Fountain- Satu Hati Dua Jiwa

Fountain- Satu Hati Dua Jiwa
Darah Yang Mengalir


__ADS_3

mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers....💖💖💖


Hari demi hari ia lewatkan di rumah sakit ini, senang rasanya bisa melihat banyak orang dan bertemu banyak.


Rutinitasnya adalah berjalan jalan di pagi hari, menyapa para pasien lansia di taman. Membantu beberapa perawat membujuk para lansia itu untuk mau makan, kadang ia bernyanyi, kadang menari untuk membujuk para lansia yang enggan untuk makan.


Hari ini Karen akan berkunjung, semakin hari ia amat menyukai gadis itu. Seperti Rangga , Karen sangat hangat dan ramah. Ia begitu polos, Karen mengira Nina benar benar ibunya.


Atau ia mencoba mempercayai apa yang di lihatnya, Karen ingin Karin yang sekarang adalah ibunya. Nina merasakannya, Karen bertanya banyak hal pada Nina. Seperti ingin meyakinkan dirinya bahwa Nina memang ibunya.


Walaupun Nina tau , Karen merasakannya bahwa dirinya bukanlah Karin.


"Ceritain lagi dong Ma,!" Pinta Karen .


Nina masih asik menghabiskan seember eskrim pesanannya. " Cerita yang mana de?"


"Cerita si kacung yang dihukum sama kapten gara gara telat". mata coklat nya membundar, meskipun fisiknya terlihat sedikit memiliki kemiripan dengan Tuan Alfa, tapi sifatnya sangat mirip dengan Rangga. Apakah Karen memang anak Kak Rangga???


Nina menggeleng kan kepalanya.


"Ma..." Anak itu merengek pada nya , Nina malah gemas di buat nya. Nina menyuruh Karen berbalik, perlahan ia menyisir rambut Karen dengan jari jari kecilnya.


" Hari itu si kacung merasa benar benar lelah, ia ingin berhenti dari team. latihan gila gilaan dari kapten selalu membuat tenaganya terkuras. ia sengaja datang terlambat agar dapat menyatakan pengunduran dirinya di tengah teman temannya."


" Teman temanya sudah mula latihan, kacung datang dan mengatakan dengan tegas pada kaptennya kalau ia akan berhenti hari ini. ia mengira kaptennya akan memarahinya ataunmemaki dirinya. Tapi... kapten itu menepuk nepuk kepalanya. lalu kapten berkata ..."


"Tutup mata kau, lihat di dalam sana ada aku , dan teman teman kita sedang berjuang mencetak poin. Kau tega membiarkan kami di injak-injak oleh musuh"


"Kacung menggeleng, ia benci membayangkan teman temannya kalah karenanya. Kapten berkata padanya. Biarkan kakimu berdarah darah selama latihan , tapi saat bertanding kau akan membawa pulang kemenangan. tanamkan itu di otak kau".


"Kapten menepuk punggungny, Kau kali ini dihukum. Kau harus minta maaf pada mereka semua, Kau benari beraninya menyerah saat teman mu masih berjuang. Kacung tertunduk. Ia malu karena terlalu mudah menyerah. Ia merasa dirinya berbakat, kacung merasa dirinya lebih unggul dari teman temannya. Tapi ternyata sekarang ia sudah menyerah lebih dulu dari teman temannya."


"Kacung memeluknya teman satu tim nya dan minta maaf pada mereka. Ia tau sekali ia menyerah maka itu akan berkelanjutan dan akan membuatnya lemah."

__ADS_1


Nina menghapus butiran bening yang terjatuh dari pelupuk nya. Ia merindukan teman temannya. Ia sedang berjuang untuk itu, untuk bisa kembali lagi bertemu mereka.


"Mama kenapa?" Karen menghapus air matanya.


"Ga papa de, cuman kemasukan debu aja" Nina cepat cepat menghapus air matanya dan tersenyum pada Karen .


"Karen Jadilah kuat, jadilah besar, hadapi semua nya. Jika suatu hari Karen berhadapan dengan sebuah dinding jangan berbalik, cari cara untuk melewatinya,memanjatnya, memutarinya ,mengatasi dinding itu. Oke!"


"Aye aye kapten" Karin memberi hormat padanya. Ia tertawa melihat aksi Karen.


Tiba tiba ia melihat sebuah pantulan cahaya, refleks Nina menarik Karen kebelakang.


Jleeebbb... Nina merasakan cairan hangat dari perutnya, tangannya menggenggam ujung pisau tersebut. Seorang wanita tua tersenyum padanya, ia ingat ia bertemu wanita itu di lift. Ia melemparkan pisau ke rerumputan, peluh membanjiri wajahnya.


Ia menarik tangan Karen membawanya ketempat yang aman, tapi pandangan nya semakin lama semakin kabur. Nina melihat Rangga berjalan ke arahnya.


"Jaga Karen untukku..." Ia terjatuh sebelum Rangga bisa menggapainya.


Alfa Blake memandang wajah Karen yang pucat. Mata putrinya sejak tadi tak henti meneteskan air mata. Ia sendiri tengah kalut, di tengah kunjungan nya ke salah satu pabrik Sulaiman Enterprise, tiba tiba Rangga mengabarkan Nina di tusuk seorang wanita tua yang menderita demensia.


Rumah sakit Dokter Arka memang merangkap sebagai Panti untuk Lansia. Sangat disayang kan hal seperti ini bisa terjadi di rumah sakit.


"Alfa..." Rangga menepuk bahunya.


Ia berdiri, "Dimana Karin saat kejadian itu ?" Rangga sudah tau Alfa akan menuduh Karin atas kejadian itu.


"Karin bersamaku di kamar."


"Rangga kau tak bisa selamanya berpihak padanya. Kamu tau sendiri Karin itu sakit". Alfa menarik kerah setelah Rangga .


Rangga tidak tinggal diam,dengan seluruh kekuatannya Rangga mendorong Alfa ."Kutegaskan sekali lagi , Karin di kamar bersamaku. Ia tidak ada hubungannya dengan semua ini Alfa . Berhenti bersikap Overthinking."


"Ku tanya sekali lagi padamu Rangga, dimana karin pada malam itu 13 tahun lalu. Benarkah ia bersama mu?"

__ADS_1


Rangga menggeram. Tinjunya menghantam wajah Alfa, darah segar keluar dari bibir Alfa. Rangga meninggalkannya terpuruk di lantai.


"Ayah...." Karen berlari menuju Alfa, ia berlari mendengar keributan di lorong. Ia melihat Rangga memukul ayahnya.


Sekertaris Zian dibelakangnya, membantu Alfa berdiri.


"Saya sudah pastikan Ibu Karin tidak ada di kamar saat kejadian pak, Begitu juga sekertaris Rangga ." Zian berbisik di telinga Alfa.


Karen menatap mereka ingin tahu.


Dokter Andre keluar dari ruang operasi, ia dan spesialis bedah yang menangani Nina di meja operasi.


"Operasinya lancar, lukanya tidak begitu dalam tapi cukup parah karena pisau yanng digunakan cukup besar"


Karen terpekik. Ia mencari perlindungan di dada ayahnya.


"Ibu Karin dalam kondisi stabil, sebentar lagi akan kita pindahkan ke ruang perawatan". Dokter bedah berpamitan kepada mereka.


"Karin cukup kuat menahan pisaunya, jadi luka tusukanya tidak dalam, tapi akibatnya ia harus mendapatkan beberapa jahitan di tangannya."


"Dan berhubung tubuh Karin sangat lemah, ia mengalami pendarahan cukup banyak. Butuh beberapa kantung darah untuk membuatnya pulih kembali."


"Mama melindungi Karen yah..." Akhirnya Karen bicara.


"Mama menarik Karen, nenek itu sepertinya ingin menusuk Karen pada awalnya.. tapi tapi... mama melihatnya. Lalu menarik Karin ke belakang dan... Mama Berusaha melindungi Karen yah... semua salah Karen".


Zian berusaha menenangkan Karen, ia memandang Alfa. Ekspresi Alfa tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Alfa Xavier Blake akan menghancurkan Karin Sulaiman.


Bersambung


Mohon tinggalkan komen readers, komen kalian sangat berarti buat aku.... ❤️❤️❤️🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2