
Pesawat yang membawa Eros dan Daphne berangkat sangat pagi ke Sankt Moritz, Eros tidak berkontribusi apapun selain keberangkatan, semuanya telah diatur oleh Daphne sekaligus hotel mereka tinggal. Akhirnya mereka tiba di Swiss saat sudah menjelang malam, mereka menaiki sebuah taksi untuk sampai di hotel yang sudah dipesan oleh Daphne, Eros memiliki segalanya bahkan dia bisa menyuruh banyak pengawal menjemputnya saat tiba di Swiss tapi Daphne menolak sangat keras hal itu, wanitanya hanya ingin liburan mereka berdua saja.
Daphne nampak berbincang dengan resepsionis hotel menggunakan bahasa Jerman, Eros benar-benar tidak menyangka kalau Daphne menguasai beberapa bahasa bahkan dia juga bisa berbahasa Mandarin sangat fasih. Walaupun sebenarnya Eros pun bisa banyak bahasa tapi melihat Daphne, tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
“kau bisa berapa bahasa?.” Tanya Eros saat berjalan menuju kamar hotel mereka
“aku lupa, mungkin lima atau enam bahasa.”
“kapan kau belajar?.”
“waktu aku sangat kecil, ibu pernah bilang hal terpenting dalam hidup adalah komunikasi, sedangkan didunia ini ada banyak bahasa, kalau mau lancar dalam berkomunikasi aku harus belajar beberapa bahasa.”
“pemikiran yang bagus.”
Mereka tiba di kamar hotel yang tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar hanya cukup untuk mereka berdua, ada air hangat maupun air dingin, juga ada view pegunungan yang indah. Eros menarik Daphne, mengecup bibir wanita itu, hanya sebuah kecupan singat yang berakhir *******. Mata mereka saling terpejam, menikmati rasa keduanya, dada yang berdebar. Eros langsung menghentikan ciuman mereka dan menyentuh dadanya, hari ini dia merasa ada yang berbeda setelah bertahun-tahun dia berada di bumi. Jantungnya berdebar sangat kencang, sebuah rasa yang tak pernah dia alami selama menjadi Dewa.
“kenapa?.” tanya Daphne takut, karena Eros hanya diam sambil menyentuh dada nya. “Eros kau mendengarku?.”
Eros menatap kearah Daphne menarik wanita itu kedalam pelukannya, sangat erat. Malam ini mereka menghabiskan waktu berada di kamar hotel, menikmati setiap sentuhan keduanya yang memberikan sebuah kenikmatan, hingga pagi menjelang mereka baru saja terlelap menuju ke alam mimpi masing-masing.
Salju putih terlihat di luar jendela, Eros dan Daphne masih terlelap dalam tidurnya, Daphne mengecangkan selimut yang menutup tubuh polosnya karena hawa dingin yang menyentuh kulit. Eros mulai membuka mata dan melihat kesamping, bibirnya terangkat tersenyum melihat Daphne yang masih terlelap, mengecup singkat bibir Daphne, morning kiss. Mumpung Daphne tidur dia menghubungi beberapa orang nya untuk membawakan beberapa setel pakaian santai mereka di musim dingin. Tidak membutuhkan waktu lama pintu kamar mereka di ketuk, dan beberapa orang datang membawakan paper bag berisi pakaian.
Eros masuk kedalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan air hangat. Setelah selesai, pria itu memakai pakaian santainya, kaos dengan celana panjang dan juga mantel tebal nya, tidak mengurangi ketampanan pria itu sama sekali.
Daphne mulai membuka mata.
“eeuumm…”
“bangunlah baby, kau tidak ingin mencari makan di luar?.”
“mau!.” Daphne langsung terduduk dan melihat Eros yang sudah rapi.
“itu pakaianmu.”
“kau menyuruh orang?.”
“tidak, aku membelinya di bawah saat kau masih tidur.”
“kau tidak bohong?.”
“tentu saja tidak.”
“baiklah aku percaya.”
Daphne masuk ke kamar mandi, wanita itu sangat cantik memakai celana jeans dipadukan dengan sweater bulu putih dan dibalut mantel hitam senada dengan yang dipakai Eros. Setelah selesai berdandan simpel, Daphne dan Eros keluar dari kamar hotel mereka menuju loby, di hotel tersebut ada restaurant yang menyediakan banyak makanan dari manca negara, tapi menurut review di internet mengatakan kalau makanan disana tidak begitu enak, jadi Daphne mengajak Eros keluar saat salju turun ke café yang tidak jauh dari sana.
Pelayan memberikan menu yang ada di café tersebut pada Daphne dan Eros.
__ADS_1
“saya mau Birchermuesli and Coffee late 2.”
“ada lagi nona?.”
“emm Zopf bread.”
“baik, mohon ditunggu sebentar.”
Pelayan itu masuk kembali, hanya membutuhkan duapuluh menit cukup cepat pelayan kembali dengan membawa pesanan mereka berdua, menaruhnya di atas meja.
“ini Birchermuesli, Zopf bread, and 2 Coffee late.”
“ah ya thank you.”
Daphne dan Eros mulai menikmati makanan yang sudah di sajikan, wajah Daphne nampak bahagia saat melihat pamandangan di luar, salju mulai turun, jalanan bahkan masih bersih, kemarin belum ada hanya saja cuaca cukup dingin.
“kau akan jalan-jalan saat salju?.”
“ya tentu saja, disini sangat bagus kalau lagi salju, bagaimana kalau ke-.” Daphne melihat ponselnya, ada beberapa tempat yang akan di kunjunginya. “Chesa Futura.”
“kapan ke Piz Nair?.”
“besok.”
“boleh.”
“berapa wanita yang sudah kau ajak liburan?.”
“satu, itu kau.”
“benarkah?.”
“tentu saja.”
“kenapa kau mau mengajakku?.”
“karena kau berbeda baby.”
…
Tempat berikutnya adalah Piz Nair, tempat itu sudah di penuhi dengan salju, banyak yang berkunjung disana terutama para wisatawan yang menikmati ice skating termasuk Daphne dan Eros nampak sangat menikmati waktu kebersamaan mereka disana, walaupun lumayan dingin tapi karena memakai pakaian yang cukup, mereka tidak merasa begitu kedinginan.
Liburan meraka terasa sangat menyenangkan, Daphne selalu tertawa, mereka lebih dekat dari sebelumnya, bukan hanya tentang **** tapi juga mengenai perasaan. Daphne sangat menyukai Eros, bagaimana pria itu memperlakukannya bagaikan queen.
Zain berdiri di bandara menjemput kedatangan Daphne dan Eros dengan pesawat pribadi milik Eros.
“selamat datang tuan.”
__ADS_1
“thanks.”
Jake mengantarkan Daphne pulang ke rumah atas perintah Eros sedangkan Eros langsung kembali ke kantornya untuk mengerjakan beberapa masalah yang timbul saat Eros tidak ada. Terutama mengenai gudang di China yang sedikit bermasalah dalam pembersihan dan pembangunan ulang.
Jam masih menunjukkan pukul 1 siang, saat Eros tiba di perusahaannya, tanpa sengaja pria itu menabrak seorang wanita yang berjalan berlawanan arah dengannya.
“ah maaf tuan.”
“kau baik-baik saja?.” Tanya Eros pada Psikhe, wanita itu kembali di tabrak Eros tanpa sengaja.
“saya baik-baik saja.”
Eros melihat wajah Psikhe yang pucat.
“kalau kau sakit lebih baik ijin saja.” Ada naluri yang membuat Eros khawatir melihat Psikhe pucat.
“saya baik-baik saja tuan, tidak apa-apa.”
“baiklah, saya duluan.” Jawab Eros dingin.
Eros melewati Psikhe berjalan dengan Zain menuju lift khusus.
“Zain, belikan obat untuknya dan pastikan dia meminum obat itu.”
“baik tuan Eros.”
Setelah mengurus urusannya dengan Eros, Zain keluar untuk membelikan obat atas perintah Eros dan memberikannya pada Psikhe.
“nona Kelana, tuan Eros meminta saya untuk memberikan ini pada nona.”
“tuan Eros?.”
“iya, lebih baik nona segera meminumnya sebelum tuan marah.”
“baik, ucapkan terimakasih ku padanya.”
“baik nona.”
Psikhe meminum obat tersebut, dan tersenyum. Dia bahkan tidak menyangka kalau Eros memperhatikan kesehatannya, satu langkah lebih dekat dengan Eros.
*
__ADS_1