
mohon vote nya ya readers....💖💖💖
Jam segini adalah jam paling menyiksa untuk Nina . Asupan energi bagi tubuh Karin memang lebih sedikit kebutuhannya dibanding tubuh Nina yang sebenarnya. Tapi naluri untuk makan nasi 3 kali sehari tidak bisa Nina hindari.
Di lorong rumah sakit, dengan tubuh kecil Karin, Ia mencari tempat dimana ia bisa melepaskan dahaga laparnya. Jam di lorong menunjukan pukul 2 dini hari.
"Rumah sakit sebesar ini masa kantinnya ga buka 24 jam? Gimana kalo ada yang mau mati kelaparan kayak aku!"
Akhirnya ia menemukan peta rumah sakit.
"Yess kantinnya 24 jam " Nina berjingkrak.
kruyuuuuukkkkkkk
Perutnya berbunyi semakin nyaring, ga lucu kalau ia pingsan lagi gara gara kelaparan.
Nina segera mencari dimana keberadaan kantin impian itu. Sayup sayup ia mendengar orang berbicara. Mungkin dirinya sudah berada di dekat kantin.
Semakin dekat ia mendengar suara Rangga.
Nina ingin menyapa Rangga tapi suara Dokter Arka menyahut.
"Tubuh apabila terpisah dari jiwanya tentu saja tubuh itu akan membusuk. Rangga jangan mengajari ku."
"Semua harus di coba dokter, aku tidak ingin melihat Karin tersiksa."
"Tapi semua itu hanya legenda Rangga, orang itu tidak terdata, tidak berjejak, tidak nyata"
"Hal yang tidak nyata sekalipun akan ku cari dokter, demi Karin" Rangga berubah dingin.
"Kita tidak bisa mengandalkan kata kata Jhony, bisa saja semua hanya legenda".
"Kita bisa, aku bisa. Berharap pada angin sekalipun kalau itu harus, akan kulakukan Dokter." Rangga menatap Dokter Arka sendu.
Hening. Nina mendengar suara langkah kaki mendekat. Nina panik, ia bingung kenapa harus panik. Tapi kenyataannya ia panik, sebuah tangan menangkapnya. Dalam sekejap ia sudah berada di lemari penyimpanan peralatan. Seseorang menekan tubuh kecilnya , mereka berdua bersembunyi didalam lemari sempit itu. Nina bisa mencium aroma Woody dan Musk dari tubuh laki laki itu.
"Tu....."
"Sttttt........" Alfa menutup mulutnya, tangan Alfa sangat besar namun kulitnya sangat lembut.
Di tempat sesempit itu semakin sesak apabila Nina menangkupkan kedua lengannya kedepan, akhirnya ia menurunkan lengannya. Tubuh Alfa semakin menekan tubuh kecil Karin, Nina mendengar suara langkah lewat didepan lemari. Semakin ia menahan nafasnya, ia tidak ingin ketahuan menguping pembicaraan orang.
Tuukk..... Sebuah sikat jatuh ke lantai.
Langkah itu berhenti tepat di belakang Alfa ,Nina memeluk Alfa erat.
Rangga bisa saja menjadi sangat kejam seperti yang ia lihat kemarin. Tapi ini kan tubuh Karin apa Rangga tega melakukan sesuatu pada tubuh karin.
Sedetik... Dua detik ... tiga detik... semua terasa sangat panjang.
__ADS_1
Akhirnya mereka kembali mendengar langkah kaki itu menjauh dari lemari . Alfa menarik nafas lega, dengan panik Nina memukul mukul tangan Alfa yang menutup mulutnya.
"Upsss... Sori." Alfa melepaskan tangannya. Tapi tubuh nya masih menempel rapat.
"Tuan, kak Rangga sudah pergi bisa kah kita keluar dari sini?"
Lemari ini memang gelap, tapi Nina masih bisa melihat bayangan Alfa bergerak dalam kegelapan. Wajah Alfa menunduk mendekat ke wajahnya.
Ia bisa merasakan nafas Alfa di wajahnya.
"Aku ingin lebih lama seperti ini"
Degdeg ... Degdeg... Degdeg.... Jantung Karin berdetak tidak karuan. Nina merasa wajah itu semakin dekat, tangannya gemetar di punggung Alfa.
"Tapi tempat ini terlalu sempit". Alfa membuka pintu lemari. Dari keremangan lorong wajah Nina yakin Alfa melihat wajahnya memerah.
Alfa keluar dari lemari penyimpanan, Nina masih terdiam.
"Anak kecil, sampai kapan kamu mau berdiri di sana? Mau tidur di lemari ya?"
Nina keluar, "Tuan aku ingin bicara , tolong ikuti aku sebentar."
"Kau mau bicara apa..."
Nina terus berjalan, ia tidak yakin Alfa mengikutinya . Tapi Alfa harus mengikutinya. Ia tidak bisa begini terus, terlalu melow dan mudah di kendalikan. Semuanya harus jelas malam ini juga.
Air mancur itu memiliki bentuk yang unik, air keluar dari atas bola tersebut terlihat seakan akan bola itu berputar dengan sendiri nya. Nina berhenti didepan air mancur. Ia berbalik. Matanya bertemu dengan Alfa .
"Tuan ". Ia membungkuk sekilas
"Saya minta maaf sebelumnya, saya harus mengatakan ini. Saya takut tiba tiba anda salah paham".
"Anak kecil apa yang sebenarnya... "
Nina merengkuh leher Alfa dan,
Cuppp... Nina mendaratkan ciuman ke bibir Alfa , tangan Alfa menggantung di udara. Semakin lama ciuman itu semakin dalam, tangan Alfa merengkuh tubuh Nina yang limbung, perbedaan tinggi mereka memang cukup banyak. Pelukan itu ternyata memancing api di dalam tubuh nya sendiri.
Alfa bukan hanya menciumi Nina, ia mereguk manisnya bibir itu untuk kedua kalinya. Bibir manis yang memabukkan dirinya, lidah mereka bertaut saling mencecap semua keindahan.
Alfa terus merasakan hangatnya lidah Nina didalam mulutnya, ia menggendong Nina dan duduk di kursi di pinggir air mancur. Tanpa melepaskan bibir Nina, ia mendudukkan Nina diatas pangkuannya, sekarang Nina berada sekepala lebih tinggi dari Alfa. Dengan manis Nina semakin merengkuh leher Alfa seperti enggan melepasnya satu inchi pun.
Tiba tiba mereka di kejutkan lewatnya sebuah mobil ambulan yang meraung raung di sisi taman tersebut.
Nina melepaskan bibirnya. Alfa mengelus elus punggungnya.
"Apa maksudmu anak kecil?" Suaranya parau.
"Tuan, saya sudah minta maaf sebelum melakukannya."
__ADS_1
Suara Alfa semakin rendah, "Kau pikir permintaan maafmu cukup" Ia membenamkan wajahnya di leher Nina. Mengecupnya perlahan.
"Iya tuan, saya minta maaf. Tubuh ini begitu menginginkan anda. Aroma anda selalu membuat tubuh ini ingin memeluk anda ". Nina menahan nafas, sapuan nafas Alfa di lehernya hampir membuatnya tidak bisa melanjutkan kata katanya.
"Lalu.." Hidung Alfa menggesek leher Nina.
" Lalu... Sebagai suami ibu Karin Tuan juga pasti merasakan hal yang sama."
Kemana arah pembicaraan ini, Alfa menjauhkan wajahnya dari leher yang begitu menggodanya. Ia memandang Nina.
Wajah anak itu serius.
"Seperti saya yang tidak dapat menahan godaan untuk makan 3 piring Nasi Goreng Mbok Yuli, seperti itu juga tubuh ibu Karin menginginkan Tuan. Setiap melihat Tuan , saya merasakan hati saya bergetar, saya ingin selalu berada di samping Tuan. Melihat Wajah Tuan, saya ingin menyentuhnya, ingin menciumnya. Saya tidak ingin Tuan pergi jauh, hati saya hangat ketika berada di dekat Tuan."
"Sebentar sebentar, tubuh ini menginginkan diriku?" Alfa menunjuk tubuh Karin.
Nina mengangguk bersemangat, "Iya Tuan. Pasti tubuh Nona Karin bereaksi seperti itu karena Ibu Karin sangat menyukai Tuan."
Nina meraih tangan Alfa dan menempelkannya di dadanya. "Coba Tuan rasakan detak jantung Ibu Karin" Alfa ingin menarik tangannya, tapi Nina semakin menekan tangan Alfa ke pay*****nya.
"Nina, aku tanya sekali lagi menurutmu ini semua, adalah reaksi tubuh Karin terhadapku?" Nina yang masih berada di pangkuannya mengangguk sangat meyakinkan.
___________________1st________________________
"Jauhkan wajahmu alfa." Suara serak Karin sedingin suhu ruangan ini.
Alfa menggendong Karin yang sedang mabuk ke kamarnya.
Sejak melahirkan Karen Blake, Karin tidak pernah tidur di kamarnya. Ia selalu tidur di kamar Rangga, tapi hari ini Rangga sedang pergi ke luar negeri dengan Tuan Sulaiman. Rangga jarang meninggalkan Karin sendiri, amat jarang. Tapi kali ini Karin menolak untuk ikut, Rangga dan Sulaiman akan bertemu dengan musuh bebuyutan Karin, Russell Dan dari Saver Group.
Karin menyuruhnya menggendongnya ke kamar Karin, tapi ia menyuruh Alfa menjauhkan wajahnya. Alfa menggendong Karin sejauh mungkin, seperti takut Karin menularkan Virus.
"Alfa kamu ingat pertama kali Ayah membawamu kerumah kami?"
"hemmm." Karin suka bicara sendiri saat mabuk, Alfa enggan menanggapinya.
"Kau sangat kotor, seperti anjing kampung". Karin tertawa serak. Sewaktu kecil Karin tidak pernah memanggil Alfa dengan namanya, Karin selalu memanggil nya anjing kampung.
Sesampainya di kamar, ia meletakan Karin dengan hati hati, selama mereka menikah sekalipun ia tidak pernah menghabiskan satu malam pun untuk tidur bersama Karin.
"Karin, aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tanyalah apapun yang ingin kau tanyakan" Karin berguling di ranjangnya.
"Kenapa kau menikah denganku?"
"Anjing kampung, Ratu tidak mungkin menikahi jendral. Pergilah, aku ingin istirahat".
Alfa memikirkan kata kata Karin . Sejak dulu Rangga sangat mencintai Karin, kenapa Karin tidak mau menikahi Rangga ? Seperti biasa Karin hanya bertindak semaunya.
__ADS_1
Bersambung
Mohon tinggalkan komen readers, komen kalian sangat berarti buat aku.... ❤️❤️❤️🤗🤗🤗