
mohon vote nya ya readers....💖💖💖
Nina bangun dalam gelap. Ia turun dari ranjang kegelapan. Melihat sekelilingnya, dipenuhi kegelapan, anehnya ia bisa melihat didalam kegelapan. Dimana aku? Apa memang ini adalah kegelapan? Aku merasa tidak sedang bernafas ? Aku tidak bisa menggerakkan tanganku ? Tapi kaki ku sedang melangkah? Apa aku sudah mati?
Beribu pertanyaan menggema dalam pikiran Nina , ia dapat mendengar dirinya sendiri bertanya. Tapi dirinya serasa bukan miliknya.
"Bangun Nina" ia memerintahkan tubuhnya. Ia mengatupkan matanya dan membuka nya kembali. Ini pasti mimpi buruk. Hanya mimpi buruk.
"Bangun Nina bangun !" Nina memaksa tubuhnya bangun atau berpindah atau bagaimana lah, agar ia bisa pergi dari kegelapan ini.
"Bangun Nina!" Ia merasakan suara nya sendiri, ini bukan suara Karin ini suaranya miliknya. Ia melihat kebawah dimana tubuhnya berada. Tangan kaki dan tubuh semua nya adalah tubuhnya. Kenapa semua terasa berat . Kenapa terasa tak terasa.
"Bangunnnnnnnnn" ia mengerahkan semua tenaganya .
Matanya terbuka.
Seorang perawat sedang membersihkan badannya.
Ia menatap sekelilingnya, tangannya mencabut selang oksigen di hidungnya, dalam sekali hentakan melepaskan jarum dari tubuhnya. Sakit, tapi hanya sedikit. Seperti biasa ia tak merasakan apapun. Tubuh ini miliknya.
Perawat tadi masih terkejut melihat dirinya. "Nona tenang, tolong tenang dulu, saya akan memanggil Dokter Arka." Perawat tersebut menekan tombol di samping tempat tidur .
Serangan pusing tiba tiba mengganggunya, ia benci kesakitan. "Panggil Rangga!"
"Apakah kepala anda pusing nona?"
__ADS_1
"Panggil Rangga , panggil Rangga!!! " Ia berteriak , suara teriakannya sangat kencang. Suara nya bergema di kamar rawat, tak lama kemudian suara suara langkah kaki mendekat.
Wajah pertama yang ia lihat adalah wajah yang sangat ia rindukan. Wajah pangerannya. Wajah pelindungnya. Wajah yang akan membawakannya matahari dan bulan.
Ia melangkah turun dari ranjang rumah sakit. Dengan beberapa langkah ia sudah mencapai Rangga , memeluknya , menciuminya, membisikan betapa ia merindukan Rangga . Ia ingin bersamanya selamanya. Ia tak akan pernah pergi lagi darinya.
Ia melepas pelukannya, ia menatap wajah Rangga. Wajah itu hanya diam, terlihat kebingungan. Tapi beberapa saat kemudian wajah itu berubah cerah seperti Rangga yang ia kenal.
____________________1st_________________
Panggilan darurat dari ruangan tempat Nina dirawat berbunyi. Dokter Arka dan Rangga langsung melesat menuju ruang perawatan. Rangga menghubungi Alfa lewat pesan singkat.
Pintu terbuka, selang infus dan selang oksigen sudah terlepas, Nina berteriak "panggil Rangga, Panggil Rangga !!!"
Rangga maju mendahului dokter Arka, Nina melangkahkan kakinya yang jenjang, ia merengkuh Rangga , memeluknya.
Wajah itu memandangnya penuh kerinduan. Hanya wanita itu yang bisa melihatnya dengan dengan wajah penuh kerinduan seperti ini.
Hanya satu wanita dalam hidupnya. Ratunya. Segalanya baginya. Rangga memeluk Karin dalam, merengkuhnya dalam pelukannya seakan ingin Karin masuk kedalam jiwanya. Merasakan betapa jiwanya sangat mencintainya.
Dalam wajah yang berbeda sentuhan yang Rangga rasakan hanyalah sentuhan satu orang. Rangga mencium Karin bertubi tubi. Memeluk nya menciumnya dan tertawa seperti orang gila.
Dokter Arka menyaksikan keduanya dengan heran. Kenapa Rangga memeluk dan menciumi Nina seperti itu, baru beberapa saat tadi di kantornya Rangga menangis menanggung kerinduannya pada Karin.
Alfa menyaksikan pelukan dan ciuman itu dengan sangsi, kenapa Rangga menciumi Nina. Dan kenapa saat Nina sadar ia memanggil manggil Rangga. Sudut hati Alfa sakit, hampir tidak ia rasakan tapi rasa sakit itu ada. Melihat Nina tersenyum begitu merindukan Rangga . Ia...
__ADS_1
"Ehmm ehmmm... Nona Nina , bolehkan saya sedikit memeriksa kondisi fisik anda, anda baru sadar dari koma... " Dokter Arka di dorong dengan paksa oleh Rangga yang sebelumnya sudah menggendong Nina dan menempatkannya di atas ranjang rumah sakit.
Dokter Arka dan Alfa Blake terdorong keluar ruangan. "Kalian tunggu disini akan ku jelaskan situasinya nanti!" Rangga menutup pintu kamar.
Dokter Arka dan Alfa saling tatap tidak mengerti.
Didalam ruang rawat Rangga kembali ke ranjang rumah sakit. Bagian ini akan sangat sulit, Rangga menekan tombol darurat di arlojinya. Orang orangnya akan segera datang. Ia harus melakukan secepat mungkin. Akan lebih cepat Karin mengetahuinya akan lebih baik.
Karin menyambut Rangga dengan pelukannya. Ia memeluk Rangga dengan erat. Rangga mengecup puncak kepalanya.
"aku mencintaimu ratuku" Rangga mengelus rambut hitam Nina.
"Rangga, apa yang kau lakukan sampai aku menunggu lama didalam sana." Karin membenamkan wajahnya di dada Rangga. Aroma Rangga adalah aroma penyejuk bagi nya, pemenang jiwanya. ia merasa sudah sangat lama ia tidak mereguk aroma ini.
"Karin, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan." Rangga beranjak. ia meletakan senjatanya di laci tempat tidur dan menguncinya.
Karin menunggu dalam diam, Rangga tau Karin tidak akan suka dengan apa yang akan ia dengar.
" Bercermin lah".
Karin heran dengan apa yang didengarnya, Rangga menyuruh dirinya bercermin. Rangga tersenyum kaku, ia menunjuk sebuah cermin di meja samping tempat tidurnya. Karin bersungut , kakinya turun dari ranjang. Pemandangan asing yang sedari tadi ia abaikan kembali. Kulitnya bernawarna, tangan dan kakinya lebih panjang.
Segera tangannya mencengkram cermin meja itu. Selang beberapa detik kemudian cermin itu lemparkan ke sudut ruangan.
"aku berada di tubuh anak itu". Suara Nina yang ceria berubah dingin.
__ADS_1
Bersambung.
Mohon tinggalkan komen readers, komen kalian sangat berarti buat aku.... ❤️❤️❤️🤗🤗🤗