
mohon vote nya ya readers....💖💖💖
Rangga datang menenteng bungkusan di tangannya. Tangannya menyentuh tangan Nina sekilas tapi Nina segera mengalihkan tangannya pura-pura sibuk membuka bungkusan yang dibawa Rangga.
Seperti Alfa Blake, rangga juga memiliki fisik yang menawan ,"boyfriend material banget ni sekertaris, alisnya tebal, tubuhnya tinggi, wajahnya teduh, aduh aku mikir apaaan" nina menggelengkan kepala kecil Karin kuat- kuat.
Rangga menyetuh pipinya pelan, "kamu pusing, atau sedang banyak pikiran? Coba kamu bagi sedikit beban pikiranmu padaku,aku akan selalu ada buat kamu Karin"
Rangga memandangnya lembut,wajah Rangga terkesan manis tapi tetap maskulin. Tangan nya mengelus elas pelan pipinya , Nina merasa wajahnya memanas. Sedekat ini Nina menyadari Rangga punya tahi lalat kecil dbawah mata kanan nya tersamarkan oleh kacamata tipisnya.
Nina Mundur selangkah dan menarik nafas ia balas menggenggam tangan rangga.
"Aku hanya kecapekan, tinggalkan aku sendiri sebentar, aku butuh istirahat!" Suara serak ini sepertinya selalu membuat orang lain menuruti perintahnya pikir Nina.
"Pakai ruangan Bank Data saja, tidak ada yg menggangu istirahat mu disana". Lagi lagi Rangga mendekat, tanpa sempat Karin menghindar Rangga mendaratkan kan kecupan kilat di bibir Karin. Gelagapan Nina menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
Rangga membukankan pintu Bank Data, seperti tak terjadi apa-apa. Nina merasa wajahnya masih panas. Tapi sepertinya pintu Bank Data menyita lebih banyak perhatiannya. Ternyata rak buku paling kanan adalah pintu khusus yang dirancang berkamuflase seperti rak buku sebelahnya. Ini pintu rahasia.
Sudah Pulih dari efek ciuman kilat, Nina melangkah masuk.
____________1st____________
Nina terbangun dari tidur siangnya, ponsel nya berbunyi, si pemanggil adalah Alfa Blake.
"Dimana kau?" Suara dingin alfa membuat jantung Nina mencelos, bersama Rangga yg hangat, semua begitu enteng rasanya. ia kira sepanjang hari nya akan baik baik saja. Ia lupa ada si Es batu Alfa.
"di Bank Data"' jawab nina polos.
"Bank apa?"
"Mamp*s salah ngomong, mungkin pak Alfa tidak tahu tempat ini ada," gumam Nina
Segera meralat kata-katanya "Bank Swasta, maksud ku tadi ada Bank Swasta telpon, aku sedang dkantor " Nina segera keluar dari Bank Data.
Rangga sedang di luar sepertinya, kantor ini kosong. Pintu tiba tiba terbuka. Alfa blake masuk.
"Tadi aku baru dari sini, tpi ruangan ini kosong." Alfa bertanya mash tanpa ekspresi.
"tadi,... Kamar mandi, ya aku tadi sedang di kamar mandi" Ia gelagapan. Berharap Alfa berhenti bertanya.
"Ayo, kau mau melewatkan rapat dewan direksi?"
Berpikir sebentar,mengangkat dagunya, "aku tidak perlu berada disana bersama mereka, membuatku mual!" Sebenarnya nina hanya mengulang kata yang Karin ucapkan dari salah satu video yang ia tonton di Bank Data.
Efeknya terasa, Alfa Blake memandangnya sebentar, lalu pergi meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Bahu Nina langsung lemas, bersama Alfa Blake semua serba kaku, dingin, canggung, ia sangat takut ketahuan. Nina yakin apabila sampai ketahuan dia bukan Karin Blake, Alfa Blake akan memasukanya ke rumah sakit jiwa. Dan tidak akan pernah menengoknya seumur hidup. Membayangkannya saja ia panas dingin.
"Mana Rangga yaa?? "
Tangannya menyentuh bibir tanpa sadar. Sial kenapa jadi nyari rangga. Ga boleh kali, Rangga kan selingkuhannya bu karin. Mungkin ini salah satu alasan pasangan punya selingkuhan karena punya suami tapi dingin nya kayak kutub utara. Ah bodo amat ngapain mikirin urusan rumah tangga orang.
Tapi Nina yakin kedua laki-laki yang bersama Karin adalah ah orang yang baik.
Lamunan Nina terhenti olehsuara pesan masuk.
"Terima kasih telah menjadi donatur setia yayasan kasih abadi donasi Anda sangat berarti bagi anak-anak anak penderita kanker paru-paru".
Wah ternyata ibu Karin adalah perempuan yang baik walaupun dingin. Nina tersenyum-senyum sendiri.
"Ibu karin sangat beruntung sudah baik punya suami yang tampan pula." Nina terbayang kejadian di rumah tadi, Tuan Alfa jelas sangat kawatir pada ibu karin.
Dan Rangga yg lembut seperti kapas,ahhh betapa beruntungnya ibu Karin.
Nina masuk kembali ke Bank Data, dirinya harus mengerti setiap detail tentang ibu karin.
_____1st_____
Barisan pohon pinus berlarian di luar jendela mobil, dari tadi Nina hanya memandang keluar jendela mobil. Sepanjangbperjalanan dari kantor menujubrumah hanya hening. "Sudah biasa seperti ini apa yang aku harapkan.!" Ujar alfa dalam hatis
Alfa kembali kemobil, menaruh kotak kue d kursi belakang, "Apa itu?" karin bertanyaa.
"Pesanan Karen " Alfa menjawab singkat.
Karen anak mereka . Ia bingung kenapa Alfa sedingin itu pada Karin sedangkan pada Karen Alfa sangat perhatian . Suara alfa tadi pagi saat menelpon Karen sangat lembut . Padahal kan Karin ibunya. Kenapa cuman baik sama anaknya???
Karen adalah anak Alfa dan karin tapi kenapa Karen tidak tinggal bersama Alfa dan Karin di rumah besar. Kenapa harus di asrama.
Pertanyaan baru yang harus Nina cari tahu jawabannya.
Sesampainya di asrama Alfa segera turun meninggalkan Nina sendirian dalam mobil. dari dalam mobil Nina takjub melihat bangunan asrama Karen . Ini bukan asrama ini istana pikir Nina .
Nina tertegun walaupun Karen tinggal di asrama sebesar ini bukankah lebih baik ia tinggal bersama ayah dan ibunya. banyak sekali yang ingin ia tanyakan kepada Alfa tapi yang namanya Alfa Blake apapun yang terjadi sepertinya akan selalu bersuhu dingin seperti kutub Utara.
Hanya satu kotak yang dibawa Alfa ke dalam kotak satunya yang kecil ditinggal masih di jok belakang
Nina mengintip sedikit isi kotak tersebut ternyata isinya adalah sepotong kue kecil yang harum sekali baunya. Perut Nina menjadi sangat lapar.
"Apakah Alfa Blake akan marah kalau aku makan kue ini??? ah bodo amat aku sangat lapar dan aku sangat kesal aku sangat capek berpikir banyak sekali pertanyaan di otakku"
Nina melahap kuenya sampai habis sampai tandas sampai butiran terakhir
__ADS_1
"Kue ini kayaknya mahal rasanya sangat enak!"
Setelah melahap kue Nina keluar dari mobil, parkiran tersebut tidak jauh dari sebuah lapangan basket
Nina melihat beberapa anak laki-laki dan perempuan sedang bermain basket
Nina teringat lapangan basket di kampusnya lapangannya berwarna biru ringnya berwarna kuning kecoklatan karena oksidasi dan yang paling penting adalah tukang bakso, tukang sate, tukang jus alpukat, tukang es jeruk di pinggir lapangan basket. Lapangan basket kampus nina adalah surga. Surga jajanan.
"Baru sehari aku ku kehilangan jati diriku aku sudah merindukanmu bakso" keluh Nina
Gatal tangan Nina melihat anak-anak itu dengan lincah mendrible bola basket. Nina segera memanggil salah satu anak.
"Kepang dua Bagi bolanya dong!"
Anak berkepang dua tadi bingung plus bengong. Cleo bengong kenapa ibu nya Karen memanggil nya kepang dua. Cleo tak akan lupa kejadian semester kemarin, dimana ia dan Karen di bentak oleh Ibu Karin di depan seluruh sekolah karena tidak sengaja mengotori sepatunya.
Nina melepas sepatunya dengan lincah dia merebut bola basket dari tangan anak berkepang dua tadi.
Ia Asik sendiri mendrible bola, berlari zig zag diantara anak anak yang sedang bengong.
"And cute three point yesss" tanpa sadar tubuhnya melonjak-lonjak kecil. Bertubuh kecil tentu saja membuatku menjadi lebih ringan.
Beberapa anak yang masih bengong memperhatikan tadi akhirnya mulai bermain kembali. Ada yang mulai membagi bola dengan Nina, tapi Cleo masih tetap diam. Cleo menepi ke pinggir lapangan. Ia dan Karen sangat takut pada wanita itu, ia wanita yang kejam , bahkan pada anak sendiri. Untunglah Karen memiliki ayah dan kakek yang super baik, walaupun ibunya penyihir.
Sebuah sentakan mengejutkan Nina tangannya ditarik. Nina ingin marah tapi melihat wajah dingin Alfa blake ia mengurungkan niatnya.
"Tingkah apalagi ini,apa yang sedang kau lakukan" di pinggir lapangan Alfa berteriak padanya.
Mulut Nina terbuka tapi tidak satu patah katapun Nina ucapkan. Nafasnya..
Alfa melirik kaki Nina yang telanjang. Ia berjalan ketengah lapangan mengambil sepatu mahal Ibu Kari.
Brukkkkk
Alfa menoleh ke belakang. Nina tidak ada di tempatnya berdiri Alfa melihat sebuah tubuh terbaring.
Panik Alfa mendekati tubuh itu wajahnya semakin pucat tangannya terkulai lemas dari pinggir lapangan Karen berlari memanggil ibunya.
Apa yang Alfa takutkan terjadi nafas Nina tersengal. Ia merogoh kantongnya mencari ponsel. Menekan panggilan cepat. "Andre,aku disekolah karen, Karin pingsan nafasnya tersengal,oke ada,secepatnya dre"
Sayup Nina masih mendengar suara alfa. Lalu semuanya gelap.
mohon tinggalkan komen, komen kamu sangat berarti buat aku lhooo ,🤗🤗🤗
sekali lagi readers ini konten dewasa, bagi yang berumur di bawah 21 tahun mohon pengertiannya.... ❤️❤️❤️🤗🤗🤗
__ADS_1