Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 36: Gagasan Kedua


__ADS_3

Setelah kereta Siwa Baruna menghilang dalam kegelapan, barulah Antasena membuka suara. “Gila betul. Kau mengalahkannya hanya dalam 3 jurus!”


Raka menghela nafas, “Untunglah. Itu adalah jurus terakhir. Jika jurus itu gagal, entah aku harus menggunakan jurus apa.”


“Jika sedahsyat itu versi jurus pedangnya, aku yakin versi telapaknya akan jauh lebih dahsyat lagi. Cocok bagiku!” Antasena memang dikenal sebagai pendekar tangan kosong berjulukan si Tangan Halilintar.


“Jurus Pedang Hati Suci milik raden Siwa Baruna tadi amat sangat dahsyat. Aku pernah mendengar bahwa jurus pedangnya pun berasal dari Tiongkok.”


“Para pendekar negeri Tiongkok memang hebat-hebat ya. Ilmu ciptaan mereka terasa dahsyat sekali,” tukas Antasena.


“Menurutku sama saja. Para pendekar Nusantara pun tak kalah hebatnya menciptakan ilmu. Juga, para pendekar Tiongkok datang kemari kan adalah karena mereka ingin menguji kehebatan para pendekar Nusantara. Jika bukan karena nama-nama dan ilmu para pendekar Nusantara yang tenar di Tiongkok, tidak mungkin para pendekar Tiongkok mau berkelana sampai kemari,” kata Sukma Harum.


“Betul juga. Ditambah lagi daerah Nusantara dulunya merupakan pusat agama Buddha sehingga para pendekar dari seluruh dunia datang kemari untuk memperdalam agama mereka.”


“Benar. Jangan lupa Nusantara pun merupakan daerah jalur perdagangan yang dilewati orang seluruh dunia. Ingin rasanya aku bergabung dengan Oey Kim Seng. Berkelana keliling dunia untuk berdagang.”


“Ngomog-ngomong tadi kau bercerita tentang gagasan pertama. Apakah kau memiliki gagasan kedua?” tanya Antasena.


Raka mengangguk. “Gagasan kedua adalah Reksa Bauweda adalah pelakunya.”


“Adik dari sang putri Kaloka!”


“Ya. Kabarnya dia adalah orang yang cerdas sekali. Kabarnya ia pun memahami ilmu silat, meskipun badannya lumpuh sebelah.”


“Apa sebab ia melakukan ini semua?”


“Tentu saja untuk menguasai harta itu. Ia tahu ia adalah seorang yang cacat. Ia tak akan bisa menjadi raja Kaloka. Ia membunuh kakaknya sendiri, lalu memfitnah aku sebagai pelakunya.”


“Kenapa ia memfitnahmu sebagai pelakunya?”


“Harus ada kambing hitam bukan?” tukas Raka.


“Aku mengerti. Tetapi mengapa kau yang harus menjadi kambing hitamnya?”


“Cukup lama aku memikirkan hal ini. Pada awalnya aku mengira karena mungkin aku adalah satu-satunya orang yang mampu melakukan ini semua, sehingga Reksa benar-benar melakukan ini agar aku yang menjadi tertuduh.”


Lanjut Raka, “Tetapi kemungkinan ini agak tidak masuk akal. Karena jika Reksa telah berhasil membunuh semua orang dan menguasai hartanya, ia cukup melakukannya diam-diam saja. Tak ada orang yang akan mencurigainya.”


“Betul. Jika ia melakukannya diam-diam, semua peristiwa ini tak akan terjadi, dan dia dapat menghilang dengan seluruh hartanya.”


“Nah, berarti ada alasan lain kenapa ia ‘melibatkan’ aku. Kemungkinan kedua, mungkin adalah karena ia dendam padaku. Dengan memfitnahku, orang-orang dunia persilatan akan mencariku dan membunuhku.”


“Tetapi ia punya dendam apa kepadamu?” tanya Antasena.


“Itulah. Kita sebelumnya tidak pernah bertemu dan sejauh yang kutahu, aku tidak pernah melakukan apa-apa terhadapnya,” jawab Raka.


“Mungkin kau membunuh seseorang yang dicintainya.”

__ADS_1


“Seingatku aku belum pernah membunuh perempuan.”


“Mungkin saja ia menyukai sesama jenis.”


“Lama-lama kupikir justru kau yang lebih gila daripada aku. Tetapi hal ini bisa saja masuk akal. Aku akan menyelidiki hal ini lebih dalam. Mungkin di masa lalu aku pernah membunuh kekasih sesama jenisnya. Atau paling tidak, mungkin aku pernah berkencan dengan kekasih perempuannya.”


“Hal ini yang paling masuk akal! Kau pasti pernah merebut kekasihnya!”


Raka termenung sejenak. Rupanya ia sedang memikirkan berbagai kemungkinan dan juga mengingat-ingat perempuan mana saja yang pernah ia kencani.


“Memang yang paling akal adalah Reksa menggunakan Bumbung Bratagini untuk membunuh orang. Ttapi satu hal yang membuat ia bisa terbebas dari dugaan ini adalah, mengapa Bumbung Bratagini berada di dalam kolam di markas Masayu Jenar?”


“Berarti ia memiliki orang suruhan!”


“Benar sekali. Ia tidak bekerja sendirian.”


“Apakah salah satu anak buah Renjani adalah kaki tangannya? Mungkin kekasihnya?”


“Atau bahkan Masaya Renjani sendiri adalah kekasihnya?” tukas Raka.


“Ya! Bisa jadi! Bisa jadi!”


“Tetapi kenapa Renjani menyembunyikan Bumbung Bratagini di dalam kolam? Hal ini masih tidak masuk akal. Bukankah lebih baik senjata itu disimpannya sendiri?”


“Hmmm, betul juga. Atau mungkin Renjani bukanlah kaki tangannya. Melainkan anak buahnya. Orang itu yang meletakkan Bumbung Bratagini di kolam untuk memfitnah Renjani,” gagas Antasena.


“Jadi siapa?”


“Kau ingat sosok yang diceritakan Maya? Sosok bertubuh tegap yang selalu mengenakkan jubah hitam?”


“Ya benar! Aku ingat dia! Jadi dia kaki tangannya?”


“Aku punya sedikit gagasan, tetapi aku akan mengujinya terlebih dahulu. Sekarang, aku ingin kau bercerita dulu tentang Candramawa.”


“Ah sial! Kau membuatku penasaran! Katakan siapa sosok jubah hitam itu sebenarnya! Kau pernah curiga kepada Candramawa makanya kau menyuruhku menguntitnya. Apakah dia benar Candramawa?”


“Masih belum pasti. Jika ternyata bukan dia orangnya, kan berarti aku membuat fitnah. Kau tahu kebiasanku. Aku harus membuktikan dulu pelakunya, baru aku bisa memberitahukan kepadamu.”


“Lah! Sejak tadi kau memberiku gagasan-gagasan, apa itu bukan memfitnah?”


“Aku memberimu gagasan-gagasan aku kita sama-sama mengujinya.”


“Nah sekarang beritahu aku siapa jubah hitam yang meletakkan senajta itu di dalam kolam. Biar sama-sama kita uji!”


“Untuk hal itu, tidak lagi bisa diuji secara mengobrol seperti ini. Harus diuji secara langsung. Sabarlah. Kau akan ku ajak mengujinya.”


“Baiklah. Sekarang dengar aku bercerita tentang Candramawa si Tombak Setan.”

__ADS_1


Raka mengangguk. Ia menuangkan tuak ke dalam cawan.


“Setelah menemukannya, aku menguntitnya dengan hati-hati. Amatlah sulit melakukannya karena ia punya naluri yang snagat tajam. Salah sedikit saja, aku bisa ketahuan.”


Justru itulah sebabnya ku minta kau menguntitnya. Kata Raka dalam hati. Ia tidak mau mengatakannya khawatir memotong cerita Antasena.


“Kau tahu apa yang dilakukannya setiap hari? Berlatih silat di dalam hutan sendirian. Karena menjaga aturan dunia persilatan, ketika ia latihan, aku tidak mau mengintip. Lama sekali ia berlatih setiap hari. Dari pagi sampai tengah malam. Berhenti hanya untuk makan. Pagi hari bangun, ya berlatih lagi sampai tidur. Begitu terus.”


“Kuhitang, 3 hari sekali ia pergi ke luar hutan. Mencari orang untuk dibunuh.”


“Hmm. Ganas betul.”


“Tetapi memang, sesuai kabar yang terdengar, orang-orang yang ia bunuh adalah mereka yang memang pantas mati.”


“Siapa saja mereka?”


“Sejauh pengintaianku, ada 4 orang. Sutalaksana, juragan rumah bordil yang ternyata menjual gadis-gadis di bawah umur untuk para hidung belang. Ki Janggawesi, pendekar dunia hitam yang kerjanya memeras para saudagar di daerah-daerah pantai. Lalu ada Kasmana, si pendekar hidung belang pemetik bunga. Kemana-mana kerjaannya memperdaya anak gadis dan menghamili mereka. Yang terakhir adalah seorang pejabat kerajaan yang diduga mencuri uang rakyat tapi tidak terbukti di pengadilan.”


“Selain latihan tombak dan membunuh orang, apa lagi yang dilakukannya sehari-hari?” tawa Raka.


“Jika tidak berlatih ia pergi memberi makan kucing hutan, macan, dan semacamnya!”


“Eh?”


“Kenapa?”


“Ini menjawab satu lagi gagasanku, tetapi mungkin hanya kebetulan saja,” kata Raka.


“Tentang apa?”


“Bahwa Candramawa adalah anak pertama dari keluarga Damara.”


“Yang hilang itu?”


“Iya. Aku tadi tidak bercerita bahwa ia hilang saat mencari kucingnya yang hilang.”


“Hah! Mana mungkin kebetulan. JIka kau bilang begitu, maka hampir bisa dipastikan bahwa Candramawa memang adalah anak yang hilang itu.”


“Hal ini memang masih perlu dibuktikan.”


 


Catatan Penulis:


Bab ini adalah bab terakhir yang ada di sini. Untuk selanjutnya cerita ini akan saya rilis dalam bentuk cetak. Untuk info lebih lanjut bisa hubungi lewat chat.


 

__ADS_1


 


__ADS_2