
Pagi hari di Gunung Batu Lawang. Matahari baru saja muncul, embun masih tersisa di rerumputan. Angin segar meniupkan wangi bunga-bunga yang sedang mekar. Biasanya banyak pelancong datang ke bukit
ini hanya untuk menikmati pemandangannya yang asri. Karena itu, daerah sekitar sini menjadi sangat ramai di musim-musim tertentu.
Ada sebuah kedai makan di atas gunung yang sangat terkenal karena tempatnya yang nyaman dan mewah. Makanannya sangat enak sehingga setiap hari kedai itu pasti sesak dikunjungi orang. Biasanya kedai ini sangat ramai, namun nampaknya hari-hari belakangan ini cukup berbeda.
Kedai itu kini sangat sepi. Bahkan hanya ada satu orang yang makan di situ. Sudah beberapa hari ini, hanya
dia seorang tamu yang datang. Menikmati sarapan pagi yang hangat dan lezat.
Ia duduk di lantai 3 bagian belakang bangunan kedai yag mewah. Mejanya berada di tempat yang tepat sehingga
ia dapat menyaksikan seluruh pemandangan daerah bukit itu yang amat indah. Memang, bagian belakang kedai itu langsung menghadap ke pesisir pantai yang nun jauh di sana.
Orang yang sedang makan itu usianya terlihat masih muda. Antara 25 sampai 30 tahunan. Rambut bagian bawahnya tergerai dengan indah, sementara bagian atasnya disanggul dengan jepitan kecil. Terilhat sangat pantas dengan wajahnya yang cakap dan tampan.
Matanya tajam namun tenang. Hidungnya bangir dan tulang pipinya tinggi. Bibirnya membayangkan kekuatan,
ketenangan, dan sedikit kekerasan hatinya bahkan malah terlihat sedikit sombong dan berbahaya. Sinar wajahnya berseri-seri. Gerak-geriknya tenang dan sepertinya sangat menikmati keadaan dirinya.
Pakaian yang ia kenakan tidak terlalu mewah, tapi terlihat bersih dan serasi dengan bentuk tubuhnya yang
ramping namun tegap. Ketahuan sekali bahwa ia memiliki selera berpakaian yang sangat baik. Dari tubuhnya terhembus aroma yang harum nan lembut. Sama sekali tidak menusuk hidung atau membuat orang mengernyitkan dahi. Wanginya seperti gabungan harum bunga melati dan kayu manis yang menyegarkan.
Ia duduk sendirian menikmati daerah pelancongan yang mendadak sepi beberapa hari ini. Bahkan kemungkinan
besar hanya ia sendiri yang berada sendirian menjadi pelancong di daerah gunung itu.
Ke mana orang-orang? Mengapa daerah yang biasanya ramai kini malah seperti daerah berhantu?
Tapi ia duduk saja di sana dan tidak menghiraukan suasana sepi ini. Malahan sepertinya ia menikmati sekali suasana yang tenang dan hikmat ini.
Tak jauh, kelihatan sebuah kereta mendekat datang ke tempat itu. Ada 5 orang berkuda yang mengawal kereta yang terlihat cukup mewah itu.
Melihat itu, tahu-tahu dahi laki-laki tampan itu berkenyit sedikit. Seolah ada suatu hal yang tidak mengenakkan hatinya. Tetapi ia memutuskan untuk tidak lagi memperhatikan kereta itu dan meneruskan makannya dengan tenang.
Kereta itu ternyata memang datang ke kedai itu dan berhenti di halaman depan. Tak berapa lama dari bawah terdengar langkah kaki orang.
Setelah ditunggu sebentar, muncul lah pemilik langkah-langkah itu. Seorang wanita yang cantik sekali!
Jika ada wajah yang sanggup menghentikan jantung laki-laki dan merampas pergi nyawa manusia, tentulah wajah milik perempuan ini.
Ia melangkah dengan anggun seperti seorang putri. Gaun kembennya berwarna putih menjuntai sampai ke lantai.
Sutra yang sangat halus dan terlihat sangat mahal. Tusuk sanggulnya terbuat dari emas putih.
Saat berjalan, seluruh tubuhnya seolah bergetar dengan syahdu.
Getaran ini dapat menembus dada setiap laki-laki yang ada di muka bumi.
Ia berhenti tepat di depan si lelaki tampan yang sedang duduk. Lelaki itu menghentikan makannya sebentar sambil
memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah, lalu ia tersenyum sedikit. Katanya, “Nona tidak hanya tahu cara berjalan yang benar. Nona juga tahu kapan berhenti di tempat yang tepat.”
Dilihat dari dekat, ternyata perempuan ini jauh lebih cantik.
“Duduklah,” katanya ringan. Tidak seperti orang lain yang mungkin akan berdiri menyambut perempuan secantik itu
dan menarikkan kursi untuknya, lelaki tampan itu tetap diam di tempat duduknya.
Perempuan yang cantik itu tidak marah melihat tingkah lelaki yang terkesan angkuh itu. Ia kini malah duduk
dengan lega, seolah kini seluruh beban hidupnya sudah terangkat semuanya.
“Terima kasih.”
Laki-laki itu hanya mengangguk kecil sambil meletakkan sebuah cawan baru di hadapan si gadis, lalu menuangkan
teh untuknya.
Si gadis cantik baru akan mau mengatakan sesuatu ketika ternyata si lelaki tampan sudah menyela duluan,
“Tidak. Aku tidak mau,” ujarnya tenang.
Prempuan itu sedikit terhenyak. Tetapi ia kemudian tersenyum dengan manis lalu berkata, “Aku kan belum
berbicara apa-apa?”
“Nona memang tidak perlu berbicara apa-apa,” kata lelaki tampan sambil memandang wajahnya nan cantik.
“Oh? Ternyata kabar yang beredar memang benar. Si Sukma Harum yang tersohor di seluruh jagat raya ini memang sangat mengerti perasaan perempuan.”
Lelaki yang dipanggil Sukma Harum hanya tertawa masam. Katanya, “Siapapun yang mengatakan bahwa ada lelaki dapat mengerti perasaan perempuan, maka segala perkataannya tidak bisa dipercaya.”
“Tetapi mengapa perkataan tuan sangat tepat? Seolah kau telah menebak dengan jitu apa yang ingin ku ungkapkan.”
Sukma Harum hanya menggeleng kecil seperti mengherankan sesuatu. “Bukankah semua sudah jelas?”
“Apanya yang sudah jelas?”
“Bahwa kalian datang jauh-jauh kemari, lalu menembus penjagaan di kaki bukit hanya untuk mencariku, padahal
tempat ini telah ditutup untuk umum. Malah nona sendiri yang mendatangiku tanpa didampingi pengawal-pengawalmu yang hebat itu. Jika bukan untuk memintaku melakukan sesuatu untukmu, aku tidak tahu lagi apa maksud nona datang kemari.”
“Baik. Ternyata tidak ada satu hal pun yang dapat disembunyikan dari si Sukma Harum. Kini aku sudah yakin
bahwa hanya tuan lah satu-satunya yang dapat menolong kesulitan kami,” sambil berkata begitu, ia mencondongkan badannya ke depan.
“Bagaimana aku dapat meyakinkan nona bahwa aku tidak tertarik?” si lelaki menarik badannya dan bersandar dengan tegak dan nyaman di sandaran kursi.
“Kami dapat memberikan imbalan apapun yang tuan mau,” kata si nona cantik.
Jika seorang perempuan sudah mengatakan akan memberikan “Apapun yang kau mau”, maka seorang laki-laki dewasa tentu mengerti artinya.
Sukma Harum adalah seorang lelaki dewasa.
“Kebetulan keinginanku tidak banyak. Dan sepertinya aku sudah cukup puas dengan keadaanku sekarang.” jawab
lelaki tampan itu dengan lembut dan sopan.
“Siapa di dunia ini yang tidak mengetahui hal itu, tuan? Tapi ada satu hal yang belum kau punya,” kata si nona
sambl menegakkan badannya. Dadanya dibusungkan dan rona kecantikan semakin terpancar dari wajahnya.
Seolah-olah berkata, “Kau belum memiliki AKU.”
Lelaki yang dipanggil Sukma Harum itu terseyum lagi, tanyanya “Apakah kau pernah mendengar satu lagi kabar
mengenai diriku?”
“Kabar apa?”
“Bahwa aku tidak mau ikut campur di dalam urusan yang melibatkan perempuan. Apalagi perempuan yang terlalu
cantik.”
__ADS_1
Nona itu tersenyum karena dipuji oleh si Sukma Harum. Jika seluruh laki-laki di bumi ini dikumpulkan lalu mereka
memuji dan menghambakan diri kepadanya, tentu rasanya masih belum semenyenangkan jika dipuji oleh lelaki di hadapannya ini. Tapi wajahnya masih membayangkan kekhawatiran. Kemudian ia berkata, “Hanya tuan harapan kami.”
“Maaf, nona.” hanya itu kata-katanya dan ia kembali meneruskan makannya yang tertunda.
Mengapa ia begitu tega menampik permintaan gadis secantik ini?
Tampak sekali kekecewaan di wajah si nona. Tetapi ia sepertinya menerima keputusan itu dengan pasrah. “Kalau
begitu, baiklah.”
Nona itu beranjak dan melangkah pergi dari situ. Kesedihan membayang dari gerak gerik tubuhnya. “Saya mohon
diri.”
“Silahkan. Mari kuantar turun,” sambil menuruni tangga, ia memegang tangan perempuan itu dengan penuh sopan.
Walaupun wajahnya masih terlihat sangat kecewa, gadis itu tersenyum lalu berkata. “Ternyata ada lagi
kabar yang benar tentangmu, tuan.”
“Kabar bahwa aku adalah seorang yang terlalu tega?”
“Bukan. Melainkan kabar bahwa jika kau ingin menarik pergi tangan seorang perempuan, maka tidak ada satu
orang pun gadis yang mampu menolaknya.”
“Mengapa banyak sekali kabar tentang diriku?” Sukma Harum tersenyum.
“Siapa di dunia ini yang tidak mengenal si Sukma Harum? Orang tuli saja pastinya sudah pernah mendengar
tentang kisah dan perbuatanmu yang gagah. Justru karena itulah kami memberanikan diri datang kemari.”
“Akhir-akhir ini aku hanya ingin hidup dengan tenang,” jelas Sukma Harum.
“Aku mengerti,” nona itu mengangguk dengan lembut.
Jika seorang perempuan dapat memahami perasaan laki-laki, maka tentu kehidupan manusia di kolong langit ini akan menjadi lebih baik.
Sukma Harum menatap mata nona itu dengan dalam seperti ingin memasuki jiwanya yang paling tersembunyi.
Gadis itu sekejap terpana. Untuk sejenak jiwanya terasa melayang pergi direngkuh oleh sinar mata yang tajam dan
hangat itu. Ia kemudian tersadar dan berkata, “Jika tuan memandangku lebih lama, bisa-bisa aku tidak jadi pulang.”
“Eh? Kalau nona tidak pulang, lantas ke-5 pengawal itu bagaimana? Masa disuruh diam di sana menemani kuda?” canda Sukma Harum.
“Hahahahahaa,” untuk sejenak gadis cantik itu dapat tertawa. Mereka sampai di pintu depan dan gadis itu lalu
berkata, “Baiklah. Kita berpisah sampai di sini. Semoga kelak dapat bertemu kembali.”
Tangan itu masih tergenggam. Seolah keduanya tidak ingin melepaskannya. Sukma Harum masih menatap mata itu dengan dalam. Pandangannya berpindah ke bibir si gadis yang merekah indah. Si nona menghela nafas.
Hanya dipandang saja dapat membuat seluruh tubuhnya seperti tersengat getaran yang lembut namun
menggelora.
Tetapi si nona tidak mampu melepas pegangan tangannya. Ia berharap Sukma Harum melepas pergi saja dirinya
dengan dingin. Tetapi malah pegangan tangan itu semakin hangat, semakin erat.
“Nona belum sempat melihat tempat terbaik di daerah ini, sayang jika buru-buru pulang. Mari kuantarkan melihat
“Baiklah. Apakah jauh?”
Sukma Harum hanya tersenyum kecil dan menarik tangan nona itu menuruni jalan setapak di samping kedai. Gadis itu sejenak agak ragu, tapi Sukma Harum berkata, “Percayalah padaku.”
Entah kenapa, jika lelaki itu yang berbicara, seolah setiap perempuan di dunia ini rela melakukan apa saja
yang ia minta.
Mereka menuruni jalan setapak itu menembusi pepohonan yang rindang dan lebat. Jalan itu sedikit basah oleh embun pagi hari, dan agak sedikit berbatu. “Satu kelok lagi di ujung, kita akan sampai.”
Akhirnya mereka sampai.
Sebuah air terjun kecil yang sangat indah. Cipratan airnya menciptakan warna pelangi yang elok.
Mata si nona membesar tanda ia sangat kagum dengan pemandangan itu.
“Nah. Sekarang ceritakan siapa engkau? Dan ada keperluan apa mencariku?" sikap Sukma Harum berubah. Meskipun kata-katanya masihi lembut, namun ada ketegasan di sana.
Gadis itu menatapnya lalu berkata, “Mengapa tuan berubah pikiran?”
“Ada 2 golongan orang yang tidak tahu diri. Yang pertama adalah mereka yang meminta dengan mengancam. Yang kedua adalah mereka yang meminta dengan merayu.”
“Dan aku bukan dari kedua golongan itu?”
Sukma Harum hanya tersenyum memandangnya.
“Oh jadi penolakan tadi hanyalah ujian? Kini aku mengerti.”
Sukma Harum tidak berkata apa-apa. Ia memiliki nilai yang ia pegang dengan teguh.
“Namaku Sri Murti Trianti. Aku adalah keturunan ke 5 dari penguasa kerajaan Kaloka di daerah wetan (Timur).
Aku datang kemari meminta tuan untuk mencarikan keadilan untuk kami. Tentunya kami akan mengganti jerih payah pertolongan tuan dengan harga yang pantas.”
“Aku belum pernah mendengar tentang kerajaan Kaloka.”
“Kami hanya sebuah kerajaan kecil. Perang saudara membuat kerajaan kami runtuh dan keluarga kami harus mengungsi. Ayahku adalah raja terakhirnya. Saat itu beliau baru berumur 16 tahun.”
Lanjut si nona, “Kerajaan kami yang tersisa hanya ayah dan 4 orang pengawal terpercaya. Mereka lalu melarikan
diri ke kulon (barat) dan menatap di sebuah desa terpencil. Saat dewasa, ayah menikah dengan seorang gadis di desa itu, kemudian lahirlah aku dan adikku.”
“Ketika ayah dulu mengungsi, mereka membawa harta simpanan yang cukup besar. Dengan harta itu, ayah
membangun pertanian dan perdagangan yang sangat maju. Harta kami sangat melimpah. Ayah menyimpannya dengan tujuan untuk kembali membangun kerajaan kami suatu saat nanti.”
“Pada suatu hari, ketika ayah dan keempat pengawalnya yang sudah tua itu berkumpul untuk membicarakan rencana mereka membangun kembali kerajaan, mereka semua mati terbunuh. Dan harta kekayaan kami di gudang penyimpanan sudah raib seluruhnya.”
“Mereka dibunuh dengan racun. Saat itu aku sedang mengantarkan adikku untuk sebuah urusan. Saat kami pulang,
mereka semua sudah mati terbunuh.”
“Racun apa yang dipakai untuk membunuh kerabat nona?” tanya Sukma Harum.
“Racun Jincan.”
“Hmmm. Menarik,” tukas Sukma Harum.
Racun Jincan adalah sebuah racun yang terkenal dari daerah Tiongkok. Cara membuatnya adalah dengan mengumpulkan berbagai macam binatang berbisa dan dimasukkan ke dalam satu kotak agar mereka
saling menggingit dan saling membunuh. Hewan yang tersisalah yang racunnya diambil racunnya untuk dijadikan senjata.
__ADS_1
“Dari mana nona tahu itu racun Jincan?”
“Kami memeriksa makanan mereka, dan terdapat sedikit bau yang khas dalam cawan teh mereka, Lalu ada tabib yang menjelaskan pula.” jawab Sri Murti.
“Kapan kejadian ini? Dan di mana?” tanya Sukma Harum.
“Sekitar 7 bulan yang lalu di desa Cipandana. Aku dan adikku telah berusaha mencari pelakunya, namun semua
ini sia-sia. Dengan sisa-sisa uang yang kami punya, kami terpaksa menyewa pengawal dan mencari tahu siapa orang yang paling pantas kami mintai tolong. Siapa lagi kalau bukan si Sukma Harum? Tapi entah orangnya mau atau tidak. Sesungguhnya aku sudah kehilangan seluruh harapan…..,”
Si Sukma Harum hanya memandang jauh ke depan. Cukup lama baru ia berkata, “Baiklah aku akan membantumu.”
Tak terkira begitu besar rasa bahagia dan kelegaan di wajah Sri Murti. Ia bahkan berlutut dan berterima
kasih. Sukma Harum mengangkatnya berdiri dan berkata, “Aku baru bisa berangkat 3 hari lagi. Karena hari ini aku sedang ada janji di puncak gunung ini.”
“Saya sendiri harus meminta diri saat ini karena sebelumnya ada janji pula dengan beberapa orang. Apa bisa kita
bertemu di sebuah tempat nanti?”
“Nona akan ke mana?”
“Kami ada janji bertemu di kota Mandeung.”
“Baik, kita bertemu di kota Mandeung. Empat hari dari sekarang.”
“Mari kugambarkan peta tempat kita bertemu,” gadis itu lalu mengeluarkan sapu tangan dan menggunakan gincu
untuk menggambar daerah tempat mereka bertemu.
“Baik, aku sudah paham,” tukas Sukma Harum.
“Baik. Terima kasih banyak saya haturkan. Semoga Tuhan selalu merahmati tuan,” nona itu menjura.
Sukma Harum balas menjura. “Mari kita kembali. Kasihan pengawalmu sejak tadi menunggumu.”
“Mari.”
***
Sukma Harum melepas rombongan itu pergi. Sambil melambaikan tangan ia berkata, “Jika kalian sampai di gerbang bawah, mohon lepaskan ikatan yang kalian lakukan kepada pengawal-pengawalku. Dan beri mereka ganti rugi ini serta sampaikan salamku.”
Ia melemparkan sebuah kain bungkusan yang dari suara gemerincingnya dapat diduga tentu berisi uang.
Si putri hanya bisa tersenyum masam sambil menjura, “Mohon maaf. Kami terpaksa melakukannya agar bisa bertemu dengan tuan.” Dalam hati ia sangat kaget bagaimana Sukma Harum dapat mengetahui
bahwa mereka telah mengikat dan menyekap para penjaga di kaki gunung.
“Aku dapat mengerti,” kata si Sukma Harum sambil tersenyum masam pula.
***
Rombongan itu pun pergi meninggalkan puncak gunung yang indah itu.
Dalam perjalanan turun, seorang pengawal berkata kepada sang putri, “Ku lihat wajah paduka putri cerah sekali.
Rupanya Sukma Harum bersedia menolong kesulitan kita.”
Dari balik jendela kereta, si putri tersenyum dan mengangguk.
Salah satu pengawal yang lain menyahut, “Lelaki itu memang setampan kabar yang terdengar. Bahkan aku pun
ingin tanganku digenggam olehnya. Hahahhaha.”
“Betul sekali,” salah seorang yang lain menukas pula. “Konon, tangannya dapat menangkap senjata apapun. Ku
lihat, tangan itu ternyata mahir juga menangkap burung merak yang cantik.”
Si putri tidak dapat menjawab. Wajahnya bersemu merah. Biasanya ia adalah orang yang cukup suka berceloteh.
Entah kenapa kali ini ia tidak dapat membuka mulutnya. Mungkin karena seluruh pikiran dan jiwanya masih tertinggal di puncak gunung sana.
***
Kini Sukma Harum kembali sendirian di beranda atas. Sudah berjam-jam ia duduk di sana menikmati
kesunyian itu. Suara hewan liar bersahut-sahutan di tempat itu membuat suasana semakin menyenangkan hatinya. Selamanya ia memang selalu menyukai dan menikmati rasa sepi.
Tengah hari datang menjelang.
Seorang pelayan naik ke atas dan berkata, “Merpati pengirim kabar sudah sampai, raden,” ia lalu mengambil
bungkusan kecil yang terikat dari kaki burung merpati itu.
“Bacakan saja untukku, Ki Jamang,” kata Sukma Harum.
Pelayan itu mengangguk lalu membuka bungkusan yang ternyata berisi surat rahasia. “Oey Kim Seng berada di Jamparing.”
“Ah. Kabar bagus. Aku akan segera berangkat setelah urusan di sini selesai,” kata Sukma Harum.
“Apakah tugas dari gadis itu sangat berat, raden? Sehingga raden harus bertemu koh-Seng?” tanya Ki Jamang.
“Masalah ini terlihat sederhana. Seorang bekas raja dan pengawalnya mati diracun, harta simpanan mereka yang
sangat besar ludes seluruhnya. Kedua anaknya yang tersisa memintaku mencarikan pelakunya. Tapi aku yakin, ada banyak hal tersembunyi dibalik semua ini.”
“Tetapi mengapa kabar seperti ini tidak pernah terdengar? Padahal hal seperti ini biasanya cukup menghebohkan.”
“Itulah kenapa aku harus bertemu dengan Kim Seng,” tukas Sukma Harum.
“Tapi raden sudah lama sekali tidak berbicara dengan koh-Seng.”
“Sekali-kali orang memang harus melupakan gengsi. Haha,” Saat tawanya mereda ia berkata, “Sepertinya rombongan yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Tak lama lagi mereka akan muncul. Mari kita sambut mereka di gerbang depan!”
Telinga lelaki yang bernama Ki Jamang itu belum mendengarkan apa-apa, padahal sejak dulu ia sangat mempercayai kehebatan pendengarannya. Tetapi ia mengangguk dan segera bergegas. Di hadapan
majikannya, pendengarannya memang boleh dianggap benar-benar tuli.
Mereka bergegas ke halaman depan. Dari kejauhan sana terlihat rombongan belasan kereta. Terlihat wajah Sukma
Harum semakin cerah melihat rombongan semakin mendekat. Belasan kereta ini dikawal oleh puluhan gadis cantik. Semua berpenampilan gagah, dan bertubuh montok semampai. Terlihat jelas mereka adalah orang-orang yang berilmu silat tinggi. Kusir-kusir kereta itu pun semuanya perempuan cantik dengan tubuh yang sintal
menggairahkan.
Rupanya sejak beberapa hari daerah ini ditutup untuk umum adalah karena rombongan yang menakjubkan ini akan datang berkunjung ke sini.
Di muka bumi ini, tentu hanya sang Sukma Harum seorang yang mampu mengundang rombongan makhluk-makhluk secantik ini datang ke tempat ini, dan bahkan menutup kawasan ini sehingga tidak dapat didatangi pelancong lain.
Ya. Karena tempat itu dan juga bahkan gunung ini adalah milik keluarganya.
Jika keluargamu memiliki sebuah gunung, maka berapa besar kekayaan yang dimiliki oleh keluargamu itu tentu
sudah tak dapat dihitung lagi.
Tetapi pertanyaan yang sebenarnya adalah, apa maksud sesungguhnya mengundang puluhan wanita cantik itu datang ke tempat yang indah, sepi, dan tenang seperti itu?
__ADS_1