Fountain- Satu Hati Dua Jiwa

Fountain- Satu Hati Dua Jiwa
Aku , Tuan dan Bulan Purnama


__ADS_3

mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers....🖤🖤🖤 21+++ Pembaca harap bijak...


Nina mengisi sepanjang bibir pantai itu dengan jejaknya. Tak jauh dibelakang nya sekertaris Zian membuntuti.


Bulan purnama menyinari jejak kakinya di pasir. Air laut kemudian dengan statis menghapusnya, hanya menyisakan sedikit bercak di atas pasir. Nina terus berjalan, ia tampak tidak terusik dengan kehadiran Sekertaris Zian.


Nona Begitu sibuk dengan pikirannya itulah yang dipikirkan sekertaris Zian.


Kakinya akhirnya menuntut istirahat, Nina duduk di kayu atas sebatang kayu kering. Langit malam ini begitu memanjakan matanya. Taburan bintang dan sinar bulan purnama menambah indah hiasan malam.


Ingatannya terbang pada dirinya... Diri dengan tubuh miliknya yang sekarang sedang terbaring dirumah sakit. Kapankah ia bisa kembali, ia ingin bersatu kembali dengan dirinya yang sebenarnya. Sebagai Rania Nina. Utuh. Sempurna.


Walaupun hidupnya tidak sesempurna Ibu Karin yang memiliki segalanya. Setidaknya ia memiliki Joko , Si Mbok, Team Basket, Tukang Bakso langganan nya, Tukang sate langganan nya, Pak Yos...


"Pak yos... Saya kangen bapak" Ia menghela nafas pelan.


Belum apa apa sekarang ia sudah merindukan Alfa. Alfa Blake pergi tadi sore ia tidak mengatakan tujuan nya hanya berkata pergi sebentar.


Nina sudah menidurkan Karen, tapi sampai sekarang Alfa masih belum pulang. Ia mengambil sepotong ranting. Ia ingin menuliskan sesuatu di atas pasir.


Alfa Blake


Karen Blake


Nina Blake


Ia tersadar cepat cepat ia menghapus namanya. mengganti nya dengan nama Karin. Lalu membingkainya dengan bentuk hati. Senyum Dan air mata datang bersamaan, keluarga utuh yang tidak pernah ia miliki. Ia iri dengan Ibu Karin, memiliki keluarga yang mencintai nya. Memiliki suami yang sangat menyayangi nya, anak perempuan yang sangat sayang padanya, Ayah yang selalu mengkhawatirkan anaknya.


"Ini seperti mimpi yang memabukkan. Aku ingin bangun, tapi aku terhanyut didalamnya."


Nina menenggelamkan wajahnya dalam kedua tangan nya. Tangisnya pecah, hatinya hancur, ia begitu mencintai keluarga ini sekarang. Karen, Tuan Alfa mereka bukan milik nya tapi ia ingin mereka jadi bagian dari hidupnya.


Tanpa sadar air laut telah mencapai kakinya, tulisan yang Nina goreskan di pasir perlahan menghilang.


"Benar... Itulah yang harus aku lakukan. Saya bukan bagian dari mereka, saya adalah orang luar." Ia mengepalkan tangannya,kukunya menancap di telapak tanganya.


Nina merasakan sakitnya, tapi sekarang ia sangat membutuhkan sakit itu. Sakit itu nyata senyata dirinya bukan Karin. Ia adalah Rania Nina si yatim piatu yang kebetulan terjebak dalam tubuh Karin.


Sebuah lengan menarik tangannya, menghentakan tubuhnya ke belakang. Ia mendarat di dalam pelukan itu, pelukan yang 6 jam ia rindukan. Kecupan ringan menyapa bibirnya.


"Tutuuuan Alfa..." Nina ternganga. Orang yang sejak tadi ada di pikirannya sekarang nyata di hadapannya.


Kulit coklat Alfa Blake dihujani sinar bulan, matanya menenggelamkan Nina dalam pandangannya.


"Kenapa kau berjalan sendirian?" Alfa melepas Coat cokelat nya. Membungkus tubuh Nina kemudian kembali memeluknya.


"Saya tidak sendiri, sejak tadi Zian membuntuti saya." Nina melemparkan dagunya kearah Sekertaris Zian berdiri.


"Aku sengaja menyuruh nya, kau tidak boleh sendirian." Alfa mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Tuan... Apa Tuan tidak kedinginan?"


"Aku benci angin malam. Ayo kita menuju ke pondok." Alfa menggandeng Nina menuju pondok.


"Apa Karen sudah tidur?" Alfa berbisik nakal.


Jantung Nina hampir kehilangan cetaknya, bibir Alfa yang berbisik di telinganya terasa sangat panas.


"Sudah Tuan."


Ia tidak berani melihat wajah Alfa, karena ia yakin wajahnya sekarang sangat merah.


"Awwwww..." Nina merasa kakinya tertusuk sesuatu.


"Kenapa?" Alfa panik


"Kali saya sepertinya tertusuk sesuatu..."


Greebbb ... Tubuh kecil Ibu Karin sudah berada di pelukan Alfa.


"Zian... Ambil First Aid Box cepat".


Nina tersadar dirinya sudah dalam pelukan Alfa, perlahan Alfa meletakan tubuhnya di sofa ruang tengah. Sekertaris Zian datang dengan kotak obat di tangannya.


"Tuan... Kaki saya...."


"Sshhhh..." Nina ingin menarik kembali kakinya, tapi Alfa menahannya. Kakinya berada di pangkuan Alfa.Kemudia Alfa menarik sebuah potongan kerang kecil yang tertancap di kaki nya. Lalu dengan perlahan menetes kan cairan antiseptik dan memberinya perban.


Sekertaris Zian meminta pamit. Alfa hanya membalas nya dengan anggukan.


"Kenapa kau tidak memakai alas kaki?" Alfa menatapnya tajam.


"Saya meninggalkan nya di sini Tuan."


"Kenapa tidak kau pakai?"


Nina tersenyum mendengan nada kuatir dalam suara Alfa.


"Saya lebih nyaman berjalan jalan di pantai tanpa alas kaki Tuan."


Alfa meletakan kaki Nina , kemudian menarik pinggang Nina merapat ke pelukannya. Punggung Nina merasakan hangatnya tubuh Alfa. Ia benci posisi seperti ini ia tidak bisa melihat wajah Tuan Alfa.


"Bagaimana rasanya berjalan di pantai tanpa alas kaki?"


Nina tertawa.


"Rasanya menyenangkan Tuan. Strees dan pikiran negatif semua menghilang."


"Apa tadi kau memikirkan ku?"

__ADS_1


Senyum Nina menghilang, ia terkejut Alfa bisa membaca pikirannya.


"Tidak Tuan... Saya hanya berjalan jalan." Ia ingin berbalik melihat wajah Tuan Alfa. Tapi pelukan Alfa menahannya.


"Padahal aku sepanjang perjalanan memikirkan mu" Alfa menyisipkan rambutnya ke bahu Nina. Menyisakan sebuah leher yang terbuka untuk di kecup.


Nina kaget merasakan Bibir Alfa di lehernya, ia mengerang pelan. Bibir itu terasa panas. Bibir itu perlahan menuruni leher Nina di tulang selangka bibir itu menitipkan gigitan kecil.


"Tuan.."


Alfa tersenyum, ia membalikan tubuh Nina. Si empunya tubuh sudah tidak berdaya. Hujan kecupan di permukaan kulitnya tak kunjung berhenti. Long dress yang Nina kenakan ambruk, sekarang tubuh nya hanya di bungkus oleh tubuh Alfa.


"Tuan..." Alfa tersenyum mendengar nada meminta dari suara itu. Alfa kembali menghujani tubuh indah itu dengan kecupan, Nina merasakan tubuhnya melayang, setiap sentuhan Alfa membuat gelenyar nikmat dalam tubuhnya.


Sekarang Alfa sudah berada di atasnya."Nina... Aku mencintaimu". Semakin lama gerakan Tuan Alfa semakin cepat dan dalam, Nina memeluk erat tubuh itu ia tidak sanggup lagi menahannya.


"Tuan.... Aaaaahmmmpppp" Bibirnya di kunci oleh Tuan Alfa. Tubuh keduanya bergetar, Nina merasakan dirinya terbang setinggi tingginya bersama Alfa. Alfa merasakan kenyamanan yang tiada Tara dari tubuh Nina.


Sesaat kemudian keduanya ambruk dengan nafas terengah-engah. Alfa kembali membungkus tubuh Nina dengan Coat nya. Mengecup dahinya pelan.


"Aku akan mengantarkan mu kekamar." Nina tersenyum, tubuhnya baru saja merasakan kenyamanan itu. Rasa nyaman yang sangat itu membuat matanya berat. Ia sempat membuka matanya sebentar saat di kamar.


"Tuan... Saya ingin selalu bersama Tuan." Nina mendengar dirinya berkata.


Alfa mengelus rambutnya.


"Aku selalu bersama mu gadis kecil." Ciuman ia daratkan di puncak kepala Nina.


Nina merasa dirinya tersenyum. Lalu ia jatuh tertidur.


🖤🖤🖤1st


Ia menyukai nya, ia tau Rangga dan Karin sering melakukan kekerasan yang sama. Tapi ia tidak menyukai darah.


Sreeessssshhhh ... Batangan besi itu menyala merah, tangannya sudah berlapis sarung tangan tahan panas memegang ujung lainnya.


Ia sedikit geli dengan bentuk ujung besi yang ia gunakan kali ini. Bentuknya seperti daun Semanggi. Bukannya Semanggi adalah lambang keberuntungan, ya.... Keberuntungan Dokter Arka ....


Sressssshhh... Bara panas memijarkan ujung besi berbentuk daun Semanggi itu. Dokter Arka terikat erat di kursi besi.


Denting besi rupanya mulai menyadarkannya.


"Ahhhh.... Aaaaaaaaaaaaaa...." Dokter Arka berteriak melihat sekitarnya. Ia yakin orang orang itu sudah tidak bernyawa, ia melihat luka bakar di sekujur tubuhnya. Hanya menyisakan sedikit daging dan tulang yang gosong.


Ia berjalan ke arahnya. "Selamat pagi Dokter." Coat coklatnya berkibar pelan.


Dokter Arka gemetar ketakutan melihat sosoknya.


Bersambung

__ADS_1


Mohon tinggalkan komen readers, komen kalian sangat berarti buat aku..... 🖤🖤🖤


__ADS_2