
“Kau ingat Kalita?” tanya si botak.
“Tentu saja. Ia tunanganmu.”
“Nah. Kau tentu ingat pula sejak kita berpisah setahun yang lalu, aku berencana untuk meninggalkan dunia
persilatan dan hidup tenang bersamanya.”
Sukma Harum hanya mengangguk.
“Entah kenapa setiap hari ia semakin berubah. Setiap hari ia jika kita bertemu, ia selalu memarahiku. Selalu
merajuk. Selalu menemukan cara untuk ricuh denganku!” kata si botak.
Entah Sukma Harum ingin tertawa atau menangis. Ia memutuskan untuk diam saja.
“Belum menikah saja ia sudah seperti itu. Lama-lama aku muak. Suatu hari aku memutuskan pergi ke rumah
bordil untuk sekedar menghilangkan kesumpekan.”
“Ia mendapatimu di sana?” tebak Sukma Harum.
“Benar sekali. Ia marah besar. Lalu mencabut pedang hendak membunuhku,” kata si botak. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan membuat segala benda bergetar.
“Jika Kalita membela diri menjadi 20 orang, ia masih belum sanggup membunuhmu,” senyum Sukma Harum.
“Itu dia. Saat aku mengalahkannya, ia memungut pedang dan mengancam akan bunuh diri.”
“Lalu?”
“Lalu aku merebut pedangnya dan mematahkannya seperti kerupuk.”
“Terus?”
“Ia berlari hendak memecahkan kepalanya ke tembok!”
“Jika tembok dilapis sampai 20 pun, belum tentu bisa bertahan dihantam kepalanya,” kata Sukma Harum santai.
“Nah. Karena itu aku segera lari dari sana. Aku tahu jika aku menghindar darinya, ia tidak akan mencoba membunuh diri. Semua itu dilakukannya hanya agar aku bingung.”
“Rasa-rasanya kau sudah sangat paham tabiat perempuan,” tawa Sukma Harum.
“Kau pikir aku sudah gila? Laki-laki waras mana yang paham tabiat perempuan?” sanggah si botak.
“Lalu?”
“Lalu aku mencari tempat sembunyi darinya. Tetapi ia selalu berhasil menemukanku. Dan jika sudah bertemu ia
selalu menyerangku. Jika kalah, ia mencoba membunuh diri lagi.”
“Jadi agar dapat menghindar darinya, kau datang ke tempat ini?” tanya Raka.
“Ya. Dulu kita pernah mampir beberapa kali kemari. Kupikir ini satu-satunya tempat yang paling aman dari
kejaran Kalita.”
“Lalu kau memutuskan menetap di istana ini?”
“Benar sekali. Dari seluruh tempat yang kujelajahi di lembah ini, hanya istana ini yang nyaman bagiku,”
sahut Antasena.
Tentu saja. Kau tidak perlu menjadi orang paling pintar sedunia untuk mengetahuinya.
“Jadi kau sudah bertemu dengan pemilik tempat ini?”
“Ya. Masayu Renjani. Dulu kau yang menjebloskannya kemari.”
“Ia tidak dendam kepadamu?”
“Mengapa dia harus dendam kepadaku?”
Sukma Harum tertawa. Berbicara dengan sahabat terbaiknya ini membuatnya selalu riang gembira.
“Di mana dia sekarang?”
__ADS_1
“Entahlah. Sepertinya dia pergi. Sudah beberapa hari aku tidak melihat tampangnya.”
Sukma Harum memperhatikan seisi kamar. Ruangan ini luas dan sangat bersih. Kudapan dan buah-buahan pun tersedia di pojok ruangan. Tempat tidur sangat nyaman dengan selimut tebal berlapis sutra. Aroma kamar ini pun wangi dan lembut. Benar-benar seperti di dalam istana.
“Sudah berapa lama kau di tempat ini?” tanya Raka.
“Hampir 2 bulanan,” jawab pria tinggi besar itu.
“Hidup bagai raja di sebuah istana yang dipenuhi perempuan-perempuan telanjang. Ku rasa kau tidak melarikan
diri, malahan kau berharap selamanya dikurung di sini.”
“Ku rasa kau seperti cacing di dalam perutku, selalu mengerti isi pikiran dan hatiku,” tawanya membahana.
Sudah lama ia tidak tertawa seperti ini. “Sekarang kau yang harus bercerita kenapa kau bisa sampai kemari.”
Sukma Harum menceritakan semuanya. Antasena mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia sama sekali tidak
membuka mulut sebelum Raka selesai bercerita.
“Jadi bagaimana menurutmu?” tanya Raka.
“Ya. Langkahmu sudah benar. Hanya Masayu Renjani yang mampu memberi petunjuk siapa orangnya yang memiliki kemampuan menyamar dan silat yang begitu hebat.”
“Selama kau berada di sini, kau tidak melihat hal yang mencurigakan?”
“Tidak,” jawab Antasena. “Ia datang dan pergi sesukanya. Kadang kami bercengkarama membahas dunia persilatan. Yang ku tahu, ia sangat sibuk memperebutkan kekuasaan di lembah ini. Terkadang aku membantunya mempertahankan istana ini dari serangan musuh.”
“Oh, sudah kuduga. itu sebabnya ia mempertahankanmu di sini.”
“Manusia saling membutuhkan,” tawa Antasena.
“Perempuan-perempuan penghuni istana ini meskipun ilmunya tinggi, ku pikir bukan hal yang mustahil untuk
mengalahkan mereka. Sebelum kau datang kemari, apa yang membuat mereka sanggup mempertahankan tempat ini sekian lama?”
“Hewan beracun. Masayu memiliki ilmu yang bisa mengendalikan hewan-hewan beracun. Mereka muncul dari mana saja. Kapan saja. Dapat dipakai untuk membunuh secara rahasia.”
“Saat dulu aku menangkapnya, kenapa ia tidak mengeluarkan ilmu ini?” tanya Sukma Harum penasaran.
Raka tidak menanggapi candaan Antasena. Karena di dalam hatinya ia bergidik. Masayu Renjani memiliki segala
kemampuan untuk menjadi orang yang paling berbahaya di muka bumi.
Ia menghela nafas lalu berkata, “Aku perlu istirahat dan melepaskan penat.”
“Di seberang sana ada beberapa bilik. Kau bisa memilih yang kau suka,” tukas Antasena.
“Oh jadi sekarang kau sudah menjadi tuan majikan istana ini? Hebat betul.”
Antasena hanya tertawa. Ia tahu betul apa yang akan dilakukan sahabat terbaiknya itu.
***
Gadis itu rebah di dalam pelukan Sukma Harum.
Di sepanjang hidupnya menjadi seorang perempuan, baru kali ini merasakan kenikmatan, kehangatan, dan cinta
yang begitu dalam. Merasuk ke dalam sukmanya. Menyentuh bagian-bagian paling rahasia di dasar hatinya.
Belum pernah ada lelaki yang mampu memberikan segenap kebahagiaan ini padanya. Kecuali lelaki ini.
Lelaki paling tampan yang pernah dilihatnya. Paling gagah. Paling tenang. Matanya tajam namun teduh. Senyumnya sombong namun ramah. Gayanya sederhana namun elok. Dan tubuhnya kokoh. Laksana
batu karang yang keras dan menara yang menjulang. Menembus langit-langit rahasia. Memasuki lubang-lubang gelap yang penuh gairah. Merobek-robek perasaan namun dengan cara yang begitu lembut. Begitu indah. Begitu nikmat. Getaran itu merasuk ke seluruh tubuhnya. Menyapu seluruh permukaan kulitnya. Kecupan lembut
yang hangat membuatnya tak mampu menahan ledakan asmara yang seolah ingin menghancurkan tubuhnya dari dalam.
Ia tidak ingin lepas dari pelukan itu. Jika ia harus memberikan nyawanya, ia rela.
“Mengapa tuan memilihku?” tanya gadis itu.
Raka hanya tersenyum. Katanya lembut, “Mengapa tidak?”
Suara itu dalam. Sedalam rahasia yang tersembunyi di balik tatapannya yang teduh.
__ADS_1
Gadis itu tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan. Karena di saat-saat seperti ini, memang tidak ada kata-kata yang sanggup diucapkan seorang gadis kepada lelakinya.
Raka tahu apa yang dirasakan gadis itu adalah sebuah ketulusan dan kejujuran. Sebuah kepolosan yang indah,
namun juga menyedihkan. Ia sudah terlalu sering melihat hal ini.
Itulah kenapa ia tidak mau terlalu sering membuai wanita. Karena sekali mereka merasakan asmara darinya,
hidup mereka akan berubah selamanya. Yang beruntung mungkin akan dapat melanjutkan hidup meski dengan kekosongan. Yang malang, selamanya tidak akan sanggup melupakan dirinya dan hidup mencari kehampaan.
Apakah ia kejam?
Apakah ia tidak memiliki perasaan?
Jika kau menjadi dirinya, apa yang akan kau lakukan?
Gadis itu lalu bangkit dari tidurnya. Ia keluar dari pelukan lelaki yang baru semalam dikenalnya itu. Satu malam yang sangat indah dan seolah tak akan berakhir.
Tetapi seperti apa pun juga, setiap hal memiliki akhirnya.
“Aku tahu tuan akan meninggalkan aku. Memangnya siapa yang mau dengan perempuan macam diriku?” suaranya tenang, tapi ada sebutir air mata yang menetes.
Sukma Harum sudah sangat sering mendengar perkataan ini, tetapi ia masih tidak tahu harus bersikap bagaimana.
“Tetapi jika tuan pergi, aku hanya meminta satu hal.”
“Katakan. Akan kulakukan,” ia menyanggupinya meski belum mendengar apa permintaan itu.
“Tuan jangan melupakan aku. Ingatlah bahwa tuan pernah bertemu dengan aku.”
Permintaan ini terdengar sangat sederhana. Tetapi perasaan yang timbul dari kata-kata ini sungguh menghimpit
dada.
Ada kalanya perempuan begitu merepotkan bagi laki-laki. Tingkah mereka, ucapan mereka, perbuatan mereka.
Semuanya bisa membuat seorang laki-laki menjadi gila.
Tapi terkadang, ada perbuatan perempuan yang begitu kecil, begitu polos, begitu manis yang mampu merasuk ke
dalam jiwa seorang laki-laki. Bahkan untuk hal-hal kecil semacam ini, seorang laki-laki rela kehilangan segalanya.
“Selamanya tak akan lupa.”
“Baik. Bagiku itu saja sudah cukup, tuan.”
Ia duduk bersimpuh di sebelah Sukma Harum yang memandangnya penuh rasa sayang. “Kau tidak ingin keluar dari
sini? Hidup dengan layak dan bebas merdeka, aman dan tentram?”
“Justru hidup di sini, aku merasa lebih aman dan tentram tuan. Setidaknya di sini aku tahu, semua orang ingin
menjahati aku. Di luar sana, manusia tersenyum dan berbuat kebaikan, tetapi memiliki maksud-maksud tersembunyi yang mengerikan.”
Ingin Sukma Harum setuju dengan perkataannya, tetapi di dalam hati ia tahu masih banyak manusia mulia di luar
sana.
“Apabila semua ini…,”
“Jangan, tuan,” belum lagi Sukma Harum melanjutkan perkataannya, gadis itu telah memotongnya. “Jangan tuan
berikan aku harapan dan janji yang nanti malah memberatkan tuan. Percayalah, aku sangat bersyukur dapat tingal di sini.”
Senyum itu meskipun berat dan dipaksakan, terlihat juga penuh kelegaan yang tak dapat diungkapkan oleh kata-kata.
Gadis itu lalu mengecup bibir Sukma Harum. Tidak seperti sebelumnya, ciuman itu tak lagi panas menggelora penuh nafsu. Kini ciuman itu lembut dan penuh perasaan. Ia seolah ingin mencurahkan segenap luka batinnya melalui ciuman itu. Ciuman yang panjang, namun lembut dengan segenap jiwa.
“Aku pergi,” lalu gadis itu berlalu begitu saja.
Tadi Sukma Harum berharap gadis itu mengeluarkan pisau dan menyerang tenggorokannya. Seperti beberapa
pengalaman sebelumnya yang pernah dilaluinya. Kali ini ia merasakan ada kekosongan di hatinya.
Ternyata begitu rasanya ditinggal seseorang. Mungkin karena itulah orang lebih suka pergi ketimbang ditinggal pergi.
__ADS_1