Fountain- Satu Hati Dua Jiwa

Fountain- Satu Hati Dua Jiwa
Ketakutan Dari Masa Lalu


__ADS_3

mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers....💖💖💖


Karin dan Rangga sudah sampai di lobby Sulaiman Enterprise, Kasak kusuk sekertaris Rangga datang tentu saja langsung terdengar. Semua orang menundukkan pandangan.


Fitri yang saat itu berada di lobby pun ikut berhenti sejenak mempersilahkan Sekertaris Rangga dan seorang gadis manis berkulit cokelat berambut panjang memasuki lift.


Fitri bernafas lega ketika mereka sudah lewat, Suhu ruangan itu kembali normal .


"Ada apa ini ya, ku pikir tadi yang lewat adalah Ibu Karin bersama sekertaris Rangga." Fitri mengelus lengannya mengusir dingin yang tiba-tiba melihat. Ia mengingat ngingat wajah gadis muda tadi, tapi sepertinya bukan karyawan Sulaiman Enterprise.


Rangga menatap sekelilingnya sekilas saat berada di lobby tadi, situasi yang sama terjadi saat Karin melintas. Seperti nya karyawan tidak menyadari kalau yang lewat bukan tubuh Karin tapi tubuhnya Nina. Efek itu bahkan juga karyawannya rasakan.


Karin melipat tangannya.


"Alfa disini?"


Rangga mengangguk, "Kau ingin bertemu Alfa atau Ayahmu terlebih dahulu?"


Karin menimbang,"Kita ke Ayah".


Sesampainya di kantor Ahmad Sulaiman ternyata ruangan itu kosong, akhirnya mereka menuju ke kantor Alfa Blake. Karin dan Rangga sangat jarang berada di sisi ini. Kantor Alfa berada di sayap Utara Sulaiman Building, berada persis di bawah Balkon membuat kantor Alfa terlihat melayang di atas ketinggian.Kantor itu tidak di sangga oleh bangunan di bawahnya akan tetapi menempel pada lantai balkon di atasnya.


Karin amat sangat tidak menyukai tempat ini, meskipun lantainya tidak tembus pandang, tapi merasakan lantai di bawahnya tidak ada tetap hal yang sangat mengganggu bagi Karin.


Alfa sedang berbicara dengan seseorang, Karin mendengar suara lain selain suara Alfa dari balik pintu kantor Alfa .


Pintu hitam tersebut terbuka, Alfa bersama seorang pria bermata coklat berhidung lancip keluar dari ruangan. Rambut pria itu terlihat mulai memutih di sana sini, tapi tidak mengurangi ketampanan nya. Tapi lain di mata Karin. Ia membenci semua yang melekat pada pria ini.


Refleks Rangga maju, ia berada di berada di antara pria itu dan Karin .


"Hallo Sekertaris Rangga. Sudah lama sekali" Russell Dan mengerutkan dahinya.


"Sedang apa anda di sini Tuan Dan?" Rahang Rangga mengeras.

__ADS_1


"Aku menyapa teman lamaku tentu saja, dan aku juga akan kerumah sakit menjenguk Karin Blake istri teman lamaku yang sedang sakit" Ia menaikan alisnya. Sekertaris sialan begitu berani padaku.


"Dan hei.. Siapa gadis kecil di belakangmu itu?"


"Rangga minggir" Karin menggeram rendah.


Rangga bergeser sedikit.


"Karyawan magang yang akan saya perkenalkan kepada Tuan Alfa Blake." Aku bisa menghabisi mu sekarang juga baji**an.


Karin memandang Russell, hawa tidak nyaman kembali menyelimuti.


"Wah wah aku setuju dengan Rangga, kalian semua perlu bertemu perempuan muda. Jangan hanya bertemu Karin Blake yang suka memerintah... Hahahaha... " Gadis yang sangat merepotkan, ia memandang Karin sekali lagi. Berhadapan dengannya mengingatkan aku pada seseorang.


Russell Dan mengamati detail wajah dan tubuh Nina . aku yakin belum pernah bertemu dengannya sebelum nya.


"Aku akan memberi tahukan orang orang ku kau akan mengunjungi istriku Russell, Ku Harap kau hanya melihatnya dari luar ruang perawatan."


"Ohh... Apa....Ya tentu di luar saja. Aku tidak ingin Karin Blake terganggu dengan kehadiran ku mate." Perhatian yang sejak tadi Russell curahkan kepada gadis di depannya tiba tiba terpecah.


Air matanya mengalir, ia tahu perasaan ini. Perasaan terluka yang teramat dalam entah apa mungkin ia sanggup menahannya. Ia melihat ke bawah, kanopi yang menaungi parking area Sulaiman Building terlihat cukup jelas dari sini.


Apakah ia merasa sakit saat jatuh ke sana?Apakah ia akan langsung mati? Apakah mati itu sakit? Apakah setelah mati ia akan terbangun kembali? Berbagai macam pertanyaan masuk silih berganti ke otaknya.


Ia mungkin akan merasakan sakit yang amat sangat, tapi tidak akan lama. Sebentar lagi ia akan bertemu ibunya. Ibu yang seumur hidup belum pernah di lihatnya.


Tiba tiba seseoang menariknya, ia jatuh tapi tak sakit. Tubuh orang itu menahan jatuh nya. Ia cepat cepat berdiri. Rangga memandangnya dengan penuh kekesalan.


"Apa yang kau lakukan".


"Biarkan aku mati" Suara serak Karin keluar dari tenggorokan nya.


"Ayo kita mati bersama" Rangga menggenggam tangannya. mengajaknya untuk kembali menaiki pagar atap Sulaiman Building.

__ADS_1


Ia menggeleng,"Jangan begini Rangga, tetaplah hidup kau harus bersama Ayah ku. Biarkan aku mati" Karin berusaha berdiri, dalam hitungan detik ia akan melompat dari ketinggian itu.


Rangga kembali menangkapnya, ia meronta ronta "Aku mohon Rangga biarkan aku mati, aku benci menjadi seperti ini. Aku benci kau melihatku seperti ini"


"Tolong Karin aku berjanji Karin aku akan selalu bersamamu. Karin aku tidak akan bertanya apapun. Aku mohon tetaplah barsamaku" Ia memeluk Karin erat.


"Rangga aku mohon biarkan aku mati..."


"Biarkan aku ikut bersamamu" Rangga membelai rambutnya, "Kalau kau ingin melompat ajak aku bersamamu. Kemana pun kau pergi bawa aku bersamamu Karin".


Rangga tersenyum, wajahnya kasar tidak bercukur, lingkaran hitam membingkai matanya. Mata itu lelah, tidak terima , dan keputus asaan, jadi satu dalam pandangan mata itu. Karin melihat dirinya di mata Rangga .


"Karin, aku hanya hidup untukmu. Untuk melayani mu, kalau kau memutuskan mengakhiri hidupmu bawalah aku Karin " Suara Rangga serak penuh permohonan.


"Berjanjilah Rangga jangan bertanya apapun." Rangga mengangguk cepat, ia memeluk Karin erat.


"Apapun itu Karin semuanya akan ku lakukan."


Nina membuka matanya. Karen tertidur di sofa, Alfa menggenggam tangannya tertidur menelungkup. Ia ingin menggerakkan tubuhnya, tapi rasa sakit menderanya.


"aduh..." keluhnya.


Alfa tersentak matanya bertemu dengan mata Nina . Alfa merengkuh lembut tubuh kecil Karin, "Tolong, tolong jangan ... tolong jangan melakukan hal berbahaya lagi Nina ku" ia membelai pelan rambut Karin.


Air mata tiba tiba saja mengalir deras dari pipi Nina. "Tuan Alfa... Hiks hikss hiks... saya takut Tuan..." Nina memeluk Alfa menumpahkan semuanya ke bahu Alfa .


"Aku disini Nina ku, aku Disni... Hushh... Aku disini bersamamu." Ia mengecup puncak kepala Nina mengecup setiap inchi wajah Nina dan membenamkan wajahnya di rambut Nina .


"Tuan... Maafkan aku seharusnya aku lebih berhati hati.." Alfa membelai lembut pipi itu, menghapus air matanya.


"Ssshhhh ... Aku sangat berterimakasih padamu sudah melindungi Karen." Alfa meraih tangan Nina dan mengecup nya.


"Terima kasih sudah menjadi sangat berani. Tapi aku janji hal ini tidak akan terjadi lagi Nina . Ku pastikan dengan nyawaku."

__ADS_1


Bersambung


Mohon tinggalkan komen readers, komen kalian sangat berarti buat aku.... ❤️❤️❤️🤗🤗🤗


__ADS_2