
mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers....🖤🖤🖤
Rangga turun dari mobil. Hanya bisa bengong melihat pemandangan aneh didepan nya. Seluruh anggota team basket Nina dalam keadaan terikat di tiang ring. Orang orang berbaju hitam berjaga di sekitar lapangan.
"Karin apa yang sedang kau lakukan?" Rangga berbisik di telinga Karin.
"Mereka melempari ku dengan bola Rangga. Yang terikat di keranjang itu malah berani beraninya menyuruhku membelikan minuman." Dingin menyentuh permukaan kulit Rangga.
Karin kesal, terus terusan diminta untuk ikut bermain basket. Ia menjauh dari anak anak itu dan saat melewati lapangan seseorang memintanya membelikannya minuman.
"Cung beliin gue minuman dingin ya..."
Karin memandang anak berambut di cat hijau didepannya. Dengan santai si rambut hijau meletakan lengannya di pundak Karin, "Ya elah cung, masukan ke daftar kas bon gue ya..."
Brukk
Dalam sekali hentakan anak itu jatuh dalam kepungan orang orang berbaju hitam.
Kapten mendekat, "Cung kita mulai latihannya ya..."
Bola melayang ke wajah Karin, untung dirinya sempat menghindar.
Brukkk Brakkkk Brukkkk
Seluruh team basket terikat di tiang ring basket.
Rangga geleng geleng kepala.
__ADS_1
"Karin aku mohon, apa yang kau inginkan sampai harus berada di kampus anak ini?"
"Aku ingin mencari seseorang."
"Siapa?" Rangga penasaran, Karin tinggal meminta padanya agar ia bisa menemukan orang itu.
Wajah itu berubah murung. "Aku tidak tau siapa dia Rangga."
"Lalu kenapa kau mencarinya?"
"Karena..."
🖤🖤🖤1st
Seminggu sebelum terbangun di kamar gading.
Kapten team Nina adalah seorang gadis bertubuh bongsor. Tangan dan kakinya kekar, tubuhnya lebih tinggi dari Nina. Teman temannya sering menyebutnya Gorila betina. Betty berwajah sangar dengan perawakan tinggi besar membuatnya sangat cocok menjadi Center.
"Kau duluan cung, aku lupa ambil beberapa file anak anak. Yang cepat kau lari..."
Dengan sekuat tenaga sambil membawa kotak peralatan didepannya Nina berlari. Semakin cepat ia berlari semakin panjang lorong yang ia lalui. Akhirnya Nina sadar ia sudah melewati lorong ini berkali kali.
"Fuuuhhh"
Nina menarik nafas panjang, langkahnya melambat. Fenomena ini sering di ceritakan turun temurun oleh para kakak tingkat mereka.
Tapi baru kali ini Nina merasakan fenomena ini secara langsung. Kakinya pegal sejak tadi berlari, beban yang ia rangkul tidak berat hanya karna sudah terlalu lama ia pikul Nina merasa tangannya mulai kebas dan pegal.
__ADS_1
Ia menurunkan bebannya , menaruhnya di lantai. Perasaan kebas itu tidak hilang begitu saja. Kebas diiringi dingin yang menusuk itu lantas menjalar naik ke lengannya, tubuhnya, kepala sampai kakinya.
Sesuatu menghalangi masuknya oksigen ke paru parunya, nafasnya tercekat hawa lorong merosot. Kegelapan mulai datang mencengkram.
Rasa dingin berasal dari punggungnya ia merasakan ada seseorang atau sesuatu entah apa itu. Sesuatu itu mendekat, dingin semakin menusuk kali ini menelusup sampai ke pori pori tubuhnya. Ia yakin apabila sesuatu itu mencapainya ia pasti akan mati dalam kebekuan.
Nina merapal doa dalam hati. "Ku mohon siapa saja tolong aku"
Tokk tokk tokkk... Suara langkah kaki mendekat, kehangatan mulai merayapinya. Nina menyipitkan matanya, ia melihat sebuah siluet datang menuju kearahnya. Semakin dekat siluet itu menuju dirinya semakin dingin di punggungnya menjauh.
Nina tidak mengenali wajah itu, samar ia ingat oksigen belum masuk ke paru paru nya sejak tadi. Ia berusaha menghirup udara sebanyak banyaknya. Tapi tubuhnya sepertinya terlalu terkejut, kakinya lemas tidak mampu menopang tubuhnya.
Ia melihat sepasang kaki berbalut sepatu pantofel hitam.
"Kau harus membalas kebaikanku. Kutunggu balasanmu". Suara itu lembut seringan kapas, Nina ingin mengangkat kepalanya melihat sosok dengan suara lembut itu suara itu terasa familiar di telingannya. Tapi seluruh kekuatannya hilang. Nina hanya bisa melihat lantai tempat tangannya bertopang.
"Nin ... Nina kenapa kau? Alamak... Kau kenapa Nin?"
Nina merasakan guncangan di bahunya, ia merasakan matanya terbuka. Tapi suaranya tidak bisa keluar. Matanya tidak lekang dari lantai ubin coklat itu.
"Nin Nina... Tolong... Tolong.... " Ia mendengar suara kapten berteriak. Ia ingin bangun tapi tubuhnya tidak bisa bergerak, seperti lumpuh.
Suara langkah kaki semakin mendekat, Nina mendengar dengan jelas. Merasakan beberapa orang berkerumun di sekitarnya seperti semut mengelilingi gula.
Seseorang mengangkat tubuhnya, lalu semua berubah hitam.
Bersambung
__ADS_1
Mohon tinggalkan komen readers, komen kalian sangat berarti buat aku..... 🖤🖤🖤