
Waktu menunjukan pukul tujuh pagi, namun suasana di pesantren sudah riuh dipenuhi oleh suara para santri yang sedang sibuk bersih-bersih. Ya, karena hari ini adalah hari Minggu yang di mana menjadi jadwal kegiatan mereka untuk kerja bakti.
Saat yang lain bersemangat melakukan rutinitas ini, namun di pinggir taman ku lihat ada salah satu santri wati yang tengah duduk bersandar dengan raut wajah yang muram.
Melihatnya dari kejauhan, aku bergegas untuk menghampirinya yang tengah sendirian. Perlahan ku coba duduk tepat di sampingnya. Tatapannya begitu kosong ke arah depan, sepertinya ia belum menyadari keberadaanku. Aku pun mencoba memecahkan keheningan.
“Bunganya Indah ya...” Ucapku sambil menunjuk salah satu bunga di sana.
“Eh Mbak Indira ya?” Tanyanya, yang mulai menyadari kehadiranku.
“Iya hey.. kamu siapa namanya?” Sahutku, sambil menjulurkan tangan untuk berkenalan.
“Aku Desi, Mbak.” Jawabnya, dengan menyambut tanganku untuk bersalaman dengan penuh senyum.
“Kok sendirian di sini Des? nggak gabung sama yang lain?” Tanyaku.
“Nggak Mbak, kebetulan aku memang lebih suka menyendiri.” Jawabnya seraya menatapku, kemudian ia menundukan pandangannya kembali.
Melihatnya yang demikian, aku rasa sedang ada sesuatu hal berat yang sedang ia rasakan. Rasa ingin bertanya, namun aku takut mengganggu privasinya. Akan tetapi aku juga tidak akan tega membiarakannya sendirian, aku tidak ingin ia merasa kesepian.
Walau mungkin di awal ia telah memberi tahuku bahwa ia memang lebih suka sendirian. Akan tetapi menurutku ada hal besar yang melatar belakangi ia memilih sikap demikian.
***
Aku hanya menatapinya dari samping, mengamati raut wajahnya dalam-dalam. Hingga... tangisnya pecah, ya kini gadis belia yang ada dihapanku meneteskan air matanya cukup deras. Bergegas aku langsung merangkul dan mengusap-usap punggung belakangnya.
Ku biarkan ia menumpahkan air matanya, mungkin dengan begitu dapat membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Karena memang terkadang menangis bukanlah suatu tanda kelemahan, sesorang yang menangis bukan berarti ia tidak kuat, namun itu bertanda ia telah bertahan dengan begitu hebat.
Dan lagi, menangis adalah hal yang sangat manusiawi, terkadang tidak apa-apa untuk kita memperlihatkan diri yang sedang baik-baik saja. Tidak ada yang salah dari itu semua, justru yang salah kalau kita berusaha terlihat baik-baik saja yang padahal kita tengah membutuhkan pertolongan.
Ngga masalah kalau orang sekitarmu tahu tentang situasi yang kau alami, agar mereka mengerti dan memberimu jeda untuk kembali pulih. Memang benar dunia tidak perlu tahu kalau kau sedang babak belur, tetapi coba pahami dirimu terlebih dulu dalam situasi ini agar semuanya dapat teratur.
Sudah seberapa sering kita lebih mengutamakan perasaan orang lain terlebih diri sendiri? Sudah seberapa sering kita berusahan mengerti orang lain, tapi tidak untuk diri sendiri? Sudah cukup, untuk saat ini mulailah lebih mencintai dan menghargai diri sendiri.
***
Setelah tangisnya perlahan berhenti, dan dirinya merasa sedikit tenang, Desi membuka suaranya yang terdengar sedikit serak karena sehabis menangis.
“Mbak, boleh aku bercerita? Rasanya aku sudah tidak kuat lagi Mbak.” Ucapnya kepadaku dengan tatapan yang lirih.
“Tentu saja boleh dong, saya sengaja menghampiri kamu ke sini agar kamu tidak sendirian. Silahkan cerita apapun yang kamu mau, dengan senang hati saya akan dengarkan.” Jawabku kepadanya.
Kemudian Desi pun mulai menceritakan kisah hidupnya kepadaku, tentang apa yang selama ini ia pendam dan rasakan. Sepanjang Desi bercerita, aku berusaha untuk membiarkannya meluapkan semuanya terlebih dahulu.
Dengan sesekali ku beri sedikit respon singkat, untuk menandakan bahwa aku mengerti dan masih antusias untuk menyimak setiap kata yang ia lontarkan.
__ADS_1
***
Desi bercerita bahwa yang membuat kini merasa terpukul adalah,karena hari ini merupakan hari ulang tahunnya. Dan ketika ia bertambah usia ia merasa begitu sangat kesepian dan tidak memiliki alasan lagi untuk bertahan hidup, karena ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Sebab ternyata Desi telah ditinggal oleh ayahnya sedari ia masih sangat kecil. Ayahnya yang tidak bertanggung jawab membuatnya hanya tinggal berdua bersama Ibunya saja. Namun ketika ia kelas 6 SD, Ibunya terkena penyakit komplikasi yang pada akhirnya meninggal dunia dan meninggalkan Desi seorang diri.
Desi yang kala itu belum cukup dewasa akan tetapi sudah dipaksa mengalami segala terpaan hidup yang begitu keras. Desi mengatakan bahwa betapa terpukulnya ia saat itu, seorang Ibu yang satu-satunya ia punya harus meninggalkannya begitu cepat, yang pada akhirnya membuat Desi diasuh oleh tantenya.
Seperti layaknya orang asing, Desi tidak begitu dekat dengan sang tante. Begitu pun juga dengan tantenya yang begitu cuek dengannya, meski kadang Desi telah membantunya saat berjualan nasi dan lauk matang di pasar. Di tambah lagi situasi teman sekolah Desi yang sering membully dirinya.
Desi bilang, tubuhnya yang gemuk sering menjadi bahan olok-olokan oleh teman dan guru di sekolahnya. Hal ini semakin membuatnya tidak percaya diri dan begitu tertekan. Mungkin dihadapan mereka Desi bisa bersikap seolah tak apa, namun siapa sangka bahwa hal itu berdampak pada kesehatan mentalnya.
***
“Sebelum ada di sini aku sempat beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri, Mbak.” Ucapnya dengan tetap menunduk, tanpa mengarahkan wajahnya kepadaku. Aku yang mendengarnya begitu miris, ku coba untuk melihat wajahnya yang tetap menundukan pandangan.
“Dulu, saat aku masih kelas 1 SMP aku sering menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri Mbak. Justru malah ketika ada mobil atau truk yang lewat aku sengaja langsung melintas, berharap tubuhku tertabrak, namun selalu gagal.” Lanjutnya.
“Hingga suatu saat ketika aku memutuskan untuk minggat dari rumah tanteku dan ingin melakukan percobaan itu kembali, mobil di hadapanku seketika ngerem mendadak dan sang pengemudi pun segera keluar untuk menghampiriku. Berbeda dengan yang lainnya, pemiliki mobil itu justru tidak memarahiku yang sudah menyebrang jalan seenaknya. Ia malah mengajakku ke salah satu tempat makan terdekat yang ada di sekitar, ia bertanya banyak perihalku. Ia begitu khawatir dengan kondisiku, sampai akhirnya ketika aku terbuka untuk bercerita, ia menawarkanku untuk masuk di pondok pesantern ini.” Lanjutnya kembali, meneceritakan kisahnya kepadaku.
“Alhamdulillah ya Des, masih ada orang baik yang peduli sama kamu. Walau tanpa sadar orang itu mungkin perantara dari Allah, untuk menyelamatkanmu dari kondisi buruk yang kamu alami saat itu.” Ucapku merangkul, dengan penuh senyum ke arahnya.
“Iya Mbak, dan dalam hidup ini aku baru bisa seleluasa itu untuk bercerita banyak tentang hidupku kepada orang baru. Karena biasanya aku cenderung tertutup dan menutup diri dari orang sekitar, tapi entah aku mendapatkan kenyaman saat bercerita dengan 2 orang ini, yaitu Mbak salah satunya.” Ucapnya yang kini mulai menengok dan tersenyum ke arahku.
“Oh iya kalau boleh tahu orang yang menolongmu itu sampai sekarang masih kontakan sama kamu kah Des?” Tanyaku, yang penasaran kepada sosok baik yang memiliki empati begitu besar di zaman seperti sekarang ini.
“Tentu masih Mbak, karena orang itu yang memiliki pondok pesantren ini. Cuma belakangan ini ia tidak bisa berkunjung ke pesantren karena sedang terbaring di rumah sakit, bahkan kami seluruh warga pesantren sempat melakukan doa bersama untuk kesembuhannya.” Jawabnya.
“Namanya Mas Hendra, Mbak. Orangnya tuh baik banget, tidak jarang ia begitu sering memberikan hadiah kepada para santri yang rajin dan berprestasi, sangat memotivasi sekali deh pokoknya, layaknya seperti Mbak Indira ini.” Lanjutnya, aku yang terkejut setelah tahu orangnya dan mulai tidak fokus mendengarkan ucapan dari Desi.
“Mas Hendra...” Ucapku lirih yang sedikit terdengar oleh Desi.
“Iya, Mas Hendra. Mbak kenal?” Tanya Desi.
Aku berusaha mengontrol diriku dihadapan Desi, tidak mungkin aku beranjak pergi darinya yang kini sedang membutuhkan seseorang untuk menenangkan dirinya. Aku menjelaskan kepada Desi bahwa aku mengenal Mas Hendra karena dulu pernah bekerja di toko Kue miliknya.
Namun aku yang tidak ingin terlalu banyak membahas ini di hadapan Desi, kembali ku fokuskan perbincangan kami berdua tentang masalah yang Desi alami. Sesekali ku bagikan cerita hidupku yang pernah mengalami titik terendah juga seperti Desi, agar ia mengerti bahwa dalam hidup ini ia tidak berjuang sendiri.
Dan ku katakan padannya bahwa ini semua ada fasenya, semua hal kelam akan berubah menjadi masa depan yang cerah. Aku berusaha bertanya tentang apa hobinya, agar ketika sedang banyak pikiran ia bisa mengalihkannya dengan kesibukan yang menyenangkan.
Aku juga berusaha memberi keyakinan kepadanya akan cita-cita yang ingin ia gapai, bahwa suatu saat apa yang ia fokuskan maka akan menjadi kenyataan. Aku hanya memintanya saat ini untuk fokus terhadap apa yang ingin ia raih, agar ia memiliki harapan kembali dalam hidup dan membuat semangatnya lebih membara.
Setelah cukup lama berbagi cerita tentang banyak hal, Desi mengatakan bahwa sekarang ia merasa sudah cukup lega. Ia berterima kasih kepadaku karena telah mau mendengarkan, dan membuat dirinya kembali merasa berharga.
Sebelum percakapan kami usai, aku mengajak Desi untuk ke kamarku. Seraya memberikannya kerudung baru sebagai tanda hadiah atas ulang tahunnya hari ini. Kebetulan kerudung itu merupakan jualanku yang sempat aku bawa dari Jakarta.
__ADS_1
Tadinya kerudung itu sengaja ku bawa untuk ku pakai nanti ketika pergi ke tempat wisata bersama Aji dan Rindi sebelum kami pulang dari Yogya.
Akan tetapi aku rasa lebih baik kerudungan ini ku berikan pada Desi, agar ia merasa sedikit lebih senang di hari ulang tahunnya. Juga sebagai bentuk kenang-kenangan dariku.
***
Aku yang baru saja mengetahui fakta tentang Mas Hendra yang ternyata sedang jatuh sakit dari Desi, seraya berkemas untuk segera pulang ke Jakarta. Rasanya ingin segere menemuinya, dan apa yang sebenarnya terjadi? apa lagi yang sedang ditutup-tutupi dariku?
Selesai berberes, aku segera menemui Rindi dan Aji dan mengatakan kepada mereka bahwa aku harus pulang saat ini juga. Mereka yang mendengar ucapanku kaget, dan bertanya apa alasanku hingga sampai terburu-buru seperti ini.
“Loh kenapa Ra?” Tanya Rindi.
“Gue nggak bisa cerita sekarang Rin.” Jawabku singkat, karena memang untuk saat ini aku tidak ingin berbagi apa yang sedang kurasakan kepada mereka.”
“Kita belum ada pesen tiket kereta Ra, mana bisa kalau harus sekarang juga.” Ucap Aji.
“Bisa Ji, kita coba dulu. Kalau nggak bisa kan bisa naik bis atau apalah. Udah mending kalian juga rapih-rapih ya.” Jawabku dengan wajah sedikit panik, entah mengapa rasanya aku begitu khawatir akan hal yang sebenarnya sedang menimpa Mas Hendra.
Melihat kami yang sedang berdebat, akhirnya Mas Yudi pun datang dan menanyakan hal yang sedang terjadi. Setelah mendengar penjelasanku, ternyata Mas Yudi bilang ia bersedia untuk mengantarkan kami pulang.
Sebab sebelumnya Chef Bayu telah berpesan untuk menjaga dan melayani kami selama ada di pondok pesantren, amanah dari Chef Bayu inilah yang membuat Mas Yudi meminta kami untuk pulang bersamanya saja.
Mendengar pernyataan dari Mas Yudi, kami bertiga pun sepakat menerima dan bergegas pulang ke Jakarta. Tetapi sebelum itu, aku berusaha bertanya tentang Mas Hendra kepada Mas Yudi. Ia pasti lebih tahu tentang ini, fikirku.
"Mas, boleh ku bertanya?" Tanyku.
"Iya, apa Mbak? ada yang bisa saya bantu?" Sahut Mas Yudi dengan ramah.
"Mas tahu Mas Hendra sakit apa? dan dirawat di mana?" Tanyaku kembali, berusaha dengan nada yang tenang.
"Hah? ng..ngga Mbak, saya tidak tahu apa-apa. Bukannya Mas Hendra baik-baik saja ya Mbak?" Ucapnya kini terbata, aku hanya terdiam dan menatap matanya.
"Bahkan belum lama Mas Hendra sempat ke sini kok Mbak." Lanjutnya kembali.
Mendengar jawabannya aku hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih atas informasi yang sudah ia berikan. Namun dari gestur tubuhnya, aku rasa Mas Yudi sedang tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
#######################################
.
.
.
"Terkadang setiap orang baru yang kita temui bisa menjadi berupa petunjuk, untuk kita dapat melanjutkan perjalanan dan mengarungi kehidupan."
__ADS_1