Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 6: Mahaguru


__ADS_3

“Kejar! Jangan sampai ia masuk ke Laladan Pawitra!” perintah bhiksu Aji Satya.


Tapi siapa pula yang dapat mengejar Sukma Harum. Jika semua orang di sana bertambah 5 kakinya pun, tidak


akan sanggup mengejarnya.


Cahaya emas dan perak silih berganti seolah keluar dari telapak tangan Sukma Harum. Kujang Arka Kencana


yang pernah menggetarkan dunia. Senjata yang tidak pernah mengecewakan pemiliknya.


Ia telah mencapai daerah itu. Laladan Pawitra berarti daerah suci. Ada tembok setinggi dada yang mengelilnginya. Di balik tembok ada taman kecil dan kolam yang dipenuhi bunga teratai yang indah. Bahkan ketika menginjak halamannya saja, terasa getaran aneh yang memenuhi dadanya.


Apa yang tersimpan di sini? Mengapa tiada seorang pun murid padepokan yang berani masuk kemari?


Di depannya terdapat parsada (istana/candi kecil) yang indah namun terlihat sederhana. Yang mengherankan bagi Sukma Harum adalah bahwa meskipun tidak ada seorang pun yang datang kemari, tempat ini terlihat bersih dan indah. Seperti ada orang yang merawatnya.


Ia pun mengambil kesimpulan, tentu ada orang di dalam parsada ini. Siapa orangnya? Ia sudah dapat menduga.


“Sampurasun (permisi)” ia mengetuk pintu parsada itu. Suaranya pelan, karena ia takut mengganggu siapa pun


yang berada di dalamnya. Karena tidak ada jawaban, ia memberanikan diri membuka pintu.


Cahaya sore menerangi bagian dalam parsada yang indah itu. Tidak ada apa-apa di dalamnya. Kecuali sebuah


meja kecil tepat di tengah ruangan. Tiada hiasan, tiada permadani yang indah. Di ujung ruangan, terlihat sesosok orang yang sangat tua sedang bersemedhi.


Sukma Harum menghentikan langkahnya. Ia tidak mau mengganggu ibadah atau latihan seseorang. Akhirnya ia


memilih berdiri mematung saja di dekat pintu. Ada rasa segan yang sangat besar melihat sosok orang yang tengah bertapa tersebut.


Di bagian depan sana, para murid dan tetua padepokan sudah mengepung seluruh daerah itu. Sukma Harum sudah tidak mungkin lolos lagi. Tetapi mereka memang hanya bisa mengepung dari luar, tiada seorang pun yang berani menginjakkan kaki melewati tembok pembatas. Bahkan mereka pun tidak berani buka suara. Rupanya daerah itu sangat sakral bagi mereka.


Ada kesunyian yang aneh di sana. Ratusan orang berkumpul mengepung daerah itu tetapi tidak ada satupun yang


berani bersuara. Sedikit demi sedikit jumlah pengepungnya semakin bertambah. Konon Padepokan Rajawali Sakti memiliki 3 ribu murid. Meskipun memang tidak semua berada di dalam padepokan.


Sukma Harum tidak mau ambil pusing. Ia tetap berdiri di depan pintu dan tidak masuk ke dalam ruangan.


“Masuk,” suara itu sangat pelan seperti orang berbisik. Nadanya berat namun halus. Sukma Harum melangkah masuk.


Orang yang tengah bersemedhi itu sudah membuka mata memandang dirinya. Pandangannya pun halus. Tetapi sorotnya seperti mampu menembus jiwa orang sampai ke dasar-dasarnya.


“Sampurasun, mahaguru yang agung. Hamba terpaksa harus melarikan diri kemari. Hamba bersalah,” kata Sukma Harum sambil menjura mengangkat tangan.


Orang tua itu mungkin usianya sudah berusia lebih dari 100 tahun. Ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan


kain putih yang tipis menutupi bagian bawah tubuhnya. Ia memandang Sukma Harum dari atas ke bawah. Mengamati pemuda itu dari luar sampai dalam.


“Dengan ilmu setinggi yang kau miliki, sepantasnya orang-orang di luar sana yang harusnya melarikan diri dari


engkau, anak muda.”


Sukma Harum hanya tersenyum masam. Orang tua itu melanjutkan, “Kau rela melanggar kesucian tempat ini dan

__ADS_1


semedhiku hanya karena kau tidak ingin membunuh orang?”


Sukma Harum tidak menjawab. Karena ia memang sudah tidak perlu menjawab apa-apa.


Orang tua itu kembali melanjutkan. “Bagus. Kau bukan orang yang kejam. Bukan pula orang munafik.” Ia


lalu tertawa, “Sebenarnya jika sudah sampai di sini, apa yang ingin ananda lakukan?”


Dalam kalimat terakhirnya, ia menggunakan kata ‘ananda’. Ini berarti ia telah menganggap pemuda ini sebagai


orang sendiri.


“Sesungguhnya hamba sendiri juga tidak tahu, yang agung,” senyum Sukma Harum. “Siapa tahu mereka bosan menunggu, lalu bubar-bubar sendiri.”


Sukma Harum mengerti bahwa tetua ini tidak suka berbasa-basi dengan bahasa indah, maka ia pun tidak menggunakan bahasa seperti itu.


Tetua itu tertawa mendengar perkataan anak muda di hadapannya. Katanya, “Sudah lama tiada orang datang


kemari. Kurasa langit mengirimkan ananda kemari adalah untuk menemaniku bermain catur selama beberapa hari.”


“Ah, sungguh hamba tidak berani menolak undangan yang agung, hanya saja hamba harus memecahkan peristiwa


pembunuhan yang menyangkut nama hamba.”


“Ananda dituduh membunuh orang?”


Sukma Harum mengangguk.


“Hamba mengerti, yang agung.”


“Tapi ananda masih juga datang kemari. Itu berarti ananda bukanlah pelaku pembunuhan itu.”


“Hamba sangat berharap para tetua dan murid-murid padepokan yang agung ini pun dapat berkesimpulan yang sama,” kata Sukma Harum.


Tetua itu diam sebentar. Lalu berkata, “Baik. Aku akan membantu ananda lolos dari sini. Tapi jika ananda


telah menyelesaikan tugas, mau kah ananda kembali mengunjungiku orang tua ini?”


“Jika tangan dan kaki hamba dipotong pun, hamba akan tetap datang merangkak kemari mengunjungi yang agung.”


“Bagus! Tapi maukah ananda melaksanakan satu tugas untukku?”


“Hamba dengar dan patuh!” Sukma Harum membungkukan badan dan menjura.


“Ada terdengar sebuah kitab tulisan bhiksu Kampala berada di laut selatan. Mau kah ananda menyelidiki siapa


penyebar berita itu?”


Sukma Harum mengangguk. Sejak semula ia sudah menduga ada yang tidak beres dengan berita itu. Ia lalu


bertanya, “Apakah sesungguhnya kitab seperti itu tidak pernah ada, yang agung?”


Tetua agung itu mengangguk. “Dari mana ananda tahu?”

__ADS_1


“Karena bhiksu Kampala telah mengangkat murid. Putra kesayangan Prabu Brama yang agung sendiri. Murid itu


mengikutinya sampai ke Tibet dan mempelajari ilmunya. Jika ia sudah memiliki murid, ia tidak lagi perlu menuliskan kitab.”


Tetua itu tersenyum dan mengangguk.


“Kau tahu siapa murid itu?”


Tentu saja Sukma Harum tahu. Murid itulah orang yang sedang berbicara dengannya saat ini. Ia hanya


mengangguk membenarkan, tanpa menjawab.


“Langkahmu ringan, tulangmu sempurna, wajahmu tampan. Ilmumu sangat tinggi. Aku rasa ananda tidak


membutuhkan petunjukku tentang ilmu silat dan kanuragan.”


“Bagaimana mungkin hamba berani mengunggulkan ilmu di hadapan yang agung?”


“Bagus. Kau tidak sombong. Bolehkah aku melihat Kujang yang terkenal itu?”


Sukma Harum mengangguk. Tahu-tahu di dalam genggamannya telah muncul sinar emas yang bercampur dengan keperakan. Kujang itu berputar-putar di sela jemarinya. Sinarnya berpendar membuat ruangannya menjadi terang benderang!


Sukma Harum maju ke depan. Sambil berjalan dengan lutut, ia menghanturkan Kujang itu ke depan. Tetua yang agung menerima dan melihat Kujang sakti itu. Ia mengamati dengan saksama penuh rasa kagum.


“Kujang Arka Kencana. Terbuat dari logam mulia emas dan perak. Padahal kedua logam tak cocok dijadikan


senjata. Yang membuat senjata ini hebat bukanlah bahannya ataupun bentuknya. Melainkan tangan orang yang memegangnya! Maukah ananda memperlihatkan kehebatannya kepadaku?”


Sukma Harum mengangguk. Lalu tahu-tahu Kujang itu melesat dari tangannya keluar jendela kiri. Cahaya emas


berkilau menerangi jalurnya yang memutar. Dalam sekejap Kujang itu telah kembali lagi, namun


kali ini masuk melalui jendela kanan.


Saat Sukma Harum menangkap Kujang itu, secepat itu cahaya emasnya menghilang dalam genggaman tanggannya.


Ketika ia membuka jemarinya, terlihat di ujung yang runcing Kujang itu terdepat sebuah anting-anting!


Anting itu milik salah seorang murid padepokan yang sedang berjaga-jaga di luar sana!


“Kujang yang tidak pernah mengecewakan pemiliknya,” tukas sang tetua agung. “Aku sangat puas. Di ujung


usiaku masih diperbolehkan melihat ilmu setinggi ini. Baik sekali,” ia tersenyum senang, namun sikapnya masih terihat begitu khidmat.


“Sudah melihat Kujang? Mohon segera bubar,” tukas sang mahaguru itu kepada murid-murid dan tetua di luar


sana.


“Kami dengar dan kami patuh!” jawab mereka sambil membubarkan diri.


Sukma Harum menjura dan berterima kasih.


Tetua lalu melanjutkan. “Maukah ananda kuajari cara bersiul?”

__ADS_1


__ADS_2