FITRAH CINTA

FITRAH CINTA
Khawatir


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, akhirnya aku berhasil menyelesaikan orderan baju. Aku, Rindi, dan Aji kini memasukan semua seragam ke dalam karung. Semua pesanan telah siap untuk di antar. Ya, hari ini Aji juga turut membantu karena aku meminta bantuan kepadanya, untuk mengantar pesanan-pesanan ini ke pondok pesantren.


Aji pun dengan senang hati menerima, katanya hitung-hitung sekalian jalan-jalan. Kebetulan hari ini adalah hari sabtu di mana waktunya weekend. Terlebih lokasi pesantren juga berada di Yogyakarta, benar-benar destinasi yang menarik untuk dikunjungi bukan?


Tidak hanya Aji yang ingin ikut mengantar, melainkan Rindi pun juga. Kemudia kami bertiga bergegas untuk berangkat, tidak lupa sebelum itu berpamitan terlebih dulu dengan Ibu. Memohon doa restu agar dengan selamat sampai tujuan.


Kami pun bergantian salim dengan Ibu, namun tidak lama setelah itu tiba-tiba saja ada notifikasi whatsapp di ponselku. Ketika ku lihat, ternyata dari Chef Bayu.


“Assalamualaikum Ra, saya dengar dari pengurus pesantren katanya pesanan bajunya sudah jadi ya? Kalu begitu biar saya kerumah kamu ya untuk anterin itu semua.” Tulisnya.


Aku pun segera membalasnya, dan mengatakan agar ia tidak perlu repot-repot untuk mengantar kesana. Karena sudah ada Aji dan Rindi yang menemaniku. Akan tetapi ternyata ia bilang agar sekalian saja bareng-bareng kesana, karena ia pun memang ada urusan untuk ke pesantren juga.


“Sekitar 10 menit lagi saya sampai, tolong tunggu ya.” Begitu ketiknya.


Mengetahui hal ini aku pun segera memberitahukan kepada Aji dan Rindi.


“Tunggu, tunggu. Ini Chef Bayu katanya mau ikut antar, sekitar 10 menit lagi ia sampai.” Ucapku, menghentikan Langkah mereka yang ingin beranjak pergi.


“Loh terus mobil gue gimana? Lu ga bilang Ra kalau udah sama gue?” Tanya Aji, kaget mendengar pernyataan dariku.


“Udah, tapi katanya dia emang lagi ada urusan di sana juga. Jadi biar sekalian bareng-bareng aja katanya.” Jelasku.


“Mobilmu titip parkir di garasi Pakde Supri aja Ji, boleh kok. Biasanya beberapa warga di sini juga suka titip ke beliau. Bilang saja, dan kasih ia uang tip pasti mau.” Ucap Ibu, yang mendengar perbincangan kami.


“Kamu yang tolong bilangin nanti Ra.” Lanjut Ibu.


“Gimana Ji?” Tanyaku, menunggu keputusan Aji.


“Hmm, yaudah deh.” Jawab Aji, sambil mengangguk.


***


Setelah 10 menit menunggu, akhirnya Chef Bayu pun tiba. Setelah ia turun dari mobil, kami bergegas untuk sama-sama memasukan karung berisikan pakaian pada bagasi mobil. Ketika semuanya telah beres, aku pun seraya untuk masuk dan duduk di kursi belakang.


“Loh Ra, lu duduk di belakang emang ga mabok?” Tanya Aji yang masih berdiri di belakangku.


“Nggak akan, lu temenin Chef Bayu duduk di depan aja, biar Chef ga ngantuk pas nyetir nanti.” Ucapku.


“Kenapa Ra? Kamu aman duduk di belakang?” Tanya Chef yang mendengar percakapan kami berdua.


“Aman kok Chef tenang saja, Aji memang suka lebay. Sudah yuk Rin, kita masuk..” Jawabku seraya mengajak Rindi untuk masuk mobil juga.


“Bohong banget, nanti juga muntah kaya ke rumah opung gue waktu itu, haha.” Ucap Aji ketika kami semua telah berada di dalam mobil.


“Ji, itukan dulu waktu masih kecil. Lagian sekarang gue juga udah prepare minum antimo, jadi aman.” Jelasku.


“Oiya Chef kenalin ini Aji temen kecil saya, kalau yang ini Rindi sahabat saya dari SMA.” Lanjutku memperkenalkan mereka berdua kepada Chef Bayu. Kemudian mereka pun saling say hello satu sama lain.


“Chef, nanti kalau ngantuk bilang ya. Biar kita gantian aja nyetirnya.” Tawar Aji kepada Chef Bayu.


“Siap Ji, hahaa.” Ucap Chef Bayu sambil menyetir.


Perjalanan pun berjalan dengan lancar, sudah sekitar 3 jam perjalanan kami tempuh. Ku lihat di sampingku Rindi sudah tertidur pulas, begitu pun dengan Aji yang sudah tidak terdengar lagi suaranya.


Sedangkan di luar hujan turun cukup lebat, membuat jalanan sedikit renggang tidak terlalu padat oleh kendaraan. Aku hanya asik mengamati seisi jalan dari jendela mobil, sampai ku dapati ada seorang Bapak tua yang menjajakan jas hujan plastik pada setiap pengendara.


Tepat saat mobil ini terhenti di lampu merah, beliau pun melewati mobil kami. Aku pun segera sedikit membuka kaca jendela, dan memanggilnya.


“Pak, beli 4 ya.” Ucapku. Bapak itu pun langsung menyerahkan 4 jas hujan yang ada di tangannya.


“Berapa Pak?” Tanyaku.


“40.000,00 Neng.” Jawabnya.


“Sisa berapa lagi Pak jas hujannya? Tanyaku, dengan sedikit melongok keluar untuk melihat jas hujan yang beliau bawa.


Beliau pun kemudian menghitungnya dengan cepat, kemudian berkata..


“Masih ada 12 lagi Neng.” Ucapnya.


“Tolong sisanya dibagikan ke pengendara motor yang ada di sana saja ya, Pak.” Ucapku dengan menunjuk pengendara motor yang tengah berteduh di halte.


“Ini, kembaliannya ambil saja ya Pak.” Lanjutku berbisik sambil menyodorkan tiga lembar uang bewarna merah kepadanya.

__ADS_1


Beliau pun berterima kasih dan di sertai dengan senyum sumringah menghiasi wajahnya. Aku turut membalasnya dengan senyuman juga. Dan setelah beliau pergi, langsung ku tutup kembali jendela mobil.


“Kita kan naik mobil Ra, jadi tidak perlu jas hujan itu.” Ucap Chef Bayu yang sedang menyetir.


“Lagi pula di belakang juga ada payung kok Ra.” Lanjutnya.


“Iya ngga apa-apa Chef, pengen sedikit bantu Bapaknya jualan aja.” Jawabku, sambil menaruh jas hujan tersebut ke bagasi belakang.


“Kalau memang niat membantu kenapa ngga kamu kasih duitnya aja Ra? tanpa perlu membeli empat jas hujannya, terlebih sisanya kamu suruh beliau bagikan ke pengendara motor yang sedang berteduh di sana.” Tanyanya, sambil tetap fokus menyetir.


“Karena Bapak itu lebih memilih berjualan, kalau dilihat dari kondisinya yang sudah tua, mungkin bisa saja ia mengemis. Akan tetapi beliau tidak melakukannya, itu artinya beliau sangat menjujung tinggi harga dirinya. Saya hanya berusaha menghargai prinsip beliau saja Chef. Kalau untuk kenapa sisanya saya meminta beliau membagikan ke pengendara, itu agar beliau bisa lebih cepat pulang ke rumah, tidak perlu menjajahkan jualannya lagi. Begitu pun dengan pengendara motor yang sedang berteduh, mereka tidak membeli jas hujan bukan berarti meraka tidak butuh. Bisa jadi mereka tidak memiliki cukup uang untuk membeli, atau mungkin punya, tetapi masih ada kebutuhan lain yang lebih penting. Saya rasa mereka pun ingin segera pulang tanpa berteduh dulu, karena sudah ada keluarga yang menunggu.” Jelasku kepada Chef Bayu.


“Pantas Mas Hendra menyukaimu.” Ucap Chef pelan. Aku yang tidak begitu jelas mendengarnya, menanyakan kembali apa yang barusan Chef katakan.


“Kenapa Chef?” Tanyaku, memastikan.


“Oh ngga, saya cukup mengerti dan kagum dengan penjabaranmu saja.” Jawabnya.


Mendengar ucapannya, aku hanya terdiam dan mengangguk-ngangguk saja, paham apa yang ia maksud. Perjalanan pun berlanjut dan aku masih menikmati pemandangan sekeliling jalan. Hujan yang mengguyur terasa sangat menyejukan.


Untung saja hujan yang kini turun, tidak disertai dengan suara Guntur yang menggelegar. Jika sampai iya, aku pasti sudah sebegitu ketakutan mendengarnya.


Untuk mengisi waktu luang, sepanjang perjalanan aku putuskan untuk melanjutkan menulis novel saja. Ya, novel ini terinspirasi dari salah satu orang yang tidak lain adalah Mas Hendra. Entah mengapa pertemuanku dengannya ingin ku abadikan melalui tulisan-tulisan dalam bentuk cerita.


Kisah ku dengannya mungkin tidak berujung bahagia, namun aku ingin kisah ini menjadi awal dari aku yang akan terus tumbuh. Patah hati ini akan menguatkanku untuk menjadi wanita yang lebih kuat dan hebat lagi. Membuatku semakin mengerti arti cinta dan kehidupan ini.


Di mana aku harus belajar untuk mengikhalaskan hal yang begitu sangat ku inginkan. Aku mulai mengetikan kata demi kata pada notes di hp ku. Namun tiba-tiba saja terdengar ada suara dari arah depan yang memanggilku.


“Ra...”


“Iya Mas?”


“Mas?” Sahut suara dari arah depan.


Aku yang tersadar seraya membetulkan posisi dudukku, dan dan menghentikan mengetik pada layar ponsel.


“Ekhmm, mm… iya Chef kenapa?” Ucapku gelagapan sambil mengalihkan pandangan ke arah jalan, serta memejamkan mata dan menghembuskan nafas secara perlahan. Bodohnya aku, bisa-bisanya tidak fokus seperti ini dan keceplosan memanggil nama itu.


“Kamu masih ada perasaan ke Mas Hendra, Ra?” Tanya Chef yang melirikku dari cermin yang berada di atas.


Ia pun meminta maaf, merasa tidak enak denganku. Dan kemudian ia menawarkanku untuk kami berhenti sejenak di rest area untuk makan dan sholat. Setelah sampai di rest area aku seraya membangungkan Rindi dan Aji. Mereka berdua pun serentak terbangun dan kami bersama-bersama beristirahat sejenak.


***


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami sampai juga pada tujuan. Saat ketika mobil terparkirkan di area pesantren, kami langsung disambut hangat oleh seluruh warga pesantren.


Chef pun langsung turun dan mengambil bingkisan yang ia bawa, lalu kemudian membagikannya pada seluruh santri. Di dalam bingkisan tersebut terdapat cake coklat, sekotak susu, dan snack lainnya.


Para santri pun mengantri memanjang, kemudian berlarian dengan riang ketika telah mendapatkannya. Aku, Rindi, dan Aji pun turut membantu membagikannya juga.


Ketika semuanya telah beres, Chef langsung memperkenalkan kami dengan sang Kyai, dan beberapa pengurus pesantren lainnya. Tetapi tidak lama saat perkenalan itu, tiba-tiba saja Chef Bayu mendapatkan panggilan telfon yang membuat kami berhenti sejenak dari percakapan yang terjadi.


“Baik, saya akan segera kesana. Tolong berikan penanganan terbaik.” Ucap Chef kepada seseorang yang ada di telfon, yang entah siapa namun rupanya Chef terlihat begitu cemas dan sangat panik.


Setelah menutup telfon, Chef cukup terdiam begitu lama. Aku dan teman-teman yang begitu heran dengan sikap Chef Bayu, hanya bisa saling melirik satu sama lain.


“Ada apa Chef sebenarnya?” Tanyaku, mencoba membuka keheningan.


“Kerabat saya sedang dirawat di rumah sakit singapore, dan tadi pihak rumah sakit mengabarkan konidisinya memburuk. Saya harus segera pulang ke Jakarta dan mengatur penerbangan untuk ke sana.” Jawabnya.


“Gimana Ra? Kamu mau sekalian ikut pulang sekarang?” Lanjutnya, bertanya.


Aku hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi aku ingin menemaninya pulang ke Jakarta, namun di sisi lain aku sudah berjanji kepada Rindi dan Aji bahwa keberangkatan kami ke sini juga sekaligus untuk liburan.


Aku yang sedang kebingungan kemudian tiba-tiba saja Rindi sedikit mendekat kepadaku, dan membisikan untuk baiknnya kami tidak ikut pulang dengannya.


Rindi bilang ia sangat ingin berbaring sebab tubuhnya terasa begitu pegal. Di susul dengan Aji yang juga membisikanku, mengingatkan akan awal rencana kami ke sini. Melihatku yang masih terdiam, Rindi pun akhirnya bersuara.


“Chef kayaknya kami nanti dulu deh untuk pulangnya, soalnya badan saya masih pegel-pegel.” Ucap Rindi.


“Nanti kami bisa pulang dengan kereta saja kok Chef.” Ucap Aji, menambahi.


“Ya sudah kalau gitu, maaf saya harus pamit duluan.” Ucap Chef Bayu.

__ADS_1


"Semoga segera diberi kesembuhan ya Chef untuk kerbatnya." Ucap Aji. Kemudian ucapan doa pun datang bergantian dari masing-masing kami yang turut prihatin atas hal yang menimpa Chef Bayu.


“Oiya Pak Kyai, saya titip teman-teman saya ya. Mungkin mereka akan menginap disini untuk malam ini.” Ucap Chef Bayu, seraya bersalaman dengan Sang kyai untuk berpamitan.


"Iya, ndak usah khawatir Yu. Temanmu aman disini." Ucap Pak Kyai.


“Mas Bayu mau saya antar? Biar saya yang menyetir mobilnya Mas.” Tawar Yudi, salah satu pengurus pesantren.


“Nggak perlu yud, saya bisa sendiri. Makasih ya.” Jawab Chef Bayu, kemudian berjalan menuju mobil miliknya.


Sebelumnya Chef sempet membicarakan sesuatu kepada Pak Kyai dan Mas Yudi. Entah apa yang dibicarakan, namun sepertinya hal yang serius. Sebab Chef menjauh dari kami sebentar saat percapakan tersebut. Seperti tidak ingin yang lain ikut mendengar.


“Chef, sebelumnya terima kasih ya sudah ikut mengantar ke sini.” Ucapku berlari kecil mengahampiri Chef Bayu.


“Sama-sama Ra, kamu baik-baik ya di sini.” Jawab Chef, kemudian berlalu pergi. Aku hanya mengangguk, mengiyakan apa yang Chef katakan.


Kemudian seketika mobilnya pun meluncur dengan kecepatan yang begitu tinggi. Sebenarnya siapa kerabatnya yang sedang sakit itu? Sampai ia merasa sebegitu paniknya.


Tunggu, tunggu, otakku berfikir apa Mas Hendra yang sedang dirawat di singapore? Aku baru tersadar, bukankah Mas Hendra menderita penyakit kanker? Bahkan waktu itu, ketika aku mengetahui semuanya saat berada di rumahnya. Ia justru langsung membuatnya marah kepada Chef Bayu, serta langsung menjauhiku.


Hatiku jadi merasa tidak karuan, dihantui rasa khawatir yang berlebihan. Apa-apaan ini? mengapa aku masih sangat peduli kepadanya? Bukankah di sana juga pasti sudah ada Mba Sandra yang setia menemaninya?


Aku berusahan menenangkan pikiranku sendiri. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi padanya.


Aku masih berdiam diri di tempat Chef Bayu meninggalkanku. Namun tiba-tiba saja suara Rindi terdengar dari arah belakang, meneriakan namaku.


“Ra, ayo buruan ikut Mbak Nisa.” Ucap Rindi sambil menunjuk ke arah salah satu perempuan pengurus santri putri.


Aku dan Rindi akhirnya mengikuti langkah Mbak Nisa untuk menuju ruang tamu pesantren, sambil menunggu kamar yang sedang disiapkan untuk kami berdua. Sedangkan Aji izin untuk ke toilet terlebih dahulu, dan didampingi Mas Yudi untuk menunjukan letak toilet di pesantren.


Setelah berjalan menyelusuri area pesantren akhirnya kami pun sampai, dan Mba Nisa mempersilahkanku dan Rindi untuk duduk dan menunggu sementara waktu.


Di dalam ruangan ini terdapat foto besar yang dipajang di tengah-tengah dinding. Di sana ada foto Pak Kyai, dan seorang laki-laki berjas rapih. Di bagian sisi lainnya ada bingkai berukuran lebih kecil, dan di sana terdapat foto Mas Hendra dengan Chef Bayu. Apa hubungannya mereka berdua dengan pesantren ini? batinku.


Aku pun memberanikan diri untuk bertanya langsung ke Mbak Nisa, yang sedang berdiri di hadapan kami.


“Mbak maaf, itu foto Chef Bayu dan Mas Hendra ya?” Tanyaku, sambil tetap memperhatikan foto.


“Iya benar, mereka berdua adalah anak dari pemilik pesantren ini. Dan di atas itu foto Pak Kyai Abdullah dengan ayahanda mereka, yaitu Pak Hasan Al waritzi yang telah meninggal 7 tahun yang lalu.” Jawab Mbak Nisa.


“Pak Hasan menyerahkan amanah kepada Kyai Abdullah untuk mengurus pesantren ini, dan setelah beliau meninggal, kedua putranya lah yang sering berkunjung ke sini. Biasanya Mas Bayu tidak sandiri kalau ke sini, cuma karena katanya Mas...” Jelas Mbak Rindi yang tiba-tiba saja terpotong oleh kehadiran Aji dan Mas Yudi.


“Nis, kamu dicari santri wati di Masjid.” Ucap Mas Yudi yang baru saja datang, memotong perkataan Mbak Nisa.


“Oalah iya, sebentar Mas.” Sahut Mbak Nisa.


“Jadi gini Mbak Indira, sebelumnya pesantren dapat kabar bahwa..” Lanjut Mbak Nisa menjelaskan. Namun lagi-lagi Mas Yudi memotong pembicaraannya.


“Sekarang Nis, mereka sudah menunggu lama katanya.” Ucap Mas yudi, menghentikan perkataan Mbak Nisa lagi.


Mbak Nisa akhirnya pun bergegas keluar, sebelum sempat menjelaskan perkataannya secara tuntas. Aku yang penasaran sebenarnya ingin mendengarkannya lebih lanjut, namun sepertinya Mbak Nisa juga sedang disibukkan oleh urusan pesantren.


Aku yang baru tahu bahwa ternyata Chef Bayu adalah anak dari pemilik pesantren ini cukup kaget, apa mungkin Chef sengaja memberikan orderan baju ini kepadaku untuk membantu usaha jahitku yang sedang menurun? Tetapi mengapa ia diawal tidak jujur saja? Entahlah sudah terlalu banyak hal yang dirahasiakan.


#############################################


.


.


.


..."Meski semua rasa berusaha ku singkirkan, namun tidak jarang ia kembali hadir dan tak mampu ku usir."...


.


.


.


Hii, gimana kabar kalian?


maaf yaa lama ga update, udah mulai disibukan dengan tugas kuliah dan pekerjaan lainnya. Tapi tenang, cerita ini akan tetap ku lanjutkan untuk kalian!! Terima kasih banyak ya untuk kalian yang masih setia membaca karyaku! hehee.

__ADS_1


salam hangat, peluk erat dari jauh!!


sehat-sehat kaliannnnnnn💙💙💙


__ADS_2