Eroticism Lost

Eroticism Lost
Episode 33


__ADS_3

“aku sangat mencintai dia.”


“dia seorang manusia, kau tidak akan pernah bisa bersamanya Eros.”


“bagaimana cara agar kau merestui hubunganku dengannya.”


“baiklah kalau begitu dia harus melakukan suatu hal untukku.”



Eros langsung terbangun menyentuh kepalanya, selama Eros hidup di bumi sama sekali dia tidak pernah mengalami sebuah mimpi, tapi hari ini saat tertidur di meja kerjanya, Eros mendapatkan sebuah mimpi, mimpi yang sangat nyata seperti kilasan suatu hal yang telah berlalu, hanya saja Eros melupakan hal itu.


Hari sudah mulai gelap, Eros meninggalkan ruangannya, semua kosong di lantai 4, Zain juga mengabarinya untuk ijin karena ada kepentingan dengan istrinya yang mendadak, alhasil dia harus pulang dengan Jake. Saat melewati Loby depat, Eros melihat Psikhe yang masih berdiri didepan.


“kenapa belum pulang?.” Tanya Eros


“tuan Eros, saya menunggu taksi.” Psikhe menunduk melihat lantai putih yang seakan lebih menarik ketimbang pria tampan yang berdiri didepannya.


“ikut saya saja, saya antarkan pulang.”


“tidak perlu tuan.”


“ini perintah.”


“baik.”


Psikhe mengikuti langkah Eros menuju basement kantor, masuk kedalam mobil Eros dan duduk disebelah Eros, selama dalam perjalanan, Psikhe hanya diam, tapi Eros terlihat memandangi sebuah gelang yang melingkar di tangan Psikhe.


“itu gelang apa?” tanya Eros penasaran.


“ah ini, kata nenek buyut gelang ini adalah sebuah keselamatan.”


“kau masih percaya akan hal itu?.”


“emm iya, sejak kecil hidupku sudah di ramal berhubungan dengan dewa, nenek menjagaku sampai seorang dewa menikahiku.”


“pffttt.” Eros menahan ingin tertawa “kenapa kau begitu percaya akan hal itu?.”


“karena sejak kecil saya sangat dekat dengan nenek, saya tau bagaimana nenek, bahkan dia lebih menyayangi saya ketimbang orang tua saya sendiri. Mungkin aneh, tapi apa tuan Eros percaya pengantin dewa?.”


“mungkin ada.”


“ya katanya saya adalah pengantin dewa, kata nenek dahulu ada salah satu dewa yang menikah dengan manusia, karena suatu hal manusia itu meninggal tapi pada saatnya nanti akan ada reinkarnasi nya dan tetap akan menjadi jodoh dewa tersebut.”


Eros terdiam, seakan ucapan Psikhe seperti berkaitan dengan mimpi yang ia alami, Eros memandangi Psikhe namun tidak ada ingatan yang terlintas mengenainya, sama sekali bahkan tidak ada rasa apapun pada wanita itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka sampai di dekat sebuah gang tempat tinggal Psikhe.


“tuan terimakasih sudah mengantarkan saya pulang.”


“sama-sama lain kali jangan pulang larut, tidak baik untuk wanita apalagi sendirian.”


“baik tuan terimakasih atas perhatiannya, saya permisi, selamat malam.” Psikhe keluar dari mobil Eros, menunggu di depan gang sampai mobil itu pergi.


Eros menghubungi Zain, “saya mau data mengenai Psikhe.”


Mobil Eros membelah jalanan menuju kerumahnya, hari sudah petang, rumah itu nampak sepi namun sosok wanita memakai baju putih panjang dengan rambut tergerai indah masih berada di depan tv menonton serial drama sambil memakan camilan.


Eros menghampirinya memeluknya dari belakang dan beberapa kali mengecup rambut wanitanya. Eros melihat wajah Daphne yang sambab sehabisa menangis, dengan wajah khawatir, Eros mengganti posisi duduk disebelah Daphne.


“apa yang terjadi baby?.” Tanya Eros


Daphne menunjuk kearah televisi yang menayangkan drama sedih. “mereka putus.”


Eros menghembuskan nafasnya tenang, dia fikir kenapa ternyata karena drama. “astaga, ku fikir kenapa, mau makan malam bersama?.”


“ya mau.”


Daphne beranjak dari duduknya, mereka berdua dengan pakaian yang sudah rapi menuju sebuah restaurant romantis di pusat kota, pelayan yang melayaninya bak seorang raja dan ratu, suasana romantic yang tidak bising sama sekali dengan lilin diatas meja.


“besok aku akan pergi ke rumah keluarga Archary.”


“tidak perlu, aku akan kesana sendirian.”


“kalau begitu biarkan Jake mengantarmu.”


“baiklah.”



Bukan rumah yang sangat dirindukan tapi senyuman orang tuanya yang sangat ia rindukan, tawa nya dan seluruh kehangatan itu yang berubah dalam sekejam menjadi sebuah neraka untuk Daphne.


“Jake, tunggulah disini saja.”


“tapi nona Daphne, rumahnya masih lumayan jauh kalau dari sini.”


“tidak apa-apa, aku bisa sendiri.”


“baiklah, kalau ada apa-apa, nona bisa menghubungi saya.”


“terimakasih Jake.”

__ADS_1


Daphne keluar dari mobil, hari ini wanita itu sangat cantik dengan mengenakan dress navy selutut berlengan pendek dipadukan tas selempang bermerek Channel. Nyatanya terakhir kali meninggalkan rumah melepaskan nama Archary, dia masih memakai pakaian lusuh tak bermerek namun terlihat nyentrik ala-ala anak 18 tahunan, tapi sekarang dia terlihat lebih modis dan menawan sesuai dengan umurnya. Hanya karena ingin memberikan balasan kepada keluarganya, dia menerima Eros, mengikuti kehidupan Eros bahkan merelakan apa yang di sukainya, yaitu kebebasan.


Pintu terbuka, para pelayan seperti tidak ada di rumah. Saat Daphne masuk, dia langsung dikejutkan oleh Alexander yang tengah bercumbu dengan seorang wanita di sofa ruang tamu. Daphne melihat kearah mereka tajam dengan kedua tangan bersedekap.


Pandangan Alex tertuju kearah pintu, melihat Daphne kakaknya yang tengah memandanginya tajam. Alex melepaskan ciumannya dan tangannya yang berada di dada wanita itu, bahkan membenarkan pakaian wanitanya yang terbuka beberapa kancing.


“kakak.” Panggil Alex yang langsung berdiri.


“dimana orang tua mu?.” Tanya Daphne dengan wajah dinginnya, wanita disebelah Alex itu hanya menduduk membenarkan duduknya di sofa.


“ayah dan ibu berada di perusahaan.” Jawab Alex gugup


Daphne berjalan kearah Alex dan duduk didepannya, menatap tajam dari atas hingga bawah penampilan wanita yang dibawa oleh adiknya.


“siapa namamu?.” Tanya Daphne tegas


“Alina kak.” Jawabnya gugup, namun terlihat Alex menggenggam tangan wanita itu erat.


“tenanglah, aku tidak akan memarahi kalian. Tapi aku sarankan lebih baik kau tidak membawa wanitamu ke rumah, kau tau bagaimana orang tua mu bukan, Alex?.”


“ya aku tau.”


“jangan sampai kau membahayakan nya hanya karena kau membawa dia pulang dan pelayan mengadu pada orang tua mu.” Daphne melihat tajam kearah pelayan yang mengintip di sudut ruangan di belakang dinding membuatnya berlari ketakutan mendengar ucapan Daphne. “karena orang tua mu tidak ada, aku akan pergi.” Daphne baranjak dari duduknya meninggalkan rumah.


Belum sampai di area depan, Alex dan Alina menghentikan langkah Daphne.


“kak.” Panggil Alex


“kenapa?.” tanya Daphne menengok kebelakang.


“terimakasih.” Ucap Alex, lelaki itu memang berbeda dari ibunya maupun kakaknya, Alexander itu baik dan juga sangat penurut.


“tidak perlu berterimakasih, jaga wanita yang kau sukai, karena ayah pasti akan menolaknya.”


“ya kak, aku tau.”


Daphne mengusap kepala Alex sayang.


“kau tetaplah adikku Alex, kalau kau ingin hidup dengan baik dari dirimu sendiri, pindahlah sekolah di sekolah biasa dan tinggalan di asrama nya. Aku bukan membujukmu untuk sepertiku maupun seperti Daniel, tapi aku hanya ingin kau hidup sesuai yang kau inginkan.”


“aku tau kak, aku tengah mempertimbangkan itu semester depan.”


“baguslah kalau kau juga berfikir tentang itu, aku pergi dulu.” Daphne melangkahkan kakinya meninggalkan Alex dan Alina, menuju ke mobil yang sudah menunggunya.


 

__ADS_1


 


*


__ADS_2