FITRAH CINTA

FITRAH CINTA
Ikan hiu makan badak


__ADS_3

"Kakak?! " pekik Azkia.


"Jangan-jangan kalian? " sambung Azkia penuh selidik.


Asna melongo antara percaya tak percaya.


"Iya... ASNA AZZAHRA gadis desa yang cantik dan humoris, pengagum rahasia DION ALEXANDER?!yang suka bernyanyi di taman setelah jogging. Gadis cantik yang mampu menyita perhatianku, walau hanya sebatas cerita"


Dion tersenyum, berkata dengan santai membuat Asna gugup.


"Whatt!! jadi kak dion yang kamu kagumi dalam rahasia? " pekik Aira heboh.


Asna menarik nafasnya lalu menghembuskan nafasnya berusaha mengurangi kegugupannya.


"Iya, DION ALEXANDER yang mengajariku apa arti cinta!! menyadarkan ku tentang cinta dalam diam, Cinta dalam hati, dan Cinta tanpa harus memiliki"


"Memperhatikannya diam-diam, mendoakannya di sepertiga malam, dan mencintainya secara rahasia, itulah caranya mengajariku. Sampai detik ini setidaknya aku tahu gimana rasanya memendam perasaan rindu sendirian"


"Namun, sekarang rasanya aku sedang menuai apa yang pernah aku tanam"


Asna tersenyum bahagia menatap Dion, begitupun dengan Dion.


"Aaaaah... untung kak dion ngungkapin semua kebenarannya, jadi gak di gantung kan, soalnya bahaya!! " kata Aira.


"Kenapa? " tanya mereka bertiga hampir bersamaan.


"Jemuran mami yang lama di gantungin aja bisa hilang, apalagi perasaan!! " kata Aira terpingkal-pingkal membuat mereka bertiga mendengus, tapi perkataan Aira ada benarnya juga.


"Kita tak perlu merasa takut kehilangan, jika seseorang itu baik untuk kita maka, Allah akan menjaga hatinya hanya untuk kita. Dia dekat dengan siapapun, disukai oleh berapa banyak orang pun Allah akan tetap sendirikan dia sampai pada akhirnya dipertemukan dengan kita. Jangan khawatir, yang memang untuk kita takkan Allah biarkan untuk menjadi milik yang lain"


Dion tersenyum berkata bijak.


"Ah, ya benar. Jika kia terus seperti ini bukan diri kia banget!! seorang Azkia Nara Alexander tak ada kata sedih dan murung" gigih Azkia.


Aira, Asna dan Dion mengacungkan kedua ibu jari mereka.


"Nah gitu dong, harus balik lagi kek dulu, jelek tau kalo murung terus. Masa kakaknya ganteng kaya personil BTS kok adeknya jelek" kata Dion narsis.


"Dih... PD boros!! " teriak Azkia, membuat Dion terkekeh.


"Tapi iya juga, hidup kan ibarat buku, kalo gak berani membuka lembaran baru maka tak akan pernah tau ada cerita apa selanjutnya. Oke, fighting!! "


"Tapi bener juga kata si aira, gara-gara aku patah hati, asna jadi menemukan cintanya. Jadi,patah hatiku ada hikmahnya" kata Azkia tersenyum bahagia.


"Nah, ini baru namanya Azkia Nara Alexander" kata ketiganya hampir bersamaan.


"Ingat dek, tidak ada kehidupan sempurna karena sedih dan senang akan datang menyapa, tapi mereka tak datang secara bersamaan" kata Dion mengusap kepala Azkia dengan sayang.


Azkia tersenyum lembut, menganggukkan kepalanya.


"Iya, anggap aja itu sebagai cobaan" celetuk Aira.


"Cobaan?! cobaan Cinta gitu? " tanya Asna.


"Iyalah... hidup kan emang banyak cobaan, soalnya kalo banyak saweran ya namanya dangdutan" kata Aira terkekeh.


Mereka bertiga memutar bola mata mereka jengah, Aira selalu saja bercanda di tengah-tengah keseriusan.


*****


Matahari telah menyapa di pagi hari, seorang gadis cantik yang selalu berbalutkan jilbab sudah kembali ceria seperti seminggu sebelumnya.


"Assalamu'alaikum dosen harris" Azkia menyapa tersenyum tipis.


"Wa'alaikumsalam nara, kemarin gak berangkat kemana ra? " dosen Harris bahagia karena Azkia hari ini berangkat ke kampus.


"Oh, itu lagi cari tau kalo mau ke masa depan yang lebih cerah itu lewat mana " kata Azkia tersenyum getir.


"Kenapa gak nanya ke saya, kan bisa langsung saya khitbah" goda dosen Harris.


Deg..


Azkia tersenyum getir.

__ADS_1


"Tuh kan, ikan hiu makan badak... suka I love you mendadak!! "


"Tahan ki.. bagaimanapun kamu juga seorang wanita, jangan menyakiti hati wanita lain hanya untuk kesenanganmu"


"Harus nerapin protokol 3s, sadar diri, sadar rai/muka, dan sadar posisi"


"Aah... hati!! kenapa kamu terlalu banyak meminta bila akhirnya hanya luka yang menjawabnya*?! "


Pikiran dan hati Azkia sedang bertempur.


"Dosen bisa aja, duluan ya dosen" kata Azkia berlalu pergi meninggalkan dosen Harris.


Baru berapa langkah, Azkia membalikkan badan bertanya lagi.


"Ini cuaca dingin loh dosen, kenapa gak pakai jaket? " tanya Azkia.


"Dinginnya cuaca hari ini tak sebanding dengan sikap dingin mu terhadap saya akhir-akhir ini nara" kata dosen Harris tersenyum getir.


Azkia tersenyum lalu melanjutkan langkahnya. Di setiap melewati teman-temannya menuju kelas, Azkia tebar senyum ramah.


Azkia sudah kembali!! pikir mereka senang.


"Kia.. " teriak Asna dan Aira.


Azkia menoleh.


"Ya? " kata Azkia.


"Nanti ke pesantren x yuk jenguk caca" kata Aira.


"Boleh, ntar habis kuliah kan? " tanya Azkia antusias yang di angguki kedua sahabatnya.


*****


Di pesantren x Azkia dan kedua sahabatnya pergi ke ndalem pak kyai.


"Assalamu'alaikum... permisi" kata mereka mengucap salam.


"Ini bu nyai, kita ingin menjenguk salah satu santri yang bernama rebecca" kata Azkia sopan.


"Oh rebecca, bentar ya, ayo masuk dulu" kata umi Farah mempersilahkan masuk Azkia dan kedua sahabatnya, lalu mengutus salah satu santri memanggil rebecca.


"Ini diminum dulu nak" kata umi Farah menawarkan minuman yang baru saja ia buat.


"Iya nyai, tak perlu repot-repot " kata ketiganya yang hampir bersamaan, merasa tak enak.


"Panggil umi saja nak, tak perlu sungkan" kata umi Farah tersenyum ramah. Azkia dan kedua sahabatnya mengangguk tersenyum.


"Kenapa umi merasa pernah bertemu dengan kalian ya? apa perasaan umi aja? " sambung umi Farah.


"Umi bukankah seorang ibu yang hampir di copet paman max di mall waktu itu? " kata Aira mengingat-ingat.


"Apakah kalian bertiga yang menolong umi waktu itu? yang 2 gadis berusaha menghajar pencopetnya tapi yang satunya malah meneriaki pip pip pip calon mantu itu ya? " tanya umi Farah terkekeh.


Aira dan Asna tertawa terpingkal-pingkal.


"Benar... berarti umi ,ibu itu? " tanya Aira.


"Iya, masya Allah... kita dipertemukan lagi" kata umi Farah tersenyum bahagia.


"Ah iya umi... perkenalkan nama saya, Aira" kata Aira mencium tangan umi Farah.


"Asna umi" kata Asna yang juga mencium tangan umi.


"Ini pasti yang mencoba merebut tasnya kan? " tanya umi Farah.


"Hehe... iya umi" kata Asna.


"Kalo ini pasti yang berkelahi dengan pencopet itu? " tebak umi Farah bertanya pada Azkia.


"Iya umi... saya Azkia" kata Azkia tersenyum ramah, ia juga tak lupa mencium tangan umi Farah.


"Masya Allah... kalian memang cantik-cantik... umi tak melihatnya waktu itu, karena kalian memakai masker" kata umi Farah.

__ADS_1


"Ah... terimakasih umi, kita memang ciwi-ciwi tercantik yang keluarga kita punya" kata Aira narsis, membuat kedua sahabatnya memutar kedua bola matanya malas.


"Kok caca lama banget ya umi? kalo kita nyusul ke sana apa boleh mi? " kata Asna meminta izin.


"Boleh... kalian carilah ke asrama santri Putri, mungkin rebecca sedang istirahat" kata umi Farah.


"Kamu ikut gak ki? " tanya Asna pada Azkia.


"Aku tunggu di sini aja ya? " kata Azkia, Asna mengangguk lalu menarik tangan Aira.


"Terimakasih banyak ya nak, azkia... umi sangat bersyukur bisa bertemu dengan mu lagi, karena waktu itu umi mau nanya nama kalian. Tapi ternyata kalian sudah pergi menggunakan moge kalian " kata umi Farah.


"Ah ,umi bisa aja.Panggil kia aja mi,biar mudah" kata Azkia.


"Iya nak kia, tapi umi lihat nak kia seperti sedang sedih, ada masalah ya? " tanya umi Farah yang melihat Azkia tersenyum namun terkesan di paksakan.


Azkia menghembuskan nafasnya.


"Hufff.... iya mi, baru patah hati karena oopss!! " Azkia keceplosan ingin cerita, ia reflek menutup mulutnya. Padahal tadi di kampus Azkia sudah kembali ceria, tapi entah mengapa sejak ia berada di ndalem pak kyai moodnya jadi berubah.


Umi Farah terkekeh dengan tingkah Azkia.


"Udah keceplosan loh!! yakin nih, gak mau cerita? " kata umi Farah.


Akhirnya Azkia menceritakan semuanya,berawal dari pertemuannya dengan dosen Harris pada umi Farah.


Umi Farah dari tadi serius mendengarkan, ia hampir tertawa mendengar cerita gadis yang ada di depannya itu. Ternyata masalah yang membuat Azkia murung hanya karena seorang pria. Wajah cantik, jago naik moge, dan bisa ilmu bela diri ,kelebihannya sebagai perempuan ternyata tak menjamin hatinya kuat saat dihadapkan dengan yang namanya cinta.


"Maaf nak kia, maksudnya pacar nak kia gitu? " tanya umi Farah.


Azkia menggelengkan kepalanya.


"Kia tak pernah berpacaran dengannya umi, tapi kia juga bingung harus menyebutnya bagaimana"


Kemudian Azkia menjelaskan garis besar perasaannya pada dosen Harris, dosen Harris yang terkadang ngebanyol, dan bagaimana ia berharap pada sang dosen.


"Berarti mereka sudah bertunangan nak? " tanta umi Farah.


Azkia menggelengkan kepalanya.


"Kia gak tau umi, karena waktu itu kia cuma denger dia nyebut calon istrinya gitu mi" kata Azkia sedih.


"Sekarang umi paham dengan apa yang di alami kia. Saran umi yang pertama adalah nak kia tetap menyerahkan semuanya pada takdir yang sudah menjadi ketentuan jodoh kia. "


Azkia mengangguk terdiam.


"Tapi berhubung nak kia tak tau mereka sudah bertunangan atau belum, sebaiknya nak kia tetap berdoa memintanya pada Allah jika memang dia untuk nak kia pasti akan di persatu kan ,tapi jika kalian bukan jodoh mintalah untuk di ikhlaskan hatimu" kata umi Farah.


"Maksud umi, kia boleh nikung lewat doa gitu? " tanya Azkia.


"Ya bukan nikung namanya, tapi paling tidak kamu berusaha lewat doa, pasti ada hikmahnya" kata umi Farah.


Azkia terdiam mencoba mencerna informasi dan tutorial penikungan paling aman di jaringan otaknya.


Sekarang ia kembali ceria, karena ia sudah menemukan jaminan anti kecewa, yaitu Allah.


"Bicara soal patah hati, patah hatiku ada hikmahnya loh umi " kata Azkia, lalu menceritakannya pada umi Farah.


Mereka tertawa bersama.


"Aku merasa berada di samping sosok mommy" batin Azkia.


"Umi.. apa kia boleh meluk umi? " tanya Azkia ragu.


Umi Farah tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya.


"Makasih umi, sekarang kia jadi jauh lebih baik" kata Azkia mengeratkan pelukannya.


"Iya nak" kata umi Farah.


"Waduh... ada acara apa ini? kok peluk-pelukan? umi mau jadiin kia calon mantu ya? " tanya Aira ngasal, yang baru datang dengan Asna dan Rebecca.


"Calon mantu?! ide Bagus juga!! " batin umi Farah tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2