
Sukma Harum bersemedi di dalam kamarnya cukup lama. Mulai pagi sampai tengah hari menjelang. Ia menenangkan pikiran dan melemaskan semua otot-ototnya. Perasaannya tadi sudah plong saat mengobrol dengan Antasena. Sekarang tak ada lagi beban pada dirinya. Pikirannya sudah kosong, tenaganya sudah terkumpul. Ia benar-benar telah siap untuk bertarung.
Ia sengaja tidak sarapan pagi agar ia dapat mengumpulkan tenaga murni. Nampaknya Masayu Renjani pun mengetahui maksud Sukma Harum sehingga sedari tadi ia tidak mengganggu lelaki itu di dalam kamarnya. Namun begitu Sukma Harum keluar kamar, Masayu Renjani sudah menunggunya sambil duduk santai di atas sebuah permadani.
“Kau keluar juga. Kukira akan mengunci diri sepanjang hari di dalam kamar,” goda Renjani.
“Aku justru tidak mau keluar karena kutahu ada kau menunggu di sini,” kata Raka balas menggoda.
“Lalu kenapa kau keluar sekarang?”
“Aku takut jika aku tidak keluar, justru kau yang akan menerjang ke dalam,” Raka tertawa.
“Kalau kau tahu betapa banyak perempuan yang ingin menerjang masuk ke dalam kamarmu, tentu kau akan memilih tinggal di dalam sebuah benteng perang.”
“Jikalau ada anak perempuan merasa dirinya terlalu cantik mencoba menerjang kamarku, tentu akan kutendang pantatnya keluar jendela,” senyum Raka dengan tenang.
“Mengapa kau begitu jahat?” Renjani memicingkan matanya seolah marah kepada Raka.
“Terkadang semakin jahat seorang lelaki, semakin menarik ia di mata perempuan,” jawab Raka sungguh-sungguh.
“Aku ingin membantahmu, tapi kurasa cerocosmu itu ada benarnya.”
Sambil jalan, kini mereka sudah berada di taman halaman depan. Di sekitar sana banyak gadis-gadis setengah
telanjang yang sedang menikmati teduhnya pepohonan yang menahan sinar matahari yang terik.
Renjani menarik tangan Raka dan mengajaknya duduk di sebuah bangku kecil, agak menjauh dari para gadis yang
sedang berleha-leha di bawah pepohonan.
“Ada rahasia besar yang ingin kuceritakan kepadamu,” bisik Renjani.
Raka hanya mengangguk dan memandang wajah gadis cantik itu.
“Kutahu di dunia ini, kau adalah orang yang paling dapat menyimpan rahasia. Bahkan rahasia musuh-musuhmu,” tukas Renjani.
Raka tetap tidak menjawab. Ia paling tidak suka mendengarkan rahasia orang lain.
“Aku adalah anggota telik sandi kerajaan. Aku dikirim ke sini karena sebuah tugas.” kata Renjani setengah berbisik.
Raka hanya mendengarkan. Lanjut Renjani, “Dulu kesatuanku membuat rencana agar kau menangkapku. Agar kami memiliki alasan untuk memasukkanku ke dalam lembah ini. Agar orang tidak curiga.”
Lanjutnya, “Ada sebuah perkumpulan rahasia. Mereka adalah pembunuh-pembunuh kelas tinggi. Mereka
sanggup melakukan apa saja asal harganya cocok. Tentu harga yang mereka minta sangat tinggi. Apapun tugasnya, mereka selalu dapat melakukan dengan sempurna. Membunuh, mencuri, menculik, membuat kekacauan di dalam masyarakat. Konon katanya mereka sedang menyiapkan sebuah pergerakan yang sangat besar.”
“Sudah beberapa tahun aku di sini adalah untuk mencari jejak kelompok itu, karena menurut rahasia yang sempat
kami dapatkan, kelompok itu diatur dari sini. Dan Tuan Agung Tanabasa adalah ketuanya.”
“Siapakah dia sebenarnya?” tanya Raka.
“Dia adalah seorang bangsawan dari Andalas. Karena sering berbuat onar, keluarganya mengasingkannya. Dasar
punya kepintaran dan bakat yang besar, ia kemudian menjadi pendekar aliran hitam yang sangat ditakuti di Andalas. Tetapi ia adalah seorang pecatur ulung. Ia lebih suka bergerak dibalik bayang-bayang, mengerakkan bidak-bidak caturnya untuk memuaskan hawa nafsunya.”
“Lawan yang cukup berat,” tukas Raka.
“Dari seluruh lawan yang pernah kau hadapi, kurasa inilah lawan yang paling berat,” ujar Renjani.
“Eh? Memangnya kau tahu siapa saja lawan yang pernah aku hadapi?”
“Kami di kesatuan telik sandi kerajaan, sudah memilih keterangan yang lengkap tentangmu. Bahkan jumlah tahi
lalat di badanmu juga sudah kami ketahui.”
“Oh? Jadi gadis yang kemarin bercinta denganku itu adalah anak buah yang kau kirim untuk menghitung jumlah
tahi lalatku?” Raka berpura-pura melongo.
“Seorang pendekar yang menanggung permasalahan cukup berat, harus bisa melemaskan otot-ototnya. Agar dia dapat bekerja dan bergerak dengan sigap,” senyum Renjani sedikit nakal.
Sebenarnya Raka ingin menggoda Renjani dengan bertanya mengapa kesatuan telik sandi berisi perempuan-perempuan genit seperti ini. Tetapi ia segera menahan kata-katanya. Ia seketika itu menyadari bahwa demi negara, ada orang yang rela menjual harga dirinya.
Di saat itu ia merasa begitu tak berarti di hadapan gadis-gadis ini.
Air matanya ingin tumpah, tetapi ia malah tertawa masam, “Mungkin suatu saat aku harus bergabung dengan kesatuan telik sandi ini.”
Renjani tertawa. Tertawanya puas sekali.
Seperti orang tolol, Raka pun ikut tertawa.
“Eh? Kenapa kau ikut tertawa?” tanya Renjani.
“Aku baru saja menyadari kebodohanku. Ternyata kerajaan sejak dahulu sudah menjadikanku sebagai telik sandi mereka dengan menyuruhku menyelesaikan berbagai macam urusan.”
“Nah, akhirnya kau menyadari juga. Hahahaha.”
Jika suatu saat kau sedang berjalan dengan seseorang, lalu kau menginjak tahi kerbau yang besar, maka
perasaanmu akan sangat mirip dengan perasaan Sukma Harum saat ini. Dan orang yang berjalan denganmu tentu tawanya pun sangat mirip dengan tawa Renjani.
“Selama ini aku merasa diriku cukup beruntung di dalam kehidupan, ternyata setelah kupikir-pikir, banyak juga
sialnya,” tawa Raka.
“Orang yang paling cakap, paling pintar, paling gagah, biasanya memang paling punya banyak urusan,” tukas
Renjani.
Raka hanya menggelengkan kepala. Sambil tersenyum ia berkata, “Sepertinya aku sudah siap sekarang. Semua yang ingin kuketahui sudah kuketahui.”
“Kau belum mengetahui bagaimana ilmu silat Tuan Agung Tanabasa,” kata Renjani.
__ADS_1
“Aku memang tidak perlu tahu. Jika tahu malah menyulitkan.”
“Hmmmmm…”
“Aku pergi,”
“Aku tunggu kabar baiknya.”
***
Raka sudah keluar dari “istana” kediaman Renjani. Ia kini berada di pinggir sebuah sungai kecil. Gemericik air
yang segar mengiringi siang yang terasa sejuk di lembah itu. Jika bukan nama julukannya yang mengerikan, Lembah Iblis ini bisa digunakn untuk tempat berwisata. Hutannya asri, tanamannya beragam, airnya jernih dan bersih, bahkan bunga-bungaan indah pun bertebaran di mana-mana.
Dari kejauhan terlihat seseorang datang. Ia melangkah dengan riang sambil bernyanyi-nyanyi senang. Wajahnya
terlihat gembira. Tapi wajah itu tiba-tiba berubah setelah ia melihat ada Sukma Harum duduk di sebuah batu kali yang besar.
“Eh, ketemu lagi?!”
Raka mengenalnya. Lelaki separuh baya ini adalah orang pertamanya yang ditemuinya di lembah ini. Seorang kurus dengan wajah tirus dan mata menonjol. Raka ingat orang ini lari terbirit-birit setelah mendengar nama Masayu Renjani disebut.
“Ah, sebuah rejeki besar buat abdi (saya), bisa bertemu ki sanak lagi,” senyum Raka dengan riang.
Orang itu segera memutar badan dan ingin lari dari sana, tapi Raka lebih cepat dan tahu-tahu sudah berada di
depan orang itu. “Tahan dulu, ki sanak. Abdi hanya ingin bertanya suatu hal.”
“Apapun yang kau tanyakan, aku tidak tahu jawabannya,” kata orang itu dengan wajah mendongkol. Ia menutup matanya seolah-olah dengan cara itu ia bisa menghilangkan Sukma Harum dari hadapannya.
“Meskipun jika imbalannya ini?” tanya Raka sambil mengacungkan beberapa tahil emas.
Orang itu menengok sebentar lalu ia menjengek, “Aku tidak suka emas. Apalagi jika jumlahnya sedikit.”
“Jika jumlahnya banyak?”
“Berapa banyak?”
“Segini?” sekali mengeluarkan tangan, dalam telapaknya kini ada gumpalan emas bertumpuk-tumpuk.
“Bolehlah, apa yang ingin kau tanyakan?” tawanya lebar. Ia menjulurkan tangan perlahan untuk mengambil emas
di tangan Sukma Harum. Lalu tahu-tahu tangan itu sudah menotok keras ke arah tenggorokan.
Raka tidak kalah cepat. Badannya miring ke samping sehingga pundaknya dapat membuat serangan itu berubah arah. Kini malah orang itu berada di posisi yang tidak menguntungkan. Tetapi ia tidak kehilangan akal, dengan bersalto samping seperti roda, ia dapat keluar dari posisi yang berbahaya itu. Dengan satu lentingan kaki ia sudah melayang tinggi ke atas hinggap di atas ranting pohon yang ringkih. Bisa dibayangkan betapa
tinggi ilmu meringankan tubuhnya.
Raka tidak mengejarnya. Ia hanya tersenyum dan bertanya, “Kau kah Tuan Agung Tanabasa?”
“Tidak salah,” jawab orang kerempeng itu.
“Mengapa kau harus menyerang dengan membokong?” tanya Sukma Harum penasaran.
“Bagaimana jika aku terkena?”
“Berarti kau bukan Sukma Harum,” tawanya terkekeh. Ia lalu melayang turun dari ranting. Dengan santai ia
berjalan ke arah Sukma Harum dan malahan duduk di dekat berdirinya. “Kau mencariku ya?”
Sukma Harum pun duduk, “Ya,” jawabnya.
“Masayu Renjani yang menyuruhmu?”
Raka mengangguk.
“Apa yang dikatakannya?” tanya Tanabasa.
Sukma Harum merasa tidak ada gunanya berbohong. “Ia mengatakan bahwa kau mendirikan sebuah perkumpulan
rahasia di sini. Perkumpulan inilah adalah sekelompok pembunuh bayaran yang berilmu sangat tinggi. Kalian juga sedang mempersiapkan sebuah gerakan besar.”
Tuan Agung Tanabasa melongo. Ia lalu tertawa terkekeh.
Sukma Harum tidak mau menganggap orang ini gila. Tapi ia sendiri heran mengapa orang ini tertawa seperti sedang melihat orang lain mengalami sial.
“Kau tentu tahu apa julukan perempuan itu. Bahkan kalau tidak salah, kau sendiri yang memberi julukan itu
kepadanya,” tukas Tanabasa.
“Tukang bohong nomer 1 di dunia,” segera Raka mulai menyadari ada yang tidak beres.
“Kau lihat sendiri, ia lah yang memiliki pasukan berupa gadis-gadis cantik berilmu tinggi. Kau lihat sendiri,
dia lah yang membuat benteng pertahanan yang sulit ditembus. Justru dialah yang mendirikan perkumpulan pembunuh itu dengan mengandalkan perempuan-perempuan cantik yang mampu melakukan apa saja. Dan justru akulah yang dikirim kerajaan untuk menyelidikinya!”
Raka tercengang. Tapi ia masih nampak tenang. Senyum tipis terkulum di bibirnya. “Jadi kaulah telik sandi yang
dikirim oleh kerajaan untuk menghancurkan perkumpulan itu?”
Tanabasa mengangguk.
“Berarti kau dapat menyebutkan nomer rahasia keanggotaanmu,” kata-kata Raka ini sedikit mengejutkan Tanabasa.
Kata lelaki kerempeng itu, “Kau tahu sendiri, seorang telik sandi tak dapat menyebutkan nomer keanggotaannya secara sembarangan.”
“Kau tahu sendiri, Prabu Siliwangi sendiri yang memerintahkanku menangani permasalahan ini. Jika aku
meminta nomer keanggotaanmu, kau wajib memberikannya,” tegas Raka.
“Baik, nomer keanggotaanku adalah 417855,” Tanabasa mengucapkan angka sansakerta.
Sukma Harum tertawa puas.
__ADS_1
“Tahukah kau bahwa angka semacam itu tidak pernah ada? Tidak pernah ada angka keanggotaan dalam telik sandi,” jelasnya sambil tertawa ewa.
Melihat bahwa muslihatnya sudah terbongkar, Tanabasa pun ikut tertawa, “Jadi selama ini kau pun bermain catur
denganku.”
Sukma Harum menarik nafas. “Aku tidak ingin bertarung. Kau menyerah saja.” Ia berkata dengan penuh kepercayaan diri, seolah ia pasti menang.
“Ilmu silatmu mungkin beberapa tingkat di atasku. Tetapi aku tahu semua hal tentangmu. Aku tahu semua hal
tentang tempat ini. Semua letak pohon sudah kuhafal dengan jelas. Jenis tanah, bebatuan di sekitar sini, bahkan di mana cahaya matahari jatuh pun sudah kuhafal. Kau sudah kalah beberapa langkah,” kata Tuan Agung Tanabasa.
Dalam perang dan pertarungan, ia yang mengetahui tentang kekuatan lawan, keadaan alam, serta taktik
peperanganlah yang akan memenangkan pertempuran.
“Aku tahu segala hal tentangmu, kau tidak tahu secuil pun tentang aku,” senyum Tanabasa penuh percaya diri.
“Oh ya? Apa saja yang kau tahu tentangku?” Raka malah meloloh santai dan merebahkan dirinya di atas reremputan yang lembut.
“Rakantara Gandakusuma. Anak dari Raden Arya Gandakusuma dan pendekar wanita paling tersohor, Dewi Kinanti. Mewarisi ilmu silat yang sangat tinggi dari ibunya, juga senjata andalannya yaitu Kujang Arka Kencana. Di umur 8 tahun berguru kepada seorang mahaguru yang sampai saat ini belum jelas siapa orangnya. Di umur 20 tahun sudah menguasai berbagai ilmu tinggi yang sangat unik. Saat usia 20 tahun itu diwajibkan menjalani ujian terakhir, yaitu berkelana di dunia persilatan tanpa boleh menggunakan ilmu silat dan jatidiri yang asli. Di usia 23 tahun patah hati oleh seorang wanita bangsawan bernama Dian Nalacitra…”
Tanabasa menghentikan kata-katanya seolah ingin membiarkan perkataan itu merasuk ke dalam jiwa Sukma
Harum. Ia tahu, ia telah pernah mengalaminya. Percintaan yang pahit, akan dapat menjadi noda hitam yang mampu mepengaruhi batin seseorang, mengacaukan pikirannya.
Sudah berapa lama Raka tidak mendengarkan nama itu terucap? Bahkan mendengarkan orang lain menyebut nama itu saja, sudah begitu menyakiti perasaannya. Apalagi mengenangnya?
Meski jantungnya seolah tercabut dari akar-akarnya, wajah Sukma Harum tidak menunjukan perubahan.
“Keluarga Nalacitra menolak engkau, karena mereka tidak tahu latar belakangmu. Tidak tahu siapa sebenarnya
engkau. Karena kau dilarang memberitahukan latar belakangmu dalam ujian 3 tahun
itu. Lalu putri cantik keluarga Nalacitra itu dikawinkan dengan Tubagus Laksana, yang merupakan saudara jauhmu sendiri. Lalu tak lama keluarga Nalacitra mengetahui siapa sebenarnya engkau. Hal ini menambah kebencian raden
ayu Dian Nalacitra kepadamu. Ia merasa kau telah menipunya, meninggalkannya, dan mencampakannya.”
Kata-kata ini diucapkan dengan begitu perlahan. Bagai sembilu yang terus mengiris-iris hatinya. Wajah Sukma
Harum masih belum berubah, ia mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Tanabasa dengan penuh ketenangan.
“Dalam 3 tahun ujian terakhirmu, begitu banyak jasamu pada dunia persilatan dan kerajaan. Bahkan tanpa ilmu
silat dan embel-embel kebangsawananmu, namamu menjulang tinggi. Orang-orang menjulukimu dengan nama Sukma Harum. Nama yang kau sendiri amat membencinya karena terdengar seperti nama perempuan. Tapi konon, kau akhirnya lebih suka menggunakan nama itu ketimbang menggunakan nama aslimu sendiri. Apakah karena itu
satu-satunya nama yang dikenal oleh raden ayu Dian Nalacitra? Entahlah.”
Jika diibaratkan bertarung silat, Raka telah kalah puluhan dan ratusan jurus. Jika diibaratkan kena jotosan, ia seharusnya sudah terluka parah dan muntah darah. Tapi wajahnya tetap tenang, senyumnya tidak hilang.
Tiba-tiba ia berkata, “Kau membuat kekeliruan besar dalam langkah bidak caturmu kali ini.”
Tanabasa terhenyak, “Apa itu?”
“Kau mengira dengan mengungkit segala kenangan tentang masa laluku, kau akan mampu menghilangkan semangatku. Menambah beban pikiranku agar jika bertarung seluruh gerakanku akan kacau seluruhnya.”
Tanabasa diam saja.
“Tapi kau lupa, ada 3 hal yang dapat melipatgandakan kekuatan seseorang.”
Amarah, rasa takut, dan kesedihan.
Itulah 3 perasaan manusia yang dapat melipatgandakan kekuatannya. Dalam amarah, kekuatan seseorang dapat muncul secara tiba-tiba. Dalam rasa takut akan kehilangan atau nyawa terancam, muncul kekuatan terpendam seseorang, begitu pula dalam kesedihan.
“Dan kesalahanmu yang terbesar adalah kau memunculkan ketiga persaan itu sekaligus,” kata-kata Raka ini begitu
pelan, seolah ia hanya berbisik.
Tanabasa bergidik. Ia tahu ia sudah salah langkah. Untuk menarik kembali sudah tidak mungkin.
Masing-masing berdiri. Mereka berhadapan dengan sangat dekat.
Tubuh mereka berkelebat sangat cepat. Tak ada mata yang bisa menangkap gerakan silat mereka. Yang terdengar
hanya deru dan derasnya pukulan serta tendangan yang menggelegar bagai badai topan.
Wussssssshhhhh!
Wuuuuushhhhhhh!
Bummmmm Bummmmmmm!
Sudah 10 jurus berlalu. Tanabasa tahu ia tak akan dapat bertahan. Bahkan ketika ia sudah mengetahui segala hal
tentang lawan dan tempat pertarungan. Mungkin jika ia tadi tidak mengungkit tentang Dian Nalacitra, ia masih dapat bertahan, tapi ia kini sadar ia telah melakukan kesalahan yang amat besar. Jika Sukma Harum ingin membunuhnya sejak tadi tentu amat sangat mudah. Ia kini tahu lelaki itu tidak ingin membunuhnya melainkan
meringkusnya.
Tahu-tahu dadanya terasa panas. Sejak tadi ia sudah merasakan ada hal yang aneh di dalam tubuhnya. Rasa panas itu semakin membara jika ia mengerahkan tenaga dalamnya. Semakin dikerahkan semakin panas itu menghujam dadanya.
Ia seketika menyadari bahwa ia telah diracuni orang. Ia pun tahu sudah menyadari siapa pelakunya. Tetapi ia
terlambat. Rasa panas membara itu telah membakar seluruh organ dalam tubuhnya.
“Kau keracunan?” Raka segera menyadari keanehan itu. Ia bergerak ingin menolong Tanabasa. Tetapi lelaki
kurus kerempeng itu telah jatuh roboh. Tubuhnya menghangus.
Kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya adalah, “Diaa….,”
Dia atau Dian?
Sukma Harum bergidik.
__ADS_1