
Gemericik suara air hujan mengenai genteng terdengar sangat nyaring, saat seorang wanita cantik berteduh di salah satu ruko tutup di pinggiran jalan, wanita berambut panjang berwarna hitam dengan lesung pipi dan bibi kelincinya. Wanita itu membersihkan map berbahan plastiknya dengan tangan karena sempat terkena tetesan air hujan.
Byuurrr
Ruko yang sangat mepet dengan jalanan itu membuatnya terkena cipratan genangan air hujan dari pengendara mobil, dress putihnya benar-benar kotor dan basar. Dia hanya menghembuskan nafas beratnya, tidak ingin marah karena dia pun sudah lelah seharian mencari pekerjaan.
“kenapa pengantin dewa seperti ku harus sial di dunia, apakah nenek buyut berbohong padaku, kenapa aku harus susah di dunia?.”
Psikhe Kelana, anak pertama keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota, neneknya adalah seorang peramal sekaligus bisa mengetahui masa lalu orang lain. Psikhe tahun ini berumur 21 tahun, sudah tiga tahun lamanya dia tidak bekerja dan selalu di tegur oleh ibunya karena malas-malasan dirumah.
Mobil yang membuat dress Psikhe kotor berhenti tak jauh dari Psikhe berdiri dan mundur pelan. Seorang pria tinggi bertubuh kekar membawa payung menghampiri Psikhe.
“maaf, saya akan mengganti gaun mu.” Ucapnya dengan suara bass
Psikhe yang masih takjub dengan ketampanan pria dihadapannya hanya melongo, seakan wanita itu tengah melihat dewa didepannya.
“jadi nenek tidak berbohong.” Ucap Psikhe tidak sadar
“apa?.”
“ah tidak, maaf. saya tidak apa-apa.” Psikhe menggeleng menyatakan kalau dia benar-benar baik-baik saja.
Tapi pria berpakaian rapi dengan payung diatasnya itu melihat map yang dibawa Psikhe, sebuah lamaran pekerjaan.
“kau sudah mendapatkan pekerjaan?.” Tanya pra itu
Psikhe menggeleng.
Pria itu mengeluarkan kartu nama bertuliskan EROS sekaligus jabatan CEO E Group di bawah namanya, tak lupa contact person nya juga.
“kau bisa datang ke perusahaan besok kalau kau masih butuh pekerjaan, katakan bahwa kau akan bertemu dengan saya, tunjukkan kartu nama saya biar mereka mengantarmu.”
Psikhe menerima kartu tersebut “terima kasih banyak.”
“sama-sama, rumahmu dimana? Saya akan mengantar mu pulang, sepertinya hujan tidak akan cepat reda.”
“rumah saya tidak jauh dari sini, saya bisa pulang sendiri.”
“baiklah, kalau begitu terima ini untuk mengganti dress mu.” Eros mengeluarkan berlembar-lembar dollar dan memberikannya pada Psikhe.
Karena Psikhe butuh uang, dia pun menerima pemberian Eros.
Setelah itu Eros kembali ke mobilnya dan pergi, biasanya dia bersama pengawalnya atau hanya sopirnya saja, tapi karena dia terburu-buru untuk membeli sesuatu jadilah dia memutuskan untuk mengendarai mobil sendiri, toh dia juga punya sim sebenarnya.
__ADS_1
Psikhe sangat senang melihat kartu nama itu, dengan berlari menembus hujan, Psikhe pulang kerumahnya memberitahukan hal itu pada nenek buyutnya. Seorang wanita tua bungkuk duduk di bantal menghadap meja sambil membaca sebuah buku ditangannya, kaca mata baca bertengger manis di hidungnya.
“nenek!.” Teriak Psikhe membuat neneknya sedikit terkejut
“jangan mengejutkan nenek buyutmu Psikhe.” Tegur neneknya yang tengah memasak di dapur.
Kedua orang tua Psikhe tinggal di pinggiran kota sebagai seorang pemandu perjalan menuju pulau wisata dekat sana, dan Psikhe saat ini tinggal dengan nenek dan nenek buyutnya saja di kota, walaupun rumah sederhana, tapi Psikhe lebih nyaman tinggal disana ketimbang tinggal dengan kedua orang tuanya.
“nenek buyut, Psikhe bertemu seseorang.” Psikhe menunjukkan kartu nama yang ada di tangannya pada nenek buyut, wanita tua itu menyentuh kartu nama yang di bawa Psikhe.
“dewa.” Ucap nenek buyut sambil membungkuk hormat.
“apa?.” nenek Psikhe yang ada di dapur langsung menghampiri cucunya “apa kau benar bertemu dengan dewa?.”
“ku fikir begitu, dia sangat tampan, tampan sekali nek.”
“dia orang yang kaya Psikhe.”
“benar, besok aku akan kesana karena di undang untuk datang ke sana, dia memberiku sebuah pekerjaan.”
“kau harus mengatakan kalau kau pengantin yang di pilih dewa untuknya Psikhe.” Ucap nenek buyut
“tapi bagaimana kalau dia menganggapku seseorang yang gila?.”
“setelah dia tau namamu, dia akan mengingat kilasan bahwa kau adalah kekasihnya terdahulu.”
“aaahhh saakiittt…” suara jeritan terdengar dari sudut ruangan
“siapa disana?.” Tanya Daphne sedikit berteriak, wanita itu keluar dari kamarnya menuju sumber suara.
Seorang wanita yang ada di mimpinya beberapa hari yang lalu terbaring di ranjang dengan perut membesar, dan jangan lupakan Eros yang berdiri di sebelahnya, menggenggam tangan wanita itu erat.
“Eros.” Panggil Daphne, namun Eros seakan tak melihat kehadirannya.
Daphne menyadari satu hal bahwa dia saat ini bukan di rumah Eros, melainkan sebuah bangunan cukup lama, bangunan dengan tembok yang masih asli berwarna coklat. Daphne memutuskan semakin mendekat, wanita itu akan melahirkan, namun dalam fikiran Daphne kenapa Eros ada di mimpinya juga. Dan Daphne sadar kalau mimpi ini bukan hanya mimpi, tapi juga sebuah tanda yang Daphne sendiri tidak paham akan hal itu.
“Daphne bangun.” Suara Eros membangunkan tidurnya, mimpinya dengan tiba-tiba mengabur di telan asap putih, wajah Eros berada didepannya. “kau tertidur, aku sudah membelikanmu makanan yang kau minta.”
“terima kasih.”
Eros membantu Daphne bangun dan megambil mangkuk berisi bubur yang Daphne minta, bubur yang di jual dekat sekolah Daphne dulu, biasanya tutup lumayan malam. Jam bahkan sudah menunjukkan pukul 11 malam, cuaca juga hujan, itulah alasan kenapa Eros tidak menyuruh siapapun dan memilih dirinya sendiri pergi membeli kesana.
Saat tengah makan, Daphne melihat Eros.
__ADS_1
“kenapa? apa tidak enak?.” Tanya Eros memastikan
“enak, tapi ada yang ingin ku tanyakan.”
“tanyakan saja.”
“kau percaya sebuah mimpi?.”
“mimpi?.”
“iya mimpi.”
“tidak.” jawab Eros singkat, dia seorang Dewa dan dia tidak pernah melalui sebuah mimpi dalam hidupnya.
“akhir-akhir ini aku mimpi aneh, bukan seperti mimpi biasa tapi seperti sebuah kilasan yang aku sendiri tidak tau kenapa bisa seperti itu.”
“kau memimpikan apa?.”
“tidak, hanya mimpi biasa tapi aneh, itu saja.”
“jangan di fikirkan, bukankah mimpi adalah sekedar bunga tidur.”
“benar.”
Daphne melanjutkan makannya, menghabiskan mangkuk bubur tersebut hingga habis. Eros mengecup kepala Daphne, menyelimuti tubuh wanitanya, setelah itu Eros pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Namun Daphne tak kunjung terlelap, mimpi itu terus berputar di kepalanya, menyatukan kepingan-kepingan yang membuat kepalanya sangat sakit.
“kenapa belum tidur?.” Tanya Eros yang baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaian tidurnya.
Eros masuk ke dalam selimut dan berbaring di samping Daphne, memeluk wanitanya erat agar segera tertidur.
“kau masih memikirkan apa hm?.”
“tidak ada, hanya belum bisa tidur.”
Eros mengusap lembut rambut Daphne agar wanitanya mulai terlelap.
*
__ADS_1