FITRAH CINTA

FITRAH CINTA
Pesawat nabrak capung


__ADS_3

ASRA CAFFE


Azkia yang sedang sibuk dengan data laporan di ASRA CAFFE terusik dengan suara dering ponselnya.Dilihat layar ponselnya, ternyata grandma nya.


"Hallo, assalamu'alaikum grandma" kata Azkia mengangkat telpon.


"........"


"Iya nanti kia beliin kalo gak lupa" jawab Azkia.


"......"


"Iya iya, udah jangan bawel. Itu aja kan? " tanya Azkia.


"......"


"Iya, wa'alaikumsalam" jawab Azkia, lalu memutuskan sambungannya.


Azkia kembali berkutat dengan data laporan cafe.


"Siapa ki? " tanya Asna.


"Itu grandma bilang kalo pulang aku disuruh mampir ke mall sebentar, nitip sesuatu" jawab Azkia yang matanya masih fokus dengan data laporan cafe, yang di angguki Asna.


"Nah, beres juga. Aku duluan ya as, oh ya btw Ira udah balik belum ya? " sambung Azkia, karena tadi mobilnya di pinjem Aira keluar sebentar.


"Gak tau juga sih, coba kamu lihat di depan dulu" kata Asna yang di angguki Azkia.


Di depan pintu ruangan mereka bertiga, Azkia berpapasan dengan Aira.


"Ra mana kunci mobilnya? " tanya Azkia sambil menodongkan tangannya.


"Tumben buru-buru? " tanya Aira.


"Iya soalnya, aku mau mampir ke mall dulu beliin titipan grandma. Udah cepat, mana kunci mobilnya? " kata Azkia.


"Itu ban mobilnya bocor, lagi aku bawa ke bengkel sebelah, tapi kalo udah selesai aku suruh bawa ke sini kok" kata Aira cengengesan.


"Kebiasaan deh ceroboh banget, yaudah aku pinjem punyamu aja" kata Azkia.


"Gak bisa ki, aku aja gak tau kamu lama atau enggak. Mendingan pakai moge aja, kan nanti balik sini lagi ambil mobilnya" saran Aira.


"Hufftthh... ribet kan jadinya, kamu sih!! " kata Azkia mengela nafasnya kasar.


"Yaudah terpaksa deh, mau gimana lagi kan? " gumam Azkia pergi ke belakang cafe mengambil moge.


Azkia mengendarai mogenya dengan kecepatan sedang, walaupun ia sedang terburu-buru tapi keselamatan jauh lebih utama. Sesampainya di mall Azkia memakirkan mogenya tak lupa memakai maskernya, lalu masuk ke mall mencari pesanan grandmanya.


"Heh.. wanita sok suci gue tau ya, itu lo kan? " teriak seseorang. Azkia tau betul suara siapa itu, tapi yang Azkia bingungkan dia memanggil siapa? ah, bodoh amatlah bukan urusannya juga, pikir Azkia.


"Heh.. lo!! gak usah pura-pura budeg deh" katanya lagi sambil menepuk bahu Azkia.


Azkia yang merasa bahunya ditepuk pun menoleh.

__ADS_1


"Lo manggil gue? " tanya Azkia menaikkan satu alisnya.


"Iyalah.. wanita sok suci mana lagi yang ada di sini selain lo!! " kata Seseorang itu.


"Gue gak ngerasa tuh" jawab Azkia cuek, lalu membalikkan tubuhnya kembali mencari pesanan grandma nya. Seseorang itu geram lalu membalikkan tubuh Azkia dengan kasar.


"Mau lo apa sih cin? udah cukup ya gue sabar selama ini cintya!! jadi lo jangan cari gara-gara lagi sama gue " Kata Azkia menekan kalimatnya, dia mulai terpancing emosinya. Namun Azkia berusaha meredakannya lalu membalikkan badannya. Lagi-lagi tubuh Azkia dibalikkan Cintya dengan kasar.


Azkia yang emosinya sudah menggebu-gebu pun menyunggingkan senyumnya lalu membalikkan badannya lagi.Dan disaat tubuhnya dibalikkan Cintya dengan kasar lagi, Azkia mengambil ancang-ancang membalikkan tubuhnya menendang perut Cintya. Cintya yang tubuhnya tak ada persiapan pun oleng, namun ia tak menyerah. Cintya bangkit lagi menyerang Azkia, Azkia dengan sigap menonjok perut Cintya lalu menampar kedua pipi putih Cintya. Cintya pun oleng yang kedua kalinya, lagi-lagi ia bangkit lagi tak menyerah. Cintya ingin membalas Azkia, namun dengan sigap Azkia langsung mendorong perut Cintya menggunakan kepalanya dan kedua tangannya mendorong pinggang Cintya. Cintya pun tergeletak tertimpa bahan-bahan yang ada di sekitarnya, karena rak nya roboh tertabrak tubuh Cintya. Manager mall yang mendengar keributan pun langsung menghampiri mereka.


"Hentikan!!! apa yang kalian lakukan huh? " tanya sang manager.


Azkia mendengar pertanyaan yang di lontarkan manager itu langsung bangkit dan berlalu ke kasir sambil berkata,


"Maaf pak, semuanya jadi ada keributan. Tapi ini semua bukan saya yang memulainya, jika bapak tak percaya lihatlah CCTV di mall ini" tegas Azkia.


******


Di tempat uncle Erland merawat pasiennya, dion baru saja tiba.


"Assalamu'alaikum uncle" sapa Dion pada uncle Erland di depan pintu.


"Wa'alaikumsalam... kamu sudah tiba boy? kenapa cepat sekali? apa ada insiden pesawatnya nabrak capung? " sindir uncle Erland.


"Bukan lagi pesawat nabrak capung uncle, tapi macet tadi di jalan soalnya polisi tidurnya susah di bangunin" celetuk Dion.


"Yakk!! dasar ponakan gak ada akhlak!! katanya dari dulu otw mau ke sini, tapi 2 minggu baru nyampe" pekik uncle Erland kesal pada keponakannya itu.


"Kau memang selalu menang boy" kata uncle Erland.


"Tentu saja uncle... udahlah, come on uncle!!! apa uncle mau membiarkan keponakan kesayangan uncle ini berdiri di sini terus? " keluh Dion.


"Oke, ayo uncle antar ke kamarmu" kata uncle Erland ,dion mengekori uncle nya memasuki rumah yang jauh lebih besar dan mewah dari kediaman Dirgantara itu.


"Apa uncle selama ini tinggal di sini? " tanya Dion menyejajarkan langkahnya dengan uncle Erland.


"Iya, udah lama banget kan? kurang lebih ya 21 tahun" jawab uncle Erland.


"Lalu bagaimana jika pasien uncle itu tidak bisa di sembuhkan? " tanya Dion lagi.


"Ini hidup kita boy... sebagai seorang dokter, selama kita mampu kita harus bisa menyembuhkan pasien kita, bagaimanapun itu caranya. Toh uncle sangat yakin jika kamu mampu boy!! " kata uncle Erland tersenyum menepuk bahu Dion.


"Tapi dia bertahan selama kurang lebih 21 tahun ini karena bantuan alat-alat medis yang menempel di tubuhnya uncle, itu sama halnya kita menyiksa dia uncle... apalagi kemungkinan untuk sembuh itu tipis " jawab Dion.


"Itu gak masalah boy, yang terpenting kita fokus aja dulu, karena selama keluarganya tak keberatan akan hal itu, tak masalah" kata uncle Erland.


"Baiklah uncle... akan dion usahain supaya uncle bisa cepat-cepat keluar dari sini, menghirup udara segar" kata Dion terkekeh di ujung kalimatnya, membuat uncle Erland memicingkan matanya.


Sore itu setelah mengerjakan shalat ashar Dion masuk ke ruang rawat pasien. Di sana ia melihat wanita yang mungkin seumuran dengan almarhumah mommy Viona. Ditatapnya wajah pucat wanita yang masih cantik dan terlihat masih muda sambil melipat tangan di depan dada.Mengingatkannya pada satu nama yaitu mommy nya yang sudah tiada.


Itu semua tak luput dari penglihatan seorang pemuda berumur 25 tahun yang baru akan masuk ke ruangan mamanya.


"Mau apa anda berada di ruangan mamaku!! " kata pemuda itu dingin, sambil memelintir tangan Dion yang kepalanya ditutupi kain sorban. Dion yang dipelintir tangannya langsung memberi perlawanan dan menendang pemuda itu.

__ADS_1


"Kau!! " kata pemuda itu menunjuk Dion.


"Cih... kenapa harus bertemu dengan kutub es lagi sih" kesal Dion.


Uncle Erland yang mendengar keributan pun masuk ke ruangan dimana pasiennya dirawat.


"Hey kalian apa-apaan ini? " tegur uncle Erland.


"Ini karena kutub es itu uncle" kata Dion menunjuk pemuda tadi.


"Sebelum aku sampai di sini tadi aku sempat menyerempet mobilnya, aku sudah minta maaf tapi responnya malah datar banget tuh muka, gak ngomong apa gitu juga" sambung Dion.


"Siapa dia paman? " tanya pemuda itu berubah sopan ketika bertanya pada uncle Erland.


"Dia keponakan paman yang paman maksud key, dia dokter dion" jawab uncle Erland.


"Dia itu sungguh menyebalkan paman, lagian paman juga gak laporan sama aku, aku kira dia mau berbuat jahat sama mama paman" kata pemuda itu yang bernama Key.


"Maaf nak, paman lupa memberitahumu. Karena dion baru sampai katanya pesawat yang ia tumpangi nabrak capung" ledek uncle Erland membuat Key tertawa terpingkal-pingkal. Uncle Erland yang melihat Key tertawa melongo tak percaya, karena semenjak ia merawat mamanya tak pernah melihat Key tertawa paling hanya senyum yang ia tampilkan.


"Hey bang kutub!! rupanya kamu bisa tertawa juga? aku kira mukamu yang seperti es itu tak bisa meleleh! " ledek Dion, Key yang tersadar langsung berhenti tertawa.


"Heh.. itu salahmu sendiri nyetir mobil gak hati-hati " sinis Key.


"Iya abang.... makanya aku minta maaf" kata Dion.


"Kau lihat paman!! mana ada dokter gila macam ponakan mu itu! bang beng bang beng!! dikira aku tukang bakso apa? tapi gapapa... karena berhubung kamulah dokter yang aku harapkan untuk menyembuhkan mama. Kamu bisa panggil aku bang key! " kata Key sambil mengulurkan tangannya.


"Okee bang key... itu panggilan yang cocok untuk dirimu yang tua itu! aku dion" kata Dion menjabat tangan Key.


"Eits.. jangan salah!! umurku baru 25 bocah!!pengusaha muda sukses ini" kata Key sombong, membuat Dion memutar bola matanya jengah.


Uncle Erland yang menyaksikan perdebatan kedua pemuda yang ada di hadapannya itu tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Yasudah, kalian ngobrol lah dulu" kata uncle Erland keluar dari ruang rawat.


"Kita ngobrol di ruang tamu aja, biar lebih leluasa" ajak Key yang di angguki Dion.


Mereka turun ke ruang tamu,kecanggungan yang ada di ruang tamu itu.


"Jadi gini dok, kamulah harapan kami untuk menyembuhkan mama. Semoga kamu bisa menyembuhkan mama dari koma" kata Key memulai pembicaraan.


"Hey bang kutub, kamu tak usah memanggilku terlalu formal. Kamu bisa memanggilku dion saja" kata Dion mencairkan suasana.


"Oke dion, gitukan? " tanya Key kaku, membuat Dion tertawa.


"Yak!! kau selalu saja menertawakan ku" kata Key mendengus kesal.


"Okee oke... gak lagi. Dan untuk masalah mamamu itu, akan aku usahakan ya bang" kata Dion.


"Aku udah dengar ceritanya dari uncle sih, aku turut prihatin ya bang. Kamu yang sabar aja ,kalo memang mamamu masih ingin melihat dirimu aku yakin mamamu pasti bisa sembuh.Btw papamu kemana? "sambung Dion.


"Mungkin papa masih di kantor, 5 tahun setelah kejadian itu papa sadar dari komanya berkat paman dokter. Dan beliau selalu menyibukkan diri di kantor supaya tak terlalu terbayang-bayang sosok mama" jelas Key lesu.

__ADS_1


__ADS_2