Fragrant Soul

Fragrant Soul
Bab 17: Ibunda


__ADS_3

Memang jika dirimu sedang menghadapi masalah, kemalangan, atau kesulitan, orang yang paling perduli dan


paling khawatir adalah ibundamu seorang.


Dengan jaringan kekuasaan keluarga Gandakusuma yang begitu besar, tentu kabar kemalangan putrinya telah


disampaikan oleh para anak buahnya. Sang pendekar wanita yang paling tersohor ini kemudian segera datang menjenguk putrinya. Uniknya, ia datang tanpa pengaawalan dan tanpa iring-iringan. Pendekar wanita ini merasa lebih nyaman bergerak sendiri dalam penyamaran. Cukup mengenakan pakaian orang biasa, dan kerudung yang menutupinya sebagian wajahnya, segera ia membedal kudanya sekencangnya mendatangi anak gadisnya yang terluka.


“Kau sudah sembuh?” sang ibu sudah berada di ambang pintu kamar.


“Sudah bunda,” jawab Amara sambil tersenyum, ia mencium tangan ibundanya. Raka pun melakukan hal yang sama. Sang ibu memegang pergelangan tangan Amara untuk memeriksa nadinya.


“Tahu begitu ibu tak usah datang,” sang ibu tertawa. “Merepotkan betul 3 hari perjalanan kemari. Yang didatangi segar bugar. Bahkan sudah berpakaian rapi. Mau ngelayap kemana lagi?”


“Memangnya bunda ingin aku terbaring sakit di atas ranjang?”


“Setidaknya itu lebih baik daripada kau berkelana keluar dan dibunuh orang,” kata sang Ratu Ayu.


“Ihhhh,” Amara membanting kaki dengan manja.


Seorang pendekar yang disegani karena pedangnya, kini berubah menjadi seorang gadis manja di hadapan ibunya.


“Raka bagaimana kabarnya?” tanya si ibu dengan tersenyum.


“Berkat doa dan restu bunda, nanda sehat dan baik sekali,” rupanya terhadap ibunya sendiri, Sukma Harum


bersikap dengan sangat sopan. Jauh berbeda dengan sikap adiknya yang manja terhadap ibunya.


“Kenapa adiknya bisa sampai begini? Apa Raka kurang meperhatikan?” ada sedikit hardikan dibalik kata-kata


yang halus ini.


Sukma Harum hanya tersenyum. Ia tidak menjawab. Ia tahu bahwa ibunya pun sudah mengerti jawabannya. Di dunia ini tidak ada seorang pun yang dapat melarang Amara jika gadis remaja itu sudah ingin melakukan sesuatu.


“Ibu dengar banyak orang mencari Raka saat ini. Memangnya ada apa?”


“Sejak dahulu hingga saat ini, sudah banyak orang mencari kakang Raka. Bunda tidak perlu heran,” tawa Amara.


Jiwanya yang bebas dan riang, membuatnya tidak terlihat seperti seseorang yang baru terluka parah. Meskipun wajahnya masih terlihat pucat, dan tubuhnya terasa masih lemah, keriangannya sama sekali tidak berkurang.


Raka mulai becerita tentang semua kejadian yang ia alami. Sang ibu mendengarkan dengan seksama sambil


sekali-sekali mengajukan pertanyaan terhadap sesuatu yang ia belum jelas.


“Musuh masih belum jelas. Tujuannya pun masih belum ketahuan. Raka harus berhati-hati. Untuk sementara


ibu akan membawa pulang Amara ke rumah.”


“Eh, kok bisa? Urusan kakang Raka kok Mara yang tak boleh keluar rumah?” sahut Mara.


“Sebelum urusan ini selesai, kita tidak boleh terpisah. Hanya di rumah kita bisa memiliki pertahanan terbaik.


Biarkan kakangmu menyelidiki urusan ini tanpa harus memikirkan keselamatanmu.”


“Ah bunda…,” kembali Mara membanting kaki. Meski hatinya mangkel, ia tahu urusan ini sangat genting.


Ratusan pendekar mati di sebuah pulau bukanlah sebuah hal yang kecil. Malahan sebuah hal yang menghebohkan dunia persilatan. Dan ia pun mengerti, di dunia ini hanya kakangnya lah yang bisa membongkar semua rahasia ini.


“Tapi aku kan bisa bantu-bantu jika kakang Raka membutuhkan tenagaku,” Mara masih menyanggah.


“Jika Raka membutuhkan bantuanmu, ia akan mengatakannya. Sebelum diminta, Mara harus tetap di rumah.”


Memang selama ini Mara berkelana dengan penuh kejayaan. Ilmu pedangnya yang sangat tinggi membuat namanya hampir setara dengan nama ibunya. Ia dapat mengalahkan musuh dnegan mudah. Tetapi beberapa hari yang lalu, ia berada di ambang kematian. Ia mulai menyadari bahwa ilmu silat tinggi yang ia miliki belum tentu dapat menyelamatkannya dari rencana jahat manusia yang licik.


“Baiklah. Terserah bunda saja…,”

__ADS_1


Kata-kata ini sempat membuat Ratu Ayu dan Raka kaget juga. Baru kali ini Amara “menyerah” dengan mudah, biasanya harus melewati perdebatan yang alot baru gadis cantik ini mau menurut.


“Tumben menurut. Pasti ada apa-apanya ini. Mau minta kawin ya?” goda sang ibu.


“Bundaaaaaaaa! Siapa yang mau kawinnnn?!! Enak saja!” Mara pergi keluar kamar.


“Haha. Rupanya dia memang minta kawin,” tawa sang ibu kepada Raka.


“Jika bunda menggoda terus, nanda khawatir ia bisa kawin lari. Nah nanti kita yang repot menyuruhnya pulang.”


“Hey kalian berdua! Mara masih bisa dengar dari sini!” terdengar suara Mara dari luar.


“Bunda sudah makan? Mari kita makan.”


***


Seperti kebiasaan dalam keluarga Gandakusuma, jika mereka makan, maka semua pembantu dan abdi mereka pun ikut makan. Meskipun tidak dalam satu meja, tetapi makanan yang mereka makan adalah sama. Di sinilah pertama kali Ratu Ayu bertemu dengan Maya.


Baru kali ini Maya melihat wanita seanggun itu. Meski usianya sudah setengah baya, kecantikan Ratu Ayu Dewi


Kinanti tidak kalah dengan mereka yang masih gadis. Ia masih tinggi semampai. Kulitnya putih cerah terawat dengan lembut. Meskipun ada satu dua uban di kepalanya, rambutnya masih halus tergarai dengan indah. Gerak-geriknya lembut namun terpancar hawa dan kharisma yang mampu menundukkan orang cukup dengan pandangannya.


Dan mata itu sedang memandang Maya.


Pandangan yang tenang namun menyelidik. Tatapan yang hangat namun mampu menembus isi hati manusia. Jika


seorang wanita memiliki putra yang sangat tampan, gagah, dan kaya raya, maka tatapannya terhadap teman gadis putranya itu tentu akan seperti ini.


Maya begitu rikuh, tetapi ia mencoba menguatkan hatinya.


“Siapa nama lengkapmu? Kenapa Raka tidak pernah cerita?”


Maya lalu menceritakan segalanya. Ia tahu ia tidak dapat menutupi apapun di hadapan wanita agung ini. Raka hanya tersenyum saja memandang nona yang rikuh itu. Terkadang ia membantu bercerita jika nona itu kesulitan menemukan kata-kata. Untuk itu, Maya sangat berterima kasih.


Ia baru beberapa hari mengenal Raka, seolah lelaki itu telah mengenalnya seutuhnya. Seolah telah mengerti isi


bagaikan anak manja dari keluarga bangsawan.


Justru ini adalah hal yang sangat menarik hatinya.


Ratu Ayu masih bercakap-cakap dengan para abdi dan dayang kapal itu, bertanya tentang kabar terbaru dan


petualangan mereka. Ia nampaknya menikmati sekali kisah-kisah tentang dunia persilatan di jaman ini. Tampak sekali jiwa petualangannya yang selama ini bersemayam di lubuk hatinya masih berkobar dengan terang benderang.


Tetapi ia telah memiliki suami. Memiliki lelaki yang sangat ia cintai sehingga ia rela meninggalkan segala


keseruan hidupnya.


Karena mungkin, sejauh apapun seorang wanita meraih impian-impian hidupnya, pada akhirnya ia harus menjadi


seorang istri dan seorang ibu. Pada akhirnya kodrat kewanitaannyalah yang menuntunnya mengambil sebuah pilihan.


Di sepanjang hidupnya menjadi seorang pendekar wanita yang paling sakti mandraguna, ia akhirnya mengerti


bahwa kebahagiaan terbesar seorang wanita adalah menjadi ibu. Menjadi lahan tumbuhnya generasi-generasi penerus bangsa yang menuntun umat manusia ke masa depan yang lebih cerah.


Wanita-wanita seperti inilah yang membuat kehidupan di bumi ini menjadi begitu indah.


***


“Bagaimana pendapatmu tentang Candramawa?” tanya Ratu Ayu kepada Raka saat mereka berdua berbincang empat mata.


“Bunda menaruh kecurigaan terhadapnya?”


“Dalam seluruh kejadian ini, dirinyalah yang paling mencurigakan. Keberadaannya di pulau Sepingkan.

__ADS_1


Kepergiannya yang tiba-tiba. Lalu tahu-tahu menurut Maya ada sosok mirip dirinya yang muncul di Lembah Iblis. Dan sejauh ini dari kabar yang kudengar, dia memilih ketinggian ilmu yang setanding denganmu.”


Lanjut Ratu Ayu, “Tapi lucunya, dalam berbagai peristiwa, justru orang yang paling mencurigakan biasanya bukan


pelakunya. Dan orang yang paling tidak mencurigakan justru pelakunya.”


Raka tertawa. Ia mengerti benar pemahaman. Sejak ia malang melintang di dunia persilatan menyelesaikan segala


persoalan, apa yang dikatakan ibunya itu adalah kebenaran yang nyata.


“Cuma aku takut satu hal,” kata sang bunda. “Aku menduga Amara menaruh hati padanya.”


“Bagaimana bisa begitu, bunda?”


“Mara adalah gadis yang cuek. Ia juga bukan gadis yang suka berhati-hati. Jika bukan karena tertarik pada


Candramawa, belum tentu ia mau menguntit lelaki itu sampai mengetahui bahwa ia meninggalkan pulau itu.”


Naluri perempuan, hanya perempuanlah yang paling mengerti.


Raka tidak berkata apa-apa. Candramawa memang adalah seorang lelaki yang gagah. Sangat tampan meskipun hawanya diliputi kegelapan dan kabut rahasia. Gerak-geriknya tidak terduga. Meskipun penampilannya cukup menakutkan, tetapi ia bersih dan rapi.


Jika dihadap-hadapkan, dirinya dan Candramawa adalah bagikan sebuah bayangan yang saling melengkapi.


Sukma Harum adalah pendekar yang hangat, anggun, dan tenang. Pakaiannya selalu bercahaya dan harum mewangi. Ia amat sangat jarang membunuh orang. Ia memancarkan kehidupan yang indah dan cahaya yang terang.


Sebalikyna Candramawa adalah pendekar yang dingin dan sangar. Pakainnya selalu hitam gelap. Hawa membunuh terpancar jelas dari tubuhnya. Semua lawan yang berhadapan dengannya tidak ada yang selamat.  Ia melambangkan kematian yang kelam menyeramkan.


“Mulai sekarang kita harus memperhatikan gerak-gerik Candramawa dengan lebih sungguh-sungguh. Perintahkan


ini kepada para abdi kita.”


“Baik, bunda.”


Tahu-tahu dari luar terdengar suara menggelegar, “Hey kecoak tua! Kau sudah ada berada di sini berkumpul


dayang-dayangmu, sedangkan aku kau suruh berkelana ke pulau beracun! Dasar anak setan!”


Antasena sudah datang sambil tertawa-tawa dan bicara seenak perutnya. Tiba-tiba tawa itu terdiam. Raka menduga bahwa seseorang memberitahu kepada lelaki tinggi besar itu bahwa sang Ratu Ayu berada di sana.


Sudah tentu Antasena tidak berani buka suara. Bahkan kentut pun ia tidak berani. Selain ibunya, Ratu Ayu lah


wanita yang paling ia hormati.


“Kau sudah datang Antasena? Kenapa tidak segera kemari mencium tanganku?” tukas Ratu Ayu sambil tertawa.


“Saya, ibu Ratu.” Antasena selalu menjawab “saya” sebagai ganti dari kaya “Iya” jika berbicara dengan Raden Ratu


Ayu.


Lelaki itu sudah di depan bilik. Badannya yang besar membuatnya kesulitan untuk bergerak di dalam kapal yang keseluruhan ruangannya termasuk sempit. Ia berlutut dan memberi salam, “Ibu Ratu sudah datang rupanya. Maaf saya terlambat datang.”


“Tentu saja kau terlambat. Setiap hari Raka menyuruhmu melakukan hal-hal tidak masuk akal. Kau sudah makan? Hari sudah sore begini. Begitu cepat.”


“Sudah ibu Ratu. Saya tadi sudah makan sebelum datang kemari.”


“Baiklah. Kutinggal kalian berdua. Ada hal yang mau kubicarakan dengan Amara.”


“Saya, ibu Ratu,” jawab Antasena.


Begitu Ratu Ayu meninggalkan bilik itu, Antasena menabok pundak Sukma Harum. “Hey keparat! Kenapa kau tidak


bilang ibu Ratu berada di sini?”


“Bagaimana cara aku memberitahukannya kepadamu?” tawa Raka.

__ADS_1


“Entahlah. Kau pikirkanlah caranya.  Kan kau yang anak pintar,” tawa Antasena. Ia melanjutkan, “Bagaimana kau bisa sampai lebih dulu kemari?”


__ADS_2