Fountain- Satu Hati Dua Jiwa

Fountain- Satu Hati Dua Jiwa
Kamar Gading


__ADS_3

mohon vote nya ya readers....💖💖💖


Nina mengatur nafasnya.


Tubuhnya berbalik ke sebelah kanan, telinganya mulai mendengar bunyi di sekitarnya, jam dinding berdetak, suara musik mengalun dari luar dinding kamar, dengung halus pendingin ruangan.


"Apa jam dinding sialan itu mulai berdetak lagi ? Rasanya aku belum mengganti baterai nya". Dalam tidurnya ia bergumam.


Musik klasik mengalun pelan, Nina tersenyum masih belum membuka matanya. Tumben ada penghuni kosan yang memutar musik klasik,biasanya lagu ambyaarr yang diputar kencang oleh para penghuni kosan.


Pendingin ruangan,tunggu......... Kosannya tidak memiliki pendingin ruangan.


Nina duduk, melihat sekelilingnya, kamar itu berwarna gading lembut, ada sebuah meja di samping tempat tidurnya tempat sebuah lampu meja kecil bertundung nan manis. Di kaki tempat tidurnya ada sebuah nakas diatasnya beberapa bingkai foto .


Menggantung di dinding di atas nakas dua orang sedang tersenyum di sebuah foto pernikahan, tidak tepatnya hanya satu orang yang sedang tersenyum. Seorang laki laki berkaca mata, dengan rahang tegas , dan rambut coklat tembaga, kulit nya yang coklat sangat kontras saat menggandeng lengan istrinya. Kulit istrinya sangat putih bagai pualam yang di pahat. Matanya yang sipit dan bibirnya yang mungil membuatnya benar benar seperti boneka. "Cantik sekali wanita ini" lagi lagi Nina bergumam.


Tapi sang mempelai wanita tidak tersenyum, wajahnya tidak bisa di tebak, hanya seperti orang yang sedang melamun. tanpa ekspresi.


Ia segera turun dari tempat tidur, masih dengan bingung nina bergerak ke jendela di samping tempat tidur ia mengintip keluar. "Masih gelap, dimana ini sebenarnya ".


Ia kembali memfokuskan dirinya pada situasi yg sedang ia hadapi, tadi malam sepertinya ia tertidur di kamarnya. Nina sedang belajar untuk presentasi mata kuliah, kosan kumuh dengan puluhan penghuni. Kini berubah menjadi Kamar Berwana putih gading.


Kembali Nina mengintip keluar jendela, memperhatikan lingkungan sekitarnya, dia sedang berada di lantai atas sebuah rumah. Sepertinya ini lingkungan perumahan, tapi ini dimana. Cukup lama Nina memandang keluar jendela menerka nerka apakah lingkungan ini familiar baginya.


Beberapa menit kemudian ia menyerah, kembali menutup tirai jendela. Beberapa kali ia berjalan mengelilingi kamar. Ia berharap menemukan petunjuk dimana ia berada sekarang. Tapi kamar berwarna gading pucat itu tidak menawarkan petunjuk apapun. Nina menyibak tirai berat berwarna maroon di sisi dtempat tidur nya.

__ADS_1


Sebentar lagi fajar tiba, ia masih bingung berada di mana. Nina menatap pantulan dirinya. Ia terlihat berbeda dalam gaun tidur , sekali lagi ia memperjelas penglihatannya, mengucek ngucek matanya pantulan nya di kaca jendela kenapa jadi seperti ini.


Ia berlari membuka sebuah pintu ternyata isinya bukan kamar mandi tapi sebuah ruangan yang penuh berisi pakaian, sepatu, acesoris dan barang barang lainnya. Ia melihat pantulan dirinya dengan jelas di sebuah cermin besar.


Kembali terburu buru keluar dari closet, Nina memandang foto pernikahan itu, itu dia... Itu dirinya... Wajahnya menjadi wajah wanita itu. Kembali lagi ke Closet , wajah kecil nan pucat itu balas memandangnya. Nina shock, mencoba mencubit pipinya. Kemudian ia berteriak kesakitan karenanya, ini bukan mimpi.


Apa yang sedang terjadi padanya, kemana tubuh tinggi nya, kemana ototnya yang banyak ia latih dari berolah raga. Kemana rambut hitam panjangnya yang selalu ia banggakan.


Dengan frustasi ia berjalan ke seberang Closet, mencari kamar mandi. Nina membuka pintu itu, di dalam nya sebuah kamar mandi putih lengkap dengan bath up besar, dan bermacam macam produk kecantikan berjejer di rak samping bath up. Kaki nina melangkah kedalam kamar mandi itu menuju toilet.


Kakinya berhenti di depan cermin, ia mengenakan baju tidur renda berwarna maroon, kaki nya kurus kecil, ia melihat tangan nya kurus kecil putih. Sebuah cincin berada di jari manis nya , kembali nina memandang cermin, wajah tirus pucat itu terlihat semakin pucat.


Nina terduduk lemas di pinggiran bath up...


Nina mengetuk ngetuk kepala nya, mencoba mencari berbagai kemungkinan yang ada. Tidak ada, kosong, nol, zero, ga mungkin seseorang berada di tubuh orang lain. Kecuali dia gila , ternyata 20 tahun kehidupannya hanya khayalannya. Atau ini memang khayalannya.


Kembali dari kamar ganti, Nina mengamati kamar itu, mencari cari informasi di laci meja. Apa saja yang bisa menjadi informasi bagi dirinya. Apapun yang bisa menolongnya....


Pintu tiba tiba menjeblak terbuka, seorang laki-laki masuk. Kulitnya tidak begitu secoklat di foto, rahang kuatnya membuatnya lebih tampan dilihat secara langsung daripada yang ada di foto.


Nina mencoba tersenyum.


"Apa yang kau cari?". Tanya laki laki itu, suaranya dingin sedingin udara di kamar itu.


Nina tergagap,tidak siap dengan respon sedingin itu. Tapi toh ia tidak tau harus bilang apa.

__ADS_1


Laki laki itu masih berdiri memandang Nina, ia melihat ada yang berbeda pada istrinya pagi ini.


Dengan gagap nina menjawab, "Sedang mencari sisir." Hanya itu yg terpikir olehnya. Kembali Nina tersenyum canggung.


Semakin menusuk tatapan laki laki itu padanya. "Karna kau sudah bangun, hari ini kita harus ke kantor dengan 1 mobil, Ayahmu akan berkunjung kekantor, sekedar mengingatkan." Secepat ia datang secepat itu pula ia pergi dan menutup pintu.


Wooww woooww apa ini apa ini, situasi aneh apa ini. Sekali lagi Nina berlari ke kamar ganti, melihat dirinya dalam pantulan cermin berharap pemandangannya akan berubah. Dirinya menjadi kecil, tubuhnya yang selalu ia jaga dengan olahraga teratur menjadi seringkih ini.


Dirinya adalah perempuan yang tidak bisa diam, tumbuh dipanti asuhan bersama saudara saudaranya yang kebanyakan laki laki membuat ia selalu terlibat dengan kegiatan berbau fisik sperti olahraga , pecinta alam, organisasi dan lain-lain. Kulit Nina coklat karena sering beraktivitas di luar ruangan. tangan dan kaki nya berotot kencang untuk ukuran perempuan, begitu kata teman-teman nya.


Kebalikannya, perempuan ini terlihat sangat kecil dan rapuh, jemarinya kecil dan ramping, kulitnya putih dan wajah tirus dengan bibir tipis, wajah itu memandang dengan ingin tahu di cermin.


"Aku sangat berharap ini adalah mimpi" teriak Nina.


Pintu kamar ganti terbuka, laki laki dengan suara dingin itu masuk. Refleks nina mengambil sembarang pakaian yang tergantung di lemari ganti, untuk melindungi tubuhnya. Baju tidur ini begitu terbuka, Nina merasa bagian kakinya sangat terekspos.


Laki bersuara es itu sudah rapi, dari balik kacamata ia keheranan melihat tingkah nina.


"Apa yg sedang kau tunggu, kita tidak punya waktu lagi. segera bersiap ke kantor". Laki Laki es berpaling dan kembali meninggalkan Nina kebingungan di kamar ganti.


______1st_____


mohon tinggalkan komen, komen kamu sangat berarti buat aku lhooo ,🤗🤗🤗


sekali lagi readers ini konten dewasa, bagi yang berumur di bawah 21 tahun mohon pengertiannya.... ❤️❤️❤️🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2