Fountain- Satu Hati Dua Jiwa

Fountain- Satu Hati Dua Jiwa
Perlindungan Alfa


__ADS_3

mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers....💖💖💖


"Aku lapar".


"Kau baru sarapan 30 menit yang lalu." Rangga menyetir dengan hati hati. Jalanan menjadi sangat licin sekarang, hujan yang berlangsung sejak tadi malam masih menyisakan gerimis di pagi hari ini.


"Rangga aku mau bakso yang ada di kampus anak ini." Karin membunyikan jari jarinya. Suara itu sangat mengganggu untuk Rangga . Tapi ia membiarkannya, sekarang Karin membunyikan tulang lehernya. Krekk krekkk krekkkk...


"Karin berhentilah" ia memegang lengan Karin , lengan ini sungguh keras dan kuat.


"Aku takut lehermu akan lepas" Rangga menggenggam tangannya. Kebiasaan kebiasaan baru Karin sungguh unik. Ia yakin ini adalah bawaan dari tubuh Nina.


"Badan ku sakit Rangga, leherku pegal tubuhku kaku aku ingin melakukan sesuatu".


Rangga menggeleng gelengkan kepala percintaan mereka tadi malam pun terasa aneh. Dari luar memang bukan Karin , tapi ia dapat merasakan Karin di dalam tubuh itu.


"Rangga aku lapar..." Karin memeluk lengan Rangga dengan manja.


Rangga ternganga, kemudian tertawa. Ia berbelok ke arah kampus Nina . Semua yang berbau Nina sudah mereka selidiki sebelumnya, Betapa mudah membuat orang berbicara tentang dirinya. Semu mahasiswa mengenalnya apa lagi para dosen.


Begitu mudah anak itu mengambil hati orang lain. Dan itu yang terjadi pada Alfa. Nina telah menguasai dirinya.


Tadi malam ...


Orang itu sudah selesai menyuntikan cairan itu ke tubuh Karin. Tanpa ia sadari tubuhnya di landa perasaan yang sangat puas, terlebih lagi ia sudah membunuh Karin .


Ia tertawa lepas, bahunya bergetar tanpa bisa ia kendalikan. Sungguh selain ia tenang anaknya bisa berada di posisi unggul di Sulaiman Enterprise, akhirnya ia sudah berhasil membunuh anak Sulaiman. Orang yang menyebabkan adiknya celaka.

__ADS_1


"Waahhh... Sepertinya kau sangat bahagia Dokter".


Zebbb... Sebuah peluru bius menancap di leher Dokter Arka, Sekertaris Zian sudah melaksanakan tugasnya. Ia sejak tadi bersembunyi di balik pintu ruang rawat.


Saat wanita tua itu menusuk Nina, Karin sedang berada di Gym center rumah sakit. Entah kenapa Ibu Karin yang berada di dalam tubuh Nina sebegitu menyukai berolah raga. Saat itu Karin sedang mencoba semua alat olahraga yang ada di Gym Center.


Rangga yang telah menempatkan orang untuk berjaga segera turun karena mendapat laporan beberapa hari ini Dokter Arka memberi perhatian Ekstra pada seorang wanita tua yang menderita demensia. Namun Rangga terlambat. Ia sudah melihat Nina berlumuran darah Karin.


Alfa terpaksa harus berusaha untuk menahan ekspresi nya ketika bertemu dengan Dokter Arka. Mereka harus memiliki cukup bukti untuk "Menghukum" Dokter Arka.


Penyelidikan mereka tentang yang menjadi penyebab Nina bisa tersadar di dalam tubuh Karin adalah karena Karin dan Nina saat itu dalam kondisi sama sama koma.


Nina koma karena ada masalah dalam pembuluh darah di otaknya. Sedangkan Karin karena mendapatkan Obat Anti depresi dengan dosis yang tidak tepat. Sepertinya Dokter Arka berencana untuk membuat Karin terlihat bunuh diri begitulah asumsi Alfa.


Alfa berdiri, ia memandang Dokter Arka sekaligus Paman Karin dengan jijik. Permainan akan dimulai, Dokter Arka adalah pion mereka untuk menjatuhkan Orang itu dari Sulaiman Enterprise. Alfa menunduk, dengan satu gerakan ia mematahkan kesepuluhnya jari Dokter Arka. Dokter itu akan bangun dengan banyak kesakitan yang menderanya.


Ia membelai rambut Karin, wajah pucat itu terlihat lebih sedikit berwarna. Kemarin saat pasca operasi tubuh Karin hampir seputih speri ranjang rumah sakit, hari ini ia melihat wajah Karin mulai berwarna.


Alfa mencium Puncak kepala Karin lama, ia berharap gadis ia tidak lagi terkena masalah karena berada di tubuh istrinya. Ia benci merasa begini, tapi Nina begitu istimewa darinya Alfa merasakan kehangat, ketulusan, rasa aman. Alfa menyukai gadis ini dan ia akan selalu menjaganya dan melindungi nya. Seperti ia melindungi Karen.


Sekertaris Zian siaga di samping Alfa menantikan perintahnya.


"Bawa Dokter Arka ke ruang penyimpanan" Ia sudah membayangkan betapa ketakukannya Dokter Arka ketika sadar ia berada satu ruangan dengan banyak manusia tak bernyawa.


"Karin tolong berhentilah makan, Ini mangkuk ke 5 mu". Rangga sibuk membersihkan wajah Nina yang belepotan Saus dan kecap.


Rangga kebingungan, Karin tidak pernah makan jenis makanan seperti ini. Tapi kali ini ia tampak begitu sangat menikmati semuanya.

__ADS_1


"Tambah lagi atuh Nin..." Mang Ujang menawarkan mangkok ke enam. Rangga langsung menolaknya , ia tidak ingin Karin sakit perut karena kebanyakan makan makanan Street Food.


Beberapa mahasiswa menyapa Nina, Karin diam saja. Ia tau dirinya harus menghindari berkomunikasi dengan para mahasiswa itu. Karin kembali memesan Es Teh, tiba tiba seorang mahasiswa duduk di sampingnya.


"Kamu cantik hari ini" Tanpa basa basi mahasiswa itu langsung memujinya. Rangga mengenali mahasiswa itu, ia adalah Pramudita, Kaka tingkat Nina yang sudah Nina taksir sejak hari pertama masuk kuliah.


Karin memajukan wajahnya. "Apa aku hanya cantik saja? Aku tidak menarik? Apa Aku tidak sexy dan menggoda?" Semakin Karin memajukan wajahnya, Semakin Pram memundurkan dirinya. Tanpa sadar ia sudah sampai pada ujung kursi, akhirnya Pram jatuh terjengkang diiringi derai tawa temn temannya.


Karin berdiri dan dengan anggun serta dramatis ia berbalik dan menggandeng tangan Rangga. Diiringi tatapan dari para mahasiswa yang jajan di pinggir lapangan basket itu.


Rangga dan Karin masuk ke mobil. "Aku ingin merasakan rasanya kuliah" Karin menghempaskan tubuhnya di jok depan.


Rangga terpana, selama lebih dari 17 tahun ia bersama Karin baru kali ini Karin ingin berada di tempat yang banyak orang.


"Besok aku akan kembali kesini sebagai Rania Nina Rangga. Aku mohon tetap di sampingku." Karin menyentuh pelan rahang Rangga yang mulai mengeras.


"Karin, ini begitu berbahaya. Masalah tadi malam saja Alfa belum melaporkan detailnya padaku. Di tambah kau meminta hal yang aneh lagi". Rangga bersungut, sambil memasangkan Safety Belt Karin.


"Ayolah Rangga aku menginginkannya, seperti aku menginginkan mu sekarang" desah Karin rendah.


Wajah Rangga persis didepannya, menahan diri untuk tidak menciumnya sangat mustahil. Karin menciumi rahang mulus itu, aroma Aftershave menguasai inderanya. Ia menyusuri setiap inchi leher kekar milik Rangga. Jari jarinya menari di rambut Rangga sesekali meremas perlahan. Bibirnya sekarang berpindah ke belakang telinga Rangga, menggigit pelan cuping telinga itu dengan lembut, menitipkan suara desahan nafasnya di telinga sang empu.


Rangga menggeram, "Karin aku akan memindahkan mobil sialan ini ke area sepi. Selanjutnya ku serahkan padamu".


Bersambung


Mohon tinggalkan komen readers, komen kalian sangat berarti buat aku.... ❤️❤️❤️🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2