
mohon vote nya ya readers....💖💖💖
Cermin itu ia lemparkan kesebrang ruangan. menyusul vas bunga beserta isinya.
Praangg....
ia melempar bantal, tiang infus, semua yang bisa ia gapai ia lemparkan.
"Rangga aku mau tubuhku, aku mau tubuhku".
Ia melempar semua barang yang ada dibatas nakas.
"Aku mau tubuhku". Nafasnya memburu, tapi dadanya tidak merasakan sakit.
Suara asing ini sama terasa asing seperti tubuh ini. Bagai berada di dalam rumah orang lain, Karin benci perasaan ini.
Karin memandang pantulan dirinya di kaca jendela, Tubuh ini tinggi dan atletis, ia hanya diam tapi entah kenapa ia merasa ingin tersenyum. Tubuh ini kuat, tubuh baru ku kuat. walaupun aku cinta tubuh lamaku, tapi tubuh baru ini akan sangat berguna untukku.
Rangga memeluknya, "Tenangkan dirimu ratuku, kita akan cari cara agar kau bisa kembali ke tubuhmu" Karin melihat semua di pantulan kaca itu.
Anak ini tidak jelek, hanya...
"Rangga..." aahh aku benci memanggil nama Rangga dengan suara ini. suara ini sangat ... halus...
Rangga membalikan tubuhnya, ia hanya sekepala lebih tinggi dari Rangga ia tidak perlu mengangkat kepalanya lebih tinggi lagi saat akan bicara dengan Rangga.
"Ratu ku, apapun yang terjadi , aku tetap pengawal mu. Aku akan tetap mengabdi padamu, bagaimana pun bentuk dan rupamu. aku akan berdiri di depanmu untuk melindungiku". Rangga mengelus kepala Karin, entah kenapa perasaannya menjadi hangat. hangat yang asing, hangat yang tidak biasa.
mungkin ini adalah pengaruh dari tubuh ini fikir Karin.
Ada suara ribut ribut di luar,..
"izinkan kami masuk, izinkan kami, kami sudah lama tidak melihatnya."
"Tolong pak, si kacung itu sudah seperti Adekku sendiri, mbok ku ini sudah siap siap bikin selametan dirumah pak . aku mau nengok sikacung sebentar pak". logat jawa kental yang entah kenapa Karin merasa dirinya mengenal suara itu.
Ia berjalan dan membuka ruang rawat yang tadi di kunci Rangga.
Pintu terbuka, sebuah tangan Hitam meraihnya. Tangan hitam itu merengkuhnya kedalam pelukannya, tangan itu sangat kuat tapi sangat lembut. Anehnya Karin tidak merasa ketakutan. Ia nyaman dengannya.
"Nduk, ya Allah Gusti sudah sadar kamu, ya ampun, mbok kira mbok kira mbok sudah ga bisa liat kamu lagi nduk.... Huuuu huuuu huuuu...." Tubuh wanita ini hanya sedada Karin , tapi kekuatannya sangat luar biasa.
__ADS_1
"Sehat cung!" Seorang laki laki yang mirip dengan wanita ini meraihnya. Memeluknya hangat, beberapa tetes air mata laki laki itu menempel di pipinya. Anehnya Karin juga ikut menangis. Ia mengusap matanya dengan bingung, air mata ini sungguh keluar dari matanya.
Treeeeeeeekkkkkk.... Pelatuk berpuluh puluh senjata ditodongkan kepada mereka.
Sontak si ibu dan si anak laki laki itu mengangkat tanganya.
"Turunkan senjata kalian ini rumah sakit". Suara dingin Alfa memecah kesunyian.
"Aku ingin kamar baru" Karin menggandeng si Mbok yang masih gemetar.
Di kamar barunya Karin duduk di sofa berdampingan dengan si Mbok, yang terus mengelus semua bagian tubuh Karin .
"Si mbok bersyukur kamu sudah sadar , jangan belajar terlalu keras. Tubuhmu kurusan nduk... Ya Allah Gusti... ". Karin hanya diam sambil tersenyum, pertama kalinya ia disentuh orang asing tapi rasanya sungguh menyenangkan.
Alfa dan Rangga hanya memperhatikan pemandangan itu, mereka sudah selesai mengintrogasi anak laki-laki yang mengaku sebagai sahabat Nina .
"Kalau bukan dalam keadaan seperti ini, aku sudah pasti menyuruh orang orang ku menembak mereka di tempat."
"Kau tidak melihat sepertinya Karin sangat menyukai mereka, seumur hidup aku baru kali ini melihat Karin Sulaiman menangis dan tersenyum". Alfa memutar mutar P30 ditangannya.
"Itu bukan mainan". Rangga merenggut senjata itu dari Alfa.
"Lain kali aku harus belajar menggunakannya".
Di berondong seperti itu Alfa gelagapan, kulit coklatnya bersemu merah. Rangga ternyata sangat cepat mengetahuinya, si empunya diri bahkan belum sadar apa yang ia sukai.
"Mukamu merah Alfa , jangan sampai Tuan Sulaiman melihatmu seperti itu. Ia kira kau pasti sedang kebanyakan minum" Rangga tergelak, Karin memandangnya heran. Rangga hanya melambaikan tangannya.
Ada keributan lagi di luar, orang orang berbaju hitam kerepotan menahan gerombolan yang datang.
"cung, tukang bakso mu datang".
"cung aku Joko, kenapa aku di tahan pak, ibuku lho didalam"
"cung, mie pangsit hadir, kamu mau berapa porsi?"
"cung, kapten kau datang, izinkan aku masuk. ku hukum kau lari 10 keliling lapangan nanti, cung , hei kacung!"
"Ninanino temen kosan mu diseneh, aduhh si om pake ngalangin segala, outfit ku mehong om, lepasin ahh..."
"Sekarang giliran mukamu yang merah, jangan di bunuh semua, susah membereskan proses hukum nya". Alfa menepuk bahu Rangga dan berlalu.
__ADS_1
"Sialan... Hei Alfa, apa yang harus ku lakukan dengan orang-orang ini."
"Ini kan jam besuk, orang orang bebas berkunjung Rangga". Alfa tertawa penuh kemenangan.
_____________________1st__________________
Rangga memandang mata itu, mata itu ternyata bulat maniknya berwana coklat tua. Si pemilik manik balas memandangnya.
"Rangga, aku takut tidur."
"Ratuku, aku disini bersamamu".
"Aku takut besok aku tidak akan bangun". Sebulir Air mata jatuh, Rangga merasa hatinya ikut jatuh.
"Ratuku, besok pagi aku akan membangunkan mu, wajahku lah yang akan kau lihat pertama kali besok". Ia menyelimuti tubuh Karin, membelai puncak kepalanya.
Karin mengelus elus pipinya, "Rangga besok tanyakan pada Andre, kenapa pipiku tiba tiba sakit, terasa pegal." Rangga membantu mengelus elus pipinya. Wajah ini sedikit lebih oval, dan berpipi penuh.
"Anda banyak tersenyum hari ini ratuku, wajar kalau wajah anda pegal, besok aku akan menjadwalkan pijat dan refleksi untukmu."
"Benarkah? Aku tidak tau kalau aku banyak tersenyum hari ini."
"Anda bahkan meninju beberapa orang hari ini" Rangga tergelak, refleks tubuh Nina sangat baik. Beberapa teman yang menjahilinya dihadiahinya tinju.
Karin menatap tangan dan kakinya, biasanya setiap bergerak terlalu terburu-buru dadanya akan sesak, nafasnya berubah tersengal. Tubuh ini begitu luar biasa, dirinya merasa sangat segar walaupun seharian dibesuk berpuluh puluh orang sahabat dan teman teman Nina.
Orang orang Rangga pun sangat kerepotan memblokir pembesuk lain yang belum dapat kesempatan. Untung jam besuk sudah selesai, para pembesuk akhirnya pulang. Mereka berjanji besok akan datang kembali. Rangga geleng geleng kepala melihat antusiasme orang orang itu.
Ia menerima orang orang itu karena Karin terlihat menyukai mereka semua, walaupun sepertinya Karin tidak mengerti isi pembicaraan mereka tapi ia tidak berhenti tersenyum. Rangga menyukai senyum itu, itu tetap senyum Karin, caranya tersenyum tetap seperti Karin ratunya.
Karin tertidur di pelukan Rangga , Dokter Arka menunggu dari balik pintu.
Rangga keluar dan menutup pintu ruang rawat pelan.
"Cari orang itu Dokter, cari secepatnya."
"Tapi kita bahkan tidak tau orang itu benar benar ada atau hanya legenda. Kita tidak bisa berharap pada legenda Rangga."
"Kita bisa, aku bisa. Berharap pada angin sekalipun kalau itu harus akan kulakukan Dokter." Rangga menatap Dokter Arka sendu.
Bersambung
__ADS_1
Mohon tinggalkan komen readers, komen kalian sangat berarti buat aku.... ❤️❤️❤️🤗🤗🤗