
Hari ini adalah hari weekend, biasanya Daphne akan menghabiskan waktunya bermalas-malasan, walaupun memang setiap hari hanya bermalas-malasan, tapi hari ini wanita itu ada janji dengan teman bekerjanya dulu, Mike.
Eros masih terlelap dalam mimpinya, pria itu sangat tampan saat tidur, tubuh atasnya yang telanjang, otot kekarnya, semuanya adalah sempurna. Mungkin sewaktu pembagian Nasib, Eros paling depan majunya. Tanpa membangunkan pria yang masih tertidur, Daphne membuka selimutnya dan menginjakkan kakinya di lantai marmer yang dingin kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Selesai mandi, Daphne memakai pakaiannya, hanya dengan pakaian casual, celana jeans dipadukan dengan kemeja putih dan juga tas selempang kecil, tak lupa hells putihnya. Wanita itu terlihat sangat cantik membiarkan rambutnya terurai dan make up tipisnya.
Merasakan bau yang wangi, Eros membuka matanya, pandangan pertama yang dilihat adalah sosok Daphne yang sangat menawan berada di hadapannya tengah berdiri didepan kaca.
“kau akan kemana baby?.” Tanya Eros
“aku akan jalan dengan temanku bekerja dahulu.”
“siapa? Lelaki itu?.”
“iya siapa lagi, hanya itu temanku bekerja, mungkin kalau yang lain ikut aku tidak tau.”
“baiklah, Jake akan mengantarmu, atau kau mau ku antar.”
“tidak perlu, aku bisa di antar Jake, lagipula hanya jalan-jalan, mungkin makan terus pulang.”
“oke, come here.”
Daphne berjalan kearah Eros, pria itu menarik Daphne hingga jatuh diatas tubuhnya. “ Eros lepaskan."
“memohonlah padaku.”
“aku mohon… pleeaseee…..”
“kiss me.”
Daphne memutar bola matanya sebentar, kemudian mendekatkan wajahnya pada Eros, mengecup bibir itu singkat, namun Eros menarik nya kembali, ******* bibir manis Daphne hingga puas, lalu melepaskannya.
“hati-hati, kalau ada apa-apa hubungi aku okay?.”
“siap bos!.”
Daphne dengan bahagia menuruni tangga, wanita itu nampak sangat cerah di pagi hari membuat para pelayannya juga tersenyum bahagia. Daphne hanya meminum segelas susu yang sudah di siapkan di meja, dari lantai dua, Eros melihat Daphne yang bahagia membuatnya juga tersenyum.
Jake mengantarkan Daphne menuju sebuah Café tempatnya janjian dengan Mike, sayangnya saat sudah sampai disana, Mike belum juga datang.
“apa perlu saya temani terlebih dahulu nona?.” Tanya Jake
“tidak perlu, aku bisa sendiri, Mike mengatakan akan segera tiba.”
“baiklah, saya akan mengawasi nona dari jauh.”
__ADS_1
“terima kasih Jake.”
Saat tengah menunggu Mike disalah satu meja, tiba-tiab seorang wanita berpakaian sangat seksi menghampirinya, wanita berambut panjang hitam legam, siapa lagi kalau bukan Sahara. Daphne saja tidak tau kenapa Sahara bisa ada disana juga, padahal hari ini dia sangat bahagia, melihat Sahara moodnya jadi menurun.
“huft.”
Sahara duduk didepan Daphne. “dasar simpanan.” Ucap Sahara
“hahaha yang simpanan itu siapa? Bukannya kau ya? Duh harusnya Saly tau kalau kau juga diam-diam menggoda ayahku.”
“jaga bicaramu, siapa yang menggoda tua Bangka seperti ayahmu hah?.”
“bukahkan itu kau? Atau perlu aku kasih tau buktinya.”
“bukti apa?.”
“sayang sekali, kau lupa kalau setiap ruangan di rumah ada CCTV nya, kalau mau menggoda itu di kamar mandi, jangan di dapur. Kasihan sekali Saly di khianati adiknya sendiri.”
“tidak!.” Teriak Sahara kesal
“duduklah yang manis dan jangan lakukan apapun, ah aku juga ingat kalau kau pernah menggoda ayah Diana, teman satu kelasmu dulu waktu sekolah menengah atas, bahkan Diana curhat padaku.”
“tutup mulutmu atau ku siram.” Sahara menyentuh gelas minum milik Daphne yang ada dimeja.
Daphne hanya menatap tajam kearah Sahara.
“berisik, tunggu saja, siapa yang akan menikahi Eros, aku atau kau Daphne.” Sahara beranjak dari duduknya meninggalkan Daphne yang hanya bergeleng-geleng kepala melihat tingkah Sahara.
Setelah Sahara pergi, Mike pun tiba. Pria itu entah kenapa membawa bunga dan memberikannya pada Daphne.
“apa ini? Untukku?.”
“tentu saja, bunga yang indah untuk wanita yang spesial.”
“apaan sih Mike.”
“hahaha bagaimana kabarmu Daph?.”
“baik, kau akan pulang kapan?.”
“entahlah, aku sudah mendapatkan pekerjaan disini, mungkin ku tunda sampai tiga bulan kedepan.”
“woah syukurlah kalau kau sudah mendapatkan pekerjaan.”
“bagaimana denganmu Daph?.”
__ADS_1
“aku tidak melakukan apapun.”
“kau sudah lahir di keluarga orang kaya, lagipula kenapa kau harus bersusah payah bekerja, padahal kau bisa mendapatkan semua yang kau mau.”
“itu milik keluargaku bukan milikku.”
Tiba-tiba Mike menyentuh tangan Daphne.
“ada yang ingin ku katakan Daph.”
“apa sih Mike, jangan gini.” Daphne berusaha melepaskan tangannya yang di pegang Mike, tapi lelaki itu tetap menggenggam nya.
Dari kejauhan Jake sudah mengawasi, jikalau Daphne membutuhkannya dan merasa tidak nyaman dengan teman laki-lakinya itu.
“Daphne, aku menyukaimu.” Ucap Mike
“maaf Mike.” Daphne berhasil melepaskan tangannya dari genggaman Mike “aku tidak bisa, aku hanya menganggapmu teman dan sahabat, tidak lebih.”
“jadi benar, kau berhubungan dengan pria bajingan berkedok harta, Eros.”
Plaakkk
Satu tamparan keras mengenai pipi Mike “jaga bicaramu Mike, Eros tidak seperti yang kau katakan, dan satu lagi kau bukanlah Mike yang ku kenal, Mike yang baik dan tidak pernah melukai siapapun.”
Daphne mengeluarkan lembaran uang dari dalam tasnya dan menaruhnya dimeja untuk membayar kopinya, kemudian wanita itu beranjak dari duduknya meninggalkan Mike sendirian. Daphne masuk kedalam mobil dengan Jake.
“apa nona baik-baik saja?.” Tanya Jake saat melihat majikannya dengan mood tidak baik
“jangan katakan apa yang kau lihat pada Eros.”
“baik nona. Kita akan pergi kemana lagi?.”
“bisa antarkan ke tempat pemakaman xxx.”
“baik nona.”
Mobil meninggalkan tempat tersebut membelah jalanan menuju lokasi yang di maksud Daphne, pemakaman milik Sasilia, entah kenapa Daphne merindukan Sasilia, sangat merindukannya.
Sebelum masuk ke pemakaman, Daphne membeli bunga yang di jual tak jauh dari tempat pemakaman, serangkaian melati dan bunga mawar yang di taburkan. Daphne duduk digundukan tanah makam dengan nama Sasilia Petrus, kemudian di sebelah makam tersebut ada makan milik kakeknya, Petrus dan neneknya, Salma.
“ibu, Daphne merindukan ibu.” Ucap Daphne lirih sambil mengusap papan nama yang tertancap di tanah. “ada banyak hal yang ingin Daphne ceritakan pada ibu, seseorang menjadi penolong Daphne bu, entahlah Daphne merasa nyaman, tapi Daphne takut kalau ini semua tak nyata, dia terlalu baik untuk Daphne, dia seperti malaikat yang pernah ibu ceritakan sewaktu Daphne akan tidur. Ibu, apakah ibu bahagia disana? Daphne harap ibu selalu bahagia diatas sana.” Daphne memeluk makam ibunya kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan pemakaman tersebut.
Tak lupa, Daphne juga menaburkan bunga di makam kakek neneknya, tanpa mereka Daphne juga tak akan ada di dunia ini.
*
__ADS_1