Fountain- Satu Hati Dua Jiwa

Fountain- Satu Hati Dua Jiwa
Pemandangan


__ADS_3

mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers....🖤🖤🖤


"Boleh tidak Tuan saya dan Karen menikmati sunset?" Nina bertanya, matanya memandang Alfa menanti jawaban.


Alfa yang sedang asik dengan pekerjaannya melepaskan kacamata baca yang sedang di pakainya.


"Kamu bosan?" Tangannya membelai kepala Nina yang baru saja bangkit dari aktivitas rebahannya di paha Alfa.


"Saya hanya ingin mengajak Karen bermain Tuan. Apakah boleh?" Nina jarang sekali melewatkan karya wisata bersama teman teman team basketnya. Bahkan setiap beberapa bulan sekali biasanya Pak pelatih mengadakan training camp , salah satu tempat yang menjadi langganan mereka adalah pantai.


"Kau suka bermain?" Alfa menyelipkan anak rambut Nina ke belakang telinganya.


Ia mengangguk bersemangat. "Sangat senang. Karen juga senang."


"Kamu akan mengajak Karen kemana memangnya?"


"Hanya berjalan jalan Tuan. Melepas lelah, sepertinya kemarin Karen sedang ada masalah? Apakah Karen bercerita pada Tuan?"


Alfa menggeleng, walaupun sepertinya dirinya tau apa yang menjadi penyebab kaburnya Karen dari rumah Kakeknya. Pasti ada hubungannya dengan kedatangannya ke Sulaiman Building kemarin. Sekertaris Zian yang mengantarkan nya atas suruhan Tuan Ahmad Sulaiman.


Pelarian Karen kali ini adalah yang pertama dan mudah mudahan yang terakhir. Alfa tidak membayangkan apa yang akan terjadi padanya saat tau Karen menghilang. Ia pasti akan kehilangan akal sehatnya.


"Tuan ..." Nina menyentuh lengannya menyadarkan Alfa dari lamunannya.


"Ajaklah Karen berjalan jalan di pinggir pantai. Tapi... "


"Tapi apa Tuan?" Mata Nina menyorotkan rasa penasaran.


"Tapi... Tunggu aku sebentar, kita bertiga akan berjalan jalan di pantai. Sebentar lagi aku selesai."


Nina berdecih gemas, sedari kemaren sejak sampai di tempat ini kakinya begitu gatal ingin segera melepas alas kakinya dan berlarian di pantai tanpa alas kaki. Itu adalah kenikmatan tersendiri bagi nya.


Alfa terkejut mendengarnya, Nina sadar ia melakukan kesalahan dengan berdecih di depan Alfa.


"Tuan saya tidak bermaksud..."

__ADS_1


Humppp.... Bibir tipisnya sudah di tabrak pelan oleh bibir Alfa.


"Beraninya bibir kecil ini berdecih padaku" Alfa berbisik di wajahnya.


"Saya..." kembali kata katanya terputus oleh ciuman lembut nan hangat. Tangan Alfa membelai lembut tengkuk nya. Semakin dalam kehangatan yang Nina rasakan semakin berubah naik suhunya. Gerakan bibir itu pun semakin cepat, Alfa dengan cepat melahap bibir itu sampai ke semua celahnya. Nafasnya semakin terengah engah.


Alfa memindahkan tangannya ke punggung Nina, tapi sebelumnya ia meletakan tangan Nina ke lehernya. Nina memeluk leher itu seakan enggan melepasnya. Dari terengah engah sekarang nafas mereka menjadi memburu satu sama lain .


Alfa merapatkan tubuh Nina ke tubuhnya.


Semakin erat mereka menempel satu sama lain. Satu persatu di sela kecupannya di leher Nina tangan Alfa membuka kancing blus Nina .


"Ayah..." Karen tiba tiba masuk.


Mendadak ia tersenyum melihat Ayahnya sedang bermesraan dengan Mamanya. Dengan wajah merona Karen menutup kembali pintu kamar Alfa.


"Karen melihat kita Tuan..." Nina hampir kehabisan nafas. Ia menghisap bibirnya yang baru selesai terlepas dari bibir Alfa.


"Aku melihat dirinya tersenyum setelah menangkap basah kita..." Alfa geleng geleng kepala. Sepertinya putri kecilnya sudah dewasa, ia langsung menutup pintu kembali setelah melihat apa yang terjadi.


🖤🖤🖤1st


"Aku menyukai pemandangan ini." Alfa melambai pada Nina dan putrinya yang sedang bermain ombak tidak jauh dari dirinya dan Rangga duduk.


"Aku sudah mendengarnya. Bagaimana caranya kabur dari rumah utama?"


Alfa mengangkat bahu. Ia pun masih bertanya tanya bagaimana Karen bisa kabur dari pengawasan ketat Orang orang berbaju hitam di rumah utama.


"Dia datang sendiri kerumah sakit?"


Lagi lagi Alfa mengangguk, ia menyesap cairan coklat gelap itu pelan. Kehangatan perlahan merayapi tubuhnya. Minuman ini tersimpan di rak minuman keras di belakang meja kerjanya. Minuman favoritnya saat ia berada di pondok.


"Saat itu aku dan Nina sudah Check out dari rumah sakit. Tiba tiba aku bertemu dengannya di lobby, aku bertanya apakah ia datang sendirian. Karen mengangguk, aku mencium ada yang tidak beres. Aku menghubungi rumah utama dan benar. Sekertaris Zian bilang Karen menghilang."


" Wawww... Aku tidak mengira tubuh mungil itu punya keberanian yang besar."

__ADS_1


"Dia tetap putri Karin Rangga"


"Aku akui" Rangga mengangkat tangannya.


"Tapi ia belum bicara apapun."


Rangga menepuk bahu Alfa pelan. "Maaf Alfa,urus putrimu dengan baik. Jelaskan kalau yang sedang bersamanya bukan ibunya. Jangan sampai saat Karin kembali menjadi dirinya Karen masih bersikap seperti itu. Karin pasti tidak akan suka" Rangga membuang puntung rokok nya.


"Sepertinya dia sudah tau." Alfa kembali menyesap cairan coklat hasil destilasi biji jagung , minuman keras itu menyatu dengan Indra pengecapnya.


"Apa maksudmu?!" Rangga berpindah ke hadapannya. Menyembunyikan pemandangan yang tadi sedang Alfa nikmati.


"Karen sepertinya tahu Nina bukan ibunya?"


"Bagaimana mungkin?"


"Mungkin saja Rangga. Kau mengenal Karin, kau tau walaupun baru bangkit dari kematian ia tidak mungkin lantas menyayangi Karen. Kita semua tau itu."


Rangga membuka mulutnya, kemudian menutupnya lagi.


"Kenapa kau begitu mencintai anak itu?" Ia kembali ke posisinya semula di samping Alfa.


"Entah... Saat dia lahir aku hanya ingin melihat benda apa yang bisa mengeluarkan tangisan sekencang itu dari box bayi" Alfa tersenyum mengenang momen itu. Karen kecil menangis keras, Alfa hanya ingin memperhatikannya dari jauh.


Ternyata di luar kendalinya tangannya mengangkat benda kecil yang menangis dengan begitu rapuh. Ia menggendong nya dan memeluknya pelan. Mencoba menenangkannya. Sampai akhirnya ia sadar telah jatuh cinta pada sebuah keindahan yang bahkan ibunya sendiripun enggan mendekatinya.


"Dan kau, kenapa kau juga ikut membencinya Rangga?"


Rangga tertawa dingin. "Kalau kau lengah saat itu mungkin saja anak itu tidak berada di sini sekarang" .


"Nona Karen sudah di pondok bersama tuan Alfa dan Ibu Karin Tuan". Rangga mengakhiri panggilan nya.


Ahmad Sulaiman mendesah pelan, ia tau memberi tahu cucunya siapa ayah sebenarnya sama saja dengan menyakiti cucu kesayangannya.


"Kejujuran seringkali sulit. Kebenaran seringkali menyakitkan. Tapi kebebasan yang dibawanya layak untuk di coba. Itulah yang ingin ku dapatkan cucuku." Ahmad Sulaiman menutup matanya, putri nya satu satunya mengapa dirinya membuat semua ini begitu sulit.

__ADS_1


Bersambung


Mohon tinggalkan komen readers, komen kalian sangat berarti buat aku..... 🖤🖤🖤


__ADS_2