FITRAH CINTA

FITRAH CINTA
Dampak pandemi pada pedagang


__ADS_3

"Assalamu'alaikum bunda" kata Azkia mengangkat telpon dari bunda.


"......"


"Astagfirullah... iya kia ke sana sekarang, lupa bun kalo ada janji" jawab Azkia cengengesan.


"......"


"Dadah bunda.... wa'alaikumsalam... " jawab kia mengakhiri panggilannya.


Azkia bergegas masuk ke ndalem pak kyai.


"Assalamu'alaikum" salam Azkia masuk ke ndalem.


"Wa'alaikumsalam" jawab mereka serentak.


"Sebelumnya kia minta maaf ya pak kyai..dosen harris... kia ada kepentingan mendadak, jadi kia harus cepat-cepat pulang" kata Azkia merasa tak enak.


"Tak apa nak.. lain kali bisa main ke sini lagi, jangan merasa tak enak seperti itu" jawab pak kyai ramah yang di angguki dosen Harris.


"Sekali lagi kia, benar-benar minta maaf ya pak kyai... " kata Azkia.


"Kalo seperti itu saya pamit dulu pak kyai, dosen harris, caca.. kia duluan ya" sambung Azkia.


"Kita ikut ki" kata Asna dan Aira bersamaan yang di angguki Azkia.


"Kita juga pamit pak kyai.. dosen harris.. kita tinggal gapapa kan ca? " kata Asna dan Aira hampir bersamaan.


"Iya nak" jawab pak kyai.


"Iya as, ra, ki.. makasih ya kalian udah mau bantu aku" jawab Rebecca yang di angguki mereka bertiga.


"Assalamu'alaikum" pamit mereka bertiga.


"Wa'alaikumsalam" jawab pak kyai, dosen Harris, dan Rebecca.


Mereka bertiga keluar dari ndalem pak kyai.Umi Farah istri dari pak kyai keluar dari dapur membawa minum di atas nampan


"Loh... pada kemana? kok gak ada bi? katanya ada tamu 4 orang? " tanya umi Farah.


'Kenapa tadi dari dapur suaranya seperti, ah sudahlah... mungkin perasaanku saja' batin umi Farah.

__ADS_1


"Udah pada pulang mi... katanya ada urusan mendadak,jadi tinggal rebecca seorang" jawab pak kyai.


"Ooh.. ini nak di minum dulu" kata umi Farah tersenyum ramah.


"Iya bu " jawab Rebecca canggung.


"Panggil umi saja nak" kata umi Farah yang di angguki Rebecca.


*******


"Assalamu'alaikum bunda" teriak Azkia dari kejauhan yang sudah melihat bunda. Asna dan Aira yang berada tepat di belakang Azkia, menutup telinga mereka.


"Kita ngapain kesini? " bisik Aira bingung, Asna mengedikkan bahunya tanda ia pun tak tau.


"Wa'alaikumsalam ki... gak usah teriak gitu lah" jawab bunda.


"Hehe... iya bunda maaf khilaf" kata Azkia mencium tangan bunda cengengesan, lalu memeluk bunda.


"Dasar gadis nakal" kata bunda mengusap-usap kepala Azkia yang terbalut jilbab.


"Udah sana... ditungguin tuh sama paman max" sambung bunda.


"Iya bun" jawab Azkia.


"Iya bun, kita duluan ya" kata Asna mencium tangan bunda yang diikuti Aira, bunda menganggukkan kepalanya tersenyum.


Asna dan Aira buru-buru menyusul Azkia, mereka tak bisa mengimbangi langkah Azkia yang cepat.


"Assalamu'alaikum paman, maaf kia telat" kata Azkia menundukkan kepalanya merasa bersalah.


Paman Max heran melongo dengan sikap gadis yang di depannya itu, pasalnya kemarin dia bersikap dingin dan tegas padanya, dan gadis itulah yang berhasil mengalahkannya dengan gerakan yang lincah. Apalagi dia baik padanya, jika orang lain mungkin sudah menjebloskannya ke penjara. Namun, tidak dengan gadis itu, dia malah membantunya mencari pekerjaan. Apa maunya gadis yang ada di hadapannya ini? pikir paman Max.


"Paman" kata Azkia melambai-lambaikan tangannya di depan muka paman Max.


"Ah.. e.. e.. iya, gapapa nak" jawab paman Max gelagapan.


"Justru paman berterimakasih padamu nak, karena sudah membantu paman mencari pekerjaan" sambung paman Max.


"Iya" jawab Azkia singkat.


"Aku heran deh ki sama kamu, kenapa paman max gak kamu jeblosin aja ke penjara? malah disuruh ke panti ?" cerocos Aira heran, Asna dan paman Max menganggukkan kepala sama herannya dengan Aira.

__ADS_1


Azkia menghembuskan nafasnya kasar.


"Setiap orang memiliki batas dimana kadang dia lupa atas apa yang dia lakukan. Kita hanya perlu mengingatkan bukan menghakimi atas kesalahannya,ingat kita semua itu cuma pendosa hanya caranya saja yang berbeda!!! " tegas Azkia.


Aira mengedikkan bahunya acuh, ia memilih berkutat dengan handphonenya.


"Dan perbuatan paman max kemarin aku anggap sebagai tindakan bahwa dia sedang lupa pada tuhannya, karena itu pertama kali bagi paman max bukan? tapi jika itu di ulangi lagi, jangan tanya padaku paman!! " sambung Azkia.


"Iya nak saya akan menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya" kata paman Max bersungguh-sungguh.


"Bagus paman... paman bisa memulainya har.. " belum selesai Azkia menyelesaikan kalimatnya sudah terpotong dengan pekikan Aira.


"Daebak!!! " pekik Aira heboh.


"Kenapa lagi sih? " tanya Asna heran, Azkia dan paman Max sama herannya dengan Asna.


"Masa pandemi COVID-19 ternyata berdampak pada para pedagang juga as... kalian tau gak?? dampaknya tuh mengenaskan!! " kata Aira masih dengan kehebohannya.


"Masa penjual bubur dilarang keras, terus penjual kopi disiram air panas, penjual sate ditusuk, pedagang es kelapa dibacok, pedagang roti dibakar!!! gila banget kan? " sambung Aira semakin heboh.


"Ya betul itu nak" jawab paman Max. Azkia dan Asna menepuk kening mereka dengan tingkah sahabatnya yang satu itu.


"Kok gitu paman? " tanya Aira bingung.


"Di mana-mana kalo penjual bubur itu ya dilarang keras, harus lembek... kalo keras nasi dong namanya. Terus penjual kopi ya di siram air panas, masa kopinya mau di siram air es. Penjual sate ya ditusuk tapi yang ditusuk itu daging satenya, bukan orangnya. Pedagang es kelapa dibacok ya iyalah, kalo ga dibacok gimana mau ambil airnya? terus terakhir kalo penjual roti bakar itu dibakar ya iyalah dibakar.. namanya juga roti bakar" kata paman Max tersenyum menggeleng-geleng kan kepalanya.


"Iya juga ya paman" kata Aira cengengesan.


"Yaudah kalo gitu paman ke anak-anak dulu ya" pamit paman Max yang di angguki mereka bertiga.


"Lagian cantik-cantik kok kadang otaknya lemot, temen siapa sih as ini? " celetuk Azkia.


"Tau tuh, aku ma gak punya temen kek gitu ya ki. Temen mu kali" goda Asna membuat Aira mengerucutkan bibirnya.


"Aku mah juga gak punya temen kek gitu as... perawan nyasar kali itu" ledek Azkia melirik Aira.


"Kalian ih" kata Aira mendengus kesal.


"Haha... iya iya just kidding" kata Azkia memeluk Aira yang diikuti Asna membuat Aira tersenyum senang.


"Yaudah cabut yuk? " ajak Asna.

__ADS_1


"Kuylah" jawab Azkia dan Aira kompak.


Kadang persahabatan itu saling adu mulut, saling berantem, padahal dibalik kekonyolan yang mereka buat ada persahabatan yang saling menyayangi dan saling melindungi.Hanya sahabat sejati lah yang dapat melihat rasa sayang di balik candaan dan ejekan dari sahabat lainnya. Terkadang persahabatan itu seperti kutukan, kutukan Indah yang tak akan mampu dihapus dalam memori kehidupan.


__ADS_2