FITRAH CINTA

FITRAH CINTA
Mumet


__ADS_3

Malam hari itu Azkia sedang bermanja di ruang keluarga, menidurkan kepalanya di pangkuan grandmanya.


Grandma mengelus kepala Azkia dengan sayang.


"Kia cucu grandma yang ciut, cantiknya masya Allah... jangan pernah pacaran ya sayang?? "


"Grandma bersyukur kia masih menuruti apa yang grandma larang. Kia tau? grandma senang sekali, karena kia sampai sekarang tak pacaran, walaupun kia sempat melenceng di jalan Allah" kata grandma sambil mengelus kepala Azkia.


"Hmm" gumam Azkia memejamkan matanya menikmati tiduran di pangkuan grabdmanya, satu kata nyaman!!


"Kia ikhlaskan ?" tanya grandma.


"Bismillah.. kia ikhlas ma. Setinggi apa sih keinginan kia kalo gak ada ridha dari grandma? sebanyak apa kebahagiaan yang kia cari? buat apa kalo gak ada keberkahan yang berasal dari doa grandma? gak tau diri banget dong kia kalo gak menaati peraturan yang ada di rumah ini,kia udah di besarin,di kasih tumpangan pulak" kata Azkia dengan matanya yang masih terpejam.


Grandma tersenyum kembali, ia tau banyak lelaki yang tertarik dengan cucunya itu. Cucunya itu cantik natural dan apa adanya, sungguh sebuah keberuntungan bagi keluarganya bisa merawat gadis yang sungguh penurut itu.


"Kia tau gak, alasan grandma ngelarang kia gak boleh pacaran? " tanya grandma tersenyum mengelus kepala cucunya dengan sayang beralih mengelus pipi Azkia.


Azkia reflek membuka matanya, ia mendudukkan tubuhnya.


"Emang kenapa? " tanya Azkia penasaran.


"Grandma gak mau gaya pacaran kia kebablasan sayang, kia tau sendiri kan gaya pacaran anak jaman sekarang gimana? " tanya grandma.


Azkia mengangguk.


"Grandma takut kia terjerumus ke hal zina kan? " kata Azkia.


"Betul... kia tau kan hukumnya wanita tapi hamil duluan? " kata grandma tersenyum lembut, netra nya menatap cucu perempuannya itu.


"Tau lah ma.. nikahnya sah, tapi yang jadi masalah ketika anak itu lahir kan? "


"-ketika anak itu lahir tidak bisa memakai BIN dari bapaknya.


-jika yang pertama anaknya laki-laki, anak kedua lahir perempuan maka anak pertama tak bisa mewakilkan nikah adiknya(walinya).


-kalo ayahnya meninggal, si anak tak dapat harta warisan karena tidak ada hubungan nasab.


-kalo yang pertama anaknya perempuan dan di pinang oleh laki-laki maka si ayah tak bisa menjadi walinya." jelas Azkia tersenyum sumringah.


"Masya Allah.. cucu grandma selain cantik makin hari makin pinter aja ih" puji grandma.


"Iya dong.. cucu grandpa dirgantara dan grandma maya kan emang pinter-pinter " kata Azkia menyombongkan dirinya sekaligus memuji grandmanya.


"Grandma walaupun uda kliput-kliput kan masih cantik" sambung Azkia cengengesan.


Grandma mendengus kesal.


"Kalo muji, bisa engga? gak usah pakai ngledek?! dasar cucu gak ada akhlak!! "


"Uluh uluh.. jangan ngambek dong ma, ya ya? " kata Azkia menunjukkan puppy eyesnya.


Azkia mengambil bunga di vas.


"Nih kia kasih bunga deh.. " bujuk Azkia.

__ADS_1


Grandma meraih bunga dari tangan Azkia, tapi langsung di tarik Azkia lagi.


"Eits... tapi bayar ya? " goda Azkia membuat grandmanya semakin kesal.


"Uutututu... cini cini kia peyuk " kata Azkia memeluk grandma dengan sayang.


"Makin usil ya?!! godain grandmanya terus? " kata grandma membalas pelukan Azkia.


"Hmm"


Azkia memejamkan matanya menikmati kehangatan berada di pelukan grandmanya.


"Istirahat gih... udah malem ini" kata grandma, Azkia mengangguk patuh.


"Night grandma.. kia sayang grandma" kata Azkia mengecup kedua pipi grandma lalu menuju kamar.


Masih menjadi misteri mengapa waktu berjalan jauh lebih cepat disaat kita sedang terburu-buru menyelesaikan sesuatu. Padahal Azkia merasa lamban sekali ketika dihabiskan untuk menunggu.


Beberapa hari belakangan pula Azkia kerap berdoa memantapkan hati. Agaknya hari ini dia sudah siap betul untuk memulai hidup baru.


Azkia membuka handle pintu kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, ia merenung.


Sedetik kemudian ia mengambil wudhu di kamar mandi. Ia mengambil mushaf dan membacanya di pojokan tempat tidur dengan suara lirih.


Membaca ayat demi ayat di dalam surat cinta abadi itu membuat rasa kantuknya hilang.


Setelah sudah cukup lama ia membaca, ditutupnya mushaf lalu diletakkan di tempat semula. Ia berjalan ke tempat tidur.


Apakah seperti ini tabiat perempuan?


akan lama merespon, namun lama-kelamaan akan menikmati juga. Tapi kenapa harus setelah ia mendapatkan seseorang yang mampu membuat hatinya itu terketuk? ketika hati ini sudah mulai bertaut?!! haaahhh... sungguh sulit bagiku untuk melepaskan diri!! pikir Azkia.


Takdir tak pernah salah menempatkan posisinya, setiap kita merasa kecewa akan hal itu.Sesungguhnya ada hal baik yang tengah menanti di depan, kita hanya tinggal menunggu. Kapan waktu itu hadir sebagai sebuah pembuktian, bahwa pilihan Allah tak pernah salah. Oke? mari kita ikuti ritme alur cerita yang telah ditentukan Allah!! pikir Azkia.


"Haahhh... " Azkia menghela nafasnya pelan.


"Bener kata Asna kalo aku sedang dalam fase mumet"


"Dimana kondisi kepala sedang tidak sinkron dengan suasana hati"


"Telalu njepat untuk menghadapi kenyataan yang semakin lama semakin ugal-ugalan" gumam Azkia terkekeh geli dengan kata-kata Asna itu.


"Nikmati prosesnya, kalo gagal tinggal ketawa. Kamu masih muda kia jangan baperan. Capek boleh, nyerah jangan!! "


"Seperti halnya seperti perjalanan yang membutuhkan langkah demi langkah, begitu pula setiap proses dalam hidup kita.


Entah berjalan atau berlari, entah merangkak atau meski berkali-kali ingin berhenti, semuanya adalah proses.


Pelan-pelan saja, hingga hari berganti hari lalu menjelma minggu dan bulan. Hingga bulan demi bulan menjadi tahun.


Saat pelan-pelan kita menjalaninya, perlahan kita akan terbiasa, kemudian mudah-mudahan bisa melewati semuanya"


Azkia menghembuskan nafasnya perlahan lagi.


"Banyak hal yang berubah secara tiba-tiba, bahkan terjadi tanpa adanya aba-aba! "

__ADS_1


"Okee, bila kegagalan itu hujan dan keberhasilan bagaikan matahari, maka butuh keduanya untuk melihat pelangi. Tidak ada usaha dan doa yang sia-sia jika kita terus mencoba. Dan tidak ada kesulitan jika kita terus mau berusaha.


Man jadda wa jadda barang siapa yang bersungguh-sungguh dia pasti berhasil. Ingat, janji Allah itu pasti.. tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah menghendaki"


Azkia terus bergumam, bibirnya sudah terangkat, senyumnya merekah.


*****


Selama sebulan ini pula Dion selalu memberikan ramuan penguat jantung pada mama Key. Kini detak jantung mama Key sudah 60-100 per menit, seminggu setelah uji coba waktu itu kekuatan detak jantung naik menjadi 40-80 per menit.


Malam ini Dion menyuntikkan ramuan itu kembali ke selang infus, lalu ia kembali ke ruang lab nya. Di sana Dion memperhatikan monitor laporan kesehatan, dia sungguh bahagia ketika melihat monitor itu. Di sana masih 85% dari 100%,artinya untung melihat hasilnya dia harus menunggu 15% lagi.


Di ruang rawat mama Key, uncle Erland baru saja masuk ke ruangan itu. Ia memandangi wajah mama Key, selama ia merawat pasien itu ia merasa familiar dengan wajah itu.


Tak terasa 2 jam berlalu begitu saja, dion masuk ke ruang rawat mama Key. Ia melihat jari-jari mama key bergerak-gerak kecil, itu semua juga tak luput dari penglihatan uncle Erland.


"Uncle!! lihatlah.. " kata Dion.


"Iya boy, uncle melihatnya. Sebuah anugerah dari Allah, begitu cepat perubahan yang terjadi!! " pekik uncle Erland.


Perlahan tapi pasti, mata mama Key mulai terbuka.


Dion dan uncle Erland membantu mama Key mendudukkan tubuhnya.


"A a i ir" lirih mama Key.


Dengan sigap Dion bergegas mengambil air untuk mama Key.


"Perlahan ma.. " kata Dion sambil memegangi gelas minuman, lalu membantu meminumnya.


Setelah mama Key meminum airnya, netra nya beralih menatap uncle Erland yang berada di sampingnya.


"Apakah ini bagian dari mimpiku? "


"Kenapa begitu nyata?"


"Apa yang sebenarnya terjadi? " batin mama Key melamun dengan segala kebingungannya*.


"Alhamdulillah.. akhirnya nyonya sadar setelah sekian lamanya tak sadarkan diri"


"Nyonya.. " sapa uncle Erland melambai-lambaikan tangannya di depan wajah mama Key.


"Aah.. ya? apa kak Erland bertanya padaku? " tanya mama Key.


Dion dan uncle Erland kaget, kenapa wanita di depan mereka yang selama ini mereka rawat bisa mengenal uncle Erland?


"Nyonya kenal dengan saya? " tanya uncle Erland penasaran, jujur ia juga merasa familiar dengan wanita berhijab di depannya itu, ia mencoba mengingat-ingat wajah itu, namun gagal.


"Ah e eee em tidak tidak" jawab mama Key cepat-cepat.


"Hmm.. tapi sayangnya saya tak percaya nyonya?!! sebenarnya siapa anda? kenapa saya merasa sangat familiar dengan anda? " tegas uncle Erland.


Mama Key tertunduk lesu, ia mencoba menahan air matanya yang ingin keluar.


"Hiks.. hiks.. maaf!! " kata mama Key.

__ADS_1


"Maaf kak.. mungkin ini sebuah karma bagiku, jika aku baru sadar setelah sekian lamanya mengalami koma" lirih mama Key.


Dion dan uncle Erland semakin bingung, mereka hanya saling pandang.


__ADS_2