Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 32: Sukma Yang Harum


__ADS_3

Saat Raka kembali ke markas Renjani, dilihatnya wanita itu sedang mempersiapkan makanan untuknya.


“Masakanku tidak enak, tapi kuharap kau mau sedikit mencicipinya,” kata Renjani.


Seorang lelaki harus mengetahui, bahwa apabila seorang wanita memasak untukmu itu berarti ia menyukaimu.


“Asalkan tidak diracun, tentu saja aku akan menghabiskannya,” kata Sukma Harum sambil pura-pura memasang wajah begidik.


“Eh, sudah sedekat ini kau masih mencurigaiku,” kata Renjani sambil meletakkan mukanya tepat di depan wajah Raka. “Kalau aku mau, aku bisa membunuhmu tadi di ranjang.”


“Selama ini sudah banyak perempuan yang mencoba, sayangnya belum pernah berhasil,” kata Raka santai.


“Itu karena perempuannya bukan aku,” tukas si cantik molek.


“Sudah pasti karena lelakinya adalah aku,” ia tertawa sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Semakin besar rasa percaya diri seorang lelaki, maka semakin besar juga rasa kagum dan penasaran seorang wanita. Karena seperti kecantikan yang merupakan kekuatan terbaik perempuan, rasa percaya diri adalah kekuatan terbaik laki-laki.


Renjani mengerling dan tersenyum. Lalu ia berkata, “Memang ku akui kau adaah lelaki yang hebat.”


Renjani menyangka Sukma Harum akan balas memujinya, tetapi Raka hanya tersenyum dan menggodanya, “Cepat kau siapkan makanannya. Aku bisa mati lapar mendengar ocehanmu.”


Wanita butuh perhatian, ocehan, godaan, dan sedikit kebohongan. Dengan mencampurkan kesemua hal ini dalam takaran yang pas, dijamin seorang laki-laki tak akan kekurangan perempuan.


Dengan wajah memerah sambil pura pura membanting kaki, Renjani berkata, “Tadi aku sudah menemanimu tidur, sekarang aku menemanimu makan pula. Eh malah kini aku kena omelan. Kaum laki-laki memang tidak tahu berterima kasih.”


“Ya. Karena memang perempuan tidak membutuhkan ucapan terima kasih.”


“Lalu menurutmu kami membutuhkan apa?” tanya Renjani penasaran.


“Sebab senyuman hangat seorang lelaki adalah terima kasihnya. Pelukannya yang menenangkan adalah terima kasihnya. Peluhnya dalam menafkahi adalah terima kasihnya. Candaan-candaan lucu adalah terima kasihnya. Diamnya mendengar amarahmu adalah terima kasihnya. Sabarnya ia menghadapi manjamu pun adalah terima kasihnya. Kadang seorang lelaki memang tidak mengucapkannya, tetapi seluruh hidupnya sesungguhnya adalah rasa terima kasih yang dalam kepada perempuan.”


Mulut Renjani menganga. Selama ini belum pernah ia mendengar tutur kata sehalus dan sedalam ini. Ia menghela nafas lalu berkata, “Pantas saja seluruh perempuan di muka bumi ini tunduk kepadamu. Ternyata tidak hanya maha tampan, semua kata-katamu dapat merampas pergi sukma perempuan. Kini aku mengerti kenapa orang menjulukimu Sukma Harum.”


“Dan nama julukanmu masih tetap Tukang Tipu Nomer Satu Sedunia,” tukas Sukma Harum.


“Jadi itu berarti kau masih tidak mempercayaiku?”


“Aku memang tidak pernah mempercayai perempuan cantik,” kini tatapan mata Raka berubah. Menjadi lebih dalam. Seolah ingin menghambur masuk ke dalam jiwa Renjani.


“Kenapa?” tanya wanita itu sungguh-sungguh.


“Karena perempuan cantik hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia tidak pernah hidup untuk orang lain.”


“Salahkah kami?”


“Tidak pernah salah. Sebab perempuan cantik memang bukan untuk dipercaya, melainkan untuk dicintai.”


“Jadi kau mencintai aku…,” kalimat wanita ini bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan.


Mendengar ini, Sukma Harum tersenyum. Senyumnya pahit.


Sejauh ini ia hidup, sudah berapa perempuan yang bertekuk lutut di kakinya? Berapa macam kenikmatan yang telah direngkuhnya? Berapa banyak pula cinta yang sudah disia-siakannya?


Tetapi mengapa ia hidup begitu kesepian? Mengapa hatinya begitu tawar?


Ia benar-benar mengerti jawabannya. Hanya sebuah nama.


Nama yang mungkin akan terus menghantuinya seumur hidupnya.


Kata Raka, “Aku sendiri tidak tahu apakah aku masih memiliki perasaan atau tidak.”


“Apakah seseorang di masa lalu telah merampasnya darimu?” Renjani sebenarnya sudah tahu jawabannya. Bukan hanya karena ia telah menyelidiki hidup Raka dengan tuntas, melainkan juga semata-mata karena ia adalah seorang perempuan.


Seorang lelaki tidak akan dapat menutupi apapun dari perempuan.


Raka hanya tersenyum. Di depannya ada secangkir tuak. Ia menuangkannya dengan ringan dan meminumnya dengan sekali tenggak.


Apakah kepedihannya menghilang?


Sakit karena kehilangan cinta, sebenarnya dapat hilang begitu cepat dari hati seorang laki-laki. Tetapi penghinaan, rasa tidak berguna, serta perasaan tidak berharga, adalah luka yang pulihnya cukup lama.


Bahwa kehadiranmu selama ini hanyalah berupa masa lalu belaka, waktu yang kau habiskan bersamanya hanyalah angin yang bertiup di masa lampau.


Bahwa kau seolah-olah tidak pernah ada di dalam kehidupannya.


Luka inilah yang membekas sangat dalam.


Masayu Renjani manta piring. Semua makanan sudah terhidang. Ia duduk di hadapan Sukma Harum sambil menatap lelaki di depannya dengan dalam.

__ADS_1


“Orang seperti kau masih bisa patah hati.”


“Mungkin karena aku hanyalah seorang manusia biasa,” jawabnya enteng.


“Apakah kau tidak dapat melupakannya?” si cantik bertanya.


“Aku justru sudah melupakannya.”


“Lalu kenapa kau masih bersedih?”


“Siapa bilang aku bersedih?”


Renjani tertawa, katanya, “Di kolong langit ini, kau adalah lelaki paling dingin, namun sekaligus paling hangat yang pernah aku temui.”


“Seorang laki-laki memang harus tahu kapan menjadi dingin, dan kapan menjadi hangat. Dengan begitu ia dapat membuat perempuan tergila-gila padanya,” ia tersenyum jenaka.


Renjani menatapnya dengan gemas. Pipinya memerah, matanya menjadi sayu. Apabila seorang perempuan ingin menerkammu, maka wajahnya akan berubah menjadi seperti ini.


“Makan yang banyak. Setelah ini aku akan menelanjangimu dan menelanmu bulat-bulat,” bisik Renjani nakal.


“Sepertinya tidak bisa,” kata Raka sambil menghela nafas.


“Kenapa?”


“Sebentar lagi kau akan tahu sendiri.”


Tak berapa lama terdengar kentongan tanda bahaya.


Tong! Tong! Tong!


“Musuh menyerang!”


“Musuh menyerang!”


Terdengar teriakan para anak buah Renjani yang seluruhnya perempuan. Masayu Renjani bergerak cepat. Menyambar jubah dan pedangnya yang tergantung di dinding lalu segera melesat keluar.


Saat ia berada di luar, di lihatnya Sukma Harum sudah berada di depan gerbang sana, padahal tadi Renjani yang bergerak duluan dan pendekar tampan itu diam saja.


Anak buahnya sudah berada di tempat masing-masing. Semua dalam keadaan siaga siap tempur. Dari kejauhan terlihat ratusan orang datang mengepung.


Kini Renjani sudah berdiri di sebelah Sukma Harum. Ia bertanya, “Mengapa mereka menyerang?”


Renjani mengerti. Sukma Harum adalah buronan dunia persilatan, buronan kerajaan pula. Di tangannya terdapat hartu karun kerajaan Kaloka.


Sekali lompat Sukma Harum sudah melewati gerbang markas yang telah ditutup. Renjani pun mengikutinya. Lucunya, walaupun Renjani telat bergerak, ia malah medarat duluan. Sedangkan tubuh Sukma Harum melayang turun perlahan dengan sangat anggun. Seperti dewi cantik yang baru turun dari khayangan.


“Sukma Harum!” bentak salah seorang yang rupanya menjadi pemimpin penyerangan itu. “Hari ini kau harus ikut kami!”


Sukam Harum tertawa. Katanya, “Kalian dapat mencoba memaksaku.”


“Kami semua tidak takut dengan kujangmu. Kami semua sudah sepakat untuk maju bersama!”


“Jika kalian menyerangnya, kalian akan berhadapan dengan ular-ular peliharaanku!” teriak Renjani. Raka kemudian menyentuh tangannya dan menggelang, memberi tanda bahwa wanita cantik itu tidak perlu turut campur dalam urusannya. Bisiknya, “Masuklah ke dalam dan atur pasukanmu. Orang-orang ini sudah nekat dan gelap mata.”


Renjani mengangguk dan segera melayang kembali ke balik gerbang. Dari sana ia mulai mengatur pasukannya.


Raka lalu berkata kepada para pengepungnya, “Memangnya jika kalian dapat menangkapku, kalian akan membawaku ke mana?”


“Kami tahu bahwa di dalam markas ini ada jalan rahasia keluar. Dan kau, harus menyerahkan hartu karun kerajaan Kaloka kepada kami!”


Jadi orang-orang ini bersatu ingin menangkapnya, menjebol markas Renjani, lalu memaksanya menyerahkan harta karun. Satu kali bergerak, tiga perbuatan terlaksana. Pintar juga.


“Sudah jangan banyak bicara ayo kita serang dia!”


“Serang!”


“Serang!”


Terdegar teriakan penuh semangat berapi-api!


“Ingat jangan bunuh dia. Cukup buat dia cacat. Nanti kita siksa dia agar memberitahu tempatnya ia menyembunyikan harta karun!”


Raka sudah meghitung. Seluruhnya ada 386 orang. Semuanya adalah penjahat-penjahat berilmu silat tinggi. Mereka semua pun sudah bersenjata lengkap.


Kali ini tidak ada kujang kepercayaannya.


Tapi ia punya satu hal.


Dengan sekali gerak, Raka sudah memetik sebuah ranting pohon yang berada di sebelahnya.

__ADS_1


“Majulah kalian semua,” nadanya begitu halus seperti mengajak mereka menikmati hidangan yang nikmat.


“Seraaaaaaaang!”


“Serbuuuuuuuuuuu!”


Dua ratus tiga puluh enam orang!


Semuanya bersenjata lengkap, semuanya merupakan penjahat berilmu silat tinggi!


Raka melangkah.


Kakinya bergerak dengan tegap dan berat. Ini adalah kuda-kuda pembukaan dari sebuah ilmu pedang yang sangat dahsyat.


Pedang Penakluk Naga.


Terbayang tulisan di tembok goa,


“Jurus ini kudapatkan dari seorang pendekar Tiongkok. Merupakan jurus pedang yang digubah dari Jurus Telapak yang maha dahsyat. Seluruhnya berjumlah 18 jurus, yang sebenarnya merupakan ringkasan dari 28 jurus. Aku meringkasnya menjadi 9 jurus.”


“JIka jurus aslinya mengutamakan kekuatan dan ketegasan, maka jurus pedangku mengutamakan kelembutan dan keluwesan. Rasakan irama lawan, ketukan mereka. Seperti musik yang mengalun.”


Sukma Harum menutup matanya.


Yang terbayang adalah goresan-goresan orang bermain pedang yang terlukis di tembok goa.


Musuh mengepung dari segala penjuru!


Jurus pertama.


Dalam sekali langkah, Raka telah memotong langkah penyerang. Memotong “irama” serangan mereka. Karena apapun di dunia ini memiliki irama, maka Raka dengan mudah menangkap getaran irama itu. Langkah kaki lawan, penempatan waktu mereka saat melayangkan serangan, semua dapat dirasakan Raka saat ia menutup matanya.


Langkahnya panjang, berupa satu lompatan. Tetapi satu lompatan saja sudah cukup untuk membawa Raka ke letak yang paling menguntungkan ketika ia dapat menyerang sebagian lawan, dan mereka tidak dapat menyerang dirinya. Juga gerakan ini membuat lawan mengikuti gerakannya untuk menguber dirinya, sehingga serangan-serangan mereka sendiri bertabrakan.


“Naga Menggerung Menggoyang Ekor!” Raka meneriakkan nama jurus pertama ini. Konon katanya jika diteriakkan, kekuatan dan kedahsyatan jurus ini akan semakin lebih meningkat.


Saat gerakan musuh kocar-kacir menghantam sesama sendiri, ranting yang berada di tangan Raka bergerak dengan sangat cepat! Menghujam titik-titik darah beberapa penyerang di garis depan. Menjatuhkan senjata-senjata mereka. Dengan satu kali sapuan kaki, pedang-pedang yang berjatuhan itu semuanya melayang ke balik gerbang markas!


Raka bergerak masuk menyusup ke dalam kepungan! Pedang, golok, dan tombak menghujaninya!


Jurus kedua.


“Naga Terbang Di atas Ladang!”


Ia seperti melayang menyelinap di antara kaki-kaki para penyerangnya. Begitu cepat dan licin sehingga bacokan mereka terkena satu sama lain!


Raka menjejak kaki di tanah lalu melayangkan lagi serangan rantingnya, kembali senjata berjatuhan dan ia menyepaknya sehingga melayang ke balik gerbang. Para penyerang jatuh mengaduh. Tidak mengerti apakah mereka diserang manusia atau setan alas.


Jurus ketiga.


“Sepasang Naga Bertempur di Alam Liar!”


Entah bagaimana tahu-tahu Raka seperti terbelah menjadi dua! Orang tak dapat lagi membedakan mana dirinya dan mana bayangannya! Kedua bayangan itu bergerak seperti tak beraturan saling menyerang dan saling bertarung.


Dalam kenyataannya, Raka bergerak begitu cepat sehingga pandangan mata manusia tidak dapat lagi mengangkapnya, tahu-tahu puluhan orang terlempar karena dada mereka telah tertotol ranting pohon!


Dalam 3 jurus, Raka telah melumpuhkan tiga ratus delapan puluh enam orang penjahat berilmu tinggi!


Tiada seorang pun yang percaya jika kelak kisah ini diceritakan kepada mereka.


Tetapi Renjani melihat dengan mata kepala sendiri dari atas pagar gerbang.


Anak-anak buahnya pun melihat kejadian ini.


Para penjahat ratusan orang pun mengalami kejadian ini.


Sukma Harum berdiri sendirian di tengah padang rumput.


Para penyerangnya jatuh terkulai tak berdaya.


Angin bertiup menghembuskan sebuah aroma wangi yang sangat khas.


Konon katanya, jika Sukma Harum bertarung, keringat yang keluar dari tubuhnya beraroma wangi dan akan memenuhi tempat pertarungannya.


Kabar itu bukanlah lagi kabar burung.


Memang ada sebagian orang yang terlahir dengan kelebihan seperti ini. Mereka selalu cantik, selalu tampan, selalu bersih, selalu wangi, dalam keadaan dan suasana apapun. Tubuh mereka, kelenjar-kelenjar mereka, organ tubuh mereka seperti tercipta dengan berbeda.


Sukma Harum tersenyum. Katanya, “Kalian pergilah daripada kalian dipatuk ular betina!”

__ADS_1


__ADS_2