
Sukma Harum membeli kuda di desa itu. Meski bukan kuda unggulan, kuda yang dipilihnya ini terlihat cukup kuat dan sehat. Cukup jadi tunggungan untuk mengantarkannya ke beberapa tempat. Dan tempat pertama yang muncul dalam pikirannya adalah: Pemandian Air Panas!
Mengendon di atas pohon bagai monyet selama 2 hari. Hanya makan buah-buahan yang belum begitu matang. Pun kadang digigit nyamuk dan serangga lain. Sepertinya 2 hari yang ia lewati ini sangat menyedihkan.
Tetapi 2 hari yang berat itu memberikannya keterangan yang sangat cukup untuk meneruskan penyelidikan dan membongkar rahasia permainan ini. Dan untuk sekarang, ia perlu untuk melemaskan seluruh otot dan mengistirahkan otak. Beristirahat sejenak untuk kembali mengumpulkan tenaga.
Beberapa hari yang lalu ketika terbang bersama Cakrawala, Raka melewati sebuah tempat yang dulu merupakan tempat kesukaannya. Cukup lama ia tidak mengunjungi tempat itu.
Kawah Rengganis.
Sebuah kawah yang tidak terlalu besar namun pemandangannya sangat indah. Terletak di daerah selatan yang sejuk dan berdekatan dengan danau kesukaanya juga, Situ Patenggang.
Raka memacu kudanya secepat mungkin. Ia ingin sampai di sana sebelum gelap agar dapat menikmati suasana sore hari yang indah di sana.
Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya sampai juga ia di kawah itu. Ada banyak pengunjung rupanya. Penduduk setempat yang ramah juga menjadi alasan mengapa tempat ini sangat ramai. Tiap hari ada saja orang berkunjung di tempat ini.
Kenyataan ini membuat penduduk setempat mendirikan warung-warung di sekitar tempat itu untuk menjual berbagai macam kebutuhan mulai dari makanan, pewangi, dan lain-lain. Pengamen, penari, pelukis, pelakon, tukang pijat juga banyak yang berdatangan ke daerah ini untuk mencari rejeki.
Yang [aling ramai tentulah tempat-tempat penginapan. Yang paling murah adalah tentunya rumah-rumah warga sekitar yang disewakan kamarnya bagi pelancong. Yang mahal tentu saja penginapan yang bangunannya memang khusus dibangun untuk kamar-kamar bagi para pelancong.
Dan di mana pun tempat orang berwisata, tentu ada perempuan-perempuan cantik. Apa yang mereka jajakan, tentunya merupakan rahasia mereka sendiri.
Sore itu cukup ramai. Banyak orang mandi di kolam air panas. Tentu ada pemisahan bagi laki-laki dan perempuan, karena ketika mandi di kolam itu kebanyakan orang hanya memakai cawat.
Raka sudah menitipkan kuda, memesan kamar di sebuah penginapan yang sangat mewah, memesan makanan untuk nanti, dan juga sudah membeli cawat untuk dipakai berendam.
Kini saatnya masuk kolam!
Airnya hangat sekali. Tidak ada bau belerang yang terlalu menusuk. Kawah Rengganis memang sangat nyaman dan bersahabat bagi pengunjungnya. Raka duduk berendam dan menyandarkan dirinya pada sebuah batu besar. Ada puluhan orang yang juga melakukan hal yang sama. Masing-masing tenggelam dalam kesunyian dan cahaya sore yang memerah di langit barat.
Orang masuk ke kawah ini untuk mencari ketenangan, dan ketenanganlah yang mereka dapatkan.
Uap hangat menyeruak masuk ke dalam hidungnya dan merasuk sampai ke paru-paru. Raka merasakan betapa nafasnya kini terasa ringan karena uap panas itu membersihkan segala kotoran dan debu-debu yang selama ini dihirupnya.
Air kawah yang mengandung belerang ada obat bagi kulit. Menghaluskna kulit mereka yang sehat, dan menyembuhkan berbagai penyakit orang yang menderita sakit kulit.
Entah berapa lama Raka berendam di kawah ini. Membiarkan pikirannya kosong melompong. Melepaskan jiwanya pergi terbang entah ke mana. Ia merasa seluruh tubuhnya begitu ringan. Seperti segala kotoran kehidupan tersapu bersih oleh air panas alami itu.
Hari telah gelap. Satu persatu orang beranjak dari lamunan dan ketenangannya. Masing-masing mulai pergi meninggalkan kolam itu. Raka masih berendam di sana. Ia seperti tertidur nyenyak dibuai oleh lembutnya kehangatan air kawah.
Saat ia membuka mata, ia sudah sendirian di sana.
Biasanya di waktu seperti ini kebanyakan pelancong memang mentas dari kolam. Mereka berpakaian lalu menikmati makan malam dan menikmati keramaian yang tak jauh dari sana. Kawah akan kembali ramai pengunjung saat fajar mulai menyingsing. Orang menikmati sejuknya pagi hari dengan berendam air hangat.
“Yah, saatnya untuk beranjak,” pikir Raka.
Raka kembali ke kamarnya dan kembali berpakaian. Tadi ia sempat juga membeli pakaian baru yang lumayan cocok untuknya. Kainnya halus dan nyaman. Harganya sangat mahal tentu saja. Karena di tempat seperti ini, semua harga menjadi dua kali lipat. Bahkan bisa 3 kali lipat.
Selesai berpakaian, Raka turun ke bagian bawah penginapan di mana terdapat kedai makan. Ia tadi sudah memesan makanan untuk ia nikmati saat ini. Dua ekor burung dara panggang, sayuran segar, semangkuk besar nasi, semangkuk sup berisi sayuran dan telur puyuh. Tidak lupa untuk minumannya ia memesan jahe segar yang dicampurkan susu dan madu.
Tak jauh dari sana, ada sinden sunda yang bernyanyi diiringi seorang pemain kecapi. Suara wanita itu indah sekali. Menyanyikan lagu tentang kerinduan kepada kampung halaman.
Ada banyak orang di kedai. Tamu-tamu juga berdatangan masuk. Kedai ini memang yang paling mahal dan paling terkenal di tempat pamandian ini.
Raka menikmati saja makanannya sambil menikmati getaran merdu dari pesinden yang mengharu biru. Ia tidak mau mempedulikan keadaan sekitar.
Tapi sebuah rombongan datang. Sepasang lelaki dan perempuan dengan para pengawalnya. Baju mereka mentereng. Langkah mereka penuh percaya diri. Khas para bangsawan dari keraton.
Rombongan ini membuat Raka terhenyak.
Tentu saja bukan karena rombongannya.
Tetapi karena perempuan yang berada di rombongan itu.
Dian Titah Nalacitra.
Wanita yang pernah mengisi relung paling dalam di lubuk hatinya.
Pernah? Mungkin “pernah” adalah kata yang keliru.
“Masih” adalah kata yang lebih tepat.
Jika seseorang yang terkenal sangat tampan, mungkin yang paling tampan sejagad raya, memiliki kekayaan yang tidak habis dihitung 7 hari 7 malam, memiliki kesaktian tiada tanding, serta memiliki akal yang begitu cerdas, kemudian jatuh cinta kepada seorang wanita, maka kira-kira wanita macam apakah gerangan?
Tentu saja wanita seperti Dian Nalacitra.
Ia cantik tanpa harus menjarah jiwamu. Karena ia duduk dan bertahta serta berkuasa di dalam batinmu. Ia lembut tanpa mengisyaratkan belas kasihan, karena bersamannya kau justru mendapatkan kekuatan. Ia tidak menaklukkan harga diri, tetapi oleh cintanya, lelaki mana pun akan sanggup menguasai dunia.
Kecantikannya tidak akan sanggup dibayangkan oleh orang belum pernah melihatnya. Karena dengan membayangkan saja maka kau telah terjatuh ke dalam jurang kezaliman.
__ADS_1
Pertemuan di tempat ini sungguh tak diduga.
Wajah Raka biasa-biasa saja saat melhat wanita itu, tetapi dadanya bergetar seolah jantungnya dibetot dari rongganya.
Bibir Raka bergerak ingin memanggil nama wanita itu.
“Raden Rakantara Gandakusuma!”
Tentu itu bukan suara sang wanita. Melainkan suara milik suaminya.
Suaminya adalah putera perdana menteri istana, orang nomer 2 di negara ini setelah Sri Baduga Maharaja sendiri.
Apabila ayahmu adalah orang nomer 2 di dalam negerimu, maka apa saja yang kau inginkan pasti terpenuhi.
Jika ia menginginkan Dian Nalacitra menjadi istrinya, maka Dian Nalacitra menjadi istrinya. Begitu saja.
“Raden Indrasaka,” tegur Raka sambil menjura dan berdiri sopan.
“Tidak menyangka bertemu di sini. Sendirian?” tanya Raden Indrasaka
Raka mengangguk sambil tersenyum, “Untuk mencari ketenangan memang lebih baik sendirian. Apa kabar, Raden”
“Kabar baik. Kebetulan Dian sedang hamil jadi ku bawa berendam ke sini agar jabang bayinya sehat. Eh istriku, kenapa kau diam saja tidak menegur teman lama?”
Teman lama.
Adakala “kekasih tercinta” berubah menjadi “teman lama”.
Jika hal itu terjadi siapa yang sanggup membayangkan deritanya?
Raka tersenyum kepada Dian. Senyum yang paling tenang, paling halus, dan paling hangat yang pernah ia lakukan. Ia mengangkat tangan memberi hormat, “Apa kabar raden ayu?”
Dian Nalacitra tersenyum manis pula, “Terhadap teman lama kau begitu sungkan. Pakai menghormat segala. Kami semua malah canggung jadinya.”
Suara ini begitu halus. Menggema di dalam kenangan berharga yang tersimpan begitu lama. Mungkin demi mendengar lagi suara ini, Raka bersedia tenggelam di dalam lautan api.
“Eh, kita satukan meja saja. Pengwal! Satukan mejanya!” kata Raden Indrasaka tenpa menunggu lama.
“Duli tuanku!” jawab para pengawal sambil bergerak dengan cepat.
Meja sudah disatukan, makanan sudah dipesan, pesta pertemuan yang tak terduga sudah dirayakan. Tiga orang yang berada bersama menimati hidangan sambil bercengkerama berkisah cerita.
“Ayah memanggilku? Ada apa?” tanya Raden Indrasaka. Pengawal tidak menjawab karena pertanyaan itu memang ditujukan kepada diri Indrasaka sendiri.
“Sayang, kau tunggu di sini ya. Aku akan ke kamar ayah. Hey, Raka. Aku titip Dian ya,” Indrasaka mengecup kening istrinya dengan mesra lalu bergegas meninggalkan tempat itu diringi beberapa orang pengawalnya. Dua ornag pengawal yang lain tetap tinggal di sana.
“Yang Mulia Perdana Menteri berada di sini?” tanya Raka lirih kepada Dian. Wanita itu mengangguk dan menjawab, “Tempat ini adalah kesukaannya. Setiap berapa bulan sekali, Yang Mulia pasti kesini.”
“Oh. Tapi tidak kulihat pengawalan ketat seperti layaknya pengawalan terhadap Perdana Menteri,” tukas Raka masih tetap lirih.
“Beliau memang lebih suka bergerak dalam sunyi. Tetapi tentu pasukan khusu pengawal Perdana Menteri menyamar sebagai pelancong dan warga.”
Mungkin karena sejak awal datang Raka ke temppat ini ia sudah mengosongkan segala pikirannya maka ia tidak dapat melihat kejanggalan penyamaran.
“Pengawal, mau kah kau berjaga di depan pintu sana? Aku kurang nyaman jika makan didampingi seperti ini,” permintaannya halus sekali.
“Tetapi…,”
“Ayolah, tolong aku ya?” ia tersenyum. Satu kali senyum saja maka kedua pengawal itu segera pindah tempat jaga.
Raka tahu, badai akan segera tiba.
Dian memandang dirinya. Katanya, “Setelah dulu berpisah saat Raka datang ke pernikahanku, ini kali pertama kita bertemu kembali.”
Alangkah baiknya jika tidak bertemu sama sekali.
Tapi Raka hanya tersenyum dan mengangguk.
“Aku hanya ingin tahu, mengapa Raka tega membohongiku,” kata-katanya lirih. Seolah ia takut angin terluka oleh kata-katanya.
“Aku tidak pernah membohongimu. Saat itu aku tidak bisa menceritakan jati diriku yang sebenarnya. Guruku mengsyaratkan agar aku bertualang tanpa membawa-bawa nama keluarga, nama guru, bahkan tidak boleh menggunakan ilmu silat dan membawa uang sepeser pun.”
“Mengapa gurumu memerintahkan hal seperti itu?” tanya Dian heran.
“Agar aku memahami bahwa kehidupan di dunia ini tidak dapat mengandalkan orang lain, tidak dapat mengandalkan harta, dan lain-lain. Hanya dapat mengandalkan diri sendiri,” jawab Raka.
“Dan tentu saja Raka lulus,”
Ya. Dengan membawa hati yang hancur dan luka yang masih belum sembuh sepenuhnya.
__ADS_1
Raka hanya bisa mengangguk.
“Jadi Raka lebih memilih lulus daripada memilih seorang perempuan yang mencintainya begitu tulus.”
Sukma Harum tidak berkata apa-apa.
“Jika saat itu Raka menceritakan siapa diri Raka yang sebenarnya, tentu orang tuaku mau menerimamu.”
Saat itu, Dian memutuskan hubungan dengannya karena orang tuanya tidak menyetujui hubungan mereka. Bahwa kasta mereka berbeda. Raka yang miskin dan tak memiliki apa-apa. Berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain.
“Kami semua baru tahu siapa Raka sebenarnya tepat di hari pernikahanku. Orang tuaku mengundang keluarga Raden Arya Gandakusuma. Raka datang bersama keluarga.”
Sambil tersenyum lembut menahan airmata Dian melanjutkan, “Aku terkejut melihat Raka datang. Begitu gagah, begitu rapi. Tanpa pakain lusuh, tanpa janggut dan kumis seperti selama ini aku mengenal Raka,”
Jika bukan karena disuruh oleh ibu dan ayahnya datang mendampingi, Sukma Harum tentu tak akan datang. Ia tentu tidak akan menyakiti hati gadis itu dengan memperlihatkan jati dirinya yang sebenarnya.
Mengapa ia tetap datang juga?
Karena betapa hebat dan gagahnya seorang laki-laki, ia harus tetap patuh pada perintah orang tua.
Dan betapa cantik dan rupawannya seorang wanita, ia harus tunduk pula pada perintah orang tua.
Siapa dapat membayangkan perasaan hati kedua orang ini?
“Raka tentu dapat membayangkan perasaanku….,” ia tidak menangis, tidak marah, tidak pula kecewa. Karena ia sudah menerima takdir dengan hati yang terbuka.
Seorang wanita apabilaa hatinya sudah terbuka, maka ia akan dapat menjalani hidup sedahsyat apapun penderitaannya.
Air matanya sudah lama mengering. Kesedihannya sudah lama menguap.
Tetapi apakah cintanya masih berada di sana?
Cinta seorang perempuan yan paling cantik sedunia terhadap laki-laki lusuh dan miskin papa.
Cinta yang demekian adalah cinta paling sejati yang pernah ada.
Raka tahu, ia telah kehilangan kesempatan menikmati cinta sejati itu.
Hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Apakah karena itulah ia tidak pernah bahagia?
Apakah karena itu ia menenggelamkan dirinya ke dalam lautan asmara yang menggelora bersama perempuan-perempuan yang tak pernah ia cintai?
“Tetapi semua telah lewat bukan? Aku telah berbahagia dengan suamiku, Raka pun telah berbahagia dengan jalan yang Raka pilih. Semua orang telah menemukan bahagianya. Tidak ada yang salah, dan dipersalahkan,” senyumnya mengembang indah sekali. Seperti matahari di musim semi yang bersinar mempersembahkan kehidupan.
Tetapi sinar matanya begitu redup. Redup bagai bulan sabit yang tertutup awan gelap menghitam.
Tiada air mata. Hanya ada kekosongan yang begitu dalam. Begitu hampa.
Lelaki mana yang sanggup menatap mata seperti ini?
Raka membuka suara “Jika suatu hari….,”
“Tidak ada hari itu…,” potong Dian. “Selamanya tidak akan ada hari itu.”
“Karena jika seseorang telah pergi dari hatiku, maka pintuku akan selalu tertutup. Pintu itu tidak akan pernah terbuka kembali.”
Raka tak bisa berkata apa-apa.
Dian Nalacitra berkata dengan lembut dan penuh perasaan. “Aku sudah rela.”
Apabila seorang perempuan telah merelakanmu, maka ia tidak akan lagi mencarimu, tidak akan lagi merindukanmu, tidak akan lagi pergi menanyakan kabarmu.
Karena kata “rela” inilah yang membuatnya sanggup melanjutkan hidup.
“Aku sudah mengungkapkan semua yang ingin kukatakan. Untuk selanjutnya, kita tidak usah bertemu lagi. Jika nanti bertemu di jalan, akan tidak akan menyapamu. Jagalah dirimu baik-baik.”
Lalu ia beranjak dan pergi.
Tidak ada yang lebih menyakitkan selain memandang perempuan yang beranjak dan pergi.
Raut wajah Raka seolah tidak menampakkan apa-apa. Seolah ia baru saja mendengarkan percakapan sederhana berisi omong kosong. Tetapi gemuruh di hatinya hanya ia sendiri yang tahu. Telapak tangannya berkeringat tetapi wajahnya tetap terlihat dingin.
Ya. Dingin.
Mungkinkah seorang laki-laki harus menjadi sedingin ini agar ia pun dapat melanjutkan hidup?
__ADS_1