
“bagaimana Daphne?.” Suara dari sebrang telepon salah satu bodyguard
“nyonyaa terlihat bahagia dengan teman-temannya tuan.”
“baguslah, kalau ada apa-apa langsung kabari.”
“ya tuan.”
Namun belum sampai menutup telepon, terlihat seorang pria tak di kenal memeluk Daphne, para bodyguard menghampiri wanita itu, saat Daphne terlihat menegang dihadapan pria berpakaian rapi dengan sebuah tato di tangannya.
“tuan seseorang mengganggu nyonya Daphne, saya akan kesana terlebih dahulu.”
Tutt tutt
Panggilan itu tiba-tiba mati, Eros yang akan mengerjakan beberapa pekerjaannya yang tertunda, menutup laptopnya begitu saja, mengambil jasnya yang ada di sampiran kursi dan keluar dari ruangannya terburu.
“tuan Eros apa yang terjadi?.” Teriak Melinda karena tidak biasanya pria itu terburu keluar dari ruangannya.
“ada apa?.” Zain yang baru saja datang menanyai Melinda
“tuan Eros tiba-tiba berlari keluar.”
Zain yang ikut khawatir langsung keluar bahkan melalui tangga darurat karena menunggu lift yang lumayan lama. Eros yang sudah sampai di bawah, langsung masuk ke mobilnya, bahkan tanpa sopir mobil itu meninggalkan perusahaan. Zain yang ada di belakang belum sempat mengejar pria itu.
Eros terus menekan panggilan ke ponsel Daphne namun tidak ada jawaban dari wanitanya. Beberapa menit kemudian Eros sampai di gedung tempat konser, penjaga menahannya saat Eros akan masuk.
“saya pemilik gedung ini.” Ucap Eros yang membuat penjaga itu minggir.
Dalam kerumunan orang-orang Eros mencari keberadaan Daphne, namun yang ditemukan malah kedua bodyguardnya yang tergeletak di lantai. “shit!.” Eros terus mencari ke seluruh penjuru gedung hingga tanpa sengaja dia menginjak sebuah gelang, gelang yang dia lihat di pergelangan tangan Daphne saat mereka bertemu pertama kali.
Braaakk
Sebuah pintu yang tertutup dengan tiba-tiba menarik perhatian Eros, pria itu berjalan kearah pintu tersebut dan mendobraknya. Terlihat Daphne yang duduk di bawah menekuk lututnya dengan seorang pria yang berdiri di depannya, seorang pria yang bahkan tingginya tidak sampai 180cm.
“Daphne.” Panggil Eros yang membuat pria itu melihat kebelakang.
Buugghhh
Sebuah pukulan keras melayang kearah wajah pria itu hingga tersungkur ke lantai, Eros langsung menghampiri Daphne dan menyentuh tubuh wanitanya. Daphne yang menengok ke atas, melihat Eros berada di hadapannya langsung memeluk Eros erat mengabaikan pria yang akan memukul Eros dari belakang. Namun belum sampai memukul Eros, Zain lebih dahulu memukul lehernya hingga tergeletak di lantai.
“kau baik-baik saja? Ada yang terluka? Apa dia melukaimu?.” Tanya Eros memastikan tubuh Daphne baik-baik saja.
“siapa dia?.” Tanya Zain dari belakang
__ADS_1
Eros melihat kearah Daphne, wanita itu akan mulai membuka mulut tapi Eros menghentikannya dan memilih membopong Daphne keluar dari gedung konser, hanya mereka berdua saat ini, berada di dalam mobil. Daphne yang sebelumnya hanya diam dengan tangan yang tremor, sekarang sudah mulai tenang.
“kau bisa cerita.” Ucap Eros memecah keheningan
“George, teman Daniel.”
“lalu apa hubungannya denganmu?.”
“kak Daniel pernah menjualku padanya saat aku masih sekolah, aku fikir dia sudah berada di penjara karena ayah menjebloskan nya ke penjara karena dia juga mengganggu ibu tiriku.”
“dia sudah bebas.” Jawab singkat Eros “tenanglah, tidak apa-apa, orangku akan mengurusnya.”
“terima kasih.”
Eros membawa Daphne ke pelukannya, pelukan hangatnya yang selalu memberikan sebuah ketenangan, seakan Eros adalah Dewa yang di kirim dari langit untuknya, mengubah hidupnya.
“I hope you happy baby.” Bisik Eros lembut di sela-sela Daphne terlelap dalam kelelahannya. Eros sangat bersyukur pria itu belum sempat menyentuh miliknya, kalau sampai dia menyentuh Daphne sedikit saja, mungkin keluarganya akan hancur semuanya tanpa tersisa termasuk dia yang akan di bunuh Eros dengan tangannya sendiri.
Semburat cahaya matahari menerobos masuk tempat tidur Daphne dan Eros, wanita itu masih terlelap sendirian, suara gemericik dari kamar mandi membuat Daphne mengerjapkan mata di tambah silaunya matahari yang mengenai wajah cantiknya.
Yang ada dikepalanya hanya tentang semalam saat dia bersama teman-temannya pergi ke konser dan bertemu George, bukan apa yang dilakukan George padanya melainkan saat dia melihat pria itu, dia selalu teringat kilas balik saat ayahnya lebih mengkhawatirkan ibu tirinya ketimbang dirinya yang banyak luka karena kabur dari George.
Namun semua dikesampingkan, yang dia lakukan saat ini adalah menjadi Daphne Sasilia, putri Sasilia yang kuat, bukan seorang gadis lemah yang mudah mengalah tentang apapun itu. Sudah cukup Daphne kehilangan ibunya kala itu, dia tidak ingin kehilangan dirinya sendiri, kekuatan dirinya hanya karena satu hal yang tak berarti sama sekali.
Ceklekk
Pintu kamar mandi terbuka, Eros berdiri disana bertelanjang dada, hanya melilitkan handuk di pinggang menutupi area bawah. Rambut basahnya dan wajah tampannya yang masih meneteskan air.
“kau sudah baikan?.” Tanya Eros
“aku baik-baik saja, terima kasih tentang semalam.”
“jangan berterimakasih perihal itu, kau ada di sisiku jadi aku punya kewajiban untuk melindungimu.”
“aku tau, tapi aku hanya ingin berterimkasih, kalau saja kau tidak datang aku tidak tau apa yang terjadi setelahnya.”
“tidak masalah, kau mau ikut denganku hari ini?.”
“kemana?.”
“ketempat yang akan membuatmu bahagia. Mandilah, aku akan menunggumu di bawah untuk sarapan.”
Daphne mengangguk. Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian casual, celana jeans dengan kaos hitam, Daphne menuruni tangga menuju lantai satu untuk makan bersama Eros. Eros sudah menunggunya di meja makan, hanya mereka berdua karena para pelayan sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
__ADS_1
“kita akan kemana?.” Tanya Daphne
“makanlah terlebih dahulu, kau melewatkan makan malam mu semalam.”
Daphne duduk didepan Eros, memakan makanannya dengan lahap. Daphne benar-benar tidak menyangka setelah 15 menit perjalanan, mereka sudah berada di lapangan tembak milik Eros, sebuah lahan luas jauh dari kota tetapi tidak sejauh mansion pria itu, tempat menembak dan memanah.
“aku dengar saat kecil almarhum nyonya Sasilia mengajakmu ke tempat seperti ini.” Ucap Eros sambil mengambil beberapa alat panahan yang sudah di siapkan.
“iya ibu selalu mengajakku ke tempat seperti ini, bagaimana kau bisa tau?.”
“aku tau karena aku ingin tau tentangmu, aku mengajakmu kemari bukan hanya mengingatkanmu pada ibumu tapi juga mengajarimu.”
“kau bisa?.”
Eros hanya diam, lelaki itu menarik panahnya dan melepaskan, tepat sasaran di tengah.
“wah hebat.” Puji Daphne
“aku sedikit bisa, apa kau siap?.”
Daphne mengangguk senang. Eros berdiri di belakang Daphne, memegang kedua tangan Daphne dari belakang membantu wanita itu.
“fokus Daphne, tujuanmu adalah lingkaran di tengah dank au harus bisa menyentuhnya.”
Kembali Daphne mengangguk mengerti.
“lepas!.” Teriak Eros.
Panas itu melayang, walaupun tidak terkena sasaran, setidaknya awal yang baik untuk Daphne terus berlatih disana ada maupun tidak ada Eros disisinya. Tempat itu adalah milik pribadi Eros, hanya dia yang memakainya atau mungkin Zain, itupun Zain tidak pernah karena pria itu sangat sibuk dengan pekerjaannya.
“tuan Eros.” Panggil Zain dari belakang.
Eros menengok kebelakang begitupula Daphne.
“ada hal penting.”
“sebentar.” Eros menlihat Daphne “latihan lah sendiri, aku akan segera kembali setelah urusanku selesai, kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku atau meminta tolong Jake.”
“iya.”
Jake adalah bodyguard Daphne, pria bertubuh besar tanpa senyum itu selalu mengabari tentang Daphne kemanapun Daphne berada pada Eros. Dan yang tentunya Eros sangat percaya pada Jake, selain Jake bukan penyuka lawan jenis, dia juga pria yang sangat setia dengan majikan.
*
__ADS_1