
Sekali lompat Sukma Harum sudah melewati gerbang dan mendarat di daerah markas Masayu Renjani. Gadis itu menatap Sukma Harum dengan enuh kekaguman sambil berkata, “Kau mengalahkan 300 orang lebih pendekar dunia hitam hanya dengan 3 jurus….,”
“Marilah masuk ke markasmu, ada hal yang ingin kubicarakan,” ia berjalan tanpa menoleh. Tangannya dilipatkan ke belakang. Ia melangkah sambil menundukkan kepala. Jika Raka sedang memikirkan sesuatu, beginilah cara berjalannya.
Renjani manut saja dan mengekornya dari belakang. Rasa hatinya semakin tertarik dengan lelaki yang sedang berjalan d depannya ini. Gerak-geriknya halus namun sanggup mengalahkan ratusan orang yang gagah dan kasar.
Raka berjalan masuk sampai ke dalam kamar milik Renjani. Meskipun markas ini hanya didirikan dengan kayu-kayu, tapi kesemuanya merupakan kayu pilihan yang kokoh dan indah. Belasan hari yang lalu tempat ini sudah rata dengan tanah, tetapi dengan amat cepat Renjani membangunnya kembali.
Entah bagaimana caranya!
Raka menutup pintu ketika Renjani sudah masuk ke dalam kamar.
“Baru kusadari ternyata kau memang wangi sekali. Apakah benar legenda itu? Ada sebagian orang yang terlahir sebagai ‘Pawakan Kembang’. Tubuhnya harus meskipun berkeringat dan berpeluh,” tukas Renjani.
Raka duduk di atas sebuah kursi mewah dan menuangkan tuak ke dalam cangkir. Ia menghirup sedikit aromanya sambil menenggak tuak itu. Di tangannya terdapat sebilah bambu kecil yang diputar-putarkannya dengan riang.
“Kau kenapa selalu takut ku racuni?” tanya Renjani halus.
“AKu hanya menikmati aromanya. Sama sekali tidak curga bakal kau racun.”
“Bagaimana jika memang ada racun di tuak itu?”
Raka hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan itu. Ia berkata, “Aku harus segera pulang. Tetapi ada satu hal yang ingin kubahas denganmu.”
“Tentang apa?”
“Tentang kakak seperguruanmu.”
“Bunga? Kau sudah mendapatkan kabar tentangnya.”
“Belum. Tetapi aku mempunyai sebuah gagasan.”
“Katakan padaku.”
“Di dalam seluruh kejadian ini, mau atau tidak mau, dibutuhkan seseorang yang memiliki kemampuan menyamar yang sangat hebat. Ia harus dapat menyamar menyerupai aku, bahkan menggunakan Kujang dengan cukup hebat.”
“Aku yakin kakakku dapat menyamar menyerupai dirimu. Tapi aku yakin pula ia tidak dapat meniru kemampuan silatmu. Silatnya tidak begitu tinggi. Tetapi ia mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sangat lumayan. Bahkan setingkat di atasku.”
“Baik. Gagasan yang pertama adalah memang dia yang menyamar sebagai diriku di rumah di tengah hutan Mandeung. Dia lalu meracuni semua orang, lalu saat mereka semua tak berdaya, ia membunuh mereka.”
“Kemungkinan ini cukup masuk akal. Hanya saja, kakakku tidak pernah membunuh orang. Seumur hidupnya ia tidak pernah membunuh orang.”
“Apakah karena ada pengalaman masa lalu yang membuatnya bependirian sedemikian rupa untuk tidak membunuh orang?” tanya Sukma Harum.
“Ya. Ada cerita di masa lalunya yang membuatnya seperti itu. Aku berani jamin ia tidak akan membunuh orang,” tandas Renjani.
“Bagaimana jika ia diancam? Bahwa ia harus membunuh orang, jika tidak, malah ia sendiri yang akan dibunuh?”
“Bisa saja,” kata Renjani. “Tapi bagaimana cara ia meracuni mereka?”
“Orang yang mengancamnya bisa saja membuatkan racun itu untuknya.”
“Betul. Tapi aku masih tidak yakin ia yang melakukannya. Atas tujuan apa?”
“Ada orang yang ingin menguasai harta kerajaan Kaloka dan membasmi habis seluruh keluarga pemilik tahta itu,” jawab Raka.
__ADS_1
“Kenapa ia tidak membunuh saja mereka semua? Kenapa harus melakukan segala cara bertele-tele seperti ini?”
“Karena sang pelaku ingin menjadikan aku sebagai kambing hitamnya. Dan rencana ini sudah berjalan dengan sangat baik.”
“Kenapa ia ingin menjadikanmu sebagai kambing hitamnya?”
“Sebab ia mempunyai dendam pribadi denganku.”
“Kira-kira siapa?”
“Banyak sekali. Sampai aku tidak dapat menghitung. Kau adalah salah satunya.”
“Apa alasannya kau menuduhku?” ada sedikit kemarahan di matanya, tetapi senyumnya masih manis sekali.
“Karena aku menjebloskanmu ke tempat ini.”
“Kan aku sudah bilang, semua itu adalah bagian dari rencana besar membongkar persekongkolan penjahat yang ada di Lembah Iblis ini,: sanggah Renjani.
“Aku sudah bertemu dengan salah satu opas rahasia istana. Dan dia memastikan bahwa tidak ada tugas seperti itu, dan tidak ada kesatuan seperti pasukanmu. Semuanya hanya akal-akalanmu belaka.”
Renjani tertawa penuh rahasia. Ia tidak berkata apa-apa.
“Dan yang membuatmu sangat mencurigakan adalah orang yang paling menguntungkan selama ada aku di sini adalah kau,” senyum Raka. Tangannya masih memainkan bambu kecil itu.
“Hmm?”
“Saat aku pertama kali di sini, aku mengalahkan Tuan Agung Tanabasa dan markasnya hancur seluruhnya. Siapa yang paling diuntungkan dari kejadian itu? Kau. Karena kemudian kekuasaanmu di sini menjadi sangat besar, dan kau dapat menguasai markas yang letaknya sangat menguntungkan ini.”
Renjani masih tersenyum.
Sambung Raka, “Lalu dalam kedatangan kedua, aku mengalahkan ratusan pendekar yag menyerang kemari, dan melucuti semua senjata mereka. Siapa pula yang paling diuntungkan dengan kejadian ini? Lagi-lagi kau. Sekarang semua orang tahu bahwa kau memiliki aku yang selalu dapat kau andalkan. Dan juga kau mendapatkan berbagai macam senjata yang hebat-hebat. Bisa jadi satu dua dari senjata itu merupakan pusaka yang berharga.”
Kagum, heran, cinta, benci.
“Dalam pandanganmu, aku ini perempuan seperti apa?”
“Bagiku kau adalah seorang perempuan.”
“Itu saja?”
“Itu saja sudah cukup.”
“Kau membuat kekagumanku kepadamu berubah menjadi rasa muak,” kata Renjani sungguh-sungguh.
Sukma Harum tidak menanggapi. Ia tidak menghela nafas. Tidak pula memejamkan mata. Kata-kata yang baru didengarkannya hanyalah sebuah angin lalu.
Karena ia begitu memahami, bahwa cinta di hati perempuan dapat berubah menjadi benci dengan begitu cepat. Bahwa harapan mereka dapat segara berubah menjadi kekecewaan yang begitu dalam. Dalam hati perempuan, segala yang bertentangan hanya terpisahkan oleh sebuah garis yang amat tipis.
Dalam pandangan perempuan, lelaki kasar dan sering menyakiti mereka, dapat berubah menjadi laki-laki gagah yang sagat menarik.
Pula lelaki baik hati yang penuh perhatian dapat pula berubah menjadi laki-laki lemah yang tidak punya pendirian dan mudah ditaklukkan.
Tetapi Raka pun juga paham, segala pertentangan di dalam jiwa seorang perempuan, adalah hal yang membuat mereka menjadi sedemikian menarik. Karena tanpa perempuan, kehidupan di kolong langit ini akan menjadi begitu hambar dan membosankan.
“Jika kau menuduhku, kenapa tidak segera kau tangkap aku?” kata Renjani dengan sengit.
__ADS_1
“Aku tidak bilang kau adalah pelakunya. AKu hanya bilang bahwa hal ini hanyalah sebuah gagasan.”
“Gagasanmu menyakiti hatiku,” Renjani membanting kaki.
“Melihat hatimu tersakiti, malah membuat aku jauh lebih sakit,” kata Raka dengan sungguh-sungguh.
“Lalu kenapa kau mengatakan gagasan itu kepadaku?” tanya gadis molek itu.
“Setiap gagasan harus diuji,” tukas Sukma Harum dengan dingin.
“Dan apa hasil ujian itu?”
“Jelas kau bukan pelakunya.”
“Bagaimana bisa?”
“Kau tahu benda apa ini?” Raka menunjukkan babu kecil itu dan melemparnya kepada Renjani.
Gadis cantik itu memperhatikan bambu kecil itu dengan seksama. Lalu berkata, “Ada tuas kecil…,”
“Jangan ditekan.”
“Kenapa?” ada sedikit kaget dan penasaran di dalam suaranya.
“Sini kembalikan padaku,” pinta Raka.
Renjani melemparkannya kembali kepada Raka.
“Aku sudah dapat menduga benda apa itu,” tukas Renjani. “Itu pasti Bumbung Bratagini.”
“Benar sekali.”
“Kau mengujiku dengan benda ini?”
Raka hanya mengangguk. “Sejak tadi aku memainkannya di tanganku. Sama sekali tidak ada tanda-tanda takut atau khawatir di wajahmu. Sedikitpun tidak ada gelisah. Jika sebelumnya kau tahu benda apa ini, kau tentu akan sangat gelisah saat aku dengan ceroboh memainkan benda ini di tanganku.”
“Sekarang aku malah sangat gelisah. Bagaimana tadi jika tombolnya ku tekan?”
“Tadi moncongnya mengarah kepadaku, tentu saja aku bakal ******.”
“Kau begitu percaya kepadaku dengan memberikan benda itu padaku….,” suaranya menghalus.
“Ya. Karena jika kau pelakunya, benda ini tidak mungkin berada di dalam kolam. Tentu sudah kau simpan sebagai senjatamu yang paling berharga.”
“Kau menemukan benda itu di kolam belakang? Jika aku tahu, tentu sudah kuambil duluan! Tapi siapa kira-kira yang meletakkan benda mustika itu disana? Dan apa tujuannya?”
“Aku punya beberapa gagasan juga tentang itu, cuma belum bisa kuceritakan. Yang pasti sejak awal, aku memang tidak mencurigaimu. Tetapi segala gagasan dan kemungkinan yang ada memang harus dicoba. Jika setiap gagasan sudah diuji dan dicoba, maka gagasan yang paling terakhirlah yang merupakan kebenaran yang sejati.”
Renjani mengangguk mengerti. Katanya, “Apakah kau harus pergi sekarang?”
“Ya.”
Renjani menarik tali bajunya sendiri.
Hanya dalam sekali tarik seluruh bajunya sudah jatuh di lantai kayu yang halus.
__ADS_1