
”Apakah Nina dirampok, terjatuh ,kecelakaan???" Pertanyaan Nina bertubi tubi.
"Mohon maaf untuk lebih jelasnya silakan datang ke rumah sakit permata, dokter kami akan menjelaskan keadaan saudari Riana Nina"
"Oh baiklah terima kasih informasinya ".
Nina sangat shock,kenapa dirinya bisa sampai koma apa yang terjadi pada dirinya. Sebenarnya kenapa harus jiwanya bersembunyi di dalam tubuh ibu Karin. Berati dirinya yang sedang koma tidak memiliki jiwa dong.
Semakin Nina memikirkannya semakin ia tidak mengerti apa yang terjadi. Google kembali menjadi alternatif nya untuk mencari tau. Tapi lagi lagi nihil, lagi lagi sinopsis film. Akhirnya ia melangkah turun dari ranjangnya, keluar dari kamar gading.
Masih seperti kemarin rumah besar ini sepi tidak ada asisten rumah tangga, tidak ada karyawan. Tidak ada siapa siapa. Mungkin ini kesempatannya untuk melihat-lihat rumah ini,akan semakin mencurigakan apabila Nina tidak tahu posisi benda dan kamar di rumah ini.
Di bagian atas ada beberapa kamar kamar berpintu hitam gelap itu sepertinya kamar tuan Alfa di sebelah kamar tuan Alfa tergantung sebuah papan kecil berbingkai strawberry sepertinya itu kamar Karen.
Nina menuruni tangga melengkung dari tangga terlihat jelas lampu kristal menggantung di tengah ruangan. Ruang tengah tidak memiliki sofa hanya ruangan kosong tanpa pernak pernik apapun. Heran Nina dibuatnya , seperti rumah horkay lain kan biasanya ruang tengah tergantung lukisan mahal edisi terbatas, ornamen ornamen kristal, sofa yang empuk. ART. Rumah sebesar ini apakah betul tanpa ART.
Setelah melewati bar kecil , Nina menuju ke meja makan, meja tempat Alfa tadi pagi sarapan. dari meja makan kita dapat melihat pemandangan halaman belakang yang memiliki sebuah taman kecil dengan air mancur di tengahnya.
Malam semakin larut hawanya semakin dingin tapi kaki Nina tak henti terus bergerak mengenal setiap sudut rumah besar itu. Nina melangkah membuka pintu yang menuju halaman belakang ada 2 buah kursi besi yang menghadap ke air mancur.
Tapi kalau di rumah ini tidak ada asisten rumah tangga kenapa tamannya sangat rapi siapa yang akan memotong rumput siapa yang membersihkan semuanya. iya piring pecah yang tadi pagi.
Nina berlari kecil ke arah dapur di samping bar kecil,seingatnya di tempat itu tadi ia menjatuhkan piring. Tapi sekarang tidak ada satupun noda di lantai itu pecahan piring pun tak ada siapa yang sudah bersihkannya. Nina melongok tempt sampah di sudut ruangan. Kosong. Kering.
Nina yakin memang ada ART yang memastikan rumah ini tetap bersih dan rapi, pertanyaannya kenapa tidak tinggal disini. Atau minimal ada , rumah besar ini terasa sangat kosong dan sepi.
Tur berlanjut ke halaman samping, ada sebuah piano putih di depan pintu menuju halaman samping, perasaan Nina tidak enak saat ymelewati piano itu , pasalnya piano putih itu penyok di sana sini. Cat nya terkelupas, kayu pohon Pinus piano itu terlihat jelas . Segera memalingkan wajahnya.
Halaman samping ditumbuhi oleh pohon Pinus rapat sepanjang tembok samping rumah, sedangkan 3/4 halaman samping adalah kolam renang, di sisi kolam renang terdapat kursi berjemur. Lampu remang2 menerangi kolam renang tersebut.
__ADS_1
”Apa aku sebaiknya berenang saja"
Nina naik kembali ke kamarnya, pakaian renang ibu Karin ternyata semua berwarna hitam,setelah mengambil salah satu pakaian renang, Nina bergegas turun, tapi...
"Sedang apa"suara sedingin es membuat langkah Nina membeku.
"Aku ingin berenang"bisik Nina pelan.
Alfa mendekat "keraskan suara mu aku tidak mendengarnya"
"aku ingin berenang" Nina mendongak memandang Alfa, Alfa memang lebih tinggi daripada Rangga. bedanya lagi, Alfa selalu menjaga jarak dari nina, sedanngkan Rangga selalu berdiri sedekat mungkin dengan Nina .
"Sudahterlalu malam besok saja" pandangan Alfa beralih ke dahi Nina,ada sedikit lebam di sana.
"Ikut aku"
"Kemana?" Masih kesal.
Walaupun tidak tau dimana letak ruang kerja Alfa, Nina hanya perlu mengikuti langkah Alfa.
Ternyata pintu hitam itu adalah pintu ruang kerja Alfa
Alfa membuka pintu, Nina melihat seisi ruangan tampak seperti tampak sewarna dengan ruangan kamar tidur Nina akan tetapi di ruangan ini semua perabotan didominasi oleh warna hitam di sudut ruangan ada sebuah tempat tidur kecil lengkap dengan selimut.
"Duduk "perintah Alfa.
Nina menghempaskan bokongnya di kursi kerja Alfa, lalu memasang muka masam. Alfa mengambil sebuah bungkusan dari dalam tasnya bungkusan itu berisi obat salep untuk mengolesi dahi Nina.
Dengan lembut Alfa mengolesi salep itu Nina mengaduh,sepertinya benturan di dahinya tadi cukup keras.
__ADS_1
Sumpah kalo Alfa sampai membahas keanehan ku di asrama karen malam ini aku akan mengatakan aku hilang ingatan karena kepala ku terbentur, nina senang ia dapat menemukan celah.
Alfa meniup pelan salep yang dioleskannya ke dahi Nina. Nina tersenyum-senyum sendiri, teringat Rangga dan nafas aroma kopi nya.
"Kenapa kamu tersenyum?"tanya Alfa
"Tidak, nafas tuan Alfa aroma mint, sedangkan nafas Rangga beraroma kopi"
"Dari mana kamu tahu nafas Rangga aroma kopi?" Alfa membereskan obat yang tadi di bawanya.
"Tadi waktu Rangga menciumku"
Nina kelepasan dan menutup mulutnya matanya membulat menunggu reaksi Alfa. Nyatanya Alfa hanya diam saja, Alfa kemudian berdiri menuju wastafel mencuci tangan disana.
Nina memukul-mukul bibirnya"mulut bodoh kenapa gampang betul keceplosan"
Alfa selesai mencuci tangannya tersenyum miring masih memperhatikan Nina yang menyesali perkataannya.
"Jangan salahkan bibirmu, salahkan Rangga yang sudah menciumu."
Bingung, "kamu tidak marah, aku tadi dicium oleh Rangga? Sekertaris ku, bawahan mu?"
"Karin aku tidak akan mencampuri urusan mu dengan Rangga, tapi please jangan Rangga."
"Kenapa kalo Rangga "
Nina masih ingat setiap detil wajah Rangga tangannya yang lembut wajahnya yang tampan. sentuhan Rangga di pipinya masih terasa.
Alfa tertawa bengis. "Karena singa dan sapi mungkin dapat tidur bersama. Tapi sapi tidak akan tidur nyenyak"
__ADS_1
________1st____________