
mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers....💖💖💖
Alfa menggenggam tangannya, ia bisa merasakannya. matanya bisa membuka sedikit tapi kembali tertutup.
Rangga baru saja pamit padanya, jendralnya pergi ke Medan perang sejenak. Ratu harus menunggu dengan manis. Ini sudah gelas ke sekian, malam ini sepi tanpa Rangga .
Tiba tiba pintu menjeblak terbuka, ia tau siapa yang datang. Wajah itu teramat jelek di matanya. Mata coklatnya, rambut hitam nya, dan hidung lancip yang menyempurnakan wajah itu.
Seseorang kembali menutup pintu di belakang pria itu, Karin kembali membalikan badannya. Pemandangan kota ini memang indah, tapi dirinya lebih menyukai kotanya.
Pria itu memeluknya dari belakang,
"Kamu cantik malam ini."
"Hemm"
Pria itu memutar tubuhnya dengan kasar. "Karin Sulaiman aku sudah memujimu. setidaknya ucapkan terima kasih padaku !"
Laki laki itu selalu tidak sabar, Karin melemparkan gelas wine nya ke sebrang ruangan. Suara pecahan gelas mennggema , tapi tidak melunturkan ekspresi laki laki itu.
"Serahkan project itu padaku".
Laki laki itu tergelak, kerutan terlihat di garis matanya. "Projects itu sudah di tanganku lebih dulu Karin. Ini tidak lagi menarik, aku tidak berada disini untuk itu." Laki laki itu berpaling.
"Apa yang bisa membuatnya lebih menarik?" Kimono nya jatuh begitu saja di lantai, menyisakan gaun malam hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang pucat.
Laki laki itu menatapnya tajam, menimbang. "Karin kau akan menyesal,"Geramnya ia menyambar tubuh mungil itu. Bibirnya dengan buas menjelajah tubuh Karin.
Bibir Karin tertutup rapat. Rangga tolong...
__ADS_1
_____________________1st______________________
Rangga memasuki ruangan, "Karin jangan sentuh Nina, atau Alfa akan..."
"Atau Alfa akan apa?" Ia berdiri.
"Kenapa kalian begitu peduli padanya. Rangga sekarang kau juga mengkawatirkan anak itu?"
Rangga menggeleng, ia meraih tangan Karin.
"Aku mengkawatirkan mu Ratuku. Alfa tak akan diam melihat Nina terluka." Rangga menelan Saliva nya. Pergerakan Alfa kali ini sangat cepat, entah berapa lama kemanan Bank Data bisa mereka tembus.
Ia tidak mungkin memberitahukan Karin, tidak sekarang.
"Aku ingin kekantor Rangga, Aku harus memeriksa sesuatu".
"Karin tidak bisa, kita tidak akan bisa masuk dengan penampilanmu seperti ini." Rangga memandang wajah Nina, wajah manis dengan kulit kecoklatan itu terlihat selalu seperti sedang tersenyum. Walaupun Karin berada di tubuh ini.
Karin memandangi wajah Nina di cermin yang ia pegang, wajah yang seperti selalu sedang tersenyum.
Rangga memandangnya sebentar, lalu mengangguk. Ia akan membiarkan Karin mengetahui semuanya, Karin akan berurusan langsung dengan Alfa. Rangga akan melakukan apapun untuk melindungi Ratunya, mungkin sudah saatnya Jendral melawan Rajanya sendiri.
Karen menatap Mama nya. Baru sebentar ia bersama sama dengan Mama sekarang ia memandang tubuh pucat itu terbaring dirumah sakit demi melindunginya.
Karen tidak mendengar seseorang masuk, sebuah tangan menyentuh pundak nya.
Ahmad Sulaiman menatap mata cucunya, ia melihat kepedihan di sana. Cucu yang ia sendiri tidak tau siapa Ayahnya. Tapi di usia yang baru menginjak 12 Tahun cucunya sudah menjadi perempuan yang sangat tegar.
Ahmad Sulaiman duduk di sebelah cucunya, dihadapan ibunya Karen Alexandria Sulaiman menangis terisak. Sulaiman hanya bisa menepuk punggungnya dan menjadi tempat bersandarnya.
__ADS_1
"Maafkan Kakek Karen , kakek tidak bisa menjaga Mamamu sebaik mungkin. Kakek telah lalai menjaga anak Kakek sendiri." Kacamatanya berembun, matanya terasa panas.
"Kakek itu bukan salah kakek, itu salah ku kek. Mama hanya berusaha melindungi ku dengan tubuhnya."
"Maksud mu apa cucuku".
"Perempuan tua itu ingin menusuk ku kakek , pisau nya sudah di arahkan ya padaku. Tapi mama Menarik tubuh Karen dan dan menghalanginya dengan tubuhnya sendiri". Ahmad Sulaiman memucat.
Kalau benar ini perbuatan Karin , ia sudah sangat keterlaluan.
"Cucuku, kakek harus mengurus beberapa hal, penjagaan untukmu dan mamamu di perketat sampai tingkat maksimal" Ahmad Sulaiman membelai rambut cucunya dengan penuh kasih sayang.
Karen hanya mengangguk, kakeknya mengecup puncak kepalanya.
"Karen ..."
Karen menatap Kakeknya.
"Sudah berapa lama Karen mengetahuinya?"
Karen mengigit bibirnya, Kakeknya sudah tau ia mencuri dengar pembicaraan kakekny di telpon kemarin.
"Saat Ayah tidak bisa memberikan transfusi darahnya pada Karen kek, Sejak itu Karen tau Ayah bukan ayah kandung Karen. Tapi selamanya Ayah akan tetap menjadi Ayah Karen, walaupun nanti Karen sudah bertemu ayah kandung Karen yang sebenarnya.
Ia menunduk, ia tahu bahwa tidak mungkin Kakeknya tidak mengetahui penyelidikan Karen tentang Ayah kandungnya yang sebenarnya.
"Karen kakek akan membantumu, kita akan menemukan Ayah kandungmu"
Karen mengangguk, hatinya sudah mantap untuk mencari ayah kandungnya.
__ADS_1
Bersambung
Mohon tinggalkan komen readers, komen kalian sangat berarti buat aku.... ❤️❤️❤️🤗🤗🤗