Fountain- Satu Hati Dua Jiwa

Fountain- Satu Hati Dua Jiwa
Rumah Sakit


__ADS_3

Nafasnya tersengal, dada nya sakit. Ia merasa paru paru nya mengkerut, padaha tadi ia hanya berlari lari sebentar, pelan malah, tubuh ini lemah sekali ,gumam Nina.


"Kita mau kemana dik, "supir taksi yang di tumpangi nya menanyakan alamat yang akan mereka tuju.


Nafas Nina masih tersengal, tubuh Karin terbatuk batuk kecil, melihat penumpangnya sangat pucat supir taksi tersebut, segera meminggirkan mobilnya. Ia menawarkan air minum kepada Nina .


Sembari mengatur nafas Nina menerima air mineral dari bapak tersebut. Supir taksi dengan sabar menunggu Nina mendapatkan kembali nafasnya." Adik tidak apa apa, apa mau kembali ke rumah sakit tadi?"


"Tidak pak saya tidak apa apa, "masih memegang dadanya yang sesak.


Nina menyebutkan alamat yang mereka tuju. Taksi pun kembali melanjutkan perjalanan.


Nina teringat kembali kejadian pagi ini yang membuatnya terpaksa harus berlari. Padahal tubuh Karin tidak dirancang untuk itu. Ini konsukuensinya apabila tubuh Karin di bawa berlari, seperti yang terjadi di lapangan basket sekolah Karen .


40 menit sebelum nya.


Nina mengetuk pintu ruang kerja Alfa , wajah Alfa muncul dari balik pintu, wajah dengan kulit kecoklatan itu mengerutkan dahi melihat pakaiannya nya.


Seperti biasa mr.no coment memang si Alfa. Ia kembali melanjutkan kegiatannya mengancingkan kemeja abu abunya, Nina masih sempat merekam otot dada dan dan perut yang terbuka, sebelum Alfa mengancingkan seluruh kancing kemeja nya.


"Ckkkk" Alfa berdecak , penampilan Nina sangat mengganggunya.


Alfa kembali mendekati Nina , ia tidak tahan melihat penampilan Nina , tangannya bergerak kenpergalangan tangan Nina melipat lengan kemeja yang Nina pakai.


" Kalo kamu menyukai style seperti ini tidak apa tapi harus selalu rapi ingat itu"


Alfa merapikan kerah kemeja Nina dan melipat ujung jeans yang Nina pakai. Nina dapat membaui eau de cologne yang Alfa pakai di tubuhnya.


"Sudah lebih baik" ia menepuk kepala Nina.

__ADS_1


30 menit sebelumnya


Rangga bersenandung kecil, ia bertindak sebagai supir mereka hari ini. Dalam otaknya Rangga menceklist persiapan pertunjukan hari ini.


Tidak seperti biasanya hari ini Nina banyak diam.


"Hey Apa yang sedang kamu pikirkan"


"Tidak ada"


sesampainya di rumah sakit degup jantung Lina semakin tidak karuan, ia bingung harus seperti apa saat berhadapan dengan dirinya yang sebenarnya.


Beberapa orang berbaju hitam sudah berkumpul di sekitar lobby. Perasaan nina tidak enak.


Dokter Arka menyambut mereka di lobbi, ia memandang penampilan Nina dari atas kebawah. Kemudian dokter Arka membawa mereka ke lantai 5 rumah sakit. Rumah sakit itu sungguh besar, terlalu besar untuk mahasiswa yatim piatu sepertinya.


Ada beberapa orang berbaju hitam di sudut lorong rumah sakit. Nina yakin mereka adalah adalah orang-orangnya SE (Sulaiman Enterprise).


Ruangan itu cukup luas untuk hanya di tinggali untuk 1 pasien . Dokter Arka menjelaskan sesuatu, tapi Indra pendengarannya mendadak tidak berfungsi. Ia mendekati ranjang rumah sakit.


Di ranjang berlinen putih itu terbaring lah dirinya , wajah , tubuh milik Nina . terasa asing dengan berbagai selang di tubuhnya. Dirinya juga memakai alat bantu pernafasan. Kulit coklat nya terlihat pucat ,wajahnya sayu , sakit apa diriku sebenarnya. Nina limbung, sepasang tangan dengan sigap menangkapnya. Membawanya ke sofa dan mendudukkannya.


Pikirannya kosong ia melihat dokter Arka sedang bicara padanya tapi ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia tidak tahu apa yang sedang dokter arka bicarakan, seakan dokter Arka berbicara dalam bahasa yang tidak Nina mengerti. l


"sepertinya anak ini benar-benar shock dengan apa yang dilihatnya. Bisakah kita tunda dulu?" Alfa bertanya pada dokter Arka.


Matanya tak beranjak dari wajah Karin yang pucat dan semakin pucat.


"Lebih cepat lebih baik Alfa semua persiapan sudah selesai semua harus segera kita lakukan ,"kata Rangga tidak sabar.

__ADS_1


Dokter Arka memperhatikan keponakannya apakah benar semua yang di laporkan Alfa dan Rangga adalah fakta, tapi ini tidak pernah terjadi dalam dunia kedokteran. ia harus benar benar memastikannya. tidak ada yang boleh terlewat sedikit pun.


Selama beberapa waktu mereka terjebak dalam keheningan.


"Aku permisi ke toilet sebentar ". tiba-tiba Nina berdiri.


Alfa ingin berdiri juga tapi Rangga mencegah "aku saja yang menemani".


Rangga mengantarnya menuju toilet , sambil mengikutin Nina dari belakang ia bersenandung kecil.


Gadis baik ,


gadis baik,


tak akan pernah bohong,


tak akan pernah bohong,


potong lidah


potong lidah


kalau berbohong


kalau berbohong


Hanya lagu anak anak, lagu yang di senandung kan Rangga di mobil tadi. tapi efeknya membuat Nina bergidik, Rangga yang ramah dan hangat padanya, pagi ini tiba tiba dingin.


Muncul sekilas dalam ingatan Nina Fitri bercerita bahwa sekertaris Rangga akan memenggal kepala orang menghianati perusahaan. Tubuhnya semakin gemetar membayangkan nya....

__ADS_1


berikut visual Karin dalam kemeja barunya. (kemeja nya Nina beli seukuran badan nya, badan nya Karin kecil banget sih,)



__ADS_2