalau begitu, kau tidak akan tahu.”
Daphne membalik badannya, mengambil ponselnya di nakas dan mencari nama Eros di pencarian internet, banyak sekali berita buruk tentangnya selain seorang pebisnis muda sukses mendirikan E Group memiliki banyak harta dan belum menikah, seorang pria yang tidak mau berhubungan serius pada siapapun.
Daphne manatap Eros, nyatanya pria itu memang tak pernah serius pada wanita, bodohnya Daphne tidak tahu menahu mengenainya, tidak terbesit sedikitpun untuk melihat fakta mengenai Eros.
__ADS_1
“sebelum bertemu denganmu.” Ucap Eros seakan mengerti apa yang di fikiran Daphne
“apa aku bisa percaya?.”
“tentu saja, aku sudah bersumpah atas nama Tuhan dan Dewa, apa yang kau ragukan.”
“banyak orang bersumpah, tapi nyatanya melupakan sumpah itu.”
“aku bukan termasuk kebanyakan orang yang kau maksud baby.”
“lagipula kenapa harus bersama, kita kan hanya sebuah perjanjian,” Jawab Daphne ketus, antara kesal dan kecewa menjadi satu, dia sendiri tidak menyangka kalau akan nyaman dengan Eros, bahkan dia merasa kalau menyukai pria yang ada di hadapannya saat ini yang tak lebih seorang bajingan.
“tidak ada yang tau masa depan, tapi hanya kau satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku Daphne.”
Untuk pertama kalinya setelah mereka berhubungan, Eros memanggilnya dengan nama, itu terdengar sangat lembut dan tulus.
“aku tidak akan berharap lebih terhadapmu.” Jawab Daphne
“aku tidak akan memintamu melakukan itu, aku hanya bersikap sebaik mungkin padamu sampai kau bosan.”
Tangan Eros mengusap lembut pipi Daphne “ada banyak rahasia di dunia ini yang tak pantas di ungkap Daphne, dan aku tak ingin mengungkapkan apapun yang tak perlu ku ungkapkan padamu, tapi aku hari ini dan nanti akan tetap sama, aku melakukan apapun untukmu bukan hanya sekedar perjanjian apalagi hanya soal ****, tetapi aku melakukannya tulus dari diriku yang paling dalam.”
Daphne tersenyum, entah kenapa ucapan Eros sangat manis menurutnya, seorang Eros yang dingin pada siapapun mengatakan sepanjang itu padanya adalah sebuah keberuntungan yang besar untuk seorang Daphne, wanita yang di buang keluarganya sendiri hanya karena jenis kelamin perempuan dan jatuh dipelukan pria berkuasa, seorang CEO besar yang ditakuti siapapun.
*
__ADS_1