Eroticism Lost

Eroticism Lost
Episode 7


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Eros dan Daphne baru saja tiba di rumah Eros yang berada di tengah jantung kota, salah satu rumahnya tatkala malas pulang ke mansion yang notabe nya lumayan jauh dari pusat kota, kalau naik Bus bisa membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dan Eros tidak akan kuat menunggu satu jam agar bisa menyentuh wanitanya saat ini.


Ciuman panas mereka tidak berhenti padahal mobil sudah berhenti di garasi, penjaga menunggu di luar hingga mereka berdua selesai dengan kegiatan nya. Daphne mendorong dada Eros melepaskan punggutan mereka, Eros tersenyum pada wanita itu.


“Midnight Games baby?.”


“okay, siapa takut.”


Eros dan Daphne keluar dari mobil dengan Eros yang membopong wanita itu masuk ke dalam rumahnya, di saksikan para pelayan yang menatap malu kedua sejoli itu. Bagi pelayan bukan hal pertama Eros membawa wanita ke rumah, tapi untuk pertama kalinya wanita itu sering bersama Eros bahkan tinggal di rumah itu.


Wanita ****** yang di bawa Eros hanya lah tinggal semalam lalu paginya pergi, namun wanita ini selalu bersama setiap saat, terkadang Eros melupakan pekerjaan nya sebagai CEO dan memilih di rumah bersama Daphne.


“aaaahhh!.” Teriak Daphne saat Eros menjatuhkan tubuh wanita itu di ranjang king size merah tua miliknya.


Eros menyukai warna hitam tapi untuk kamar **** nya dia memilih warna merah dengan tiang di empat sisi ranjang, kamar tempat dia bermain bersama wanita-wanita jalangnya, namun saat ini tidak ada yang bisa membuatnya bernafsu kecuali Daphne, hanya Daphne, dan Eros tidak tau kenapa seperti itu.


Waktu itu seharian Eros di datangnya banyak sekali model seksi di rumah ini, tapi seharian pula tidak ada yang membuatnya bernafsu, pada akhirnya Eros kembali ke mansionnya dan menemui Daphne.


Eros melepaskan ikat pinggangnya dan mengikatkan ke kedua tangan Daphne yang di naikkan ke atas kepala, Eros mengecup dahi Daphne turun ke mata, hidung, dan terakhir ******* bibir manis wanita itu.


Eros berjalan membelakangi Daphne untuk memilih banyak sekali alat yang di gantung di sudut ruangan, alat-alat pemuas nafsunya. Nyatanya Eros lebih menyukai tinggal di bumi ketimbang di kerajaan atas yang banyak sekali aturan, di bumi dia sendiri yang mengatur kehidupannya, banyak gaya **** dan alat **** yang lebih memuaskannya. Dan jangan lupakan sosok wanita cantik yang terbaring di ranjangnya saat ini, dia lebih membuatnya puas ketimbang wanita manapun yang pernah dia tiduri.


Eros memutuskan mengambil sebuah tali dan berjalan kearah Daphne, dengan gerakan sensual Eros mengikat kaki Daphne ke tiang ranjang yang bawah membuat Daphne melebarkan kakinya. Tangan Eros menyibakkan dress yang dipakai Daphne menampakkan gestring hitam yang dipakai Daphne, pilihan Eros tentu saja.


Kegiatan panas mereka berlangsung berjam-jam hingga Daphne benar-benar lemas di atas ranjang sedangkan Eros menikmati rokoknya di sofa dan jangan lupakan botol wine yang ada di meja, pemandangan indah kota beserta tubuh polos wanita nya di atas ranjang selalu membuat adiknya mengeras setiap saat, bahkan saat Daphne tidak menggoda nya, pria itu benar-benar bernafsu.


Daphne terbangun dari ranjang, duduk di atasnya dan menatap kearah Eros. “apa aku besok boleh jalan-jalan?.” Tanya Daphne yang membuat Eros menengok ke arah wanitanya


“kemana?.”


“hanya jalaan-jalan, aku ingin pergi lihat konser dengan teman-temanku.”


“baiklah, tapi dengan penjagaan, mereka akan berdiri jauh darimu.”


“tapi-.”


“Daphne.”

__ADS_1


“baiklah, 5 meter.”


“2 meter.”


“no! 5 meter.”


“3 meter oke?.”


“ya udah 3 meter.”


“good girl.”


Esok pun tiba, malam itu Daphne hanya bersama para pelayan di rumah Eros, Eros belum pulang dari perusahaanya dan mengatakan kalau mungkin pulang larut malam, karena Daphne ada acara dengan teman-teman sekolahnya dulu, dia telah bersiap memakai rok pendek hitam atasan kaos hitam dan jaket bomber peach nya, tak lupa beberapa aksesoris yang menghiasi pergelangan tangan dan lehernya, Daphne juga membiarkan rambutnya tergerai, dengan kepangan kecil di rambutnya, wanita itu tidak terlihat seperti 22 tahun, melainkan terlihat seperti anak 18 tahun yang akan bermain bersama teman-temannya.


Daphne keluar dari rumah Eros menggunakan mobil pribadi yang akan mengantarkan ketempat konser.


“berapa lama lagi sampai disana?.” Tanya Daphne, pasalnya sudah hampir setengah jam macet dijalanan


“mungkin 20 menit an lagi nyonya.”


“please, don’t call me nyonya, call me Daphne!.”


“saya bisa memarahinya, tenang saja, saya terlihat tua kalau di panggil nyonya.”


“kalau begitu saya akan memanggil nona.”


“baiklah terserah yang pasti jangan nyonya.”


Perbincangan mereka terhenti saat mobil sampai di parkiran sebuah gedung teater tempat konser The wishtle berada, salah satu band yang sangat popular di angkatan Daphne dan teman-temannya. Begitu Daphne keluar dari mobil, beberapa perempuan berteriak memanggilnyadari kejauhan.


Daphne langsung berlari menghampiri teman-temannya.


“hii how are you?.” Tanya Sahila teman sebangku Daphne yang sudah menikah dengan pria Chinese.


“iam fine and you?.”


“fine too, aku lagi program bayi dengan suamiku, dia ada di sana.” Sahila menunjuk seorang pria yang tengah menunggu didepan mobil hitam

__ADS_1


“oowww so sweet.”


“Daphne, beberapa hari yang lali aku melihatmu dengan pria mempesona, pria yang sering muncul di majalah bisnis, kau ada hubungan dengannya.” Alia mulia membuka omongan. Wanita karir yang bekerja di bidang entertainment, playgirl sekaligus seorang model majalah dewasa.


“ya kau menjadi bahan pembicaraan di sekolah.” Dan yang terakhir Gita, seorang guru matematika yang betah menjombol sejak lahir karena tidak percaya akan sebuah cinta.


“emmm…. Kalian bisa menebaknya sendiri.”


“woahh.” Ucap mereka bertiga bersamaan.


“bagaimana rasanya berhubungan dengan pria panas sepertinya?.”


“apakah itu besar?.”


“please jangan jawab pertanyaan mereka berdua Daphne.” Diantara ketiga temannya, hanya Gita yang masih normal bagi Daphne


“isshh, dasar jomblo.” Ejek Alia


“udahlah ayo masuk keburu kita dapet belakang.”


Mereka berempat pun masuk ke gedung acara konser tersebut, Daphne tertawa bersama teman-temannya, bersorak menyanyikan lagu The Wishtle bersamaan dengan lampu remang-remang.


Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggang Daphne, tubuh wanita itu menegang, bau yang sangat tidak asing untuknya. Ketiga temannya maju lebih depan meninggalkan Daphne dengan pelukan seseorang dari belakang tubuhnya.


Daphne berusaha memutar tubuhnya, pandangan mereka bertemu dalam pencahayaan minim namun Daphne masih sangat jelas melihat wajahnya.


“kau.” Ucap Daphne, ada rasa kesal dalam hatinya, wajah wanita itu pun tak pernah berbohong kalau dia sangat terkejut.


“bagaimana kabarmu?.” Suara berat yang sudah lama tidak di dengarnya beberapa tahun ini.


“kenapa kau ada disini, lepas!.” Daphne berusaha melepaskan diri.


Dari kejauhan bodyguard Daphne mendekat melihat majikannya seakan butuh pertolongan.


*


 

__ADS_1


 


__ADS_2