
“Aku berterima kasih karena kau telah mengajakku mengusut kasus ini. Mungkin tenagaku dan lencana kerajaan yang kubawa akan dapat mempermudah kau menyelesaikan persoalan ini. Aku percaya seluruhnya kepadamu, tuan pendekar,” kata Hagung.
Sambil tersenyum Raka berkata, “Sungguh, ada tuan opas di sini, aku rasa kita akan lebih mudah menyelesaikan keruwetan permasalahan ini.”
“Tuan pendekar beristirahatlah. Biar aku berjaga-jaga,” kata Hagung Koswara.
Raka mengangguk sambil mengeluarkan kain lurik yang selama ini selalu dibawanya dibalik jubah. Hanung memperhatikan ini dan ia lantas bertanya. “Apa saja yang kau bawa dibalik jubahmu? Kenapa tidak ditaruh di atas kuda saja?”
“Haha. Aku tidak selalu membawa kuda, jadi semua keperluanku berada dibalik jubah ini. Harus ditata sedemikian rupa agar tidak terlihat tebal. Ada kain tipis untuk alas tidur. Ada pil dan jamu obat-obatan. Lalu sedikit uang. Biasanya aku membeli baju ganti jika singgah di sebuah kota. Ada juga pakaian dalam serta alat kebersihan tubuh.”
“Hanya jubah itu yang selalu dipakai terus, tetapi warna putihnya selalu terang bercahaya. Apa rahasianya?” tanya Hagung.
“Tidak ada. Haha. Kata orang, aku terlahir pawakan kembang. Selalu wangi, selalu rapih dan bersih. Entahlah,” ia menertawakan kata-katanya sendiri yang ia anggap konyol.
Sukma Harum berbaring menatap bintang. Ia menghela nafas mencoba melepaskan beban pikiran. Hagung Koswara pun sepertinya tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Angin berdesir membuat malam bertambah dingin. Pepohonan yang lebat membuat suasana terlihat lebih suram.
“Malam ini kita tidak mungkin bisa beristirahat,” kata Sukma Harum.
“Oh? Kau menduga kita akan kedatangan tamu?”
“Justru dengan berhenti di sini aku sebenarnya menunggu kedatangan mereka.”
“Mengapa?” tanya Hagung heran.
“Karena mereka datang untukmu, bukan untukku,” jelas Raka.
“Hmmm…,”
“Dengan membunuhmu, mereka berharap semakin bisa menjatuhkan namaku. Bahwa aku telah menculik tuan opas dan membunuhnya.”
“Ya. Sudah bisa kuduga.”
“Yang menguber kemari tentu bukan hanya golongan anak buah si “hantu” saja. Tetapi juga orang-orang dunia persilatan yang ingin mendapat hadiah penangkapanku.”
“Ya. Kudengar sekarang semua perguruan silat mengeluarkan sayembara penangkapanmu. Masing-masing saling berlomba memberikan hadiah lebih besar,” kata Hagung.
“Jadi aku punya sebuah siasat.”
“Apa itu?”
“Jika orang-orang itu semua datang, kaulah yang harus menjelaskan semua permasalahan ini. Ucapan opas terkemuka sepertimu tentu akan didengarkan orang-orang.”
“Baik.”
“Tetapi aku yakin ada diantara mereka yang justru menggunakan penjelasanmu sebagai fitnah bahwa aku bersekongkol denganmu.”
“Hmmm, bisa jadi.”
“Mereka inilah yang akan menyerangmu.”
__ADS_1
“Mereka boleh mencobam” kata Hagung dengan mata berkilat-kilat.
“Oh, mereka tak akan berani. Kau bilang saja bahwa mereka dapat membunuhmu, tetapi Kesatuan Delapan Mata Angin tidak akan tinggal diam. Mereka akan menyelidiki kematianmu. Dan mereka tidak pernah gagal dalam tugas.”
“Baik. Baik sekali,” ia merasa bangga Sukma Harum memuji-muji kesatuannya.
“Setelah itu orang-orang ini pasti akan menggunakan cara-cara halus untuk merayumu. Jika gagal, mereka akan memutuskan untuk membuat sedikit keributan,” kata Sukm Harum.
“Dan di tengah keributan itu sesuatu akan terjadi, bukan?” tanya Hagung.
“Ya. Menurut dugaanku, akan ada pembunuh gelap yang akan menyerangmu dari balik kekacauan ini. Mengambil keuntungan dalam kegelapan dan keramaian.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Aku punya sedikit gagasan. Dan kita harus cepat. Aku dapat merasakan langkah-langkah mereka mendekat ke tempat ini.”
***
Malam gelap gulita. Hutan dengan pepohonan begitu rimbun. Bahkan di siang hari pun tentu tempat ini termasuk gelap karena sinar matahari sulit menembus pepohonan. Hanya api anggun yang menerangi tempat itu. Langkah kaki beberapa kuda dan puluhan ini orang sudah mulai terdengar.
Tak berapa lama mereka sudah tiba di tempat api unggun itu menyala.
Hagung Koswara sedang berdiri di belakang Sukma Harum. Sdangkan Sukma Harum sedang duduk berlutut dengan tangan terikat ke belakang. Matanya tertutup oleh kain. Tetapi raut wajahnya tenang seperti sedang bersemedhi.
Puluhan orang itu telah mengelilingi kedua orang itu. Kepungan mereka tidak terlalu rapat, tetapi jangan harap seorang pun dapat lolos begitu saja.
“Kau tahu siapa aku?” tanya Hagung Koswara.
“Kami tahu kau seorang opas dari bajumu. Tapi kami tidak perduli. Orang itu punya dosa besar dan kami punya dendam yang teramat dalam. Serahkan ia pada kami!” perintah orang itu.
Hagung Koswara tidak bergeming. Ia malah mengeluarkan sebuah lencana. Lencana perunggu dengan cap Kesatuan Delapan Mata Angin. Melihat lencana itu semua orang berada di tempat itu jadi agak sedikit jerih. Kesatuan ini adalah kesatuan milik kerajaan yang paling ditakuti sepak terjangnya. Semuanya berisi orang-orang lurus dan sangat jujur yang sangat memegang teguh kebenaran. Ilmu mereka sangat tinggi dan mereka tidak prnah gagal dalam tugas. Bahkan kerajaan Pajajaran bisa tegak dan tersohor di Nusantara, sedikit banyak adalah berkat kerja keras mereka.
Melihat ini si pemimpin rombongan tadi lalu mengangkat dan menjura. Sikapnya langsung berubah. “Ah rupanya tuan opas dari Kesatuan Delapan Mata Angin. Mohom maaf hamba yang picak ini tidak dapat mengenal orang. Maklum di sini gelap dan api unggunnya tidak cukup besar. Perkenalkan, nama hamba Radika Satya. Boleh kah hamba tahu nama tuan opas yag terhormat?”
“Namaku Hagung Koswara.”
“Oh, tuang Hagung sendiri. Oh, sungguh rejekiku besar bisa bertemu dengan tuan opas Hagung. Ah, jika begitu, aku harus menebus kesalahan ini dengan ikut mengawal dan menjaga keparat Sukma Harum itu sampai ke markas Delapan Mata Angin,” kata orang yang bernama Radika Satya itu dengan senyum manis dan sikap membungkuk-bungkuk.
Kepungan itu masih tetap ada. Malahan semakin rapat.
“Tidak perlu repot-repot, tuan Radika. Sukma Harum sudah kutotok dan kulumpuhkan. Besok pagi-pagi sekali aku akan segera berangkat. Aku tidak berani merepotkan tuan,” tukas Hagung.
“Mana berani kami merasa repot. Justru kami berharap bisa memberikan sesuatu kepada negara. Mungkin dengan tenaga kami ini, kami bisa berbuat hal kecil untuk negara. Betul tidak, teman-teman?”
“Betu;! Benar! Akur!” kata rombongan itu beramai-ramai penuh semangat untuk ‘berbakti kepada negara’
Keramaian yang hanya sebentar, juga suara mereka tidak begitu menggelegar. Tetapi kesempatan yang sedikit dan sempit itu adalah kesempatan bagi seorang pembunuh yang hebat untuk bergerak. Dari balik kegelapan, dari balik rerimbunan pepohanan, melesatlah 7 buah jarum beracun.
Jarum yang amat kecil dan tipis, bagaikan helaian rambut bayi yang mungil. Lesatannya sangat cepat dan tak mungkin diikuti oleh mata manusia. Meluncur begitu deras ke arah Hagung Koswara!
__ADS_1
Tapi Sukma Harum sudah bergerak.
Tangan kirinya melemparkan kerikil-kerikil kecil ke arah luncuran serangan jarum beracun itu. Tangan kanannya melepaskan kujang.
Sebuah kujang emas yang tidak pernah mengecewakan pemiliknya. Karena jika kujang itu dilepaskan maka kujang itu tidak pernah luput dari sasarannya.
Sebenarnya sehebat itukah kujangnya, ataukah tangan yang melemparkannya yang begitu digdaya?
Tidak ada seorang pun yang dapat menjawabnya. Karena jika ketujuh jarum beracun tadi meluncur dengan tanpa ampun, tanpa suara, dan tanpa peringatan, maka membandingkan jarum-jarum itu dengan kujang yang melesat tadi adalah bagaikan membandingkan bumi dan langit.
Kujang melesat begitu sepi, hanya sekilas cahaya emas yang berkelabat. Tiada seorang pun yang mengerti apa yang terjadi. Semua begitu cepat, begitu indah.
Seperti bintang jatuh yang melintasi langit malam. Indah namun hanya sekejap. Ia menghilang sebelum kau menyadari apa yang terjadi.
Lalu tahu-tahu terdengar suara gedebokan. Seperti buah nangka jatuh dari atas pohon. Itulah suara berdebam tubuh pembunuh tersohor yang baru saja menjadi mayat.
Sebelum mayat jatuh, cahaya emas yang berkilat tadi sudah kembali ke tangan Sukma Harum. Gemilang cahaya yang sekejap namun membara.
Seperti cinta.
Tanpa memahami cinta, tak seorang pun yang dapat melepaskan kujang seperti itu. Begitu dalam, begitu puitis. Bahkan kematian terasa begitu syahdu oleh jemari itu.
Para pengepung itu baru memahami apa yang telah terjadi. Jarum serangan telah punah dihantam kerikil. Sang pemilik jarum telah jatuh dari atas pohon nun jauh di sana.
Sukam Harum telah membuka penutup matanya.
“Sebaiknya kalian semua pergi,” katanya tenang.
Tidak ada seorang pun dari mereka yang tidak patuh. Pembunuh yang mereka andalkan sudah ****** dengan begitu mudah, apalagi jiwa mereka? Mereka menyadari, jika lelaki tampan itu mau, maka cukup menggerakkan jarinya saja maka mereka semua dalam sekejap mata akan ****** seluruhnya.
Radika Satya bertanya, “Itukah Kujang Arka Kencana?”
“Kau dapat melihatnya?” tanya Hagung Koswara heran, karena ia sendiri tidak dapat melihatnya. Ia hanya melihat gemercik kecil cahaya emas.
Radika Satya menggeleng, “Aku hanya dapat ‘merasakannya’.”
Ia merasa sangat beruntung karena dapat merasakannya. Karena jika nasibnya kurang baik, maka ia tidak hanya akan ‘merasakan’ kujang itu, tetapi juga akan mencicipi kematian yang dibawa oleh benda itu.
(Catatan Author:
Pembaca yang budiman, mohon tidak menanyakan kapan lanjutannya ya, karena jka belum di up maka itu berarti lanjutannya belum ditulis. Jika sudah ditulis tentu langsung saya up. Demikian dimohon pengertiannya. Terima kasih banyak.)
__ADS_1