Fountain- Satu Hati Dua Jiwa

Fountain- Satu Hati Dua Jiwa
Rangga Perwira


__ADS_3

mohon vote nya ya readers....💖💖💖


"Ayah sudah minum madu jahe nya?" Karin muncul dari balik pintu.


Seisi ruangan tegang, ruang rapat Direksi Sulaiman Enterprise suhunya mendadak terasa merosot sampai ke nol.


Sepatu merah karin mengetuk pelan lantai pualam ruang rapat direksi.


Sulaiman bergumam. Pasti berita itu sudah sampai ke telinga Karin. Dewan direksi meminta ibu Karina mundur dari jabatanya sebagai chief HRD... Kecurigaan bahwa semua Cabang sudah disusupi oleh "orangnya ibu karin" semakin meningkat.


Pencetus rapat itu adalah Prasaja Mulia, Dewan Direksi sekaligus stake holder Sulaiman Enterprise. Bertahun tahun Prasaja Mulia menyombongkan dirinya sebagai Ketua Dewan Direksi. Tiba tiba ia dikejutkan dengan dipecat nya anaknya dari posisi Direktur cabang Tenggara Sulaiman Enterprise. Prasaja Mulia naik pitam. Merasa nama baiknya tercoreng.


Selama ini Prasaja sangat membanggakan anaknya yang telah diangkat menjadi Direktur Cabang, sementara Karin Sulaiman pewaris Sulaiman Enterprise hanya sebagai Kepala HRD. Hari ini Si Kepala HRD berani beraninya memecat putranya Sang Direktur.


"Heh anak kemarin sore, apa wewenang HRD memecat Direktur cabang, dengan adanya anak ku di posisi itu justru semakin meningkatkan laba perusahaan 7 persen di bandingkan tahun lalu " Prasaja Mulia berdiri dari kursinya mencerca Karin.


Karin hanya diam. Menoleh pada Rangga dan mengangguk.


Lewat i pad nya Sekertaris Rangga memutar slide keuntungan cabang yang di pegang oleh anak praja mulia.


"Laba perusahaan hanya naik 7 persen, Tuan Prasaja Mulia apakah anda tahu dalam kontrak anak anda sebagai Direktur ia wajib menaikan laba perusahaan sebnyak 20 persen dalam 2 tahun?" Suara serak karin semakin menambah dinginnya ruangan tersebut.


"Dewan Direksi dan kolega nya yang mereka berikan jabatan harus memberikan keuntungan untuk Sulaimann Enterpreise".


Praja mulia menggeram "Anakku sudah berusaha keras menaikan laba cabang 7 persen dan sekarang malah kau pecat dia, bagaimana ini Sulaiman, apakah ini balasan dari perusahaan yang telah kita besarkan bersama!"


Sulaiman akan membuka mulutnya, tetapi di potong oleh karin.


"Anda terlalu sibuk membesarkan perusahaan bersama Ayah saya, tapi anda lupa seperti apa Anak anda di besarkan" Karin kembali memberikan kode pada Rangga.


Rangga memainkan sebuah rekaman kamera berlatar belakang kamar yang penuh dengan perempuan setengah te**njang. Terdengar protes dari beberapa orang di dalam ruangan. Tapi Karin tidak memperdulikannya.


Dalam gambar Frans Mulia putra Prasaja Mulia asyik menari dengan para stripter.


"Selamat atas kenaikan laba perusahaan kita pak".


Para Petinggi cabang Tenggara bertepuk tangan dan para stripter asik menari di meja nya, sempoyongan Frans Mulia menjawab. "Sudah kau bereskan semua jack, yang penting labanya sudah naik, urusan perhitungan laba sebenarnya biar aku yang urus!" Frans kembali menegak minumannya.


Frans melambai kepada para stripter, wanita itu turun untuk "menghibur" para tamu.


"Emang berapa keuntungan perusahaan mu sebenarnya sayang?" Seorang stripter bergayut manja pada Frans.


Tertawa terbahak bahak Frans berkata "Cabang ku sebenarnya labanya naik 12 persen, buahhhaahhhaaa!'


Dengan terkejut yang di buat buat stripter itu bertanya lagi dengan polosnya, yang 5 persen nya kemana sayang!


Semakin jumawa frans menjawab, "Aku membeli vila baru di timur untuk pesta pribadi ku, keren ga sayang,??!" Masih terbahak frans mencubit da** stripter itu.

__ADS_1


Rangga mematikan pemutar video, Karin menghujamkan pandanganya pada Prasaja Mulia yang wajahnya sepucat kertas.


"Masih banyak Direktur cabang kita yang hanya mampu menaikan laba hanya 5 persen, dan melebihi batas waktu dalam kontrak, tapi kami biarkan mereka. Dalam kontrak ada mewajibkan kami membantu para Direksi yang kesulitan meningkatkan laba. Semua akan kami treatmen. Termasuk anak anda Tuan Praja Mulia"'


"OOO yaa beberapa Direksi juga jadi langganan tetap Club Strip*** itu, saya juga punya beberapa rekamannya." Suhu ruangan semakin turun drastis. Beberapa dari Para Direksi terlihat semakin pucat.


"Tapi akan saya putar nanti !" Karin berbalik. Membuat malu Dewan Direksi adalah kesenangan tersendiri baginya. Daftar panjang dosa di tangan Karin Sulaiman .


Dan mereka tau itu, bukan karena dirinya anak dari Ahmad Sulaiman yang membuatnya menjadi pewaris. Tapi kerja kerasnya memanipulasi semua karyawannya untuk bekerja keras untuknya, mendapatkan kelemahan para Direksi, membuat mereka bertekuk lutut padanya.


Anaku adalah perempuan yang sangat mengerikan, kemarin sekertaris jhon melaporkan ada beberapa direktur dan manager yang di tendang keluar dari sulaiman enterprise oleh Karin Blake dengan cara yang sangat mengerikan.


Dan kabarnya Karin akan memastikan siapapun yg ia tendang keluar dari Sulaiman Enterprise tidak akan pernah diterima diperusahaan mana pun.


Sulaiman menggeleng lemah, kasihan Alfa. Sulaiman melirik Alfa blake yang berdiri tak jauh dari kursi nya. Mudah mudahanan Alfa tidak melakukan hal bodoh, Karin terlalu mengerikan untuk di jadikan lawan.


_______1st_____


Karin selalu bersikap manis sebelum menghancurkan sesuatu.


"Sepertinya ucapakan ku salah," pikir Nina.


Dari artikel yang di bacanya terburu buru tadi menyatakan bahwa Ahmad Sulaiman ayah dari Karin Blake sangat menyukai minuman madu jahe.


"Apa artikel tadi bohong" gumam nina.


"Maaf Ibu Karin , telpon saya tidak diangkat, saya bertanya ibu akan sarapan apa?"


"oooh iya ponsel ku tadi tertinggal di kamar".


"Mau saya suruh orang kerumah untuk mengambil ponsel ibu?" Rangga menawarkan suaranya ramah dan halus. Nina langsung menyukainya.


"Tidak, tidak apa apa !" tolak Nina.


Rangga heran, tapi ia tidak berkata apapun. Biasanya Karin tidak pernah terpisah dari ponsel nya. Semua laporan masuk lewat ponsel tersebut.


"Saya akan memberitahukan semua cabang agar mengirimkan laporannya ke email kantor, saya kembali ke ruangan dulu bu Karin " Rangga undur diri.


"Tunggu Pak, Ayah dan Alfa saya kembali keruangan saya dulu". Nina berpamitan diiringi tatapan aneh dari Sulaiman dan Alfa Blake.


Apa yang akan ia hancurkan saat ini.


________________1st____________


Ruang berwarna gading lagi, pikir Nina.


Nina selalu menyukai warna warna cerah dan tegas, Merah, Hijau, Biru, apapun itu yang penting cerah. Jelas untuknya warna gading tidak menunjukan ketegasan sama sekali.

__ADS_1


Ruangan Karin ternyata tepat bersebelahan dengan ruangan Ahmad Sulaiman, Seperti nya ayah dan anak memiliki ketertarikan yang sama terhadap ketinggian.


Sama sama di sajikan hamparan pemandang kota metropolis tapi sedikit berbeda dengan ruangan ayahnya ruangan Karin di dominasi oleh beberapa rak buku tinggi setinggi langit langit ruangan.


Baru pertama kali Nina melihat rak buku setinggi itu, ia amat sangat jarang ke perpustakaan, beasiswa yang ia dapat bukan karena pintar. Hanya karena beruntung dan bakatnya dalam olahraga yang menjadi daya tarik bagi kampus nya.


Di tengah ruangan sebuah meja panjang,di atasnya berbaris beberapa layar komputer , di sebelahnya terdapat sebuah kopi maker. Nina mendekati nya. Rangga yang sedang memperhatikan layar komputer matanya beralih pada nina,


"Mau kubuatkan kopi?"


Suara sekertaris Rangga adalah salah satu daya tariknya. Suaranya ramah , hangat, mengundang orang untuk berbicara lebih lama dengannya. Wajah Rangga putih bersih, dagunya licin tercukur rapi mengkilat. Alisnya tebal matanya Hitam tapi sangat berkesan. Dari segi fisik Rangga lebih tinggi dan lebih kekar dari Alfa. Dan kulit putihnya yang membuat kharisma Rangga sebagai sekertaris sempurna lengkap sudah.


Nina mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


Raut wajah rangga melembut, sambil membawa secangkir kopi ia mendekati Nina.


Semakin mendekat, semakin mendekat. Bibir Rangga tiba tiba menempel di bibir nya. Rangga mencium nya.


Refleks tangan Nina meninju rahang rangga, laki laki itu mengaduh kesakitan.


Rangga menatap nya tajam, "apa yang sedang kau lakukan Karin".


Nina terkejut, kenapa Rangga memanggilnya Karin saja. Bukannya tadi Rangga memanggilnya Ibu Karin.


"Maaf Rangga , tapi terlalu tiba tiba ". Berpikir Nina berpikir. Ada apa antara Karin dan Rangga. Bukannya Karin istrinya Alfa Blake. Rangga memang sepertinya jauh lebih muda dari pada Alfa yang dingin tetapi sedekat apa mereka sampai Rangga berani menciumnya di kantor.


Kembali sibuk berpikir, sampai mana ia harus bersandiwara menjadi Karin. Oohh ponsel.


"Rangga tolong suruh orang ambil ponsel ke rumah ku, aku membutuhkannya!" Nina berusaha setenang mungkin menguasai dirinya.


"Baik, aku akan suruh orang!" Rangga kembali terlihat biasa.


'"Tidak , tolong kau saja , aku lebih percaya padamu," Nina menyentuh lengan Rangga mencoba mencairkan suasana.


Rangga tersenyum, balas menyentuh pipinya "Baik Tuan Putri."


Saat Rangga pergi, Nina segera menuju komputer, kembali dirinya mencari artikel tentang Karin Blake, Alfa Blake, Ahmad Sulaiman dan orang yang berhubungan dengan Sulaiman Enterprise.


Nina berusaha memasukan semua informasi ke kepalanya, duhai otak berfungsilah dengan baik ini masalah hidup dan mati, gumam nya...


Dari balik celah pintu, Alfa mengamati tingkah laku Nina dari jauh...


Dari punggungnya seseorang berkata "Dia bukan Karin"


Alfa berbalik, "Dia Karin, tapi sepertinya dia kerasukan sesuatu tadi pagi ."


mohon tinggalkan komen, komen kamu sangat berarti buat aku lhooo ,🤗🤗🤗

__ADS_1


sekali lagi readers ini konten dewasa, bagi yang berumur di bawah 21 tahun mohon pengertiannya.... ❤️❤️❤️🤗🤗🤗


__ADS_2