
Padepokan Rajawali Sakti adalah sebuah perguruan silat dan kanuragan yang paling terkenal di dunia persilatan Nusantara. Pendirinya bhiksu Mangkara Dharma yang merupakan seorang pangeran dari Madangkara. Setelah pulang belajar dari Tibet, ia mendirikan padepokan ini sekitar hampir 80 tahun yang lalu.
Kini padepokan ini menjadi padepokan yang digdaya dan sangat disegani. Para murid-muridnya seluruhnya berilmu tinggi dan bermartabat baik serta lurus. Setelah bhiksu Mangkara Dharma mengundurkan diri 50 tahun yang lalu dari dunia persilatan, murid-muridnya yang berjumlah ratusan orang menjadi pendekar-pendekar hebat di dunia persilatan. Banyak orang meminta pertolongan pada mereka. Bisa dipastikan, Sri Murti pun meminta pertolongan kepada mereka.
Malam itu juga, mereka memulai perjalanan ke Padepokan Rajawali Sakti setelah mengubur semua korban dan
membersihkan rumah tetirahan itu. Menetes air mata Sukma Harum jika membayangkan kekejaman dan pembantaian yang baru saja terjadi.
Ia berkenalan dengan ketujuh pendekar itu, dan mengetahui nama mereka masing-masing: Ringkan, Satoh, Tamuri,
Pawala, Namban, Wastu, dan Dharma. Dari Ringkan, Sukma Harum juga mengetahui nama dari adik Sri Murti. Pemuda malang itu bernama Reksa Bauweda.
Perjalanan ke padepokan ini membutuhkan waktu 2 hari satu malam dengan menggunakan kuda. Padepokan ini berada di wilayah kerajaan Madangkara yang berbatasan dengan kota Madeung. Letaknya
berada di kaki gunung Halimun.
Mereka menggunakan kereta milik Sri Murti yang berada di rumah tetirahan itu. Sukma Harum bersama Namban berada di dalam kereta itu untuk menjaga Reksa yang masih belum pulih keadaannya. Setiap saat Sukma Harum memberinya saluran tenaga dan menyuapinya dengan obat dan bubur. Yang lain mengawal kereta itu dari luar.
Hujan turun sangat lebat siang itu. Petir menggelegar dan angin bertiup kencang. Di dalam kereta Sukma Harum
berdoa semoga adiknya tidak menghadapi badai di lautan sana. Perjalanan akhirnya menjadi agak tersendat karena hujan dan badai yang sangat deras. Kadang-kadang mereka harus beristirahat dan berteduh di beberapa tempat.
Setelah menempuh perjalanan selama 3 hari lebih, akhirnya tampak juga padepokan Rajawali Sakti dari jauh.
Bangunannya besar-besar dan terlihat sangat luas karena dari kejauhan terlihat tembok putih yang mengelilingi seluruh wilayah padepokan itu.
“Besar sekali padepokan kalian, tuan Namban,” tukas Sukma Harum.
“Ya. Anggota kami sudah hampir 3 ribu orang.”
“Hebat sekali. Jumlahnya bahkan sudah bisa djadikan pasukan perang.”
Namban tidak menjawab. Rasa bangga terlihat benar pada raut wajahnya. Sukma Harum melanjutkan, “Dalam dunia persilatan, tetua mahaguru bhiksu Mangkara Dharma adalah yang paling hebat dan paling sakti. Ilmunya sudah tiada tandingan lagi. Ingin sekali aku berjumpa dengan beliau.”
“Beliau mahaguru telah mengundurkan diri dari perguruan sudah sejak lama. Beliau mengasingkan diri dan
bertapa moksa.”
“Ah begitukah? Sungguh bijaksana sekali yang beliau lakukan. Untuk tingkatan seperti beliau mahaguru, dunia dan
segala isinya ini hanyalah debu pada kaki beliau,” Sukma Harum melanjutkan lagi, “Yang kami dengar di dunia persilatan, saat ini ketua Padepokan Rajawali Sakti adalah tetua Aji Satya. Sejak dahulu sepak terjang beliau memang sangat gagah!”
“Ya. Kami ketujuh Pendekar Pedang Rajawali adalah murid langsung dari beliau,” kata Namban.
Ada sakit hati di dalam ucapannya, karena raut wajahnya terlihat muram sekali. Seumur hidup ia belajar
pedang, namun hanya dengan satu kali gerakan seluruh ilmu itu tidak ada artinya.
Sukma Harum mengerti perasaan lelaki di hadapannya itu, ia hanya berkata, “Tidak banyak orang yang sanggup
menghadapi jurus barisan pedang rajawali.”
“Tapi tuan sanggup,” ia mengucapkan kalimat itu dengan perasaan bercampur aduk. Marah, sedih, kecewa,
bahkan kagum.
“Itu karena guruku pernah mengajarkan jurus untuk mematahkan jurus barisan pedang rajawali.”
“Apa? Katakan siapa gurumu!” hampir melonjak Namban mendengar hal ini. Karena jurus barisan pedang rajawali
adalah sebuah ilmu khusus yang hanya diturunkan kepada murid-murid Padepokan Rajawali Sakti, dan untuk dapat mematahkannya, seseorang harus benar-benar menguasai jurus itu.
“Maaf. Aku telah berjanji kepada guruku untuk merahasiakan namanya. Jadi aku tak dapat mengatakannya kepadamu.”
Merahasiakan nama guru atau nama perguruan adalah hal yang cukup umum dalam dunia persilatan. Banyak penyebab para pendekar melakukannya. Karena itu Namban tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya berkata, “Jika begitu, boleh dibilang kita masih ada hubungan saudara dalam persilatan!”
Ada perasaan lega di hati Namban.
Sukma Harum tidak peduli bahwa terkadang ia harus berbohong untuk sekedar menyenangkan hati orang yang sedang susah. Gurunya tidak pernah mengajarinya jurus barisan pedang rajawali. Tetapi gurunya mengajarkan ilmu sentilan jari yang tidak ada duanya yang mampu menghadapi senjata apapun di muka bumi ini.
Jadi apakah Sukma Harum berbohong?
Badai telah mereda. Hujan masih turun tipis-tipis. Senja perlahan mulai datang. Kabut mulai menyurut.
Pemandangan di kaki gunung Halimun sangat indah. Sawah berjejer beriring-iring. Pepohonan tumbuh subur. Rumah-rumah sekitar dibangun berbaris rapi. Nama besar dan keangkeran Padepokan Rajawali Sakti membuat kehidupan di sekitar perguruan itu menjadi lebih baik. Rasa aman dan ketentraman di daerah ini jauh lebih baik
daripada daerah manapun di Madangkara yang saat ini masih berkutat dengan perebuatan kekuasaan di dalam istana.
Suasana daerah ini mengingatkannya kepada suasana kampung halamannya sendiri. Pajajaran dengan segala kebesarannya telah mampu memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. Rasa haru memenuhi dadanya.
Mengapa seluruh manusia di kolong langit ini tidak mampu menikmati hal yang sama? Apakah karena Tuhan yang agung tidak mengkaruniakannya kepada setiap orang? Ataukah karena manusianya sendiri yang lalai menjaga karunia itu?
Ia menatap Reksa yang sampai saat ini masih belum pulih kesadarannya. Terkadang pemuda itu membuka matanya, namun kemudian kembali pingsan lagi. Luka-lukanya sangat berbahaya namun ia beruntung
luka itu tidak sampai merenggut nyawanya.
Saat Sukma Harum menyalurkan tenaganya, ia menjadi tahu bahwa pemuda ini cacat sejak kecil. Kaki kirinya
pincang, dan tangan kirinya juga kurang berfungsi dengan baik. Rupanya bagian kiri tubuh Reksa sudah lumpuh sejak lama.
Akhirnya sampai juga mereka di gerbang Padepokan Rajawali Sakti. Gerbangnya sangat besar namun terkesan
sederhana. Tembok pagar yang berwana putih berdiri kokoh menutupi apa yang ada di baliknya. Tembok ini panjangnya sampai ke ujung pandangannya. Luas sekali daerah milik perguruan ini. Ada hampir 3 ribu orang di dalamnya. Tinggal di sana untuk memperdalam ilmu silat dan kanuragan, juga ilmu agama Buddha.
Rombongan diperbolehkan masuk. Ringkan, sebagai pemimpin rombongan, menjelaskan segala kejadian kepada ketua perguruan itu. Mendengar hal ini, segera mereka diperintahkan membawa tubuh Reksa Bauweda yang masih belum sadarkan diri itu untuk dibawa ke ruang perawatan dan dijaga dengan sangat ketat.
Ketua perguruan ini yang sekarang adalah seorang bhiksu bernama Aji Satya yang berumur sekitar 65 tahun. Beliau adalah cucu murid dari pendiri Padepokan Rajawali Sakti, mahaguru Mangkara Dharma. Sekarang Sukma Harum berdiri di hadapannya. Ketua itu duduk bersila di atas sebuah panggung kecil di ujung ruangan.
“Sukma Harum yang terkenal…..,” suara bhiksu Aji Satya pelan namun terdngar sangat jelas.
__ADS_1
“Tidak berani,” kata Sukma Harum sambil mengangkat tangan dan menjura.
“Sudah sering hamba mendengar kegagahan tuan bertindak. Betapa tinggi ilmu dan pemahaman. Lurus kata seiring perbuatan. Bermacam puji menghias nama. Kini bertemu langsung sosok dalam cerita,
hati ini tiada kecewa.”
Mendengar tutur bahasa bhiksu Aji Satya, Sukma Harum menjadi sungkan sendiri. Gaya bahasa ini adalah gaya lama yang meskipun masih banyak digunakan, tetapi memerlukan pengetahuan dan kebiasaan tersendiri untuk dapat mengucapkannya dengan luwes. Tetapi ia hanya tersenyum dan merendahkan pandangan. Lalu berkata, “Apa pula arti puja dan puji jika ternyata semua hanya kefanaan? Cerita hanya ujar kekosongan yang hamba
sendiri tidak dapat percaya mendengarnya. Harap bhiksu yang agung memaafkan jika ada ketidaksesuaian pandang.”
“Ah, angkatan muda yang kenal cara basa dan krama. Baik sekali. Hamba sungguh puas,” tukas bhiksu yang
janggutnya sudah sampai di dadanya itu. Lanjutnya, “Hamba mohon tuan sedia menetap di padepokan kecil ini barang beberapa hari. Biarlah hamba mendengar tutur cerita tuan tentang kehidupan tuan yang mengagumkan.”
Sukma Harum tersenyum, “Mana berani hamba menolak panuhun (permintaan) sang guru yang agung? Hanya hamba khawatir pabila menambah repot yang agung dan saudara-saudara sekalian.”
“Mana mungkin menambah repot? Justru kami yang malu kerana hidangan kami hanya rupa ijoan (sayur-sayuran).”
“Ah, malahan itu kadhemenan (kesukaan) hamba, wahai yang Agung,” tawa Sukma Harum.
“Begitu? Baiklah. Sudah pula hampir masuk waktu makan malam. Sudilah tuan makan dengan hamba.”
Makanan lalu diantarkan ke sana. Hanya berupa sayur-sayuran karena ajaran agama Buddha melarang bhiksu untuk memakan daging-dagingan. Rupanya ajaran ini diterapkan kepada seluruh murid
padepokan ini. Mereka semua hanya diperbolehkan memakan sayur-sayuran seumur hidup mereka. Sukma Harum menduga, hal ini memang ada hubungannya juga dengan latihan kanuragan yang mereka lalui. Ada pantangan tersendiri yang harus mereka hindari saat mempelajari ilmu khas Padepokan Rajawali Sakti.
“Apa kabar ayah dan bunda? Sehat sentausa semoga tercurah,” tanya sang bhiksu.
“Ah puji Tuhan, ramanda dan ibunda sehat tak kurang apa. Guru yang agung mengenal mereka pula?”
“Terakhir bersua ibunda tuan saat sang Ratu Ayu (sebutan untuk ibunya Sukma Harum) masih remaja. Malahan Ratu Ayu datang ke sini bertegur sapa,” kata sang bhiksu. Ada tawa getir tersirat di wajahnya. Melihat raut wajah
bhiksu itu dan mengetahui sepak terjang ibunya saat remaja dulu, Sukma Harum jadi paham bahwa mungkin dulu ibunya pernah datang dan bertarung di tempat ini. Ia hanya tertawa ewa lalu berkata, “Jaman remaja dahulu memang ibunda Ratu suka bertualang. Setelah menikah malah menjadi seperti bhiksuni. Mengabdi di rumah
dan menutup diri.”
Maksud kata-kata Sukma Harum ini adalah bahwa ibunya kini sudah sangat berbeda sepak terjangnya daripada saat masih remaja.
“Saat remaja, tiada seorang pun pungkiri bahwa Ratu Ayu adalah satria
pawestri (pendekar perempuan) nan jaya matra (tanpa lawan) di jamannya. Kujangnya maha digdaya. Jika dilesatkan, tak kenal luput. Ratu Ayu tentu menurunkan seluruh ilmunya atau barang satu dua jurus kepada tuan,” kata sang bhiksu.
Sukma Harum tahu maksud kata-kata ini. Tentu sang bhiksu sudah mendengar bahwa pembantaian di rumah putri Sri Murti dilakukan dengan senjata Kujang.
“Meskipun belajar seribu tahun pun, mustahil hamba menguasai ilmu Kujang Arka Kencana milik ibunda ratu,” kata
Sukma Harum penuh kesungguhan.
“Ada kah gerangan orang lain pun menguasai pula ilmu Kujang ini?”
“Setahu hamba yang cetak paham ilmu menyambit Kujang ini tidak diturunkan kepada orang luar. Ada pun jurus
Kujang milik yang pihak lain, hanya terbatas pada ilmu sabetan sahaja. Tiada satu yang diguna melempar atau menyambit.”
“Dan paragana diadili setimpal,” tambah Sukma Harum.
“Mengampuni lebih bijaksana. Namun semua merupakan hak yang kailangan (kehilangan). Melihat tindakannya yang begitu angkara, tentu sang kailangan cukup sulit mengampuni.”
Bhiksu itu bertutur kata halus dan lembut. Cara bicaranya sangat tenang, bahasanya indah. Tetapi Sukma Harum
merasa seolah ia dipojokkan dengan kalimat-kalimat bhiksu itu. Namun meskipun di hatinya merasa tidak enak, Sukma Harum bersikap tenang saja seolah-olah ia tidak memahami arah pembicaraan bhiksu ketua Padepokan Rajawali Sakti tersebut.
Malam itu mereka mengobrol sambil membicarakan keadaan dunia persilatan yang semakin lama semakin sengit
persaingannya. Kabar tentang kitab sakti di pantai selatan juga sempat menjadi bahan pembicaraan.
“Hamba khawatir, cerita tentang kitab ini hanyalah kabar kosong belaka. Ada maksud-maksud tersembunyi dibalik
berkumpulnya para pendekar berebutan kitab wasiat,” tukas Sukma Harum.
“Terkira apa maksud rahasia itu?" tanya sang bhiksu.
“Entah, yang maha agung. Tiada hamba berani berpikir. Tiada pula hamba bisa lakukan kejaba (kecuali) menyimpan khawatir dengan rapat-rapat.”
Bhiksu itu hanya tersenyum. Senyumnya sangat menenangkan.
Hidangan telah disantap. Perut Sukma Harum sudah kenyang. Sang bhiksu agung mengucapkan selamat istirahat dan memerintahkan salah satu murid untuk mengantarkan Sukma Harum beristirahat di bilik tamu. Lega juga hatinya setelah masuk kamar karena sejak tadi ia merasa mulutnya pegal karena terus berbahasa indah dengan bhiksu agung itu.
Dalam sebuah padepokan, apalagi yang maha besar seperti Padepokan Rajawali Sakti, selalu ada daerah tersendiri yang dikhusukan untuk para tamu. Biasanya daerah ini terpisah dari daerah utama perguruan. Tujuannya memang agar tamu tidak dapat menyaksikan latihan para murid perguruan. Hal seperti ini memang sudah biasa di dalam dunia persilatan karena orang luar sama sekali tidak diperbolehkan melihat latihan silat orang lain.
Kini Sukma Harum berada di sebuah jayengan (tempat menjamu tamu) yang cukup besar. Ada puluhan kamar-kamar yang diperuntukan untuk tamu. Ada kolam dengan cahaya lilin yang indah, ada pula saung (gazebo) tempat para tetamu bersantai menikmati pemandangan sambil bercengkerama dan menkmati kudapan.
Malam sudah semakin larut, Sukma Harum tidak tertarik untuk melakukan apa-apa. Ia hanya ingin tidur. Dari
seluruh hal yang paling disukainya, tidur berada di urutan nomer satu. Karena dengan tidur, ia dapat menenangkan pikiran dan mengumpulkan tenaga. Jika orang lain tidak bisa tidur karena banyak masalah, Sukma Harum justru semakin pulas.
***
Sudah dua hari ia berada di sana. Menikmati pemandangan yang indah, bercengkarama dengan para murid padepokan, serta menikmati makanan khas yang mereka sajikan. Semua orang di padepokan itu tahu siapa dia, dan beberapa orang ingin berkenalan lebih dekat. Sukma Harum menerima mereka dengan ramah dan hangat.
Yang namanya orang, ada yang bersikap sopan dan baik, ada pula yang agak sombong dan meremehkan. Biasanya karena tidak percaya dengan kehebatan Sukma Harum yang mereka dengar melalui
kabar angin.
“Aku dengar, tuan dapat menyentil senjata apapun dengan jari-jari tuan yang maha hebat,” tanya salah seorang
murid yang sendirian datang. Rupanya ia melihat Sukma Harum sedang duduk santai sendirian di sana sehingga ia menganggap inilah kesempatan baik untuknya menanyakan hal-hal yang membuatnya penasaran.
“Aku malah belum mendengar hal seperti itu,” jawab Sukma Harum sambil tersenyum masam.
__ADS_1
“Boleh ku coba?” pedangnya tersoren di pinggang. Tangannya sudah gatal mencabut pedang. Begitu Sukma Harum mengatakan “Silahkan!”, dengan cepat tangannya sudah bergerakmencabut pedang itu.
Tetapi alangkah kagetnya ia ketika ternyata pedang itu sudah menghilang sebelum ia memegang gagangnya. Entah
bagaimana caranya, pedang itu sudah berada ke tangan Sukma Harum. “Bagus juga pedangmu? Buatan mpu sekitar sini?” tanya Sukma Harum sambil melihat dan mengamati pedang itu.
Murid padepokan itu gemetaran. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia bahkan tidak pernah sempat menggunakan pedang itu untuk menyerang. Sukma Harum berada 2 tombak darinya, bagaimana cara pendekar tersohor itu bergerak dan merebut pedangnya, ia tidak pernah mungkin dapat menjawabnya.
Dengan satu lemparan ringan, pedang itu sudah masuk kembali ke dalam sarungnya di pinggang si murid
padepokan. Matanya masih terbelalak tidak pernah bisa pulih dari goncangan jiwanya.
“Jangan sembarang mencabut pedang. Pergilah,” tukas Sukma Harum sambil kembali menenggak secawan teh sore. Murid itu pergi tunggang langgang tanpa berani menoleh. Bahkan mengucapkan sepatah kata saja ia sudah tidak sempat.
Kesombongan harus dihadapi dengan kesombongan. Mungkin karena goncangan jiwa ini, lelaki itu dapat merubah
sikapnya yang angkuh. Sukma Harum selalu percaya hal itu.
Tak berapa lama, seseorang datang menemuinya. “Tuan, guru agung memanggil tuan untuk segera bertemu. Pangeran Reksa sudah sadar.”
Senang sekali ia mendengar kabar itu. Bergegas ia mengikuti orang itu yang mengantarkannya ke ruang perawatan. Di sana para petinggi Padepokan Rajawali Sakti sudah berkumpul. Wajah mereka sungguh muram. Ketika Sukma Harum masuk kamar, mereka semua memandangnya dengan pandangan yang sangat menghujam.
“Itu dia pembunuhnya! Itu diaaaa!”
Ini adalah suara pangeran Reksa. Ia tidak gila, tidak pula sedang berkhayal. Ia ingat betul bahwa lelaki yang
baru saja masuk ini adalah orang yang membantai kakak perempuannya dan seluruh penghuni di dalam rumah itu.
Sukma Harum terhenyak. Begitu kaget mendengar kejutan yang mengherankan ini. Tak terasa ia telah terkepung.
Para murid-murid telah berjaga-jaga di luar ruangan. Para tetua kini mengelilinginya.
Bhiksu Aji Satya, sang ketua Padepokan Rajawali Sakti menatapnya. Ada pandangan yang menusuk denga sangat dalam. Tetapi suaranya masih tetap tenang.
“Sekarang semua sudah jelas, tuan Rakantara Gandakusuma,” ia menyebut nama asli Sukma Harum.
Otak Sukma Harum bekerja dengan sangat cepat. Ia memiliki berbagai macam dugaan kemungkinan atas apa yang telah berlaku di dalam seluruh kejadian ini. Salah satunya adalah bahwa seseorang yang menyaru sebagai dirinya, datang ke rumah itu, lalu membantai semua orang. Itulah kenapa mereka semua seperti tidak sempat melawan karena mereka mengira pembunuh itu adalah Sukma Harum.
Sukma Harum kini paham. Itulah alasan mengapa pembunuh itu sengaja meninggalkan Kujang di sana. Dan yang
paling penting, itulah kenapa pembunuh itu sengaja membiarkan pangeran Reksa tetap hidup. Agar dapat menceritakan apa yang ia lihat.
Seorang Sukma Harum palsu!
“Tangkap diaaaa!” perintah salah seorang tetua.
Para murid bergerak. Tapi gerakan mereka terhenti. Karena mereka melihat di tangan Sukma Harum terdapat sebuah Kujang. Bentuknya sangat indah, berwarna campuran keemasan dan keperakan yang berkilau dengan indah. Kujang Arka Kencana namanya.
Kujang itu berputar-putar di antara jemari Sukma Harum memantulkan cahaya yang cukup menyilaukan.
Tidak ada seorang pun yang berani bergerak dan bersuara. Karena seluruh orang di sana telah mengetahui, jika
Kujang itu disambitkan, maka Kujang itu tidak pernah mengecewakan pemiliknya.
“Ia hanya punya satu Kujang! Mari serang bersama-sama!”
Seruan itu dirasa sangat masuk akal. Tetapi tetap saja tak ada seorang pun yang berani bergerak lebuh dulu.
Karena siapa yang bergerak duluan, maka ia pula yang akan mati duluan.
Sukma Harum berdiri dengan tegap. Tidak ada ketegangan pada tubuhnya. Terasa tenang dan santai. Jemarinya masih memutar-mutar Kujang Arka Kencana. Cahaya dari kujang itu masih menyilaukan. Selama cahaya itu masih berpendar, maka tak seorang pun yang bahkan berani menggerakkan ujung jarinya.
Bahkan sepertinya bernafas pun mereka tidak berani.
Kisah tentang Kujang Arka Kencana telah tersohor sejak puluhan tahun yang lalu. Ketika itu pemiliknya masih
merupakan seorang gadis cantik yang dijuluki Satria Ayu Jayantara yang berarti pendekar wanita tanpa tanding. Karena Kujangnya tidak pernah mengecewakannya.
Kini Satria Ayu Jayantara telah memiliki anak kesayangan yang tampan rupawan dan sakti mandraguna. Bahkan
namanya lebih tersohor ketimbang ibundanya.
Siapa pula yang berani mengadu nasib dengan mencoba bergerak lebih dahulu?
Bahkan seorang ketua Padepokan Rajawali Sakti yang konon menempati urutan ke 5 sebagai orang paling sakti ilmu silat dan kanuragannya di seluruh Nusantara pun masih belum bergerak. Karena cahaya keemasan masih berpendar-pendar.
Yang ada hanya kesunyian.
Kau mungkin malah dapat mendengar suara jantung setiap orang jika kau pun berada di sana.
Braaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!!
Atap ruangan itu jebol!
Sukma Harum telah melayang dan lolos keluar melalui atap.
Dalam dunia persilatan, tidak ada seorang pun yang dapat mengukur ketinggian ilmu silat dan kanuragan pandekar
tampan itu, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat meletakkannya di urutan ke berapa dalam daftar orang yang paling tinggi ilmu silatnya di jaman itu.
Tetapi satu hal yang pasti, semua orang sudah memahami setinggi apa ilmu meringankan tubuhnya. Dan mereka juga sudah mengetahui di urutan ke berapa ilmu meringankan tubuhnya itu. Tentu saja di urutan teratas!
Maka amat sulit mengejarnya karena hanya para tetua yang mampu membayanginya dari belakang. Selain itu,
murid-murid yang lain tertinggal jauh di belakang. Apalagi cahaya keemasan itu masih bependar!
Bersinar dengan indah di sore hari, terpancar dari jemari tangannya yang tanpa tandingan!
Sukma Harum sudah tahu harus ke mana. Selama dua hari ini meskipun terlihat santai dan menikmati hidup di jayengan (tempat menerima tamu), ia telah memperhatikan dan mengahafal seluruh seluk beluk daerah itu. Ia pun tahu, ada sebuah daerah kecil di mana tak seorang pun murid-murid padepokan itu berani mendatanginya.
__ADS_1
Ada sebuah bangunan di sana.
Kesana lah tujuannya!