FITRAH CINTA

FITRAH CINTA
Layu sebelum berkembang


__ADS_3

Ketika Azkia dari toilet hendak menuju kelas, tak sengaja ia mendengar percakapan dosen Harris dengan seseorang di balik telepon.


"Iya, wa'alaikumsalam. Siapa sih? " goda dosen Harris.


"......."


"Calon istriku? haha... baiklah calon istrinya harris, harris pulang ke rumah nanti" sambung dosen Harris menanggapi.


Deg...


Hati gadis cantik berbalutkan jilbab yang menguping pembicaraan terluka, hatinya hancur berkeping-keping.


Inikah yg di namakan takdir? kenapa takdir sekejam ini?! dan perasaan apa ini? apa ini yang di namakan patah hati? bahkan sebelumnya aku belum pernah jatuh Cinta sebelumnya!! pikirnya.


Dengan berderai air mata gadis itu berlari ke toilet lagi.


Ia menangis sejadi-jadinya, merasakan sesak di dadanya, sakit!! sungguh sakit!! namun sesakit sakitnya hati ini masih mending dari pada sakit gigi. Karena kalo sakit hati masih bisa makan, tapi kalo sakit gigi gak bisa makan. jangankan makan!! denger orang ngomong aja serasa ingin nabok!! pikir gadis yang terus menerus memukuli dadanya dengan air mata yang mengalir.


Setelah puas menumpahkan kesedihannya pada toilet, ia mencuci muka supaya tidak kentara jika ia baru menangis.


"Wis muleh kamu ki? ke toilet kampus aja serasa ke toilet rumah, lama!! " tanya Asna asal Salatiga yang tak mengalihkan pandangannya dari novel kesukaannya. Begitupun dengan Aira.


"Hum, iya.. " kata Azkia tersenyum tipis.


Kedua sahabatnya heran dengan Azkia yang tak seperti biasanya. Mereka menoleh melihat Azkia, betapa terkejutnya mereka ketika melihat Azkia yang matanya sembab seperti habis menangis.


"Kenapa kamu ki? perasaan tadi waktu sebelum ke toilet ndak papa. Baik-baik saja to? kok pulang-pulang matanya sembab gitu? " tanya Asna yang masih dengan logat jawanya.


Biasanya Azkia langsung tertawa terpingkal-pingkal ketika mendengar Asna berbicara dengan logat jawanya. Kali ini tidak, Azkia hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Sahabatnya yang satu ini jika sedang pelajaran berlangsung begitu fasih dengan bahasa Indonesia, bahkan bahasa inggris. Tapi ketika sedang bertiga begini mengapa muncul gaya bicara logat Jawa yang aksen medok jawanya sangat kentara?


"Kamu bisa bohongin orang lain, tapi tidak dengan kita! " timpal Aira.


Azkia tersenyum getir lalu tanpa aba-aba air matanya mengalir, pandangannya lurus ke depan.


"Malah nangis e? " kata Asna.


"Kenapa ki? " timpal Aira lagi.


Azkia menceritakan runtut kejadian tadi kepada kedua sahabatnya. Kedua sahabatnya mengangguk-angguk paham setelah tau garis besarnya.


"Aku kan udah bilang, jangan terlalu berharap pada manusia!!! akhirnya yang aku takutkan kejadian juga kan ke kamu? " kata Asna.


"Layu juga kan sebelum berkembang?! " sambung Asna menghembuskan nafasnya kasar, ia benar-benar tak ingin sahabatnya kenapa-napa.


"Udah udah... gak usah mikirin itu dulu kamu ki. Kita ini masih seorang mahasiswa, kita fokus aja ke kuliah kita, jangan mikirin itu. Kamu tuh belum waktunya berkembang biak" celetuk Aira.

__ADS_1


Asna baru ingin menimpali perkataan aira, namun dosen sudah datang.


"Morning anak-anak" sapa dosen Harris dengan senyum sumringah.


Azkia segera menghapus air matanya.


"Morning juga dosen" jawab serentak para mahasiswa.


"Tumben dosen harris masuk kelas sumringah pakai banget " kata salah satu mahasiswa.


"Harus dong!! oke kita mulai pembelajaran" kata dosen Harris masih dengan senyum sumringahnya.


"Hiris ding!!! ya iyalah sumringah, orang habis di telpon sama calon istri" cibir Azkia dalam hati.


Dosen Harris mengernyit heran pada Azkia, karena biasanya jika dia masuk ke kelas selalu di sambut dengan banyolan-banyolan receh nya, tapi kenapa hari ini Azkia hanya diam saja? apa sedang sakit? pikirnya bertanya-tanya.


Pembelajaran berjalan seperti biasanya, hanya ada perbedaan jika hari-hari biasa ada banyolan-banyolan yang terlontar dari mulut Azkia, tapi kali ini tidak. Teman-temannya juga merasa heran dengan tingkah Azkia yang hanya diam, sesekali tersenyum, bicara seperlunya itupun jika di tanya.


******


Di dalam lab Dion sedang meracik ramuan yang akan ia berikan kepada pasiennya.


"Lagi buat apa? " tanya Key mengagetkan dion yang sedang berkutat dengan ramuannya.


"Astagfirullah bang.... ngagetin aja" kata Dion memegang dada.


"Untung ramuannya gak tumpah" sambung Dion.


Key cengengesan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ya maaf, btw mau buat apa? " tanya Key lagi.


"Ramuan ya buat mama, eh tapi kalo abang mau juga bakal aku kasih kok" kata Dion membuat Key memicingkan matanya.


Dion terkekeh.


"Aku emang gak yakin akan berhasil bang, tapi aku akan berusaha" kata Dion gigih.


"Apakah kamu sebelumnya pernah mencoba? " tanya Key penasaran.


"Pernah... dulu waktu di Amerika ada seorang pasien yang dinyatakan sudah meninggal oleh para dokter yang menanganinya. Aku penasaran kan, aku periksa tuh pasien... dan bener, jantungnya udah berhenti berdetak. Namun dalam hati aku bertekad ingin mencoba ramuan itu pada si pasien dan alhamdulillah berhasil, si pasien selamat" cerita Dion.


"Aku yakin kamu pasti kali ini juga berhasil yon!! " kata Key.


"Semoga aja bang" kata Dion.


"Makasih yon, udah mau bantu sembuhin mama" kata Key.

__ADS_1


"Jangan bilang makasih dulu bang, karena aku belum tentu berhasil kali ini" kata Dion.


"Tapi kamu mau berusaha untuk kesembuhan mama" kata Key.


"Itu udah tugas aku bang, yang terpenting kita sama-sama berdoa aja bang" kata Dion menepuk pundak Key, Key mengangguk tersenyum.


"Aku akan mencobanya pada mama" kata Dion membawa ramuan yang sudah siap ia racik.


"Ayo bang!! " sambung Dion mengajak Key.


Key mengangguk mengikuti Dion keluar dari ruang lab.


Tak lupa Dion memanggil uncle Erland untuk membantunya.


Mereka bertiga masuk ke ruang rawat mama nya Key. Sebenarnya itu kamar yang di rubah menjadi tempat khusus untuk merawat mama nya Key, di sana lengkap seperi rumah sakit VVIP yang sangat mewah.


Dion dan uncle Erland saling pandang, lalu uncle Erland menganggukkan kepalanya.


"Bismillah aja boy!! " kata uncle Erland.


Dion menganggukkan kepalanya lalu menyuntikkan ramuannya ke selang infus mamanya Key.


Dion dan uncle Erland terus melihat perkembangan detak jantung di monitor, namun hingga sepuluh menit tak ada tanda-tanda perkembangan juga.


Dion menatap uncle Erland. Key yang seolah-olah tau maksud Dion tersirat rasa kecewa di sana, ia memilih duduk di sofa yang tak jauh dari sana. Ia takut kali ini mama nya tak bisa di selamatkan.


Detak jantungnya masih lemah!! kenapa tak memberikan reaksi apapun?? tidak-tidak!! aku tak boleh menyerah, pikir Dion.


Dion berfikir dan berbincang-bincang pada uncle nya, mengenai cara lain jika kali ini tak berhasil.


Selang beberapa menit, Dion pergi menuju lab nya. Sampai di sana ia terkejut dengan mesin laporan kesehatan yang tersambung ke monitor penelitian yang berada di ruang rawat mama nya Key. Di sana ada perkembangan detak jantungnya naik menjadi 25-40 per menit, karena biasanya hanya 5-10 per menit. Walaupun masih rendah, tapi setidaknya memberikan tanda-tanda kemungkinan untuk sembuh.


Dion berlari ke ruang rawat.


"Uncle, berhasil!! " teriak Dion saking senangnya.


"Ya, kamu berhasil boy lihatlah!! " kata uncle Erland menunjuk ke arah monitor. Di sana ia sedang menunjukkan lambang hati yang berkedip-kedip pada Key.


Key yang merasa terharu menitihkan air matanya, dengan rasa tak percaya ia menyentuh monitor itu.


Key beralih duduk di samping mama nya terbaring, ia menciumi tangan mama nya. Ia berdoa, berharap lebih semoga mama nya bisa sembuh.


"Alhamdulillah... makasih yon, paman dokter!! berkat usaha kalian, kemungkinan mama untuk hidup masih ada" kata Key bersyukur.


"Hey, ini juga berkat doa-doa mu nak" kata uncle Erland yang di angguki Dion.


Kemampuan Dion menjadi dokter spesialis jantung memang sudah tak diragukan lagi, karena jika dalam hati ia yakin masih bisa, maka ia akan berusaha semampunya.

__ADS_1


__ADS_2