
“Ananda murid mendengarkan, guru…,” kata Raka dengan khidmat.
Sang guru tersenyum. Tanyanya, “Kau masih ingat awal kita bertemu?
Raka mengangguk, “Tidak mungkin terlupakanm guru.”
“Kala itu kau masih kecil. Umur 7 atau 8 tahun. Aku kebetulan berjalan-jalan tanpa arah dan tiba di sebuah telaga di atas gunung. Ternyata gunung itu adalah tempat tinggal keluarga Gandakusuma. Dari jauh aku mendengarkan dentingan suara kecapi yang indah sekali. Seumur hidup aku baru mendengar ada permainan kecapi seindah itu. Dentingannya berasal dari tengah telaga. Saat kudekati tenyata ada saung di tengah telaga.”
“Dan saat itu ananda murid terkejut setengah mati melihat orang melayang di atas air.”
“Lalu aku memintamu meneruskan permainanmu. Tetapi kau tidak melanjutkan…,”
“Ya karena ananda murid memang tuli. Tidak dapat mendengar permintaan guru saat itu.”
“Aku sangat kaget mengetahui bahwa engkau adalah seorang anak yang tuli. Penyakit yang kau derita sejak kecil, perlahan-lahan mengambil indera pendengaranmu. Tetapi perasaanmu, kehalusan jiwamu, nada-nada yang terpatri di bathinmu sama sekali tidak luntur. Malah semakin menguat.”
Sukma Harum ternyata seorang yang tuli.
Pada umur 5 tahun sudah mahir bermain kecapi. Tetapi pada saat itu ia mengalami kecelakaan di danau dan tenggelam sehingga merusak gendang telinganya. Pada umur 7 tahun, ia sudah tuli sepenuhnya.
Tetapi bakat musiknya yang begitu besar, membuat ia mampu “mendengarkan” nada-nada di dalam jiwa dan batinnya. Karena ini pulalah, ia sanggup bermain lebih indahm lebih penuh perasaan.
“Aku ingat saat itu aku meneteskan air mata saat mendengarkan petikan dawai kecapimu. Sampai saat ini lagu itu masih terngiang-ngiang terus di hatiku.”
“Lalu ibu datang karena melihat ada orang aneh melayang di atas air,” tawa Raka.
“Dan betapa terkejutnya aku mengetahui bahwa ibumu adalah pendekar nomer satu di dunia persilatan Nusantara. Cicit dari pendekar besar negeri Tiongkok, Cio San-tayhiap.”
“Saat itu dalam sekali pandang, ibu juga sudah langsung mengenal siapa guru sebenarnya.”
“Lalu aku memaksam mengambil kau menjadi murid, karena begitu terpesona dengan bakat musikmu. Menurutku bakat itu bisa diasah dan dibentuk menjadi bakat silat yang sejati. Tetapi ibumu tidak membolehkan. Sampai aku harus menantangnya bertarung dan mengalahkannya baru ia mengijinkan kau ikut denganku.”
“Dan ibu kalah hanya dalam 5 jurus,” Raka tak dapat membayangkan betapa tinggi kesaktian gurunya itu.
“Lalu kau ikut berkelana denganku. Belajar berbagai macam ilmu, belajar membaca gerak bibir, belajar mendengarkan melalui getaran yang diterima kulitmu, hatimu, jiwamu. Justru karena kehalusan jiwamu itulah baru kau dapat menyelesaikan semua pelajaran yang kuberikan. Jiwa yang memaham indahnya musik, adalah jiwa yang halus. Dengan kehalusan dan kelembutanlah seorang dapat mencapai pemahaan yang tinggi tentang apa saja. Dengan jari-jarimu yang terlatih memainkan dawai, maka jari-jari itu bisa diasah untuk memainkan senjata yang paling dahsyat.”
“Atas semua pengajaran guru, ananda murid tidak tahu lagi harus bagaimana membalasnya….,” matanya berkaca-kaca.
“Dengan menjadi manusia berguna, kau sesungguhnya telah membayar seluruhnya. Tidak perlu berterima kasih. Sampai saat hidupku setua ini, aku sendiri masih belum begitu jelas tentang makna keberadaanku di dunia ini. Sebagai ahli silat? Untuk apa? Untuk menghancurkan kebathilan? Aku tidak senang bertarung. Sesungguhnya aku demikan heran, mengapa Sang Hyang Widhi memberikan bakat seperti ini kepada orang yang sama sekali tidak suka bertarung.”
Lanjut sang guru, “Raka, segala kepandaian dan kepintaran manusia hanya dapat digunakan untuk menaklukkan manusia lain. Kepandaian dan kehebatan itu tidak akan mungkin bisa dipakai untuk mengalahkan dirinya sendiri.”
“Lalu apa yang bisa, guru?” tanya Raka.
“Agama.”
“Ada begitu banyak agama di dunia ini. Ananda murid harus mengikuti yang mana?” tanya Raka dengan sungguh-sungguh.
“Agama apapun yang mengajarkan menyembah SATU Tuhan, dan melakukan perbuatan baik serta meninggalkan perbuatan jahat. Itulah agama yang benar.”
“Bagaimana kita dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk, guru? Sedangkan baik dan buruk amat sangat tergantung pada pikiran masing-masing orang.”
“Menentukan baik dan buruk memang adalah perjuangan seumur hidup. Seiring dengan kedewasaan pikiranmu, hatimu akan membantumu menunjukkan apa itu kebenaran,” jawab sang guru.
__ADS_1
“Baik, guru. Ananda murid mengerti.”
“Selama ini orang mengenalku sebagai orang yang tidak pernah mengambil murid. Dan kau pun kularang untuk menyebut namaku sebagai guruku. Kini aku memperbolehkannya. Jika ada yang bertanya, maka jawablah kau adalah murid dari sang Ksatria Malam,” suara sang guru bergetar penuh rasa haru dan rasa bangga.
Tidak terhingga pula rasa haru dan bangga di hati muridnya.
Selama ini orang hanya mengenal sepak terjang Sukma Harum, tidak tahu siapa gurunya. Padahal nama gurunya sendiri amat sangat terkenal.
Dunia mengenal Sang Ksatria Malam sebagai sosok yang paling berbakat dalam ilmu silat. Langit menganugerahkan kemampuan, pemahaman, dan keluwesan yang sangat tinggi kepadanya. Sekali lihat ssuatu langsung paham. Sekali pandang langsung hafal. Ia dianggap pendekar tanpa tanding dan tak ada seorang pun yang nekat untuk beradu kepandaian dengannya.
Ksatria Malang dikenal sebagai orang yang suka mencari kesenangan, haus hiburan, serta mencintai petualangan. Ia tidak pernah menikah, tetapi ketampanan dan kegagahannya membuatnya selalu bergelimang cinta dan wanita.
Selain wanita, ia pun amat menyukai arak. Sebaganyak apapun minum, ia tidak pernah mabuk.
Selama ini namanya seperti hantu. Seluruh dunia sudah mengenalnya, tetapi tak ada orang yang benar-benar melihatnya. Cerita kehidupannya melegenda. Bahkan jika nama Sukma Harum dibandingkan dengan nama Ksatria Malam, seperti orang membandingkan anak kucing dengan harimau.
Ketika menginjak usia 50 tahun, ia benar-benar menghilang dari dunia persilatan. Konon katanya kadang-kadang ia muncul mengajarkan ilmu silat kepada beberapa orang. Tetapi kabar ini pun tidak bisa dipastikan kebenarannya.
“Muridku yang baik, maafkan aku sudah terlalu lama mengobrol ngalor ngidul sampai-sampai lupa apa yang mau kusampaikan,” tawa sang Ksatria Malam.
“Ananda murid mengdengarkan, guru.”
“Saat ini aku sedang bersiap untuk melakukan Tapa Moksa.”
Sukma Harum terhenyak.
Tapa Moksa adalah tapa terakhir yang dilakukan seseorang dalam hidupnya. Tapa itu mengatarkannya melakukan Moksa. Yaitu meninggalkan dunia fana bersama roh dan tubuh kasarnya sekaligus.
“Jangan menangis,” kata gurunya dengan lembut sambil mengusap kepala murid kesayangannya. “Pertemuan ada perpisahan. Jodoh ada pula akhirnya.”
Raka tidak berani mengangkat kepalanya.
“Muridku yang baik. Jawablah pertanyaanku.”
“Ananda murid mendengarkan.”
“Apakah aku, Narendra Kramakala, adalah guru yang baik?” tanya Sang Ksatria Malam.
“Ya, Gurunda Narendra Kramakala yang tercinta adalah guru yang baik,” jawab Raka sambil terisak.
“Kutanya lagi. Apakah aku, Narendra Kramakala, adalah guru yang baik?”
“Ya. Gurunda Narendra Kramakala yang tercinta adalah guru yang baik.”
“Untuk yang trakhir kutanyakan, apakah aku, Naredra Kramakala adalah guru yang baik?”
“Ya. Gurunda Narendra Kramakala yang tercinta adalah guru yang baik,” air matanya tumpah ruah. Dadanya sesak oleh kesedihan yang menghimpit jiwanya.
“Baik. Terima kasih sudah mengangkat aku menjadi gurumu. Terima kasih sudah begitu berbakti kepadaku. Jika aku memiliki kesalahan, maukah muridku memaafkanku?”
“Gurunda tidak pernah bersalah kepada ananda murid. Justru ananda…, yang…begitu…banyak kesalahan dan kedurhakaan kepada gurunda,” Raka tidak berani mengangkat kepala. Wajahnya terbenam di ujung kaki sang guru tercinta.
Siapakah kini pelipur lara? Siapa yang akan tersenyum sambil memarahi kesalahan-kesalahannya? Siapakah yang akan bercerita di tengah malam sambil menenggak arak? Siapa yang akan melindungi di kala ia terluka? Siapa yang akan tulus memberi pengajaran dan kasih sayang tulus seorang guru.
__ADS_1
Guru adalah orang tua ketiga. Mendurhakainya adalah seperti mendurhakai orang tua. Mencintainya adalah juga seperti mencintai orang tua.
Air mata mengalir deras.
Perpisahan adalah sebuah kepastian.
Karena hidup bukanlah tentang memiliki dan mengunpulkan.
Hidup adalah tentang kehilangan.
Sedikit demi sedikit, satu demi satu.
Mereka pergi.
Karena hidup adalah kematian.
Tahu-tahu gurunya menghilang begitu saja. Tanpa salam perpisahan. Tanpa ada ujar-ujaran kebajikan. Tanpa ada tanda mata. Tak pula ada lambaian tangan. Semua hilang dalam sunyi.
Sukma Harum mengangkat kepalanya.
Hanya ia sendirian di dalam goa. Hatinya hancur oleh kepedihan yang dalam. Tetapi ia mengerti, memang inilah jalan perpisahan yang diinginkan gurunya.
Karena perpisahan yang terbaik, adalah perpisahan yang meninggalkan kenangan baik.
Karena kenangan yang baik saja sudah cukup.
Sudah lebih dari cukup.
Tidak ada pemakaman yang gempita. Tidak ada ribuan pelayat yang datang memberi penghormatan terakhir. Tidak ada upacara nan megah bagai penguburan raja.
Yang ada hanyalah kenangan yang indah.
Tentang begitu baiknya seorang manusia.
“Terima kasih, guru.”
Catatan Penulis:
Bab ini saya persembahkan kepada suhu saya, alm Tjan ID. Seorang penerjemah puluhan novel silat yang merupakan satu dari empat warga negara Indonesia yang namanya tercatat dalam Ensiklopedi Chinese Overseas bidang Kesenian dan Kebudayaan terbitan Pemerintah Tiongkok. Beliau adalah orang terakhir yang tersisa dari angkatan penerjemah lama yang jasa-jasanya sangat besar bagi perkembangan cerita silat dan budaya Tionghoa di Indonesia.
Saya beruntung dapat berkenalan dengan beliau yang sangat ramah dan baik hati. Semua karya dan pengajaran beliau adalah harta yang sangat berharga di dalam kehidupan saya. Sampai akhir hayat, saya akan mengenang beliau sebagai guru yang baik.
Terima kasih, suhu.
Tjan Ing Djioe (02.07.1949 – 29.04.2020)
__ADS_1