
Ahmad Sulaiman memandang anaknya tak percaya. Iya segera memeluk Karin "maafkan ayah nak maafkan ayah"
Sulaiman menyesal sudah memarahi Karin. Dari rekaman suara yang diperdengarkan oleh orang yang mengawasi Karin ada sebuah percakapan yang mem buat hatinya sakit.
dari rekaman tersebut Sulaiman mendengar anak itu sedang berkata kata kasar pada Karin. Anak itu mengatakan setiap kali ia melihat Karin ia akan tertimpa nasib sial, teman teman anak itu juga berkata hal yang sama, Karin adalah anak pembawa sial. Ada anak lain yang berkata bahwa ibu Karin pasti meninggal karena sedang mengandung Karin. Teman teman anak itu tertawa, tapi selang beberapa detik kemudian tawa mereka beruba menjadi teriakan.
"Saya tidak mengerti tuan dari mana anak anak kecil itu belajar kata kata tidak pantas seperti itu, mungkin nona Karin awalnya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi ketika mereka membicarakan ibunya sepertinya nona mulai bereaksi. Saya bukan membela nona tuan, akan tetapi anak anak itu memang sudah sangat keterlaluan."
"Sejak kapan kalian meletakan alat penyadap di tubuh nona" Sulaiman berkata tapi tangannya masih memeluk putrinya.
"Itu.... Beberapa hari lalu nona memintanya kepada saya tuan."
Lagi lagi Sulaiman memandang anaknya dengan penuh tanda tanya. Dimana anak kecil ini belajar hal seperti itu. Karin ingin membuktikan diri nya tidak bersalah. Tapi dirinya tidak mau membicarakan ya dengan ayahnya , bukan... Karin tidak bisa membicarakannya kepada ayahnya. Mungkin Karin kecil takut, ayahnya tidak percaya padanya.
Dan hal tadi membuktikan nya. Sulaiman langsung memarahi nya. Tanpa mendengarkan nya terlebih dahulu. Betapa berat Karin menjalani semuanya , pikir Sulaiman tanpa ibu di sampingnya Karin tidak punya tempat untuk bersandar.
Sulaiman menangis memeluk anaknya, tangisan kedua setelah istrinya meninggal. Karin kecil hanya mengelus elus kepala ayahnya. Mencoba menenangkan sang ayah.
"Maafkan ayah sayang, maafkan ayah!"
Ketika Rangga mulai berada di samping Karin , Ahmad Sulaiman menjadi lebih tenang. Rangga menjaga Karin dengan baik. Membantu Karin menyelesaikan banyak" hal ". hal itu biasanya di bereskan oleh Rangga . lewat tangan Rangga Karin membereskan semua yang mengganggunya .
Sulaiman membiarkan, anak anak yang menyakiti anaknya pantas mendapatkan hukuman. apabila ada orang tua atau guru yang mengeluh, Sulaiman mulai turun tangan membereskan semua. tapi biasanya Rangga bekerja dengan "bersih" , tanpa cela. Sulaiman dan team nya banyak melatih kemampuan Rangga perwira . perwira yang melindungi ratunya dari tangan tangan setan licik di sekitarnya.
bentuk dari cikal bakal bank data Yaitu kumpulan dosa yang perwira kumpulkan untuk melindungi ratunya di medan perang. berlanjut untuk melindungi Sulaiman enterprise.
sejak Karin menggabungkan diri dengan Sulaiman enterprise perusahaan ini berada di puncak kejayaannya. Banyak hal kecil yang ia dan orang orang nya dapat lalu di buat agar hal itu memberi keuntungan bagi perusahaan. Itulah kunci bank data. Bank data benar benar berarti untuk Karin dan Sulaiman enterprise .
______________1st______________
__ADS_1
Nina merebahkan tubuhnya di ranjang ibu Karin. Ia mengambil ponsel, menyalakan kamera depan. Ia memandang wajah ibu Karin. Wajah tirus kecil balas memandangnya. Nina menyentuh rambut ibu Karin yang panjang bergelombang, secara fisik walaupun bertubuh kecil, Nina mengira pemilik tubuh ini adalah seorang gadis berumur belasan, bukan 32 tahun seperti sekarang. Wajah ibu Karin memerah, hari ini ia terlalu banyak tertawa.
Fitri karyawannya walaupun sudah berumur 25 tahun, tapi masih saja mudah dipermainkan. Sore tadi di balkon Nina puas mempermainkan Fitri .
"Hmmm sudah lama aku tidak menghabiskan waktu bersama orang lain, hanya bersama Alfa dan Rangga aku merasa bosan".
Tiba tiba pintu kamar Nina di ketuk, "masuk "
Alfa masuk. Tiba tiba Nina ingat kejadian kemarin, ketika terakhir kali Alfa berada di kamar itu.
"Ehmm ehmmm ada apa ??" Nina mencoba menyesuaikan suara nya. Nina merasa wajahnya menghangat tapi ia tidak ingin Alfa melihatnya.
Alfa duduk dsamping nya. "Aku ingin bertanya sesuatu".
"Silakan" jantungnya berdetak semakin cepat. Nina berharap Alfa tidak mendengar degup jantungnya saat ini.
Nina mengambil foto yang Alfa berikan. Pupilnya melebar. Ini adalah...... "Aaaa aku tidak mengenalnya". Nina tergagap .
"Kalo tempat itu, apakah kamu pernah melihatnya". Foto itu adalah foto Nina di lapangan basket kampusnya sedang tertawa bersama temannya. Aahhhh jersey team basket nya, terasa lama sekali ia tidak melihat Jersey itu. Joko salah satu di antara mereka... Huwaaaa jokoooooo...
Berpikir sebentar , "a aaku juga belum pernah melihat lapangan basket itu sebelumnya, emang kenapa? Ada apa? Apa yang kalian cari? Apa foto ini juga ada di bank data? Apa ada videonya?" Nina bertanyaan bertubi tubi.
Alfa mengambil foto tersebut darinya. "Anak ini dulunya atlet basket di kampusnya. Tapi sekarang anak ini sedang terbaring koma di rumah sakit. Besok apa kau ingin ikut denganku?"
"Emang besok kita tidak pergi ke kantor?"
"Besok weekend" Alfa tersenyum. ternyata anak ini lupa kalo besok weekend
Pupil Nina kembali melebar "weekend weekend.... benarkah wah aku harus mengajak Fitri jalan-jalan". Nina kembali menyambar ponselnya.
__ADS_1
"eits bagaimana dengan ajakanku apakah besok kau ingin pergi denganku"
"kemana" kata Nina sambil mengetikkan pesan untuk Fitri
"Menjenguk anak itu di rumah sakit".
ponsel itu langsung terlepas dari genggaman Nina. "Aa aku mau ikut".
"Baik sekarang istirahat lah sepertinya hari ini kamu sedang bergembira". Alfa menyentuh pipi Nina. Nina merasa wajahnya kembali memerah.
Nina mengambil ponsel yang terjatuh" iya hari ini aku sangat senang".
"Duduk dulu aku mau cerita"
Alfa sudah beranjak ketika Nina menarik lengannya agar ia duduk kembali.
Nina bercerita tentang Fitri , betapa ia menyukai karyawannya itu,Nina bercerita kepolosan Fitri betapa Fitri mudah sekali digoda. Alfa hanya memandangi Nina yang bercerita dengan ekspresif.
"Andai Karin seperti dia, ceria, terbuka , mudah berteman, semuanya pasti akan lebih mudah" kata Alfa dalam hati.
________________1st__________________
Rangga menyerahkan beberapa lembar foto kepada Alfa, "tipe yang 180 derajat berbeda dari Karin, aku penasaran kenapa ini semua bisa terjadi?"
Alfa menyalakan rokok, kemudian menuangkan cairan bening berwarna keemasan untuk dirinya dan Rangga. "entahlah, sesuai instruksi dokter arka saja , ini semua diluar nalar ku."
hening... Rangga dan Alfa sama sama tenggelam dalam pikirannya masing masing.
happy reading 💖💖💖😎
__ADS_1