
Seorang gadis SMP yatim piatu yang duduk termenung di antara banyaknya siswa siswi. Ia melamun melipat kedua tangannya di atas meja, entah apa yang ada dipikirannya.
"Sudah masuk kamu as? "
"Gak terlambat lagi? "
"Asna, kamu maju ke depan !!" kata ketua OSIS yang baru masuk kelas dengan sinis bersama anggotanya.
Asna menurut, maju ke depan.
"Kenapa kak? " tanya Asna.
"Berdiri kamu di situ!! " perintahnya.
"Hari ini kan saya gak terlambat kak.. tapi kenapa tetap di hukum? " tanya Asna.
"Kamu kemarin tidak berangkat kemana saja hmm? "
"Sekarang kamu jelaskan kepada kita semua kenapa kamu selalu terlambat dan kemarin tak berangkat sekolah!! " kata nya mengitari tubuh Asna sambil mengetuk-ngetuk papan tulis menggunakan spidol.
Asna diam mendengarkan, menundukkan kepalanya.
"Asna!! ayo jelaskan!! " bentaknya.
Asna masih diam semakin menundukkan kepalanya.
"Asna!!! ayo bicara!! " bentaknya semakin menjadi.
Asna masih menunduk, enggan untuk mengangkat kepalanya.
"Asna!!! kita semua tau kalo kamu baru kehilangan bapakmu!! tapi kamu juga seorang pelajar!!! kamu tau? ini sudah tryout!!! sebentar lagi ujian!! kalo kamu tak berangkat dan sering terlambat, mau jadi apa kamu?? " kata ketua OSIS menghembuskan nafasnya kasar.
"Ibu gak tau aja kalo si asna tuh setelah SMP gak lanjut SMA!!"
"Paling juga mau nikah!!"
"Udah hamil kali sekarang??"
"Atau mau jadi buruh tani yang tukang ngasih pupuk kotoran sapi sebelum di kasih tanaman itu !! iuhh..."
"Ckckck... pinter-pinter tapi pemikirannya sungguh dangkal!! "
Cibiran demi cibiran terlontar dari mulut teman-teman sekelasnya, ada yang diam memandangnya dengan sinis, dan ada yang saking dongkolnya diam-diam menyobek buku lalu meremasnya dengan kuat seolah ingin dilemparnya kertas itu untuk Asna.
"Diam!!! saya tak bertanya pada kalian" tegur ketua OSIS ,seketika mereka diam menunduk.
Asna memberanikan diri mengangkat kepalanya, ditatapnya seluruh anggota OSIS lalu seluruh teman sekelasnya. Hatinya sakit!! sungguh sakit!! bohong jika dia sedang baik-baik saja!! bukan karena perlakuan teman-temannya yang terkadang berbicara tanpa di filter, namun ia merenungi nasibnya. Orang tua yang selalu menemani hari-harinya, sekali kehilangan langsung keduanya. Itu pun dalam waktu satu minggu.
"Maafkan saya teman-teman!! " kata Asna.
"Maafkan saya, karena gara-gara saya kalian semua tidak belajar" kata Asna mengedarkan penglihatannya menatap seluruh teman-temannya.
"Maafkan saya, karena saya mungkin kalian jadi di marahi kepala sekolah terutama para anggota OSIS yang hanya mengurusi asna seorang" sambung Azkia menatap anggota OSIS.
"Maafkan saya, mungkin kelas ini di tatap rendah oleh guru-guru dan seluruh murid yang ada di sini karena saya sering terlambat padahal saya perempuan" sambung Azkia menundukkan kepalanya.
Mereka semua menatap Asna yang berusaha menahan sesak di dadanya, Asna kembali mengangkat kepalanya.
"Yang kakak katakan benar, saya terlalu rapuh karena di tinggal bapak seminggu yang lalu sehingga saya lalai dalam hal belajar"
"Hari pertama setelah bapak meninggal, ibu masuk rumah sakit. Saya mengantarkan beliau ke rumah sakit sebelum saya ke sekolah" kata Asna dengan mata berkaca-kaca.
"Hari kedua setelah bapak meninggal, saya harus pergi ke rumah sakit menyuapi ibuku makan dulu baru saya pergi ke sekolah" sambung Asna berusaha menahan supaya air matanya tak keluar.
"Hari ketiga kemarin saya tak masuk sekolah... hikss... hiks.. " air mata Asna lolos, sudah tak mampu membendung lagi. Tangan para anggota OSIS terangkat seolah ingin mengelus bahu Asna yang terisak menunduk, namun setelah terangkat belum sampai bahu Asna sudah ia urungkan lagi dan berulang begitu.
__ADS_1
Asna mengangkat kepalanya.
"Karena meninggalnya ibuku hiks...hiks.." sambung Asna kembali menunduk terisak semakin keras. Para anggota OSIS berusaha menggapai Asna ingin memberikan ketenangan dengan sebuah pelukan, namun ditepi kasar oleh Asna.
"Ibuku meninggal karena ternyata selama ini beliau mengidap penyakit kanker payudara stadium 4 hiks... hiks.. " sambung Asna membuat anggota OSIS dan teman-teman satu kelasnya ikut menangis.
"Maafkan saya as... kami tak tau" kata ketua OSIS menutup mulutnya, masih berusaha menggapai Asna namun selalu ditepis kasar oleh Asna.
"Kalo ini bukan keinginan ibu saya supaya terus mengejar cita-cita saya, gak bakalan saya masuk sekolah hari ini!! " kata Asna keras.
"Kalo kalian mau menghina saya, hina saya!! hina!! "
"Kalo kalian mau lempar saya pakai kertas lagi , lempar saya!! lempar!! saya memang pantas mendapatkannya hikss... hikss.. ayo lempar!! lempar lempar!!!" sambung Asna berusaha tegar. Sebagian teman-temannya yang meremas kertas langsung mereka jatuhkan begitu saja, mereka merasa bersalah karena tak mendengarkan penjelasan Asna terlebih dahulu.
"Jika kakak mau hukum saya ,hukum saya kak!!! hukum saya!!! saya pantas mendapatkannya" sambung Asna beralih menatap para anggota OSIS. Tangisnya semakin menjadi, mereka yang sudah tak tahan berhambur memeluk Asna,Asna tak lagi menepis. Mereka bersama-sama menangis.
"Maafkan kami as, kamibenar-benar gak tau hiks..hiks..... kalo kami tau hal ini kami gak akan tanya seperti tadi as hiks.. hiks.. " kata ketua OSIS mewakili para anggota disela-sela tangisnya yang masih mendekap Asna.
"Iya gapapa kak... bukan salah kakak kok" kata Asna mengangguk sambil menghapus air matanya.
Teman-temannya bergantian meminta maaf pada Asna.
******
Grepp
"Aaaa.. " teriak Asna.
"Tenang baby, hanya ada kita berdua di sini sayang" bisik seorang lelaki yang diketahui tuan rumah di rumah itu.
Setelah selesai UN Asna memutuskan merantau ke kota, ia tak ingin melanjutkan sekolah.
"Lepasin... walaupun nyonya sedang pergi, tapi anda jangan pernah macam-macam dengan saya ya tuan!!" teriak Asna berontak namun tenaganya tak sebanding dengan lelaki yang memeluknya dari belakang.
"Hey, tenanglah baby... saya tidak akan macam-macam. Saya hanya mau satu macam" kata tuannya itu yang tak ingin melepaskan Asna. Akhirnya Asna menendang k******n tuannya itu.
"Anda sopan saya segan!! " tegas Asna sambil berjalan mundur menjauh dari tuannya.
"Gak usah sok jual mahal jika akhirnya mengerang kenikmatan" ledek tuannya berjalan mendekat dengan tatapan lapar.
"Jangan harap!! " kata Asna berlari keluar rumah meminta bantuan, namun sepi.
"Mau lari kemanapun tak akan bisa kamu asna!! tak akan yang ada menolong mu!! " kata tuannya tersenyum meremehkan, ia menarik tangan Asna.
"Lepas... anda memang laki-laki b******k!! " teriak Asna berontak. Asna berhasil melarikan diri, ia berlari sekuat tenaga menyusuri jalan. Hingga ia berhenti di gang sempit.
"Ow.. ow.. ide yang brilian baby... mau mencoba di gang sempit seperti ini ya? oke gapapa, asal kamu puas" kata tuannya yang berhasil mengejar Asna.
Asna berjalan mundur, demi apapun ia sangat lelah.
"Ayah, ibu... kenapa asna jadi seperti ini? setelah kalian meninggalkanku, apa aku akan di rusak oleh majikan ku sendiri? kenapa takdirku seperti ini? kenapa kalian tak mengajakku? " batin Asna gemetaran.
"Tolong!! tolong!! to.. mmmmm" teriak Asna yang langsung dibekap mulut Asna.
"Tenanglah" perintah tuannya yang akan mulai melecehkan Asna.
Ketika ingin mencium telinga Asna, tiba-tiba ada yang menendangnya dari belakang.
"Manusia biadab!!! seperti itu lah terus jika tak ingin di hargai " kata seorang gadis yang menarik Asna.
"Shitt!! bocah sialan!! " pekik majikan Asna.
"Jangan ikut campur kau bocah!! " sambung nya menyerang gadis itu, gadis itu menyunggingkan senyumnya.
Dengan sigap gadis itu menangkis semua serangan dari majikan Asna. Yang terakhir tangan majikan Asna di pelintir oleh gadis itu.
__ADS_1
"Bagaimana? apa masih kurang? " bisik gadis itu.
"Sudah hentikan!! kau bawalah ****** kecil itu!! " kata majikan Asna meringis kesakitan.
Gadis itu akhirnya membawa Asna pergi dari sana.
"Grandpa" teriak gadis itu.
"Kia!! bisa gak sih gak usah teriak-teriak? " kata grandpa membuat Azkia cengengesan. Gadis yang menolong Asna adalah Azkia yang kebetulan lewat daerah situ.
"Siapa ki? " sambung grandpa.
"Gak tau pa, kenalan dulu aja" kata Azkia berlalu ke kamar bersih-bersih.
"Kamu di sinilah dulu, tenang aja... aman kok" sambung Azkia.
Asna yang ditinggal hanya berdua dengan grandpa merasa takut, ia takut akan berusaha di lecehkan lagi.
"Namamu siapa nak? " tanya grandpa tersenyum lembut.
"A s na tu an " jawab Asna terbata.
"Perkenalkan... saya dirgantara, kamu bisa memanggilnya grandpa seperti kia.
"I ya tu, eh g rand pa" kata Asna membuat grandpa tersenyum.
"Yaudah, kamu istirahat aja dulu. Grandpa tinggal sebentar" kata grandpa, Asna mengangguk patuh.
"Grandpa mana? " tanya Azkia yang baru turun.
"Gak tau" jawab Asna.
"Oh ya btw namamu siapa? " tanya Azkia.
"Asna" jawab singkat Asna yang masih gemetaran.
"Udah tenang, kita orang baik kok. Pelecehan seperti tadi gak akan terulang lagi kalo kamu mau tinggal di sini, ntar aku ajarin bela diri" kata Azkia yang berbisik di ujung kalimatnya.
"Makasih ya kamu udah nolongin aku, namamu siapa? " kata Asna yang sedikit tenang.
"Azkia, namaku Azkia" jawab Azkia.
Azkia terus bertanya-tanya tentang Asna, Asna menjawab semua yang di alaminya hingga ia yang hampir di lecehkan tadi. Azkia ikut merasakan kesedihan yang dialami Asna, begitupun dengan grandpa yang membawa minuman. Ia menguping pembicaraan mereka.
"Nih diminum dulu nak asna" kata grandpa menyodorkan minuman yang ia bawa dari nampan.
"Ckck.. cucu sendiri dimarahin, giliran si asna dibuatin minum" cibir Azkia.
"Ini beda!!! ini cucu baru" sewot grandpa.
"Ya ya ya.... grandpa memang selalu benar" kata Azkia malas.
Asna tertawa kecil mendengar perdebatan sepele keluarga yang ada di depannya itu, membuat grandpa tersenyum senang.
Asna mulai nyaman, keesokan harinya ia di antar mengambil barang-barang di rumah mantan majikannya. Ia juga di daftarkan sekolah SMA sama grandpa. Setelah beberapa hari tinggal di kediaman dirgantara, Asna memutuskan pindah ke kontrakan.
Flashback off**
"Hikss... hiks.. hiks.. makasih karena kalian hidupku jauh lebih baik dari sebelumnya" kata Asna. Kedua sahabatnya berhambur memeluk Asna, mereka ikut menangis.
"Hey... kenapa malah nangis? aku udah gapapa kok" sambung Asna.
"Apa kalian ingat waktu pertama kali kalian mengajakku ke mall? " sambung Asna membuat kedua sahabatnya mengingat-ingat kejadian waktu itu.
"Padahal waktu itu eskalatornya kan bergerak turun ya? tapi dengan bodohnya aku yang ingi naik terus menerus berlari menaiki eskalator itu. Akhirnya setelah sampai setengah tangga eskalator aku balik lagi kebawah dan kalian yang tau malah begitu tega menertawakan ku terpingkal-pingkal " cerita Asna mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Kedua sahabatnya kembali tertawa terpingkal-pingkal ketika mengingat kejadian itu, membuat Asna tersenyum tipis karena berhasil membuat kedua sahabatnya tertawa lagi